Cool And Cheerful

Cool And Cheerful
Bertemu Pria Asing



Selepas mendapatkan kabar tentang keadaan Sierra, Dave bergegas menemuinya di kediaman Wilson.


"Bagaimana perasaanmu sekarang? Adakah yang masih sakit?"


Sierra tersenyum kecil, "Aku sudah lebih baik sekarang, Paman. Bahkan, aku sudah bisa bersekolah, sayangnya Mommy tidak mengizinkanku."


Angel yang saat itu sedang merapihkan meja belajar Sierra, sontak saja menoleh kearah wanita tersebut.


"Bagaimana bisa aku membiarkanmu bersekolah dalam keadaan kaki-mu yang masih sakit?"


"Kaki-ku sudah baik-baik saja, Moms." Sierra memasang wajah cemberut. Angel hanya menggelengkan kepalanya, lalu memutuskan untuk keluar dari kamar itu.


Tersisalah Sierra dan Dave disana. Dave yang gemas dengan ekpresi dari Sierra, tidak bisa untuk menahan tangannya agar tidak mencubit kedua pipi wanita muda itu.


"Aww... Paman, sakit."


Dave melepaskan cubitannya dengan tawa puas yang mengiringi. Sedangkan sang pemilik pipi, jadi mendengus sebal sembari mengelus pipinya yang memerah.


"Paman menyebalkan, sama seperti Noah," gerutu Sierra.


"Benarkah? Suamimu itu sama menyebalkannya denganku?"


Sierra mengangguk, namun masih dengan wajah cemberut.


"Dia tidak pernah tersenyum kepadaku. Yang bisa dia lakukan hanya menampilkan wajah datar dan dinginnya. Benar-benar menyebalkan."


Mendengar gerutuan itu, membuat Dave tergelak. Sementara Sierra bertambah kesal karena Dave justru menertawainya. Tiba-tiba terdengar dering ponsel, Dave pun berhenti tertawa dan segera menjawab panggilan tersebut.


"Baiklah. Aku segera kesana." Pria itu mengakhiri panggilannya, kemudian kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya.


"Paman akan pergi?"


Dave tersenyum tidak enak, lalu mengangguk pelan.


"Aku ada pertemuan penting hari ini, Sayang. Lain kali kita akan bertemu lagi dan membicarakan banyak hal, oke?"


Kedua mata Sierra jadi berkaca-kaca, namun tak urung ia mengangguk. Dave mendaratkan ciuman lembut di keningnya, setelah itu ia beranjak dari atas kasur milik Sierra.


Perlahan, Dave meninggalkan ruangan itu. Tak lupa ia menutup pintu kamar tersebut agar Sierra bisa beristirahat dengan tenang. Tepat sekali saat Dave baru saja menginjakkan kakinya di luar, James baru kembali dari kantor Damian.


"Kau akan pergi?" Pertanyaan sama yang Sierra ajukan tadi.


Dave mengangguk singkat, "Aku ada pertemuan penting dengan para petinggi perusahaan sekitar satu jam lagi."


James mengangguk paham. Sebagai sesama pembisnis, ia tahu betul bahwa bertemu dengan para petinggi sangatlah penting. Walaupun terkadang mereka harus rela pergi jauh dari keluarga.


"Baiklah. Kalau begitu, hati-hati..."


Dave tidak membalas ucapannya, ia hanya menepuk-nepuk pundak James sejenak. Setelah itu ia melanjutkan langkahnya menuju ke mobilnya.


Ketika melihat Dave sudah pergi dengan mobilnya, James kembali melangkah ke tempat dimana putri kecilnya berada.


Clekk~


Hal pertama yang James lihat adalah... Sierra yang tampak melamun. Sepertinya wanita itu merasa jenuh jika harus terus-menerus berada di kamarnya.


"Ada apa, Sayang?" James mengambil posisi di tempat Dave tadi, tepatnya di samping putrinya.


Sierra menolehkan kepalanya. Sedetik kemudian ia memeluk tubuh James.


"Sampai kapan aku akan berada disini, Papa? Aku benar-benar merasa bosan."


"Apa kau ingin keluar dan jalan-jalan?"


Tanpa pikir panjang, Sierra langsung mengangguk antusias. James tersenyum melihatnya, ia lalu membantu Sierra untuk bangkit dan keluar dari kamar itu.


Setelah mereka menuruni anak tangga, kebetulan ada Angel yang hendak menemui Sierra. Dahinya mengernyit heran saat melihat Sierra yang keluar dari kamarnya.


"Kalian ingin kemana?"


"Dia merasa bosan di kamarnya, jadi aku memutuskan untuk mengajaknya keluar."


Awalnya Angel tidak ingin mengizinkannya, namun melihat wajah memelas Sierra, akhirnya ia mengizinkan James untuk membawanya keluar.


"Oke, Moms." Sierra menyahutinya dengan senang. Angel membelai kepala Sierra sejenak, sebelum akhirnya ia kembali ke dapur.


"Papa, ayoo.." rengek Sierra yang sudah tidak sabar lagi untuk segera keluar dan jalan-jalan. James hanya tertawa kecil melihatnya. Ia lalu segera menuruti permintaan dari putri kecilnya ini.


...* * * ...


James dan Sierra sudah berada di Café yang ada di pusat kota. Mendadak James ingin ke kamar mandi, Sierra pun jadi duduk sendiri dan menunggu Papanya kembali.


Sembari menunggu, mata Sierra menjelajahi Café tersebut. Arsitekturnya sangat indah, pantas saja banyak yang datang kesini walaupun hari ini bukanlah akhir pekan.


Sementara di sisi lain, James yang sudah selesai dengan urusannya, langsung memilih untuk meninggalkan kamar mandi tersebut. Namun dirinya justru tak sengaja menabrak seseorang.


"Maaf, maaf.. Aku tidak sengaja.." ujar James yang merasa bersalah.


Pemuda yang di tabraknya tersenyum ramah. "Tidak masalah, Tuan. Aku juga minta maaf karena tidak sengaja menabrakmu."


James membalas senyuman dari pemuda itu. Ia lalu menepuk pundaknya singkat, sebelum akhirnya berlalu dari sana.


"Kenapa Papa lama sekali?" tanya Sierra dengan bibir yang di majukan.


"Papa tidak lama, Sayang. Setelah urusan Papa selesai, Papa langsung kemari." James membalasnya sambil mendaratkan bokongnya di kursi sebelah Sierra.


Minuman yang mereka pesan akhirnya tiba. Yaa, mereka hanya memesan minuman, karena keduanya masih terasa kenyang setelah makan siang di Mansion.


Ketika Sierra sedang menyeruput jusnya, tiba-tiba ada seorang pemuda yang menghampiri Papanya. Sontak saja ia jadi menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Tuan..."


"Ya?" jawab James langsung.


"Ini milikmu, bukan?" Pemuda itu menyerahkan sebuah dompet berwarna coklat kepada James.


"Ahh, benar. Ini milikku." James mengambilnya dan melihat isinya.


"Dimana kau menemukannya?"


"Sepertinya terjatuh saat kita tidak sengaja saling bertabrakan," sahut pemuda itu dengan senyuman ramahnya.


"Kau benar. Terima kasih banyak.." James terkekeh singkat. Tatapannya lalu mengikuti arah pandang pria tersebut. Sepertinya, pria itu tidak memiliki tempat untuk duduk. Karena semua meja disana sudah di isi oleh para pengunjung.


"Kau bisa bergabung bersama kami."


Sontak saja pemuda itu lekas menoleh. "Apa kau tidak keberatan?"


"Tentu saja tidak. Aku justru akan merasa senang. Bukankah begitu, Sayang?"


Sierra jadi gelagapan. Dengan kikuknya ia mengangguk sambil tersenyum canggung. Pemuda itupun lalu mengambil tempat duduk di hadapan Sierra atau di sebelah James.


"Terima kasih, Tuan, Nona.." ucapnya.


"Siapa namamu?" Sierra bertanya lebih dulu karena merasa penasaran dengan pria di hadapannya ini.


"Aku Victor.." Pria itu mengulurkan tangannya kearah Sierra, dan Sierra langsung menjabat tangan tersebut.


"Aku Sierra, dan ini Papaku, James.."


Victor tersenyum, "Apa kalian asli dari sini?"


"Tidak. Kami dari New York. Kebetulan putriku melanjutkan studinya disini," jawab James tanpa merasa canggung.


"Dan kau?" tambah Sierra.


"Sama seperti kalian. Aku bukanlah berasal dari sini. Aku hanya sedang menghabiskan waktu liburku di Kota ini."


"Darimana asalmu?" Kembali Sierra bertanya. James jadi menggelengkan kepalanya melihat putrinya tersebut yang begitu penasaran dengan Victor.


"Aku... dari London."


"Woahh, benarkah?? Aku dari dulu ingin kesana, namun orangtuaku tidak mengizinkanku." Sierra melirik James. James yang sadar jika putrinya sedang menyindir dirinya, seketika tangannya langsung mencubit pipi milik Sierra.


"Papa, sakit..." pekik Sierra, hingga mengundang tatapan dari yang lainnya.