Cool And Cheerful

Cool And Cheerful
Jengah



Di kantin, Alexa dan Sierra duduk berdampingan sambil menyantap makanan mereka. Sesekali keduanya mengobrol ringan mengenai masalah sekolah.


"Bagaimana perasaanmu terhadapnya?"


Sierra mengernyit heran, "Apa maksudmu?"


"Perasaanmu terhadap Leon. Bagaimana? Apakah jantungmu berdebar saat di dekatnya?" goda Alexa.


"Tidak. Aku tidak merasakan apapun." Sierra terlihat acuh, dan kembali melanjutkan kegiatan makannya.


Tiba-tiba saja seorang wanita datang dan langsung menumpahkan sebotol saus pada makanan Sierra. Sontak saja si pemilik makanan dan temannya menjadi terkejut.


"Kau sudah tidak waras, hah?" teriak Alexa sambil lekas berdiri.


Selena memandangnya tidak suka, "Aku tidak memiliki urusan denganmu. Jadi, diamlah dan jangan ikut campur."


"Kau mencari masalah dengan temanku, dan mana mungkin aku bisa diam dan hanya melihatnya?"


Mata Selena berubah menatapnya tajam. "Aku paling tidak suka dengan pengacau sepertimu. Tapi, jika kau ingin melawanku, tidak masalah. Namun sebelum itu, aku akan menyelesaikan urusanku dengannya terlebih dulu, setelah itu barulah denganmu."


Kini tatapan Selena beralih kepada Sierra. Sementara Sierra yang tidak tahu dimana letak kesalahannya, segera berdiri dan berhadapan dengan Selena.


"Apa sebenarnya masalahmu?" tanya Sierra heran.


"Kau. Kaulah masalahku."


"Aku? Kapan aku mencari masalah denganmu?"


"Dengan kau yang mendekati Leon, berarti kau mencari perkara denganku. Harus kuingatkan sekali lagi padamu, menjauhlah dari Leonku, atau kau akan menerima akibatnya."


Alexa berkacak pinggang sambil menatap jengah wanita di hadapannya.


"Tidak bisakah jika kau berhenti membicarakan tentang Leon? Aku benar-benar bosan mendengarnya."


"Terserah." Merasa bahwa tidak ada lagi yang ingin di bicarakan, Selena pun memutuskan untuk pergi. Namun setelah dirinya berbalik, Selena justru di kejutkan dengan kehadiran Leon di belakangnya.


"Sudah selesai?"


Wanita itu tidak menjawab pertanyaan dari pria di hadapannya. Ia justru meremas jarinya yang berkeringat.


"Jika kau sudah selesai, maka biarkan aku yang berbicara." Leon membasahi bibirnya sejenak.


"Kau tahu? Aku muak dengan segala tindakan dan ucapanmu mengenai diriku. Tidak bisakah jika kau diam dan berhenti mengklaim diriku sebagai milikmu? Seperti yang Alexa rasakan, aku pun begitu jengah dan kesal atas ucapanmu itu. Bisakah jika kau berhenti melakukannya mulai sekarang?"


Masih tak ada jawaban dari Selena, dan itu membuat Leon bertambah kesal.


"Kalian semua, dengarkan aku!! Aku bukanlah milik siapapun. Dan jika wanita ini berbicara omong kosong lagi tentang diriku, maka cepatlah beritahu aku. Biarkan aku yang mengurusnya. Jika perlu, aku akan membuatnya bungkam untuk selamanya."


Remasan tangan Selana semakin kuat. Wajahnya yang semula berani, mendadak menciut jika sudah berhadapan dengan Leon langsung.


Leon melirik Sierra untuk sekian detik, sebelum akhirnya dia memilih untuk meninggalkan kantin dan mencari kedua temannya. Jika Andrew, pasti sedang bersama dengan Davina. Lalu Bryan, dimana dia? pikir pria itu.


Bisikan mencemooh mulai terdengar di telinga Selana. Dirinya sudah cukup di buat malu saat ini. Ia pun memutuskan untuk segera pergi sebelum dirinya bertambah malu.


"Setelah sekian lama, akhirnya Leon sendiri yang mengatakannya kepada wanita itu."


"Sudahlah, Alexa. Jangan di bahas lagi."


"Baiklah-baiklah. Ayo, aku akan menemanimu untuk mengambil makanan yang baru."


Sierra menggeleng, "Aku sudah kenyang. Sebaiknya kita ke taman saja."


"Oke." Alexa dan temannya tersebut lalu berjalan di koridor untuk menuju ke taman yang berada di ujung sekolah.


"Apa kau melihat tatapannya tadi?"


"Tatapan siapa?"


"Tentu saja Leon. Dia menatapmu begitu dalam. Dan aku rasa, dia menyukaimu."


"Alexa, apa yang kau katakan? Jangan bicara yang tidak-tidak. Aku tidak ingin ada rumor yang membicarakanku dengan Leon."


Seketika Alexa tertawa. "Tapi aku bicara yang sebenarnya, Sierra. Aku melihat itu di matanya."


...* * * ...


Roger merapihkan jasnya sebelum bertemu dengan Presdir yang akan bekerja sama dengan perusahaannya. Ia menarik nafas dalam, lalu membuangnya secara perlahan. Dia pun segera membuka pintu besar di depannya dengan gerakan pelan.


"Selamat siang, Tuan," sapa Roger sambil menganggukkan kepalanya.


Pria yang duduk di sofa, hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda menjawab sapaan dari Roger. Ia bahkan tak mengalihkan tatapannya dari dokumen di tangannya.


"Silahkan duduk."


Roger mengangguk. Ia mendudukkan dirinya di hadapan pria itu, sambil sesekali menarik nafas dalam.


"Roger Barnaby, benar?"


Lagi-lagi Roger menganggukan kepalanya. "Benar, Tuan."


Mendadak pria di hadapannya tertawa, ia kemudian segera mengangkat kepalanya untuk menatap Roger.


"Kau tidak mengenalku, heh?"


Tubuh Roger seketika mematung. Bagaimana bisa dia tidak mengetahui siapa pria yang akan dia temui? Dan, mengapa ia tidak mencari tahu dulu tentang pria yang akan bertemu dengannya?


"Aku tidak percaya bisa bertemu denganmu disini. Bahkan, kau sendiri yang datang kepadaku." Damian terkekeh, ia kemudian lekas berdiri dan berjalan menghampiri Roger atau Roby.


"Sepertinya aku membuat kesalahan dengan datang kemari." Roger berusaha untuk tetap tenang. Hingga, dia memutuskan untuk bangkit, namun bahunya justru di tahan oleh Damian.


"Tidak perlu cemas. Bukan aku yang mencarimu, tapi Dave Clayton. Itu urusan kalian berdua, dan aku tidak akan ikut campur."


Damian lalu kembali ke sofanya semula. Kedua kakinya ia letakkan ke atas meja, dengan tatapannya yang terlihat santai dan bersahabat.


"Apa kau sudah menikah?"


"Aku tidak tertarik."


Jawaban Roger membuat Damian tertawa keras.


"Kau yakin tidak tertarik?"


"Hmm.."


"Oke, fine." Damian berdehem cukup keras. Setelah itu ia melemparkan dokumen yang di bacanya tadi ke meja di depan Roger.


"Aku bisa membantumu. Aku akan menanamkan 30% sahamku pada perusahaanmu. Dan untuk masalah kau dan Dave, aku tidak tahu-menahu dan aku tidak perduli."


"Kau yakin akan melakukan itu?"


"Mengapa tidak? Selama kau membantu perusahaanku untuk maju, maka aku akan melakukannya."


Roger tersenyum miring, "Bagaimana jika aku mengkhianatimu?"


"Maka kau akan mati." Damian mengucapkannya dengan nada serius. Namun sedetik kemudian, dia justru tertawa.


"Lupakan itu. Bila kau ada waktu, ayo makan siang bersama denganku."


"Aku tidak bisa menjamin itu."


Damian mengangguk, "Aku mengerti."


"Baiklah. Aku rasa, urusanku disini sudah selesai." Roger lalu berdiri dari duduknya, "Terima kasih atas kerja samamu. Kuharap, kau bisa untukku percaya."


Selepas mengatakan hal tersebut, Roger menganggukkan kepalanya sebagai tanda hormat.


"Sampai jumpa.."


Damian terus memandanginya hingga pria itu benar-benar menghilang di balik pintu. Tiba-tiba dia tertawa karena merasa bahwa takdir sedang mempermainkan Dave dan pria itu.


"Bukankah akan seru jika mereka bertemu?" Pria tersebut terkekeh, kemudian ia kembali mengambil dokumen tentang Roger dan perusahaannya.


"Penyamaranmu selama ini sebagai detective, memang luar biasa. Tapi cepat atau lambat, semuanya akan terkuak. Termasuk Dave yang akan mengetahuimu dan juga keberadaanmu."