
"Kau menyukainya?"
Mendengar pertanyaan tersebut, Jack sontak menoleh. Ia menatap kakaknya yang juga tengah menatapnya intens.
Tidak kunjung mendapatkan jawaban dari adiknya, Sierra pun jadi terkekeh. Ia bisa menebak dan menerka sendiri jawabannya. Wanita itu lalu menghela nafasnya, kemudian ia kembali menatap ke depan.
"Sebaiknya kau menjauhinya, Jack. Kau bisa melukainya sewaktu-waktu. Davina sudah cukup menderita, jadi kau jangan menambah luka dan penderitaannya lagi."
Jack yang mendengarnya jadi tersenyum kecut, "Kupikir kau akan mendukungku. Ternyata aku salah."
"Jack... Kau tidak mengerti. Saat ini Davina sedang dalam fase yang menyedihkan. Kau---"
"Bukankah kehadiranku bisa membantunya untuk bangkit?" pungkas Jack yang memotong ucapan Sierra. Ia tidak mengerti, kenapa kakaknya itu tidak menyukai usahanya yang mencoba untuk mendekati Davina.
Sierra akhirnya memilih untuk diam. Bukan tanpa alasan ia berkata demikian. Sebagai kakaknya, ia sudah hafal dengan sifat adiknya. Jack hanyalah seorang remaja belasan tahun yang masih ingin bermain-main. Sierra takut jika Jack mendekati Davina hanya karena rasa penasaran semata. Setelah rasa itu tiada, perlahan Jack mulai menjauhi Davina dan membuatnya semakin terluka.
...* * * ...
Dua hari telah berlalu. Dan besok, adalah hari terakhir twins N dan Sierra menghadapi ujian sekolah. Bukan hanya itu. Lusa, Jack sudah harus kembali ke New York untuk melanjutkan pendidikannya.
Selama waktu 48 jam ini, Jack lebih banyak menghabiskan waktu bersama Davina, ketimbang dengan keluarga Wilson. Sierra sudah memperingatinya untuk menjaga jarak dengan Davina, tapi Jack tidak mau mendengarkannya dan bersikekeuh menemuinya tanpa sepengetahuan Sierra.
Walaupun sikap Davina masih sama seperti di awal-awal pertemuan mereka, namun Jack tidak pantang menyerah ataupun merasa tersinggung atas sikap wanita tersebut. Ia hanya ingin bahwa Davina baik-baik saja, dan itu sudah cukup baginya.
Di malam ini, keluarga Wilson tengah berkumpul bersama di ruang keluarga. Bahkan Jack ikut hadir disana dan siap untuk mendengarkan apa yang akan Damian katakan.
"Dad, apa yang ingin kau katakan?" tanya Noah yang membuka suara lebih dulu, karena sang Daddy tidak kunjung mengeluarkan suaranya.
Damian nampak melirik istrinya. Yang di liriknya pun terlihat menganggukkan kepalanya pelan.
"Besok hari terakhir kalian ujian, bukan?"
Noah, Sierra, dan Naura spontan mengangguk. Mereka saling menatap untuk beberapa detik, sebelum akhirnya kembali menatap pria paruh baya yang duduk di hadapan mereka.
"Bagus. Daddy sudah menyiapkan Universitas terbaik untuk kalian. Lusa nanti, kalian bisa langsung berangkat kesana."
Sontak saja ketiga remaja itu terkejut. Lusa? Secepat itukah? Mengapa Damian tidak memberitahu mereka sejak awal.
"Dad, mengapa secepat itu? Dan Universitas apa yang Daddy maksud?" tanya Naura mewakili Noah dan Sierra.
"Universitas Oxford. Daddy dan Mommy sudah mendaftarkan kalian sejak awal kalian mengikuti ujian. Bukan hanya itu. Daddy juga sudah mempersiapkan tempat tinggal yang nyaman untuk kalian tempati selama belajar disana."
Untuk sesaat ruangan itu menjadi hening. Mereka masih di lingkupi keterkejutan atas penjelasan Daddy-nya barusan. Universitas Oxford? Siapa yang tidak ingin melanjutkan studi di Universitas terbaik dan terkenal itu? Baik Noah, Sierra maupun Naura tidak masalah jika harus pergi ke Negara Ratu Elizabeth tersebut. Tapi pemberitahuan dari Daddy mereka secara mendadak ini benar-benar membuat mereka terkejut.
"Ada apa? Apa ada masalah?" Damian memperhatikan ekpresi ketiga anaknya yang hanya diam saja. Tidak ada reaksi apapun yang mereka keluarkan.
"Dad..." Suara Noah terdengar pelan dan halus. "Tidak bisakah jika kami memilih Universitas sendiri?"
"Memangnya Universitas mana yang kau inginkan?" sahut Damian santai.
"Kau yakin?"
Noah pun mengangguk mantap. Ia lalu menggenggam sebelah tangan Sierra.
"Aku dan Sierra akan melanjutkan studi disana."
Damian melirik tangan Noah yang menggenggam tangan Sierra. Ia kemudian beralih menatap istrinya. Sang istri terlihat begitu bahagia lalu mengangguk kepalanya singkat, seolah memberi izin kepada kedua pasangan itu untuk tetap berada disini.
"Baiklah, jika itu mau-mu. Daddy tidak akan memaksa." Damian kini berpindah kepada putrinya.
"Bagaimana denganmu? Apa kau ingin disini juga?"
Naura bergeming, sepertinya ia sedang berpikir. Ini adalah hal serius yang mencakup masa depannya. Oleh sebab itu, ia tidak ingin gegabah dan harus memikirkan secara matang.
"Sayang, ada apa? Kenapa kau terlihat bimbang seperti itu?" Angel yang sedari tadi hanya diam, akhirnya membuka suaranya juga.
"Eumm... Bisakah beri aku waktu untuk memikirkannya? Aku tidak ingin salah dalam mengambil keputusan untuk masa depanku, Moms."
"Kau benar, Nak. Baiklah, Daddy akan menunggu jawabanmu sampai besok. Kau bisa memutuskan untuk melanjutkan studimu di Universitas pilihan orangtuamu atau pilihanmu sendiri. Kau bebas memutuskannya, karena Daddy maupun Mommymu tidak akan memaksa," papar Damian yang di angguk setujui oleh istrinya.
Naura tersenyum. Senyum yang di penuhi dengan keraguan. Ia tidak tahu, keputusan apa yang akan di ambilnya hingga besok.
"Jack??" Panggilan itu sukses membuyarkan lamunan pemuda yang tengah duduk di sebelah kakaknya.
"Yaa?" Bagaikan kembali ke alam sadarnya, Jack tampak linglung. Ia lalu menatap satu-persatu penghuni di ruangan tersebut.
"Kau baik-baik saja? Kuperhatikan, sejak kembalinya kau tadi sore, kau jadi lebih banyak diam. Apakah terjadi sesuatu?"
Pemuda bernama Jack itu menggeleng singkat. "Tidak, Moms. Aku... aku hanya lelah."
"Benarkah?"
Jack mengangguk. Angel tidak kembali bertanya, karena ia dapat melihat raut wajah lelah dari pria itu. Ia lalu mengulas senyumnya.
"Sebaiknya kalian kembali ke kamar masing-masing dan beristirahat."
"Baik, Moms!!" sahut keempat remaja tersebut. Perlahan, satu-persatu dari mereka bangkit dan mulai meninggalkan ruangan itu.
Kini yang tersisa hanyalah Angel bersama suaminya. Melihat keadaan sudah sepi, Damian lekas mendekat lalu merangkul mesra istrinya.
"Ada apa? Kau terlihat cemas?"
"Salahkah aku jika mengkhawatirkan putra-putriku?"
"Apa yang kau khawatirkan, Sayang? Bukankah kita selalu ada bersama mereka?"
Angel tidak membalasnya. Tatapannya begitu fokus ke depan, dimana anak-anaknya menghilang di balik pintu. Ada sesuatu di dalam benaknya yang begitu mengganggu. Namun ia tidak bisa untuk mengatakannya kepada Damian, karena Angel takut jika suaminya tersebut akan murka.