Cool And Cheerful

Cool And Cheerful
Kejahilan Noah



Malam pun tiba. Murid-murid berkumpul sesuai dengan kelas mereka. Tak terkecuali kelas 12 A yang sedang duduk mengelilingi api unggun dengan di dampingi oleh Mrs. Bella.


Andrew yang memang tidak menyukai dengan keheningan, segera mengambil gitarnya dan memainkannya. Tanpa di minta, teman-temannya ikut bernyanyi bersamanya.


...♪Cause I remember every time...


...♪On these days that feel like you and me...


...♪Heartbreak anniversary...


...♪Do you ever think of me?...


"Lagi...." teriak para kaum wanita saat Andrew berhenti memetik gitarnya.


"Kalian ingin lagu apa?" tanya Andrew.


"Aku yang akan bernyanyi, dan kau yang bermain gitar." Tiba-tiba Davina berpindah tempat duduk di samping kekasihnya itu. Andrew tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya singkat.


"Lagu apa yang ingin kau nyanyikan?" Andrew bertanya pada Mbak Pacar.


Sejenak Davina berpikir. Sedetik kemudian ia menjentikkan jarinya.


"Bagaimana dengan lagu Know Me Too Well?"


"Pilihan yang bagus, Honey."


Mendengar kekasihnya yang memanggilnya seperti itu di hadapan orang banyak, membuat Davina jadi tersipu malu.


...♪I spend my weekends tryna get you off...


...♪My mind again, but I can't make it stop...


...♪I'm tryna pretend I'm good, but you can tell (good but you can tell)...


...♪You're right, I shoulda text you goodnight...


...♪I shoulda given more time...


...♪I wish I had've known this before...


...♪Now I'm replaying our goodbye...


...♪But it wasn't a goodbye...


...♪And I still hear you slamming the door...


Lagu yang Davina dan Andrew nyanyikan, benar-benar membuat siapapun terpukau. Tak jarang ada yang merasa iri melihat kekompakkan dan keserasian di antara keduanya.


"Kapan aku bisa seperti mereka berdua?" gumam Selena.


Tepukan tangan dan siulan terdengar dari teman-teman mereka. Hubungan keduanya tidak bisa di ragukan lagi.


"Leon, ayo bernyanyilah!!" ujar Mrs. Bella.


'Kenapa selalu aku yang dia minta?' batin Leon berdecak sebal.


"Maaf, Mrs. Tenggorokanku sedang sakit."


"Benarkah? Kenapa tidak memberitahuku?"


"Kau mau kuambilkan obat?"


Ashley dan Selena bertanya secara bersamaan. Keduanya saling menatap satu sama lain, sebelum akhirnya kembali menatap pujaan hati mereka.


"Tidak perlu mengkhawatirkanku." Sepertinya Leon membuat kesalahan dengan berbicara demikian. Lihat saja nanti, pasti kedua wanita itu berusaha untuk mendekatinya.


Tahu-tahu Sierra datang dari arah dapur umum dengan membawa secangkir minuman. Mrs. Bella yang melihatnya, jadi bertanya.


"Sierra, minuman apa yang ada di tanganmu itu?"


"Hanya air lemon dengan di tambah sedikit madu, Mrs," jawab Sierra sambil tersenyum sopan.


"Benarkah? Kebetulan sekali. Bolehkah jika minumanmu itu kau berikan kepada Leon? Saat ini dia sedang sakit tenggorokan, mungkin dengan sedikit minum air lemon, tenggorokannya menjadi membaik."


Mana mungkin Sierra menolaknya. Ia pun mengangguk pelan. Langkah kakinya ia bawa kearah Leon, kemudian memberikan secangkir air lemonnya kepada pria itu.


"Terima kasih..."


Hanya anggukan kecil yang Sierra berikan. Ia lalu segera duduk di samping Alexa. Tanpa dirinya ketahui, posisinya saat ini tepat sekali berhadapan dengan suaminya.


Mata mereka saling memandang dengan tatapan yang sulit untuk di artikan. Gerald yang menyadari itu, dengan isengnya menyenggol lengan Noah.


"Jika aku menjadi dirimu, maka aku akan langsung mendekati Sierra. Apakah kau tidak cemburu melihat kedekatan istrimu dengan pria lain?" bisik Gerald.


"Tidak."


"Aku tidak percaya itu. Aku tahu jika kau menyukainya. Akan lebih baik jika kau mengutarakannya, sebelum pria lain mengambilnya darimu."


"Bisakah jika kau berhenti berbicara?" desis Noah.


"Sayangnya, tidak." Gerald terkekeh tanpa beban. Noah mendengus, tiba-tiba di otaknya muncul ide jahil.


"Mrs. Bella??"


"Ya, Noah?"


"Gerald mengatakan padaku bahwa dia ingin bernyanyi."


"Kau gila?? Aku tidak berkata seperti itu." Gerald memekik dengan wajah terkejut. Pasalnya, Noah sendiri pun tahu jika suaranya sangatlah buruk.


"Ayolah, Gerald. Kau tidak perlu malu." Tatapan Noah lalu beralih kepada Andrew. "Bisakah kau mengiringi lagu yang akan Gerald nyanyikan?"


"Tentu saja."


"Lihat!! Andrew akan menemanimu untuk bernyanyi."


"Kenapa tidak kau saja yang menemaniku?" sindir Gerald.


"Aku ingin sekali menemanimu. Sayangnya..." Kata-kata Noah terhenti saat ponselnya berdering. Ia lekas mengambil benda pipih itu di sakunya, lalu melihat siapa yang menelpon.


Seketika Noah tersenyum penuh kemenangan. Layar ponselnya ia arahkan kepada Gerald, agar temannya itu bisa melihat siapa yang menelpon dirinya.


"Mommyku menelpon. Aku akan menjawab panggilannya terlebih dulu, setelah itu barulah aku menemanimu."


"Tapi, Noah...."


"Tidak apa-apa, Gerald. Tidak perlu gugup seperti itu."


'Aku bukan gugup, Bodoh. Tapi aku tidak bisa bernyanyi karena suaraku sangatlah buruk.' Gerald menatap Noah tajam. Tapi Noah tidak memperdulikan itu. Ia justru segera bangkit, kemudian mendekati Sierra.


Kening Sierra mengerut bingung seolah bertanya 'ada apa?'. Bukannya mengatakan sesuatu, Noah malah menarik tangan Sierra agar ikut bersamanya.


"Noah, kita akan kemana?"


"Mommy menelpon."


Pria itu sengaja mengajak Sierra untuk menjauh dari kerumunan, agar mereka bisa bebas berbicara dengan Angel.


"Hallo, Moms?" ujar Noah sambil menempelkan benda pipihnya ke telinga.


"Darimana saja? Kenapa baru menjawab panggilanku?" Angel mengomel karena dirinya tidak suka menunggu.


"Maaf, Moms. Tadi guruku sedang mengajakku berbicara."


"Kau bisa meminta izin kepadanya, bukan? Kenapa kau justru membuatku menunggu?"


Noah memijat pelipisnya. Ia tidak tahan dengan omelan Mommy-nya, sehingga menyerahkan ponselnya kepada Sierra.


"Hallo, Moms?"


Mengetahui bahwa ponselnya sudah berpindah tangan, nada bicara Angel pun melembut.


"Hallo, Sayang. Bagaimana kabarmu?"


"Aku baik. Lalu bagaimana dengan Mommy dan yang lainnya?"


"Mommy, Daddy dan Naura juga baik. Oh ya, bagaimana dengan campingnya? Apakah menyenangkan?"


"Sangat, Moms. Kami bersenang-senang disini."


"Oh, syukurlah. Mommy benar-benar mengkhawatirkanmu. Baru saja Mama-mu memberitahu Mommy bahwa kau tidak tahan dengan cuaca yang sangat dingin. Oleh sebab itu, Mommy menelponmu. Tapi kau tidak menjawab panggilan Mommy, makanya Mommy beralih menelpon Noah."


Sierra mengulas senyumnya, "Aku baik-baik saja, Moms. Mommy tidak perlu khawatir."


"Baiklah. Sayang, bisakah kau memberikan ponselnya kepada Noah? Mommy ingin berbicara dengannya."


"Oke." Sierra lalu menyodorkan ponsel itu kepada Noah, namun suaminya tersebut justru menolak.


"Kau saja. Aku sedang tidak ingin berbicara dengan Mommy."


"Noah, ambil ponselmu atau kau akan menerima hukuman setelah kembali dari camping," teriak Angel. Ternyata Sierra memperbesar volumenya.


Noah mendengus, ia lalu segera mengambil kembali ponselnya.


"Ada apa, Moms?"


Entahlah, apa yang ibu dan anak itu bicarakan. Karena Noah semakin melangkah menjauh darinya. Yang Sierra dapat lihat hanyalah anggukan dari suaminya. Sesekali Noah meringis, mungkin ia kembali mendapatkan omelan dari Mommy-nya.