
Davina meremas tangannya cemas. Kepalanya ia tolah-tolehkan berharap seseorang yang di tunggunya segera datang.
Tring!
Dering ponselnya tiba-tiba terdengar. Segera Davina membuka pesan yang masuk tersebut.
^^^Maafkan aku, Davina. Aku tidak bisa menemuimu, karena Mrs. Bella masuk ke kelas lebih awal. ^^^
^^^7.13 AM^^^
Itulah pesan yang Sierra sampaikan. Ia pun menghela nafas kecewa. Sudah sejak tadi dirinya menunggu di luar sekolah, namun Sierra tidak dapat menemuinya.
"Bagaimana sekarang?" Kecemasan Davina semakin menjadi. Ia ingin mengatakan sesuatu tentang rencana Selena, namun kepada siapa?
Andrew... Mengenai kekasihnya itu, apakah Davina dapat mempercayainya? Bahkan, temannya--Bryan ikut andil dalam rencana yang Selena buat.
Tidak ada pilihan. Dirinya harus menunggu dan bersabar. Karena rencana Selena akan di mulai sejak kepulangan sekolah dari Sierra dan yang lainnya.
...* * * ...
"Sampai jumpa..." Alexa melambaikan tangannya kepada Olivia dan Sierra. Perlahan, mobil taksi yang di tumpanginya melaju dan meninggalkan pekarangan sekolah.
"Bagaimana denganmu? Kau pulang sendiri atau--"
"SIERRA!!" Teriakkan itu memotong ucapan Olivia. Dilihatlah bahwa Davina tengah berlari kearah kedua wanita tersebut.
Olivia mendadak kesal. Ia lalu segera berdiri di hadapan Sierra untuk menghadang Davina agar tidak mendekat kearah temannya itu.
"Olivia, tidak apa-apa," ujar Sierra yang melihat Davina merasa tidak enak.
"Tidak, Sierra. Aku tidak akan membiarkan wanita ini mendekatimu."
"Davina tidak akan menyakitiku, percayalah."
"Bagaimana bisa aku percaya padanya, setelah dia menyakitimu?"
Ucapan Olivia benar-benar menohok dan menyakiti perasaan Davina. Bahkan mata wanita itu sudah tampak berkaca-kaca.
"Dan kau... apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau tidak di perbolehkan untuk datang ke sekolah ini?" sambung Olivia dengan nada ketus.
Tes.. tess..
Satu-persatu air mata Davina jatuh membasahi pipinya. Tapi dengan cepat ia menyekanya, kemudian menampilkan senyuman terbaiknya.
"Maafkan aku, jika kehadiranku membuatmu merasa tidak nyaman. Aku kesini karena ingin mengatakan sesuatu yang penting dengan Sierra."
Olivia berdecih, ia lalu melipat kedua lengannya di dada.
"Bagaimana bisa aku mempercayaimu? Bagaimana jika kau menyakiti temanku lagi?"
"Tidak akan. Jika kau perlu, kau bisa mendengarkannya juga. Oh ya, dimana Alexa?" Davina baru menyadari bahwa tidak ada Alexa di antara mereka.
"Kenapa kau bertanya tentangnya?" ketus Olivia.
"Karena ini penting. Kumohon jawab, dimana dia?"
"Dia sudah pulang. Baru saja!" jawab Sierra. Kening wanita tersebut mendadak mengernyit bingung.
"Ada apa, Davina? Kenapa kau terlihat begitu cemas?"
"Kita harus segera menyusul Alexa. Sesuatu akan terjadi kepadanya, dan itu sudah di rencanakan oleh Selena."
Mendengar hal itu, membuat Olivia dan Sierra jadi terkejut. Mereka bertatapan sejenak, kemudian kembali menatap Davina.
"Bagaimana bisa kami mempercayai ucapanmu?" tukas Olivia yang masih tidak percaya.
"Oh, Olivia. Kumohon, jangan berdebat sekarang. Alexa dalam bahaya! Apakah kau akan diam saja setelah mengetahui ini?" Ucapan Davina begitu menyakinkan, sehingga membuat Sierra percaya bahwa Davina berkata jujur.
"Ayo kita segera menyusul Alexa.." Disaat Sierra akan melangkah, tiba-tiba sebuah tangan mencekal lengannya. Sontak saja ia berbalik dan menatap pria yang mencekalnya.
"Aku akan pergi menyusul Alexa!"
"Untuk apa?"
"Aku harus menemuinya sekarang, Noah. Kumohon jangan cegah aku!!"
"Dan kau pikir, aku akan membiarkanmu pergi?"
"Noah..." Sierra memelas. Sayangnya, Noah hanya menunjukkan ekpresi datarnya. Pria tersebut lalu menarik tangan istrinya itu, kemudian membuatnya masuk ke dalam mobil miliknya.
"Kalian berdua!! Sampai kapan terus berdiri disitu? Cepat masuk!!" ujar Noah. Refleks, Davina dan Olivia mengangguk, kedua wanita itu kemudian segera menyusul dan masuk kedalam mobil Noah.
Mobil yang mereka tumpangi perlahan melaju. Ketika mereka sudah setengah perjalanan, mendadak Sierra melihat taksi yang di tumpangi oleh Alexa tengah berhenti di tepi jalan.
"Noah, berhenti sebentar!!"
Ciitt...
Terdengar bunyi ban yang berdecit. Mobil pun berhenti dan Sierra lekas keluar tanpa mengatakan sesuatu.
Nafas Sierra tercekat tatkala melihat supir taksi tersebut telah tewas dengan luka di dahinya. Di bekalang kemudi, tidak ada siapapun selain tas sekolah milik Alexa. Sierra langsung mengambilnya dan melihat tas itu. Di sampingnya sudah terdapat Davina dan Olivia serta suaminya.
"Alexa.." Olivia menutup mulutnya tidak percaya.
"Dimana dia sekarang?" lirih Sierra dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tahu. Cepat kita kembali ke dalam mobil," jawab Davina cepat. Mereka lalu kembali melanjutkan perjalanan dengan Davina sebagai petunjuk jalan.
Di lain tempat...
Alexa menangis bahkan memohon kepada Bryan agar jangan menyentuhnya. Yaa, setelah menghabisi supir taksi yang Alexa tumpangi, pemuda tersebut kemudian menarik paksa mantan kekasihnya itu agar ikut bersamanya.
"Bryan, kau gila..." teriak Alexa histeris dengan deraian air mata.
"Ya, aku memang gila. Dan ini semua karenamu, Alexa." Bryan mengacak rambutnya frustasi. Sedetik kemudian, ia tertawa senang seolah mendapatkan apa yang dari dulu ia inginkan.
Alexa menggelengkan kepalanya, "Aku membencimu.."
Tidak tahukah Alexa? Bahwa ucapannya itu memancing kemarahan Bryan. Lihatnya pria itu sekarang. Dengan wajah dinginnya, perlahan ia melepaskan pakaiannya hingga yang tersisa hanyalah celananya.
Ketakutan Alexa semakin memuncak, ketika melihat Bryan berjalan kearahnya. Sontak saja ia menarik selimut hingga menutupi tubuhnya dan yang tersisa hanyalah kepalanya.
"Kumohon, Bryan. Jangan lakukan ini!!" mohon Alexa. Namun sepertinya sang iblis telah menguasai hati pria itu.
Bagaikan tuli, Bryan terus mendekat hingga membuat Alexa memundurkan tubuhnya. Matanya hanya terfokus pada satu hal, yaitu wanita di hadapannya.
Setelah berdiri di dekat kasur, Bryan langsung menarik paksa selimut yang menutupi tubuh Alexa. Alexa menjerit ketakutan dan histeris.
"Tidak, Bryan.. Kumohon, hikss.."
Di tariknya tangan Alexa dengan paksa, kemudian ia menarik kemeja sekolah yang masih membaluti tubuh wanita tersebut. Perlahan, satu-persatu kancing kemeja Alexa terlepas.
"BRYAN!!!"
Walaupun teriakkan itu memekikan telinga, namun Bryan tidak perduli. Ia terus melanjutkan aksinya hingga kemeja Alexa terlepas dan terpampanglah br* berwarna hitam yang menutupi dua gunung kembar milik wanita tersebut.
Bryan menyeringai jahat. Di lumatnya dengan rakus bibir mantan kekasihnya itu. Hingga... terdengarlah pintu yang di buka dengan kasar dari arah luar.
Brakk!!!
Refleks, Bryan dan Alexa menoleh pada sumber suara. Baru beberapa detik Bryan menoleh, wajahnya justru mendapatkan bogeman mentah hingga membuatnya langsung tersungkur.
Tidak sampai disitu saja. Pria yang mendobrak pintu tadi, terus memukuli Bryan. Tapi Bryan tidak tinggal diam, dan terjadilah perkelahian di kamar itu.
"Alexa..." Tiba-tiba Sierra beserta yang lainnya muncul. Melihat Gerald yang sedang berkelahi dengan Bryan, Noah pun segera membantunya. Sementara ketiga wanita tersebut membantu Alexa untuk keluar dari sana. Tak lupa mereka meminjamkan jaket kepada Alexa untuk menutupi sebagian tubuhnya yang terpampang.