
Tatapan Victor begitu fokus memandangi seorang ayah dan anak yang sedang bercanda bersama di hadapannya. Tiba-tiba ia tersenyum miris, tatkala dirinya mengingat bahwa ia tidak memiliki orangtua lagi. Ia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya bercanda dan bercengkrama dengan orangtuanya, seperti wanita dan pria di depannya saat ini.
Merasa ada yang memperhatikan mereka, Sierra pun menyudahi bercandanya bersama Papanya. Dilihatnya bahwa Victor tengah memandang dirinya bersama sang papa dengan mata yang berkaca-kaca.
"Victor, ada apa?" tanya Sierra pelan.
Seketika Victor memalingkan wajahnya sembari menyeka air matanya. Ia kemudian kembali menatap James dan Sierra di depannya.
"Aku.. aku hanya merindukan kedua orangtuaku."
"Memangnya dimana mereka sekarang?" sambung James.
"Mereka sudah tiada." Victor tersenyum sendu, hal itu membuat Sierra dan James merasa tidak enak.
"Victor, maafkan---"
"Kenapa kau harus meminta maaf?" Victor memotong ucapan Sierra dengan di iringi kekehan renyah.
Sierra lalu beralih menatap Papanya. James yang mengerti, lekas menepuk pundak Victor.
"Jangan bersedih. Kita memang baru mengenal, tapi kau bisa menganggapku sebagai keluargamu."
"Kau tidak merasa keberatan?"
"Sama sekali tidak. Kemarilah!!" James merentangkan kedua tangannya. Victor segera bangun untuk memeluknya.
Tanpa terasa air mata Sierra turun membasahi pipinya. Ia begitu terharu dengan sikap papanya. Dengan cepat ia menghapus air mata itu, kemudian menampilkan senyuman manisnya.
"Berarti aku memiliki saudara lagi sekarang."
Mendengar itu, Victor dan James melepaskan pelukan mereka. Kedua pria tersebut pun tertawa bersama dan saling bertukar nomor ponsel, bila sewaktu-waktu ada yang saling membutuhkan.
...* * * ...
Angel sudah berdiri di teras mansion sambil berkacak pinggang menatap kedua anak dan ayah yang baru saja kembali. Mereka mengatakan bahwa tidak akan pergi lama, tapi ini?? Matahari sudah hampir tenggelam dan mereka baru saja menginjakkan kaki di mansion.
Sierra menyengir kuda, ia lalu menghampiri mommy-nya kemudian memeluk tubuhnya.
"Maaf, Moms. Kami keluar terlalu lama hingga lupa waktu."
"Aku pikir kalian lupa jalan pulang," sindir Angel.
James justru tertawa tanpa merasa bersalah. Pria itu bahkan dengan santainya melenggang masuk lebih dulu.
"Ayo masuk.." ajak Angel sambil menuntun Sierra. Padahal menantunya itu sudah bisa berjalan sendiri, namun Angel memperlakukannya seperti orang yang masih sakit.
"Noah..." panggil Sierra saat mendapati suaminya berada di dalam kamar. Sementara Noah yang merasa ada yang memanggilnya, lekas berbalik dan menatap Sierra intens.
"Kau bersihkan diri dulu, setelah itu kita akan makan malam bersama. Dan kau, Noah.. tuntun istrimu untuk menuju ke ruang makan, jangan kau meninggalkannya."
Noah hanya mengangguk singkat. Angel pun berlalu dari sana dan menyisakan Sierra bersama suaminya.
"Darimana?"
"Hanya sekedar mencari udara segar bersama Papa."
"Selama itu? Mommy mengatakan bahwa kalian pergi saat siang, dan baru kembali sore hari."
Sierra tidak menjawabnya. Ia lebih memilih untuk mengambil handuknya yang berada di dalam lemari, setelah itu ia memasuki kamar mandi tanpa mengatakan sepatah katapun. Noah menatap istrinya dalam diam, ada banyak hal yang sebenarnya ingin ia katakan. Namun, melihat Sierra yang sedang tidak ingin di ajak bicara, membuat Noah memilih untuk mengatakannya nanti.
...* * * ...
PLAKK
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Selena. Wanita yang menamparnya tak lain adalah istri ayahnya, atau ibu tirinya.
"Tidak bisakah jika kau tidak membuat masalah? Karena ulahmu itu, aku harus menanggung malu di hadapan teman-temanku," hardik Astrid sambil menunjuk wanita di hadapannya.
"Beraninya kau memukulku."
"Kenapa? Apa kau tidak terima? Haruskah aku mengadukannya kepada Daddymu, hah?"
"Adukan saja. Kau pikir, aku takut?"
Astrid tertawa sinis. Ia kemudian melipat kedua lengannya di dada.
"Dasar wanita tidak tahu di untung. Harusnya dulu aku membiarkanmu tinggal di jalanan. Jika saja bukan karena Emily yang memberitahuku, maka aku tidak akan tahu apa yang telah kau perbuat. Kau tidak jauh berbeda dengan ibumu, selalu saja membuat kekacauan."
"Jaga bicaramu, Sialan!! Dan siapa itu Emily? Apa yang dia katakan kepadamu?"
"Kau tidak tahu dia?" Astrid berdecih, "Emily Macenzi, semua orang mengenalnya."
"Darimana dia mengetahui tentangku?"
"Dia memiliki seorang putri di sekolah yang sama denganmu. Karena itulah dia mengetahui segalanya."
"Macenzi.." Selena bergumam sembari berpikir keras. Siswi mana yang memakai nama marga itu.
"Alexandra Macenzi.." Astrid menambahkan karena mendengar gumaman dari wanita tersebut.
Seketika kedua tangan Selena terkepal saat tahu siapa wanita yang Astrid maksud. Nafasnya memburu yang menandakan ia benar-benar marah saat ini.
"Karena ulahmu itu, maka aku akan mengambil semua fasilitas yang Daddymu berikan. Apalagi selama seminggu ke depan, kau tidak akan masuk ke sekolah. Dan aku rasa, kau tidak membutuhkan fasilitas itu, bukan?"
"Kau tidak memiliki hak untuk mengambil semua milikku."
Astrid tertawa sarkasme, "Kau lupa siapa aku? Aku adalah istri Daddymu. Jadi, apa yang menjadi milik Daddymu berarti milikku juga."
"Menjijikkan!! Aku tidak tahu racun apa yang kau berikan kepada Daddyku, sehingga dengan mudahnya dia menuruti keinginanmu."
"Itulah yang dinamakan dengan cinta buta, Sayang." Astrid menyentuh wajah Selena, namun dengan cepat Selena menepisnya.
"Kau memang istri dari Daddyku, namun sampai kapanpun kau tidak akan pernah bisa menjadi Mommyku. Ingat itu!!"
"Aku juga tidak tertarik menjadi Mommymu. Siapa yang ingin memiliki anak seperti dirimu?"
Kemarahan Selena semakin menjadi. Ia lalu mengangkat tangannya untuk memukul Astrid. Namun sebelum tangannya itu mengenai wajah ibu tirinya tersebut, sebuah tangan tiba-tiba menahan tangannya.
Selena menoleh kearah pemilik tangan itu. Ternyata Daddy lah yang menahan tangannya. Terlihat sang Daddy tengah menatapnya marah, sedetik kemudian Axel menghempaskan tangan Selena dari cekalannya.
"Apa yang kau lakukan? Kau ingin memukul istriku, hah?" teriak Axel dengan amarah. Sementara Astrid justru tersenyum penuh kemenangan.
Sejenak Selena terdiam. Ia lalu tersenyum kecut, kemudian membalas tatapan Daddy-nya dengan mata yang berembun.
"Dulu, kau tidak pernah membentakku seperti ini. Tapi semenjak kehadirannya, jangankan membentakku, kau bahkan sering melupakan bahwa aku adalah anakmu."
"Ini semua karena perbuatanmu, Selena. Aku sudah muak dengan segala tingkah lakumu yang membuatku malu."
Mendengar itu, Selena pun jadi tersenyum pahit.
"Kau pikir apa yang membuatku bertingkah seperti ini, jika bukan karena dirimu."
"Jangan menyalahkan siapapun, Selena. Harusnya kau bersyukur dan berterima kasih kepada Astrid yang selama ini sudah mengurusmu dengan baik."
Lagi-lagi Selena tertawa mendengarnya. Di detik berikutnya, ia menampilkan wajah dingin. Apalagi saat melihat ibu tirinya yang bergelayut manja di lengan Daddy-nya. Ia tidak ingin berdebat lagi dengan pria di hadapannya karena dirinya ada urusan yang jauh lebih penting. Selena kemudian berbalik dan hendak melangkah, namun sebuah suara justru membuatnya berhenti.
"Selena, kau akan kemana? Kau belum makan, Nak."
"Berhentilah berpura-pura peduli tentangku. Kau bukanlah Mommyku!!"
"Selena!!" bentak Axel. Sayangnya, Selena tidak perduli lagi dan memutuskan untuk mengayunkan kakinya agar segera pergi dari sana.