Cool And Cheerful

Cool And Cheerful
Permintaan Seorang Ibu



Seorang dokter keluar dari sebuah ruangan, Jack dan Aleca bergegas menghampirinya dan bertanya tentang Davina.


"Bagaimana kondisi anakku, Dok?"


"Anakmu dalam keadaan baik. Hanya saja, dia terlalu lelah dan stres sehingga membuat kondisinya sedikit menurun. Dan bukan itu saja, anak di dalam kandungannya agak melemah, jadi kusarankan, biarkan dia dirawat inap untuk malam ini."


'Anak? Di kandungannya?' Di karenakan otak Jack yang sama seperti ibunya, jadi ia membutuhkan waktu agar otaknya tersebut bisa terkoneksi.


Jack terdiam dan berpikir cukup lama, sehingga tidak menyadari bahwa dokternya telah pergi dan hanya menyisakannya bersama ibu dari Davina.


"Emm, maaf.. Bolehkah aku tahu apa yang dokter tadi maksud? Anak siapa yang melemah?"


Sesaat, Aleca bergeming. Ia lalu menghembuskan nafasnya panjang dengan raut wajah sedih yang tercetak dengan jelas.


"Davina... dia tengah mengandung saat ini."


Mulut pemuda itu langsung membentuk huruf O. Di detik berikutnya, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal di sertai dengan wajahnya yang nampak bingung.


"Aku tidak tahu jika Davina sedang mengandung. Ngomong-ngomong, dimana suaminya? Sejak pertama aku bertemu Davina, aku tidak pernah melihat dia sedang bersama suaminya."


Tess!!


Air mata yang berusaha di tahan oleh Aleca, akhirnya tumpah juga. Ia terisak karena tak kuasa membendung kesedihannya dan juga kemalangan putrinya.


"Bi?" Seketika Jack menjadi tidak enak. Sepertinya ia paham sekarang. Mungkin terjadi sesuatu di antara Davina dengan suaminya, sehingga pria tersebut tidak pernah muncul di hadapan mereka.


"Maafkan aku.. Aku tidak bermaksud untuk..."


"Tidak apa-apa, Jack. Aku tahu jika kau adalah pria baik." Aleca menyeka air matanya. Ia lalu melirik sejenak kearah Davina yang tengah terlelap dari balik pintu yang transparan, sebelum akhirnya ia mengajak Jack agar ikut bersamanya.


Jack tidak tahu pasti kemana Aleca akan membawanya. Namun karena dirinya merasa begitu penasaran, akhirnya ia menurut saja dan mengikuti langkah Aleca yang entah akan membawanya kemana.


...* * * ...


Shock? Tentu saja. Jack bahkan tidak tahu harus berkata apalagi setelah Aleca menjelaskan semuanya. Sekarang ia paham, mengapa Davina menjadi pribadi yang tertutup dan pendiam. Mungkin itu semua karena rasa traumanya.


"Anak itu.. adalah alasan bagi Davina bisa bertahan sampai detik ini. Jika saja terjadi sesuatu kepada anaknya, mungkin Davina akan mengakhiri hidupnya saat itu juga." Dengan deraian air mata, Aleca masih menambahkan tentang apa yang terjadi kepada putrinya.


"Sekarang, hal yang terpenting dalam hidup Davina adalah melahirkan anaknya dan juga membesarkannya seorang diri. Aku tidak tahu, sampai kapan Davina akan menutup diri dan tidak mau berhubungan lagi dengan seorang pria. Karena baginya, cukup Andrew yang dia cintai dan tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi dari pria itu, baik di hatinya maupun di hidupnya."


Hening... Aleca tidak mengeluarkan suaranya lagi maupun Jack. Hanya terdengar suara kicauan burung dan angin sepoi-sepoi di sekitar mereka, karena saat ini posisi keduanya tengah berada di taman Rumah Sakit.


Tiba-tiba Jack berdehem singkat, "Sungguh, aku tidak tahu harus mengatakan apa. Tapi jujur saja aku merasa kasihan terhadap Davina. Andai saja aku bisa melakukan sesuatu untuk membuatnya bahagia, pasti akan dengan senang hati kulakukan."


Mendengar ucapan Jack barusan, entah mengapa Aleca merasakan ada secercah harapan yang bisa ia lakukan untuk kebahagiaan putrinya.


"Kau yakin akan melakukan sesuatu untuk kebahagian putriku?"


"Tentu saja, Bi. Davina sudah cukup menderita. Jika kita bisa membuatnya bangkit lagi, maka itu akan menjadi kebahagiaan juga untuk kita sendiri."


Senyum haru terukir di wajah Aleca. Ia kemudian menggenggam tangan Jack sambil menatapnya penuh harap.


"Aku percaya kepadamu, Jack. Kau adalah pria yang baik dan bisa membuat putriku bahagia. Tolong kembalikan harapannya dan juga senyumannya seperti dulu. Aku begitu merindukan kehidupannya yang dulu, dimana dia selalu tersenyum dan ceria. Kumohon, Jack. Kabulkanlah permintaan dari seorang ibu untuk putrinya ini."


"Aku tidak bisa berjanji, Bi. Tapi aku akan berusaha untuk mengabulkan keinginanmu itu."


Aleca bisa melihat tekad Jack yang begitu dalam. Walaupun Jack masih terbilang cukup muda dan kekanak-kanakan, namun ia percaya bahwa pemuda tersebut tidak akan mengecewakannya.


Setelah cukup lama berada di taman, Aleca dan Jack kembali keruangan Davina untuk menemui wanita itu.


Posisi Davina saat ini sedang membelakangi mereka, namun melihat dari pergerakan bahunya yang bergetar, mereka pun tahu bahwa sekarang ia tengah menangis dalam diam. Mungkin karena wanita itu tidak ingin jika ada yang melihatnya sedang bersedih.


"Nak..." Aleca berusaha memanggil Davina sambil menyentuh bahunya, sayangnya tidak ada respon dari wanita tersebut.


"Ada apa, hmm? Kenapa kau menangis? Apakah ada yang sakit? Ataukah dokter mengatakan sesuatu kepadamu?" Setelah sekian kerasnya membujuk putrinya, akhirnya Davina berbalik dan langsung memeluk perutnya.


"Andrew, Bu... Aku sangat merindukannya. Tadi dia hadir di mimpiku, namun dia tidak mengatakan apapun kepadaku.. hiksss.."


Aleca hanya bisa mengelus punggung Davina dengan lembut. Ia lalu melirik seorang pemuda yang berdiri tak jauh darinya, seolah memberikan kode agar segera mendekat.


Jack yang mengerti akan kode tersebut, lekas menghampiri dan mengambil posisi di samping Aleca. Di tatapnya lamat-lamat wanita yang sedang berada di atas tempat tidur. Entah mengapa ia merasakan sesak saat melihat Davina yang nampak begitu tersiksa.


"Andrew sangat beruntung karena dicintai olehmu..." Tidak tahu keberanian darimana, Jack tiba-tiba berkata demikan.


Sontak saja Davina menghentikan tangisannya, ia kemudian melepaskan tangannya yang melingkar di perut ibunya. Dengan matanya yang sembab, ia menatap pemuda yang baru saja berbicara. Jack? Dia ada disini?


Mendapatkan tatapan seperti itu, Jack segera mengulas senyumnya.


"Bagaimana perasaanmu? Apakah kau sudah merasa lebih baik sekarang?"


Tidak ada tanggapan. Jack mengira bahwa Davina masih terkejut dengan keberadaannya disini.


"Kau tidak perlu terkejut seperti itu. Aku---"


"Apa yang kau lakukan disini?" tukas Davina yang memotong ucapan dari pemuda itu.


"Davina, jangan berbicara seperti itu, Nak!!" Aleca merasa tidak enak kepada Jack, tapi syukurlah pemuda tersebut nampaknya tidak tersinggung.


"Apa lagi yang kulakukan disini, jika bukan karena ingin menjengukmu!!" jawab Jack santai sambil mendaratkan bokongnya di kursi samping tempat tidur pasien.


"Ibu..." Davina mendongak untuk menatap Aleca, "Kenapa kau membiarkannya berada disini?"


"Tidak apa-apa, Sayang. Lagipula, Jack sudah membantu kita. Dialah yang membawamu kesini."


"Benarkah?" Aleca mengangguk singkat. Davina lalu kembali menatap Jack yang sedang tersenyum kearahnya. Sebenarnya ia tidak mau mengatakan ini, tapi ia harus mengatakannya.


"Terima kasih..."


Senyum Jack semakin melebar. Dengan riangnya ia membalas ucapan dari Davina.


"Sama-sama.."


Melihat putrinya yang mulai berangsur membaik, Aleca pun bersyukur. Setidaknya ada Jack yang akan membantunya untuk menjaga Davina selagi dirinya tidak ada.