Cool And Cheerful

Cool And Cheerful
Ravenna



"Kau yakin akan pergi?" tanya Angel yang sedang bertemu dengan Dave di sebuah cafe.


"Tentu saja, Angel. Anak buahku melihat Roby di Ravenna. Dan aku yakin, pasti ada Sherly bersamanya." Dave menyeruput kopinya sambil memandang kearah keluar.


"Sampai detik ini, kau masih berusaha untuk mencarinya. Aku hanya berharap, kau bisa segera bertemu dengannya dan menebus semua kesalahanmu dulu. Sekaligus, aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan anakmu, jikalau itu memang benar adanya."


Dave tersenyum, "Terima kasih, Angel."


Hanya wanita di hadapannya inilah yang mengerti akan dirinya. Sesibuk apapun Angel, dia pasti akan siap meluangkan waktunya untuk mendengarkan keluh kesah yang Dave alami.


Tidak terbayangkan bagi Dave jika hidup di negara yang besar dan ramai, namun tidak memiliki seseorang pun yang ia kenal dan dekat.


Jika Damian, jangan di tanya! Selalu saja pria itu memasang benteng besar di antara mereka. Bahkan untuk bertemu dengan anggota keluarganya, harus sepengetahuan dari Damian.


"Apa kalian sedang berselingkuh di belakangku?"


Kedatangan seseorang di samping mereka, membuat Angel dan Dave tersentak sekaligus terkejut. Ketika keduanya menoleh, ternyata itu Damian.


"Damian, apa yang kau katakan? Mana mungkin kami melakukan itu." Angel lalu segera berdiri kemudian menggapai tangan suaminya.


Sayangnya, Damian tidak mendengarkannya. Pria itu masih menatap tajam dirinya dan juga Dave secara bergantian.


"Percuma, Angel. Suamimu itu tidak akan mendengarkan ucapanmu," timpal Dave dengan segela kejengahannya.


"Kau masih berani berbicara seperti itu, apa kau tidak tahu malu?"


Dave terkekeh, "Aku rasa tidak."


Kemarahan Damian memuncak. Dia mengepalkan kedua tangannya dan hendak maju selangkah, namun Angel lebih cepat menahannya.


"Kumohon, hentikan. Jangan membuat keributan disini." Angel memelas, baik kepada suaminya maupun kepada Dave.


Kepalan tangan Damian perlahan mengendor. Tapi tatapannya masih tajam, dan itu tertuju untuk Dave yang sedang santai menikmati kopinya.


"Ayo kita pergi!!"


Angel langsung mengangguk. Ia mengambil tasnya di atas meja lebih dulu, kemudian melingkarkan tangannya di lengan suaminya.


"Dave, aku pergi dulu. Sampai jumpa..."


Pria yang sedang duduk tersebut mengangguk. Kedua pasangan itupun berlalu dari hadapannnya.


Melihat kepergian dari Angel dan Damian, membuat Dave tersenyum miris. Usianya kini sudah menginjak kepala empat, namun dirinya belum memiliki seorang pendamping.


Padahal, teman yang sebaya dengan dirinya, sudah memiliki dua orang anak. Sedangkan dia?


Terkadang ada rasa iri di hatinya, tatkala sepasang suami istri bermain, bercanda dan tertawa bersama anak-anak mereka. Namun dia hanya bisa menatapnya dengan senyum pahit.


'Aku hanya berharap bisa secepatnya menemukanmu, Sherly. Lalu, kita akan mengulang semuanya dari awal.'


...* * * ...


"Kenapa kau murung seperti itu?" tanya Noah yang baru memasuki ruang makan. Tak sengaja dia melihat kembarannya duduk diam di salah satu kursi dengan wajah murungnya.


"Paman Dave pergi." Naura menjawabnya dengan suara lirih. Rasanya, dia tidak memiliki semangat jika Paman Davenya tidak ada disini.


"Kemana?"


"Ravenna."


Noah yang semula hendak menggigit apelnya, seketika berhenti. Mendadak keningnya mengerut heran.


"Untuk apa?"


Kesal dengan pertanyaan yang terus-menerus Noah ajukan, Naura pun berdecak.


"Mana aku tahu."


Naura menggeleng lemah, "Tidak. Aku bahkan di beritahu oleh Mommy. Paman Dave jahat sekali, mengapa dia pergi tanpa memberitahuku?"


Sejenak Noah berpikir. "Bukankah itu aneh? Ravenna 'kan hanya sebuah perkotaan kecil di sisi Utara Italia. Untuk apa Paman kesana? Jika untuk menemui keluarga, sepertinya tidak mungkin. Dia bahkan tidak memiliki keluarga lagi."


"Kau benar. Tidak terpikirkan olehku." Si kembar kini sama-sama berpikir keras. Namun semuanya sirna, saat ada yang datang di ruangan tersebut.


"Apa yang sedang kalian bicarakan? Sepertinya menyenangkan." Sierra yang tiba-tiba muncul, langsung mengambil tempat duduk di samping Naura.


"Hanya membahas tentang kepergian Paman Dave," jawab Naura.


"Oh ya? Kemana dia pergi?"


"Ravenna."


"Untuk apa?"


"Itulah yang sedang kami pikirkan. Jika urusan keluarga, itu tidak mungkin. Kau sendiri tahu bahwa Paman Dave tidak memiliki siapapun lagi."


"Tapi, Noah. Siapa tahu Paman Dave memiliki kerabat disana. Dan bukan hanya itu, mungkin dia memiliki bisnis di Ravenna." Sierra tetap menanamkan agar mereka berpikir positif. Paman Dave mereka, tidak pernah terlibat masalah, kecuali dengan Daddy mereka, Damian.


"Sierra benar. Ini semua karenamu, Noah."


"Ehh? Kenapa kau justru menyalahkanku?" dengus Noah.


"Karena kau telah memprovokasiku agar aku berpikir yang tidak-tidak tentang Paman Dave. Seharusnya, karena kau yang lebih tua di antara kami, sudah semestinya mengajak kami kepada kebaikkan, bukannya malah mengajak kami negative thinking kepada orang lain. Apalagi jika itu Paman Dave."


"Kau tadi bahkan berpikir yang sama denganku." Noah menatap Naura sinis.


"Itu karena kau sudah menodai otakku. Sepatutnya, kau contoh istrimu ini. Walaupun dia yang termuda di antara kita, tapi dialah yang paling bijak. Tidak seperti dirimu tentunya."


Lama-kelamaan Noah menjadi berang. Dia pun memutuskan untuk menyudahi perdebatan mereka dengan cara meninggalkan ruangan itu.


Sierra yang melihatanya, segera berdiri.


"Naura, aku menyusul Noah dulu."


Naura hanya mengacungkan jempolnya. Karena saat ini dia sedang meneguk segelas air mineral. Ternyata, berdebat dengan saudara kembarnya sendiri, benar-benar menguras tenaganya. Padahal itu hanya melalui mulut, bagaimana jika dirinya harus mengeluarkan jurusannya. Bisa-bisa Naura langsung tepar setelah bertengkar dengan kakaknya itu.


Di sisi lain, Sierra sudah berada di depan kamarnya. Dia mengintip sebentar dari celah pintu, barulah setelah itu dia memutuskan untuk masuk.


Tidak ada tanda-tanda dari suaminya di ruangan tersebut. Namun pintu kamar balkon terbuka lebar. Pasti dia diluar, pikir Sierra.


Tanpa pikir panjang, Sierra berjalan pelan kearah balkon. Seketika angin kencang menerpa wajahnya, hingga membuatnya harus memejamkan mata.


"Apa yang kau lakukan disini?"


Pertanyaan itu, membuat Sierra kembali membuka matanya saat angin yang menerpa wajahnya sudah tidak sekencang tadi.


"Aku... Aku hanya ingin mencari udara segar." Sierra berdehem pelan, lalu melanjutkan langkahnya dan mengambil posisi di samping Noah sambil berpegangan pada pagar pembatas.


Untuk beberapa saat keduanya terdiam, sampai indera penciuman Sierra merasakan bau yang tidak ia suka. Ketika dia menolehkan kepalanya, dirinya di buat terkejut dengan Noah yang sedang merokok.


Seketika Sierra mengambil paksa rokok itu, kemudian membuangnya ke lantai dan menginjaknya hingga padam. Sedangkan Noah, hanya bisa memasang wajah tanpa ekpresinya seperti biasa. Dia sudah cukup lelah berdebat dengan Naura, dan sekarang dia tidak ingin berdebat dengan siapapun.


"Kau tahu, bukan? Baik Mommy maupun Daddy, tidak akan suka jika melihatmu merokok seperti ini."


"Mereka tidak akan tahu, jika kau tidak memberitahunya," balas Noah acuh.


Sierra membuang nafasnya panjang, sambil memejamkan matanya sesaat.


"Udara di luar semakin dingin. Ayo kita masuk..."


Tidak ada jawaban. Sierra lalu memutuskan untuk meraih tangan suaminya, kemudian mengajaknya untuk masuk kedalam. Syukurlah tidak ada penolakan dari pria itu. Noah hanya bergeming dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.