
Sejak tewasnya Selena dan Ashley, Noah pikir masalah mereka sudah selesai. Namun dugaannya itu salah, masih ada masalah lain yang menghantui hubungannya dengan Sierra, siapa lagi jika bukan Leon.
Noah tahu jika Leon sudah tidak memiliki teman yang begitu dekat dengannya. Tapi haruskah ia mendekati Sierra dan mengajaknya berbicara berdua di taman seperti ini? Tidak! Noah tidak akan membiarkannya.
"Sierra..."
Merasa ada yang memanggil namanya, Sierra dan juga Leon refleks menoleh. Di belakang mereka sudah terdapat Noah yang memasang ekpresi tidak bersahabat.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Noah, Sierra hanya---"
"Aku tidak bertanya padamu!!" bentak Noah yang memotong ucapan Leon. Ia lalu kembali menatap istrinya dengan pandangan yang menyorot tajam.
"Olivia mengatakan, bahwa kau sedang tidak ingin ke kantin dan ingin ke perpustakaan saja. Apakah perpustakaannya sudah berpindah kesini?"
"Tidak, Noah. Aku.. aku tadi memang ingin ke perpustakaan, namun melihat Leon duduk disini sendirian, jadi aku menghampirinya."
Noah tersenyum sinis. Tanpa mengatakan apapun, ia menarik tangan Sierra agar ikut bersamanya. Sayangnya, saat mereka hendak melangkah, tangan Sierra yang sebelahnya malah di tarik oleh Leon.
"Kau tidak bisa memaksanya untuk ikut bersamamu!!" tukas Leon datar.
"Oh ya?" Suami dari Sierra tersebut tertawa sarkasme, hanya beberapa detik. Setelahnya, wajah itu berubah menjadi dingin dengan sorot mata yang tajam.
"Aku bisa melakukan apapun yang kuinginkan padanya. Karena aku---"
"Noah!!" potong Sierra cepat. Matanya memelototi pemuda itu agar berhenti bicara. Dirinya tidak ingin jika Noah memberitahu semuanya, tentang hubungan mereka.
"Minta dia untuk melepaskan tanganmu!!" ujar Noah pada akhirnya. Sierra mengangguk, ia lalu segera menatap Leon.
"Leon, kumohon lepaskan tanganku. Biarkan aku pergi!!" Sebenarnya Sierra merasa tidak enak, namun mau bagaimana lagi?
Perlahan, Leon melepaskan tangan Sierra dari genggamannya. Noah pun kembali menarik istrinya itu dan membawanya untuk pergi darisana.
Ingin sekali rasanya Leon mencegahnya, namun apalah dayanya. Ia bukanlah siapa-siapa bagi Sierra. Ia cukup sadar diri untuk itu.
...* * * ...
Hari ini, Angel ingin memberikan kejutan kepada suaminya, dengan cara datang ke kantor Damian tanpa memberitahu. Wajahnya di penuhi senyuman, sambil membayangkan bagaimana reaksi suaminya melihat kedatangannya tanpa di beritahu.
"Mrs. Wilson.." sapa Sekrestaris Damian. Ia begitu terkejut melihat istri dari atasannya yang tiba-tiba sudah berada di hadapannya.
Angel hanya menampilkan senyuman ramahnya. Ia lalu ingin menyentuh pegangan pintu, namun ucapan Sekretaris itu menghentikan gerakannya.
"Mr. Damian sedang kedatangan tamu, Mrs."
"Oh ya? Apakah tamu itu sangat penting?"
Sekretaris itu mengangguk, "Dia juga merupakan teman lama dari Mr. Damian."
Senyum Angel kembali mengembang. Ia tahu siapa yang berada di dalam sana, yang saat ini sedang bersama suaminya. Tanpa membalas ucapan dari Sekretaris itu, Angel lekas membuka pintu tersebut dan langsung masuk begitu saja.
Degg!!
Dugaannya salah. Angel mengira bahwa yang bersama dengan suaminya adalah James, ternyata bukan. Dia... pria yang selama ini menghilang tanpa kabar dan jejak, kini duduk bersebrangan dengan suaminya.
"Sayang, apa yang kau lakukan disini? Kenapa tidak mengabariku lebih dulu?" Damian terlihat panik. Ia berusaha bicara dengan istrinya, namun Angel justru menggeser tubuhnya agar tidak menghalangi jalan wanita tersebut.
"Roby... Kau ada disini?" Pertemuan ini... bagaikan pertemuan Angel dengan orang yang sudah tiada, tapi tiba-tiba kembali hidup dan muncul di hadapannya.
"Urusanku sudah selesai. Aku harus pergi sekarang!!" Roby lekas keluar, karena dirinya sengaja ingin menghindari Angel. Disaat wanita itu ingin mengejarnya, tangannya justru di tahan oleh suaminya.
"Sayang..."
Angel segera menepis tangan itu. Ia menatap suaminya dengan perasaan campur aduk antara marah dan kecewa.
"Selama ini kau bertemu dengannya tanpa memberitahuku sama sekali. Kenapa, Damian? Kenapa kau menutupi semua ini?"
"Memangnya apa yang harus kukatakan padamu? Apakah kau memiliki urusan dengannya? Tidak, bukan? Hanya Dave yang memiliki urusan dengan Roby, bukan dirimu!!".
Air mata Angel mengalir dengan deras. Ia menatap suaminya tidak percaya. Bertahun-tahun ia dan Dave berusaha mencari keberadaan pria itu, namun tidak pernah berhasil. Tapi, suaminya sudah bertemu dengan Roby, sayangnya ia tidak mengatakan apapun pada dirinya.
"Ya. Kau benar. Dave lah yang memiliki urusan dengan Roby, bukan diriku. Tapi, apakah salah jika aku ingin membantunya? Dia temanku, dan kau bisa melihatnya sendiri. Betapa hancurnya kehidupannya saat ini. Bahkan ia memilih untuk tidak menikah dan berhubungan dengan wanita manapun, karena ia pikir bisa memperbaiki hubungannya dengan Sherly. Dan yang bisa mempertemukan Dave dengan Sherly, hanyalah Roby. Kau pun tahu itu! Tapi kau justru menyembunyikannya dari kami!!"
"Angel, kumohon mengertilah. Aku tidak ingin ikut campur ke dalam urusan mereka. Dan biarkan Dave sendiri yang berusaha untuk mencarinya," ujar Damian sambil menyentuh wajah istrinya.
Sayangnya, lagi-lagi Angel menepis tangan itu. Ia lalu mundur satu langkah untuk menjauhi suaminya.
"Ini yang kubenci darimu, Damian. Kau sangat egois. Bukan satu atau dua tahun Dave bersama kita. Tapi dia sudah belasan tahun disini, hanya untuk apa? Hanya untuk mencari Sherly. Oh astaga, aku lupa akan sesuatu." Angel menyeka air matanya sambil tertawa hambar.
"Aku lupa bahwa kau tidak memiliki teman. Oleh sebab itu, kau tidak bisa menghargai sebuah hubungan pertemanan."
"Angel.." Damian menatap Angel intens, seolah memperingati agar menjaga kata-katanya.
"Aku tidak tahu jika kebencianmu terhadapku bisa sebesar ini!!" Dari arah pintu, berdiri Dave dengan senyum kecutnya. Ia sudah mendengar semuanya. Sayangnya, saat ia akan menuju ke ruangan Damian, ia dan Roby menaiki lift yang berbeda, sehingga keduanya tidak dapat bertemu.
Dengan langkah pelan, Dave memasuki ruangan itu. Ia menatap Damian sejenak, setelah itu beralih kepada Angel di sampingnya.
"Suamimu benar. Ini masalahku, urusanku. Biarkan aku menyelesaikan sendiri. Sudah cukup aku merepotkanmu, Angel. Dan terima kasih karena kau sudah mau membantuku untuk mencarinya selama ini. Tapi mulai sekarang, jangan mencoba untuk membantuku. Aku bisa menanganinya."
Serasa tidak ada lagi yang ingin di sampaikan, Dave memilih untuk beringsut keluar. Jujur saja, ia begitu kecewa dan terluka. Dave pikir, hubungannya dengan Damian sudah baik-baik saja, ternyata tidak. Pria itu masih membencinya, sama seperti pertama kali mereka bertemu.
Tanpa terasa butiran bening mengenangi pelupuk matanya, namun dengan cepat Dave menghapusnya. Untung saja saat ini lift yang di naikinya sedang kosong, dan hanya terdapat dirinya di ruangan kecil berbentuk kubus tersebut.
Kembali ke Angel. Ia merasa bahwa tidak ada yang perlu di bicarakan lagi dengan suaminya. Lagipula, Damian sangatlah keras kepala. Pria itu tidak akan mau mendengarkan ucapannya.
"Angel, kau akan kemana?"
"Keluar dari ruangan ini. Lagipula, tidak ada gunanya aku tetap berada disini."
Sepeninggal istrinya, Damian langsung berdecak kesal. Ia mengacak rambutnya sendiri karena merasa marah berada di situasi seperti ini. Kenapa semuanya bisa menjadi begini? Ia tidak ingin ikut campur dalam urusan Dave, tapi dirinya justru mendapatkan kemurkaan dari istrinya sendiri.