Cool And Cheerful

Cool And Cheerful
Pertengkaran Noah dan Ashley



Dengan tergesa-gesa, Noah melangkahkan kakinya menuju ke kelas. Setibanya disana, wanita yang sedang di carinya ternyata sudah duduk manis di atas meja dan tengah mengobrol bersama Davina.


Tanpa pikir panjang, Noah lekas menghampirinya kemudian menarik tangannya agar berdiri menghadapnya.


"Apa kau sengaja melakukannya, hah?" bentak Noah tepat di depan wajah Ashley.


Ashley yang tidak terima dengan bentakan dari Noah, segera menghempaskan cekalan tangan dari pria itu. Ia kemudian membalas tatapan Noah dengan kemarahan.


"Kau sudah gila? Kau datang dan memarahiku tanpa sebab, apa yang sebenarnya terjadi denganmu?"


"Berhenti berpura-pura, Sialan!!" Noah mendesis sambil mencengkeram lengan wanita tersebut.


"Kau sengaja melakukannya, dan aku tahu itu."


"Aku tidak mengerti maksud dari ucapanmu. Dan berhenti membentakku, Berengsek." Kembali Ashley melepaskan cekalan dari Noah. Ia mengelus lengannya karena merasa sakit akibat perbuatan pria tersebut.


Noah tersenyum sarkasme, "Luar biasa. Kemarin kau membuat Sierra tersesat di hutan, dan sekarang kau sudah melupakannya begitu saja."


Pernyataan dari pria itu membuat semua orang yang berada di kelas tersebut menjadi terkejut dan seolah tidak percaya jika Ashley sengaja melakukannya.


"Jaga bicaramu. Aku tidak mumgkin melakukan itu," sanggah Ashley dengan wajah gugupnya.


"Benarkah? Lalu, kenapa kau meninggalkan Sierra sendirian disana? Dan mengapa petunjuk arah menjadi berubah? Bukankah itu semua karena ulahmu?"


Tidak tahan dengan Noah yang memojokkannya, membuat Ashley akhirnya mengakui semuanya.


"Yaa, memang aku yang melakukannya. Lalu apa yang ingin kau lakukan sekarang?"


Siswa dan siswi di ruangan itu mulai berbisik dan ada yang secara terang-terangan mencela perbuatan Ashley.


"Apa yang mendasarimu hingga berani melakukan hal buruk tersebut kepada Sierra? Apa Sierra pernah menyakitimu?" Noah berusaha untuk bersikap sabar dan mengontrol emosinya.


Ashley dengan santainya melipat kedua lengannya di dada. Ia tersenyum miring kearah Noah.


"Sederhana. Dia mendekati Leon dan aku tidak suka itu."


"Hanya karena itu??" Dengan tenangnya Ashley mengangguk iyakan ucapan Noah.


"Aku tidak menyangka kau akan senekat ini, Ashley. Kupikir, kau hanya akan sebatas menyukai dan menganggumi Leon." Alexa ikut menyela, ia bahkan sudah berdiri dari duduknya.


"Yaa.. Aku pun menyukai Leon, namun tidak akan sampai senekat dirimu yang dengan beraninya menyakiti wanita yang tidak bersalah," timpal Olivia.


"Cihh, kalian tidak akan tahu bagaimana perasaanku padanya. Jangankan menyakiti orang lain, aku pun akan berani membunuhnya jika dia berani mendekati pria yang kucintai."


Semuanya tercengang dengan kata-kata dari Ashley. Tampaknya wanita itu sudah tidak waras karena terlalu mencintai seorang pria. Sayangnya, pria yang di cintainya tersebut tidak pernah meliriknya sedikitpun.


"Sierra tidak pernah menyukai Leon. Dan berhentilah berbicara omong kosong."


"Kaulah yang berhenti berbicara omong kosong. Aku melihatnya sendiri bagaimana kedekatan antara Sierra maupun Leon," teriak Ashley frustasi.


"Mereka berdua tidaklah lebih dari sebatas teman, hanya itu."


"Kau salah, Noah. Sierra menyukai Leon dan akupun tahu itu." Ashley tetap membantah perkataan Noah, hingga membuat pria di depannya menjadi emosi.


"Sierra tidak pernah menyukai Leon, dia hanya menyukaiku. Kau mengerti?" Tanpa Noah sadari, emosinya malah berujung pada sebuah kenyataan.


Seketika ruangan yang awalnya bising, mendadak hening. Bahkan Leon yang tadinya ingin memasuki kelas, langsung menghentikan langkahnya di ambang pintu. Sebelumnya pria itu sudah datang dari tadi, namun saat mendengar perdebatan dan pertengkaran di antara Ashley dan Noah, membuatnya memutuskan untuk mendengarkan dari luar.


Suasana pun menjadi awkward, dan Noah merasa bahwa itu hanya akan membuang waktunya. Ia tidak ingin berlama-lama lagi dan segera menarik tangan Ashley agar ikut bersamanya.


"Heyy... Kau akan membawaku kemana?" Ashley memberontak, namun tenaganya tidaklah sebanding dengan tenaga dari seorang pria.


Melihat temannya yang di seret begitu saja oleh Noah, Davina lalu ikut menyusulnya. Ia mencoba mengejar langkah Noah yang terbilang cepat.


Begitulah kira-kira tulisan di depan ruangan itu. Ashley meneguk salivanya, dan berusaha untuk kabur. Sayangnya, ia tidak bisa melepaskan diri dari Noah.


Tanpa belas kasihan, Noah mendorong Ashley hingga terduduk di sofa. Ashley langsung mendengus kesal sambil mengusap pergelangan tangannya yang memerah. Sementara Kepala Sekolah yang melihat kedatangan muridnya tanpa permisi, jadi sedikit kesal.


"Ada apa ini? Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Kepala Sekolah itu sambil menatap Noah dan Ashley secara bergantian.


"Kau ingin menjelaskannya sendiri? Ataukah aku yang harus mengatakannya?"


Ashley mengepalkan tangannya. Ia lekas berdiri dan memandang Noah tajam.


"Apa yang perlu kujelaskan?"


"Perbuatanmu!"


"Apa maksud kalian ini? Bisakah katakan lebih jelas?"


"Dia menarikku secara paksa kesini, dan sekarang dia ingin memintaku untuk menjelaskan sesuatu hal yang tidak kulakukan." Ashley menunjuk Noah, sementara yang di tunjuk justru tersenyum miring melihat drama dari wanita di hadapannya ini.


Kepala Sekolah menggelengkan kepalanya berulang kali melihat perdebatan di depan matanya. Hingga ia memutuskan untuk menghubungi Mrs. Bella selaku wali kelas dari kedua murid yang berada di ruangannya saat ini.


Tak berselang lama Mrs. Bella datang. Ia tidak sendirian, melainkan bersama dengan Davina. Dengan takut-takut Davina memasuki ruangan tersebut dan mengambil posisi di samping Noah.


"Davina, apa yang kau lakukan disini?" tanya Pak Kepala Sekolah.


"Aku melihatnya di depan ruanganmu, jadi aku memintanya untuk masuk," jawab Mrs. Bella. Kepala Sekolah mengangguk singkat.


"Ada apa ini? Mengapa kalian masuk keruangan ini tanpa permisi?" Mrs. Bella menegur mereka dengan nada marah.


"Noah yang membawaku kesini." Ashley melirik sinis pria di sampingnya.


Sikap Ashley benar-benar membuat Noah muak.


"Wanita ini merupakan biang dari kejadian yang ada di camping kemarin."


Mrs. Bella memasang raut wajah tidak mengerti, "Apa maksudmu? Bisakah kau jelaskan lebih rinci?"


"Dia... meminta Sierra untuk menemaninya buang air, namun nyatanya dia meninggalkan Sierra sendirian. Dan bukan hanya itu, wanita ini juga mengubah petunjuk arah sehingga membuat Sierra menjadi tersesat."


"Benarkah itu, Ashley?" tanya Mrs. Bella dengan raut wajah yang terkejut.


"Tidakkk.. Noah berbohong!!" tukas Ashley cepat.


"Kaulah yang berbohong. Kau pikir apa gunanya aku berbohong, hah?"


"Karena kau ingin menjatuhkanku. Oleh sebab itu, kau mengarang cerita menyebalkan ini."


"Diam!! Sekali lagi aku bertanya, benarkah apa yang di katakan oleh Noah?" Mrs. Bella menatap Ashley intens, dan itu membuat tangan wanita tersebut menjadi gemetar.


"Itu benar.."


Mrs. Bella dan yang lainnya beralih kepada Davina yang baru saja mengeluarkan suaranya. Sembari menundukkan kepalanya, Davina juga meremas tangannya yang ikut gemetar.


"Kau mengetahuinya?" Pertanyaan dari Mrs. Bella semakin membuat Davina menjadi takut.


"I-iya... Kami--maksudku Aku, Ashley, Chloe dan Selena yang melakukannya."


Ashley menatapnya tidak percaya. Dirinya berusaha menutupi perbuatan mereka, namun dengan mudahnya Davina mengakui semuanya.


"Minta Selena dan Chloe untuk datang kemari!!"