
Davina berusaha untuk memejamkan matanya, namun entah mengapa itu begitu sulit untuk ia lakukan. Sejak kepulangannya dari rumah sakit, Davina tidak ingin berbicara dengan siapapun. Ia kembali mengurung dirinya di dalam kamar.
Tidak ada cahaya di kamar tersebut, kegelapan seolah menghiasi hidupnya. Ia lalu mengusap perutnya, dimana buah cintanya bersama Andrew tengah tumbuh di dalam sana.
Tiba-tiba terdengar suara pintu di buka. Davina pun segera menutup kedua matanya dan berpura-pura tertidur lelap. Langkah kaki itu perlahan mendekat, membuat Davina semakin erat memeluk gulingnya.
Wanita itu dapat merasakan bahwa seseorang sedang duduk di tepi kasurnya. Walaupun posisinya saat ini tengah membelakangi orang tersebut, tapi Davina tahu bahwa yang sedang duduk di belakangnya adalah ibunya.
Perlahan, Aleca mengulurkan tangannya dan mengusap rambut putri kesayangannya itu. Ia memang sedikit kecewa atas kehamilan Davina, tapi mau bagaimana lagi? Semuanya telah terjadi!! Lagipula ini kesalahannya karena kurang memperhatikan putrinya.
"Sampai kapan kau akan mengurung dirimu seperti ini? Kau belum makan sama sekali sejak kemarin. Ayo keluar, lalu makan bersama Ibu."
Hening... Hanya hembusan nafas dari keduanya yang terdengar.
"Ibu mohon, Sayang. Jika kau tidak perduli pada dirimu, setidaknya kau perduli pada calon anakmu. Apa kau akan membiarkannya kelaparan karena keegoisanmu?"
Masih tidak ada jawaban. Di detik berikutnya, terdengar isakan yang keluar dari bibir Davina. Ia tidak bisa untuk menahannya lagi.
Aleca tidak bisa membendung air matanya, sehingga ia pun ikut menangis bersama putrinya. Ia lalu memeluk Davina sembari menciumi puncak kepalanya dengan sayang.
Di malam itu, tangisan memenuhi ruangan tersebut. Kesedihan dan kebahagiaan seolah menjadi satu. Sedih karena kehilangan, namun ada setitik bahagia karena kehadiran sang buah cinta.
...* * * ...
Dua hari telah berlalu... Dan mereka sudah melanjutkan aktivitasnya seperti biasa. Sierra bersama suaminya sudah kembali bersekolah, begitupun dengan Leon dan Olivia. Sayangnya, Davina memilih berhenti sekolah dan ingin fokus membantu ibunya bekerja. Karena ia harus menabung untuk membiayai kehidupannya dan juga anaknya kelak.
"Davina, lebih baik kau beristirahat. Biarkan Ibu yang akan menyelesaikannya."
Davina tersenyum, "Tidak, Ibu. Pekerjaan ini tidaklah berat, jadi biarkan aku yang menyelesaikannya."
Aleca menghela nafas panjang. Ia tidak bisa memaksakan kehendak putrinya. Biarlah Davina melakukan apapun yang ia inginkan, asalkan itu tidak mempengaruhi kondisi dan juga janinnya.
The Flower Girl, itulah nama toko bunga yang Aleca miliki. Hanya toko ini yang menjadi sumber penghasilannya. Walaupun tokonya tidaklah besar, namun penghasilannya dalam menjual bunga, cukup untuk membiayai kehidupannya dan juga putrinya.
Ayahnya Davina? Sudah lama pergi meninggalkan mereka hanya karena wanita lain. Untuk itulah Aleca begitu berjuang dan membuktikan kepada dunia bahwa ia masih mampu membiayai kehidupannya tanpa belas kasihan dari orang-orang.
Bukan salah dirinya jika di lahirkan dan di besarkan dari keluarga yang sederhana. Mungkin memang takdirnya sudah seperti ini. Dan Aleca berharap, bahwa putrinya tidak akan bernasib sama seperti dirinya.
Karena di tinggalkan oleh ayahnya demi wanita yang lebih cantik dan kaya, membuat Davina tidak mempercayai lagi yang namanya seorang pria. Sampai Andrew datang dan hadir dalam hidupnya, membuat Davina mulai membuka diri dan percaya sepenuhnya kepada pria itu.
Sayangnya, takdir berkata lain. Ia telah mengambil Andrew lebih dulu. Yang tersisa hanyalah kenangan dan juga... buah hati mereka. Entahlah, sepertinya Davina tidak akan pernah lagi merasakan yang namanya cinta. Karena tidak akan ada pria yang sama seperti Andrew yang begitu mencintainya.
"Selamat sore..." ujar seseorang sambil membuka pintu toko bunga tersebut.
"Selamat sore. Selamat datang di The..." Davina tidak melanjutkan ucapannya saat tahu siapa yang datang. Wajahnya pun langsung berubah menjadi sumringah.
"Apa kedatanganku mengganggu?"
"Sierra, jangan berbicara seperti itu!!" Dengan wajah cemberutnya, Davina menghampiri Sierra kemudian lekas memeluknya.
"Aku merindukanmu, sungguh."
"Kau datang sendiri?" Pertanyaan dari Davina, mengalihkan perhatian Sierra.
"Begitulah. Noah ada urusan bersama daddy-nya, jadi dia pergi sebentar untuk menemuinya. Jika urusannya sudah selesai, dia akan datang kemari untuk menjemputku."
"Kau begitu dekat dengan Noah, aku jadi iri."
"Oh ya? Sekarang jelaskan padaku. Bagian mana yang membuatmu iri?"
Spontan saja Davina tertawa keras. "Aku bercanda, Sierra. Jangan di bawa serius."
"Baiklah-baiklah. Bagaimana jika kita makan burger yang kubawa?" Sierra mengangkat paper bag di tangannya, seolah menunjukkannya kepada Davina.
"Aku setuju. Ayo..." Davina lekas menarik tangan Sierra menuju gazebo yang berada di ruangan itu. Sekaligus agar mereka bisa menjaga toko bunga tersebut jika masih berada di dalam ruangan.
"Dimana ibumu?" tanya Sierra sambil mengeluarkan dua burger berukuran besar. Di tambah dengan kopi yang menemani acara makan mereka.
"Ibu sedang mengantarkan pesanan bunga. Sebentar lagi dia akan kembali."
Sierra hanya mengangguk singkat. Ia kemudian melahap burgernya sembari melihat-lihat isi toko tersebut. Tatapannya lalu beralih kepada Davina, yang saat ini begitu lahapnya memakan burger di tangannya.
"Davina??" panggilnya pelan. Refleks, wanita yang di panggil itu segera menghentikan makannya dan menatap Sierra.
Melihat ada sisa saus di sekitar bibir temannya tersebut, Sierra pun tersenyum lalu mengambil tisue di tasnya. Ia ulurkan tangannya dan mengelap sisa saus di bibir Davina.
"Oh, maaf." Davina segera mengambil alih tisue di tangan Sierra, setelah itu ia mengelapnya sendiri.
"Aku lupa bertanya. Bagaimana kondisimu?"
Sejenak Davina terdiam, setelahnya ia tersenyum kecil.
"Jauh lebih baik sekarang."
"Kau tahu? Aku begitu mengkhawatirmu, mengingat kondisimu saat ini---"
"Kau tidak perlu khawatir, Sierra. Aku memiliki alasan untuk bertahan hidup dan melalui ini semua. Sebisa mungkin, aku akan memberikan kehidupan yang baik untuk anakku." Davina mengusap perutnya, dengan senyum yang tak pernah luntur.
"Aku bersyukur untuk itu. Aku hanya bisa berdoa semoga kau selalu baik-baik saja dan bahagia. Dan berjanjilah kepadaku, Davina. Jika terjadi sesuatu atau kau membutuhkan apapun, segera hubungi aku. Aku akan langsung datang dan menemuimu, oke?"
Davina mengangguk, "Terima kasih banyak, Sierra."
Sierra tersenyum mendengarnya. Dari arah luar tiba-tiba terdengar bunyi klakson mobil. Tanpa melihatnya, Sierra tahu jika itu adalah suaminya.
"Sepertinya Noah sudah menyelesaikan urusannya. Kalau begitu, aku harus pergi. Dan kau, Davina. Lain kali datanglah ke kediaman keluarga Wilson. Aku akan senang bila melihatmu datang."
Hanya anggukan kecil yang dapat Davina berikan. Ia tidaklah memiliki keberanian yang besar untuk datang ke Mansion Keluarga Wilson sendirian.
"Aku pergi dulu, sampai jumpa..." Sierra melambaikan tangannya, begitupun dengan Davina.
Setelah mobil Noah menjauh dan menghilang dari pandangannya, seketika Davina terdiam. Dengan langkah lunglai, ia kembali memasuki toko dan terduduk di gazebo tadi.