
Alunan biola terdengar di penjuru ruangan musik. Secara bergantian, setiap kelompok akan memainkan biolanya bersama dengan pasangannya.
Di mulai dari Sierra dan Leon yang memainkan biola mereka dengan mengiringi lagu dari Calum Scott.
Suara tepukan tangan menggema saat kedua pasangan itu sudah mencapai akhir lirik. Kini mereka di persilahkan untuk turun dan sekarang bergantian dengan Noah dan Alexa yang akan mengiringi lagu Dusk Till Dawn dengan biola masing-masing.
Ketika mereka telah usai, lalu di lanjutkan dengan kelompok lainnya berdasarkan dengan nomor urutan.
"Luar biasa..." Mr. Frederick berdecak kagum. Anak-anak muridnya tidak mengecewakannya hari ini.
"Kalian bermain dengan sangat hebat. Tapi, ada satu kelompok yang menurutku lebih baik di antara yang lain. Mereka berdua memainkan biolanya dengan sangat indah dan lembut. Bahkan, aku bisa merasakan nada dan liriknya yang begitu sempurna," tambah pria paruh baya tersebut.
"Kelompok siapa itu, Mr?" teriak salah satu muridnya.
"Tentu saja pasti aku," ujar Selena sambil mengibaskan rambutnya dengan penuh percaya diri.
"Kelompok yang kumaksud adalah.... Sierra dan Leon."
Wajah Selena langsung berubah menjadi masam. Ia melipat kedua lengannya di dada dengan matanya yang menatap Sierra sinis. 'Kau begitu beruntung hari ini.'
Sementara Sierra sendiri, langsung menyunggingkan senyumannya dengan wajah tak percaya. Dirinya tidak percaya jika menjadi yang terbaik dari yang lainnya. Ternyata usahanya kemarin untuk latihan, membuahkan hasil.
Sama halnya dengan Sierra, Leon tidak bisa untuk menahan senyumannya. Ia memang selalu mendapatkan piagam penghargaan dan juga menuai pujian atas prestasinya, namun kali ini terasa berbeda. Entah kenapa dirinya amat begitu senang, sampai-sampai tidak sadar bahwa senyum simpul terukir di bibirnya.
"Benarkah yang kulihat ini?" gumam Davina yang tidak percaya melihat Leon yang tersenyum untuk pertama kalinya.
Percayalah. Bukan hanya dirinya, satu kelas bahkan satu sekolah pun, di buat terpaku dengan senyuman dari Leon.
"Selamat. Kalian bermain dengan sangat indah. Alunan biola yang kalian mainkan, begitu serasi dengan lagu yang kalian pilih. Aku bisa merekomendasikan kalian berdua untuk sebuah pementasan atau yang lainnya."
"Terima kasih, Mr," ujar Leon dan Sierra bersamaan.
Mr. Frederick mengangguk singkat. Tatapannya lalu beralih kepada seluruh siswa dan siswinya di ruangan itu.
"Baiklah. Kelas kita berakhir hari ini. Tetap semangat, dan jangan menyerah."
Mereka tidak memperdulikan ucapan Mr. Frederick, bahkan sampai pria tersebut enyah dari sana.
Siswi-siswi di ruangan itupun langsung berbondong-bondong mendekati Leon. Sampai, beberapa siswi yang sedari tadi berada di luar dan menunggu Mr. Frederick keluar, ikut masuk dan menghampiri Prince Charming tersebut.
Hingga ada salah satu siswi yang tak sengaja mendorong Sierra. Wanita itu akan terjatuh jika saja tak ada sebuah lengan yang menahan pinggangnya.
Sierra dan Noah saling berpandangan untuk sesaat. Sampai Alexa dan Gerald menghampiri keduanya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Alexa cemas.
Sierra yang tersadar, segera melepaskan diri dari Noah. Ia tersenyum kikuk, kemudian mengangguk kecil.
"Apa mereka tidak bisa melihatmu?" Alexa mendengus sebal sambil menatap sekumpulan wanita yang mengelilingi Leon. Bahkan, temannya sendiri--Olivia juga ikutan.
"Sudahlah. Memang mereka seperti itu. Lagipula Sierra tidak apa-apa karena Noah telah membantunya," timpal Gerald.
"Kau benar." Sierra lalu mengalihkan tatapannya kearah Noah. "Terima kasih."
"Hmm... Gerald, ayo!!" Noah berjalan lebih dulu dan lekas di susul oleh temannya itu.
Alexa tidak ingin melepaskan pandangannya dari Noah, sehingga Sierra yang melihatnya jadi cemburu.
"Apa kau akan terus menatapnya?" sindir Sierra di iringi dengan dengusan.
'Sepupu? Dia suamiku, Alexa.' Ingin sekali Sierra berteriak seperti itu. Tapi apalah dayanya.
"Terserah kau saja. Aku lapar." Wanita itu akhirnya memutuskan untuk pergi. Alexa semakin tertawa di buatnya, dia lalu segera menyusul Sierra sebelum wanita tersebut bertambah kesal nantinya.
Namun sebelum pergi, Alexa menatap sejenak kearah Olivia. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat salah satu temannya itu yang begitu terobsesi kepada Leon.
...* * * ...
"Ada apa denganmu?" tanya Noah yang menyadari kegalauan pada wajah Gerald.
Gerald menggeleng. Ia begitu fokus menatap indahnya langit di siang hari, hingga mengabaikan pertanyaan dari temannya.
Saat ini keduanya sedang duduk di pinggir lapangan outdoor. Sebelumnya, mereka membeli beberapa cemilan dan juga minuman untuk menemani kedua pria itu.
Gerald masih hanyut dalam renungannya. Sampai ia tidak sadar bahwa ada sebuah bola yang meluncur mendekatinya.
Bughh!!
Bola tersebut tepat mengenai kepalanya, sehingga membuat si empunya meringis sambil memegangi kepalanya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Noah sambil menyentuh bahu temannya itu.
Gerald mengangguk pelan, "Hanya sedikit nyeri."
Tiba-tiba datanglah seorang pria yang mengambil bola di dekat kaki Gerald. Wajahnya terlihat tak bersalah, ataupun menyesal atas apa yang dia lakukan.
"Aku tidak sengaja." Tak ada kata maaf. Bahkan dengan santainya pria tersebut melangkahkan kakinya untuk menjauh dari sana.
Noah geram mendengarnya. Ia lekas berdiri sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Apakah orangtuamu tidak pernah mengajarkanmu untuk berkata maaf?"
Langkah kaki Bryan seketika terhenti. Bola yang ada di tangannya, dia cengkeram dengan sangat kuat.
"Jaga bicaramu, Wilson!!"
"Aku?" Noah tertawa sinis, "Sebelum kau mengatakannya, akan lebih baik kau berkaca. Aku bukan tanpa alasan berkata seperti itu."
Bryan berbalik. Di tatapnya Noah sejenak, kemudian beralih kepada Gerald yang masih terduduk. Tatapannya begitu datar untuk persekian detik, hingga akhirnya dia memutar bola matanya jengah.
"Maaf."
"Bisakah lebih sopan sedikit?" sindir Noah.
Lama-kelamaan Bryan menjadi kesal. "Aku minta maaf, kau puas?"
Noah terkekeh, lalu mengangguk. Tak ingin terlalu lama disana, Bryan segera pergi dengan sejuta kekesalan dan emosi yang dia tahan. Dia ingin meluapkannya, oleh sebab itu dia menghubungi Ashley.
"Ada apa?" Terdengar suara wanita di balik ponsel milik Bryan.
"Temui aku di gudang. Sekarang!!" Pria itu menekan kata akhirnya, pertanda bahwa dirinya tidak ingin di tolak.
Tanpa menunggu balasan dari Ashley, Bryan langsung mematikan panggilannya begitu saja. Ia mendengus singkat, lalu segera menuju ke gudang di bagian belakang sekolah.
Entahlah, apa yang akan di lakukan oleh keduanya disana. Hanya mereka yang tahu.