Cool And Cheerful

Cool And Cheerful
Pengungkapan Sierra



Tidak sedikitpun ketakutan yang nampak di wajah Roby. Dirinya justru terlihat marah kepada Dave, karena menurutnya Dave sangat egois.


"Lakukan saja sesukamu, aku tidak perduli. Jika kau ingin, kau bisa membunuhku saat ini."


Percuma. Roby masih enggan memberitahunya. Dave merasa hanya membuang waktu dan tenaganya dengan berbicara dengan pria ini.


Jika dirinya ingin, Dave bisa melenyapkannya detik ini juga. Namun Dave tidak akan lakukan itu. Karena hanya Roby lah yang akan membuatnya bertemu dengan Sherly.


"Jayden, lepaskan dia."


"Tapi, Tuan..."


"Lepaskan saja. Kita hanya membuang waktu disini." Dave menatap Roby untuk sesaat, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.


Walaupun dia tidak berhasil menemukan Sherly, setidaknya Dave telah berhasil menemukan Roby. Biarlah, biarkan alur takdir yang akan mempertemukan mereka.


Yang bisa Dave lakukan sekarang, hanya menunggu. Menunggu kapan takdir membawanya bertemu dengan Sherly.


Di satu sisi, sekuat tenaga Roby bangkit dari tersungkurnya. Dave beserta asistennya itu telah pergi, sehingga dia bisa pergi dari sana.


Dengan langkah yang terhuyung-huyung, Roby berjalan menuju area pemakaman. Kebetulan lokasinya tidak jauh dari tempat yang ia pijaki saat ini.


Langkahnya yang lunglai, membawa Roby pada sebuah gundukkan tanah yang berlapis rumput hijau hingga ke seluruh pemakaman itu. Disanalah, wanita yang di cintainya terbaring.


Air mata yang sedari tadi mengenang di pelupuk matanya, akhirnya meluncur dengan bebas. Isakannya mulai keluar dari bibir, dengan tangannya yang terulur untuk menyentuh nisan di gundukkan itu.


"Dia... Dia datang. Dia mencarimu hingga kemari.. Hiksss.."


Roby kesulitan untuk menyelesaikan ucapannya, tatkala isakannya muncul dari bibirnya.


"Apa yang harus kulakukan, jika nantinya kami bertemu kembali? Haruskah aku mengatakannya semuanya?"


Dirinya begitu bodoh. Sekuat apapun usahanya untuk mengajak Sherly bicara, maka itu akan percuma. Sherly nya sudah tidak ada lagi, dan hanya menyisakan sebuah nama.


Tangisan Roby kian menjadi. Dirinya tidak perduli jika ada orang di sekitarnya, lalu mengatainya cengeng. Yang terpenting sekarang, dia ingin meluapkan segalanya. Segala keluh kesahnya disini, di makam Sherly.


Selama belasan tahun lamanya Roby pergi dan bersembunyi. Namun pada akhirnya, dia di temukan oleh Dave, pria yang amat dia hindari.


"Bagaimana sekarang? Haruskah aku kembali bersembunyi darinya?"


Tiba-tiba Roby teringat dengan keuangannya. Dia tidak akan bisa pergi, jika keuangannya saja tidak mencukupi.


"Kuharap ada jalan lain, selain melarikan diri dan bersembunyi kembali..."


...* * * ...


Sierra berdiri di balkon kamar, sambil menatap terangnya bulan. Angin sepoi-sepoi menemaninya malam ini, begitupun dengan kemerlap bintang.


'Apa aku salah jika tidak suka melihat suamiku bersama dengan wanita lain?' batinnya risau.


"Bagaimana dengan latihanmu tadi? Apakah menyenangkan?"


Sierra tersentak kaget saat mendapati Noah sudah berdiri di sampingnya. Mungkin karena dirinya terlalu sibuk melamun, jadi tidak menyadari kedatangan dari pria ini.


"Kenapa kau justru menatapku?" Alis Noah terangkat sebelah, dengan kerutan tipis di dahinya.


Sierra menggeleng pelan, kemudian kembali memandang bulan.


"Sangat menyenangkan. Kau sendiri, bagaimana?"


"Membosankan."


"Kenapa?"


"Karena Alexa tidak serius dengan latihannya. Dia terus saja menggodaku, dan aku tidak menyukai itu."


Tidak ada balasan lagi. Noah yang penasaran, lalu melirik sedikit istrinya. Dia terkejut melihat air mata Sierra yang mengalir tanpa henti, namun wanita tersebut tidak mengeluarkan suara sedikitpun.


"Sierra, kau baik-baik saja?" tanya Noah yang agak cemas.


"Kupikir, itu tidak akan penting untukmu."


"Menurutmu begitu?" Sierra tertawa pahit, "Tahukah kau? Bagaimana perasaanku saat melihatmu bersama wanita lain? Namun kau tak sedikitpun memberitahuku tentang itu."


"Lalu bagaimana denganmu? Kau pergi dengan pria lain, kau pikir aku senang melihatnya? Tidak, Sierra!"


Keduanya saling terdiam. Sierra yang menatap suaminya, dan Noah yang menatap langit malam.


"Kau memang memberitahuku tentang latihanmu bersama dia. Tapi, apakah aku menyetujuinya? Kau bahkan tidak meminta persetujuanku. Bukankah persetujuan dari seorang pasangan itu penting?" sambung Noah. Wajahnya terlihat begitu kesal, sampai-sampai membuatnya tidak bisa untuk berkata-kata lagi.


Melihat wanita yang di sampingnya hanya diam dengan deraian air mata, Noah memilih untuk segera meninggalkan balkon. Namun langkahnya tertahan saat mendengar ungkapan dari Sierra.


"Aku menyukaimu!! Salahkah jika aku cemburu jika melihatmu bersama wanita lain? Hikss.."


Entah dorongan dari mana, Sierra pun melangkahkan kakinya kearah Noah. Lalu...


Grepp!!


Dia memeluknya dari belakang, sambil menyandarkan kepalanya pada punggung pria tersebut.


"Aku menyukaimu. Aku sangat menyukai, Noah."


"Jika kau bertanya, kapan rasa itu hadir? Aku sendiripun tidak tahu. Perasaan itu datang begitu saja tanpa aku tahu," lanjut Sierra.


Tidak ada balasan maupun suara dari suaminya, membuat Sierra kecewa dan memilih untuk melepaskan pelukannya. Namun sebelum itu terjadi, Noah menahan kedua lengannya yang melingkar di perut pria itu.


"Tetaplah menyukaiku, sampai aku membalas rasa sukamu itu."


Apa Sierra tidak salah dengar? Baru saja Noah berbicara demikian, yang berarti, suaminya memberikan sebuah harapan untuknya.


"Apakah kau bisa menyukaiku juga?"


Noah mengendikkan bahunya,"Tidak ada yang tahu."


Wajahnya Sierra menjadi cemberut. Sedetik kemudian dia tersenyum lebar, lalu memiringkan kepalanya agar bisa menatap wajah suaminya.


"Aku akan berusaha. Aku akan membuatmu menyukaiku."


"Benarkah? Aku tidak yakin itu."


"Percayalah pada Sierra Wilson. Akan kubuat kau menyukaiku." Sierra lalu melepaskan pelukannya, dia justru beralih menggandeng lengan besar milik Noah.


"Ayo masuk... Udaranya semakin dingin." Tanpa menunggu persetujuan dari suaminya, Sierra langsung menarik lengannya begitu saja. Mau tak mau, Noah mengikuti langkah dari wanita itu.


Jujur saja, pengungkapan Sierra yang secara langsung tadi, membuat sesuatu yang ada di dalam diri Noah menjadi senang. Dia tidak tahu pasti, apakah itu? Namun ucapan Sierra, cukup menghiburnya.


Mereka berdua sudah berbaring di atas kasur. Keduanya menatap langit kamar yang sama, hingga tiba-tiba Sierra memeluk Noah dan meletakkan kepalanya di dada suaminya.


"Sierra, apa yang kau lakukan? Cepat menjauh dariku!!" Tidak pernah sedekat ini dengan wanita lain, selain Mommy dan Naura, membuat Noah gugup setengah mati.


"Kau wangi." Bukannya segera menjauh, Sierra justru mengusel-usel wajahnya di dada Noah.


"Kau sudah mulai berani, heh?"


"Apa salahnya? Kau 'kan suamiku," timpal Sierra dengan suara terbenam.


Noah tidak bisa menyembunyikan senyumannya. Dia pun membalas istrinya itu dengan mengapitkan kedua kakinya, sehingga tubuh Sierra terkurung dan kesulitan untuk bergerak.


"Noah, lepaskan aku." Sierra meliuk-liuk berusaha melepaskan tubuh suaminya yang mengurung dirinya.


"Kau yang memulainya," kekeh Noah.


Sierra yang kesal, segera mengigit dada Noah. Karena terkejut+merasakan sakit, Noah pun segera melepaskannya.


"Menyebalkan." Perlahan Sierra membalikkan tubuhnya dan membelakangi Noah. Namun diam-diam dia tersenyum bahagia, karena moment ini yang selalu dia inginkan.