
Sierra melangkah masuk dan langsung menuju kursinya. Ketika dia ingin menduduki kursi itu, ada seorang wanita yang sudah mendudukinya lebih dulu. Siapa lagi jika bukan salah satu dari penggemar Leon.
"Menyingkir kalian semua. Kalian membuatku kesal." Leon menggertak. Alhasil, wanita yang mengerubunginya segera pergi.
Akhirnya Sierra dapat menduduki kursinya. Wanita itu lalu berbalik dan menatap Leon yang tengah menatapnya tanpa ekpresi.
"Bisakah kau melupakan soal kemarin? Aku benar-benar tidak sengaja."
"Siapa kau yang berani memerintahku?" Mata Leon menajam. Pria tersebut kemudian menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan dan memilih untuk tidur.
Semalam dirinya harus begadang karena menunggu kepulangan pamannya. Leon takut jika pamannya tiba-tiba pulang, dia justru tertidur. Lalu siapa yang akan membukakan pintu dan menyambut kedatangan pamannya yang baru saja kembali dari perjalanan bisnis?
Mengerti bahwa Leon tidak ingin berbicara dengannya, Sierra pun kembali menghadap ke depan. Ternyata kursi di depannya itu sudah terdapat Alexa yang sedang menatap dirinya.
"Kau menyukai Leon?"
Sierra terkejut, "Kau ini bicara apa? Mana mungkin aku menyukainya."
Dan tepat pada saat itu, Noah masuk ke dalam kelas untuk menuju ke tempat duduknya. Telinganya cukup jelas mendengar setiap kata yang baru saja istrinya ucapkan. Untuk beberapa detik mereka saling berpandangan, hingga Noah tiba di kursinya lalu menatap jendela di sampingnya.
Sementara Leon yang mendengar pembicaraan antara kedua wanita yang duduk di kursi depannya, segera mengangkat kepalanya. Hanya beberapa detik, sebelum dirinya kembali menjatuhkan kepalanya ke atas meja.
"Tapi tidak masalah jika kau menyukai Leon. Justru itu bagus. Jadi, sainganku tidak bertambah."
"Siapa yang menyukai Leon?" Tahu-tahu Olivia datang dan menyela percakapan mereka. Telinganya begitu peka saat ada yang menyebut nama Leon.
Tidak ada jawaban. Olivia lalu menatap kearah Sierra, sontak saja Sierra menggelengkan kepalanya.
"Baguslah," ujar Olivia. Wanita itu kemudian mendaratkan bokongnya di kursi yang berada di ujung. Pantas saja Sierra tidak tahu jika Olivia sekelas dengannya. Tempat duduknya saja berada di pojokkan.
"Kelas kita pagi ini adalah musik. Setelah itu akan di lanjutkan dengan olahraga."
Sierra mengangguk sambil tersenyum, "Terima kasih sudah memberitahuku."
Benar saja. Tak sampai dari sepuluh menit Alexa mengatakannya, guru musik mereka datang dan langsung meminta mereka untuk berkumpul di ruang musik.
Sierra duduk berdampingan dengan Olivia dan Alexa. Masing-masing siswa dan siswi sudah memegang biola. Karena minggu lalu mereka sudah mempelajari tentang alat musik tersebut, maka hari ini mereka akan praktek memainkannya.
"Coba kalian mainkan alat musik yang kalian genggam. Aku ingin mendengarnya," ujar Mr. Frederick.
Mereka serempak memainkannya. Satu kata, kacau. Sierra bahkan berhenti memainkan biola miliknya, dan lebih memilih untuk menutup kedua telinganya.
"Berhenti, berhenti..." pintu guru itu. "Sangat kacau," tambahnya.
Noah menggaruk kepalanya yang tak gatal. Memang kacau, tapi mau bagaimana lagi?
"Bagaimana sekarang, Mr?" tanya Selena. Wanita tersebut terlihat jenuh dan tidak menyukai alat musik yang harus di mainkannya ini.
Mr. Frederick berpikir sejenak, sedetik kemudian dia tersenyum lebar saat mendapatkan sebuah ide.
"Begini saja. Kalian akan kubagi menjadi beberapa kelompok. Agar adil, aku akan membagikan sebuah nomor secara acak. Setelah itu, kalian akan mengetahui siapa yang akan menjadi pasangan kalian."
Semua siswi bersorak setuju. Bahkan dengan antusiasnya mereka mengambil gumpalan kertas yang Mr. Frederick siapkan. Mereka berharap bisa menjadi pasangan Leon maupun Noah.
Sierra yang terakhir, hanya bisa pasrah dengan nomor yang tertulis di kertasnya. Alexa dan Olivia lalu mendekat kearahnya dan bertanya angka berapa yang ada di kertas miliknya.
"Tidak. Aku nomor dua, sedangkan Olivia nomor lima," sahut Alexa. Mereka bertiga pun menghela nafasnya bersamaan.
"Baiklah. Yang angkanya nomor satu, silahkan duduk di bagian paling depan sebelah kanan. Lalu nomor dua, duduk di bagian sebelah kirinya. Begitupun untuk yang lain, duduk bersama dengan pasangannya secara teratur." Mr. Frederick memberi himbauan, anak didiknya kemudian segera menjalankan ucapannya tersebut.
Wajah Sierra terlihat bingung. Siapakah kira-kira yang akan menjadi pasangannya? Tiba-tiba Noah berdiri di hadapannya, senyum wanita itupun langsung mengembang. Sayangnya, datanglah seorang pria yang menghancurkan harapannya.
"Aku nomor satu. Dan kau?"
"Jadi... Kau yang nomor satu, bukan dia?" Sierra menunjuk suaminya. Leon melirik Noah sejenak, dan tanpa membalas perkataan dari Sierra, pria itu memilih untuk mendaratkan bokongnya di kursi panjang yang Mr. Frederick katakan tadi.
"Nomorku dua," ujar Noah datar.
"Benarkah?" Alexa seakan tidak percaya. Dia bisa satu kelompok dengan idolanya.
"Hmm," Noah lalu mengambil tempat duduk di kursi panjang sebelahnya. Dengan antusias, Alexa ikut duduk di samping pria tersebut dengan tatapannya yang masih tidak percaya.
"Apa kau akan berdiri terus?" sindir Leon. Sierra mendengus, kemudian dia segera mendudukkan dirinya.
Semua pasang mata wanita menatap iri kepada Sierra maupun Alexa. Apalagi Selena yang mengepalkan tangannya seolah tidak terima. Setidaknya, jika dia tidak bisa berpasangan dengan Leon, harusnya dia berpasangan dengan Noah. Tapi ini tidak! Kedua pria yang di sukainya tersebut tidak dapat untuk dia gapai.
"Kenapa aku harus berpasangan dengan wanita ceroboh sepertimu?" desah Leon.
Sierra yang tersinggung, lekas menatapnya sebal.
"Kau pikir aku ingin satu kelompok denganmu? Sama sekali tidak! Kau tahu itu?"
Leon tidak membalasnya. Dia justru fokus menatap ke depan. Sierra yang bertambah kesal karena di abaikan, tiba-tiba berdiri.
"Mr. Frederick?"
"Ya?" Bukan hanya guru musik itu yang menatap kearah Sierra, begitupun dengan yang lainnya.
"Bisakah aku bertukar pasangan?"
Selena yang mendengarnya, langsung berdiri.
"Kau bisa bertukar denganku."
"Tidak, tidak. Kau lebih baik bertukar denganku saja," sela Ashley. Dia dan Selena lalu saling menatap satu sama lain. Walaupun mereka di kenal berteman, tapi tak urung kedua wanita itu bersaing untuk mendapatkan pria yang sama.
"Tidak!! Aku tidak ingin ada yang bertukar pasangan. Kalian bertiga, kembali duduk." Mr. Frederick menolaknya mentah-mentah. Akhirnya, Sierra hanya bisa menghela nafas pasrah.
"Sebaiknya kau diam. Dan dengarkan saja apa yang Mr. Frederick katakan," gumam Leon tanpa menatap lawan bicaranya.
Sierra mengangguk lemah. Dia pun memperhatikan apa yang Mr. Frederick sampaikan. Pria paruh baya tersebut menginginkan setiap kelompok memainkan biolanya untuk mengiringi sebuah lagu. Lagu itupun, mereka bisa memilihnya sendiri.
Setelah di rasa bahwa anak muridnya mengerti, Mr. Frederick lalu meninggalkan ruangan tersebut dan meminta mereka untuk kembali ke kelas.
Sierra terlihat melangkahkan kakinya lunglai. Seolah tidak memiliki tenaga untuk menyeret kakinya itu. Dirinya masih tidak terima jika harus satu kelompok dengan Leon, sedangkan suaminya berpasangan dengan wanita yang jelas-jelas menyukainya.
"Kenapa? Kenapa harus dia?" pekik Sierra di lorong menuju kelasnya. Semua mata lekas tertuju kepadanya. Sierra yang malu, segera berlari untuk menjauh dari sana.