Cool And Cheerful

Cool And Cheerful
Sakit dan Sesak Yang Bersamaan



Sembari menunduk lesu, Naura berjalan tanpa arah. Ia baru saja menyelesaikan ujiannya. Dan hari ini, adalah hari dimana ia harus memutuskan kemana dirinya akan melanjutkan studi. Kebimbangan sedang ia rasakan, namun ia tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa.


Disaat ia masih berjalan tak tentu arah, tiba-tiba sebuah mobil di sampingnya membunyikan klakson dengan suara yang cukup keras. Naura berjengkit kaget di buatnya. Tapi saat tahu siapa pria di dalam sana, ia pun langsung bersikap biasa.


"Sweet Cherry.. Ayo, masuk!!"


"Tapi, Paman... Supirku---"


"Aku akan berbicara pada Mommymu. Cepatlah masuk!!"


Ingin dirinya menolak, tapi Naura tak kuasa untuk melakukannya. Dengan langkah lunglainya, Naura lalu memasuki mobil Dave. Perlahan, mobil itupun bergerak meninggalkan pekarangan sekolah milik wanita tersebut.


"Aku ingin memberitahumu kabar yang baik," ujar Dave dengan wajah sumringah.


"Apa itu?" Berbeda sekali dengan raut muka Naura yang nampak murung.


"Sore ini.. Aku akan menemui kekasihku."


Degg!!


Bagaikan di hantam sesuatu yang keras di dadanya, Naura merasakan rasa sakit dan sesak yang bersamaan. Ia lekas menatap keluar jendela agar Dave tidak dapat melihat butiran bening di pelupuk matanya.


"Naura, kau baik-baik saja??"


"Ahh, iya. Mataku agak sakit, sepertinya ada partikel yang masuk," alibi wanita itu sambil mengusap matanya.


Dave hanya berOh ria tanpa ingin bertanya lebih. Kini yang ada di pikirannya sekarang hanyalah Sherly. Jika saja ia tidak memaksa Roby, mana mungkin pria tersebut akan membawanya untuk menemui Sherly.


"Aku turut bahagia, Paman. Aku.. aku akan menunggu undanganmu.."


Senyum Dave pun semakin melebar. Ia lalu mengambil tangan Naura, kemudian ia cium dengan lembut tangan itu.


"Terima kasih... Hanya kau yang mengerti diriku."


Hanya senyuman simpul yang dapat Naura berikan. Ia tidak sanggup untuk berbicara. Karena saat ia mengatakan sesuatu, maka tidak kemungkinan isakannya nanti akan keluar. Dan Naura tidak mau Dave menyaksikannya.


Tibalah mereka di mansion Wilson. Dave hanya bisa mengantarnya, tapi tidak bisa untuk ikut masuk. Dirinya harus bersiap untuk pertemuannya dengan Sherly malam ini. Oleh sebab itu, ia tidak turun dari mobilnya.


"Kau tidak turun?" tanya Dave yang bingung melihat Naura tidak ada pergerakan sama sekali di sampingnya.


"Bolehkah aku memelukmu?"


Pertanyaan Naura cukup membuat Dave tersentak. Namun tak urung dirinya mengangguk dan membiarkan tubuh mungil Naura memeluknya.


"Ada apa? Kau tampak berubah akhir-akhir ini."


"Bukan aku yang berubah, tapi dirimu... hikss.." Tidak bisa. Naura tidak bisa menahannya lagi. Ia menangis di pelukan Dave, mungkin pelukan mereka yang untuk terakhir kalinya.


Dave hendak melepaskan pelukan itu dan menatap Naura, tapi wanita itu tidak membiarkannya dan semakin mengeratkan tangannya yang melingkar di leher Pamannya tersebut.


"Kau membuatku takut, Naura." Dave dapat merasakan bahwa akan ada perpisahan di antara dirinya dengan Naura. Ia pun membalas pelukan itu tak kalah erat, seolah tidak membiarkan Naura untuk pergi.


"Aku memang belum pernah bertemu dengan kekasihmu, tapi aku yakin, dia pasti wanita yang sangat cantik dan baik. Buktinya, kau hanya melabuhkan hatimu untuknya hingga belasan tahun lamanya." Naura memejamkan matanya sejenak dengan di iringi hembusan nafas pelan dari hidungnya.


"Aku akan bahagia jika kau bahagia. Maafkan aku yang mencintaimu, seharusnya aku tidak melakukan itu. Maaf...,"


Ia terisak cukup hebat. Hingga tanpa di duga, Naura memejamkan matanya lalu mendaratkan kecupan singkat di bibir Dave. Ciuman yang hanya memakan waktu beberapa detik, namun memliki sejuta makna.


"Terima kasih..." Tak ingin terlalu lama disana, Naura lekas keluar dan meninggalkan Dave yang membeku di tempatnya. Ia tidak menyangka jika Naura memiliki perasaan lebih terhadapnya. Padahal selama ini hubungannya dengan wanita itu tidak lebih dari seorang Paman kepada keponakannya.


"Apa yang kau lakukan, Naura? Tidak seharusnya kau menyimpan perasaan itu terhadapku?" bisik Dave yang masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.


Tanpa dirinya sadari, air mata yang seharusnya tidak hadir, justru jatuh membasahi pipinya. Tapi kesadarannya dengan cepat kembali. Ia menghapus air mata itu, kemudian Dave segera meninggalkan kediaman Wilson. Perihal Naura, ia bisa mengurusnya nanti. Karena ada urusan yang jauh lebih penting, yaitu Sherly, wanita yang di cintainya.


...* * *...


Isakan Naura tidak kunjung berhenti. Angel bahkan di buat panik karenanya. Wanita paruh baya tersebut sudah meminta putrinya untuk membuka pintu, tapi ucapannya tidak di hiraukan.


Melihat istrinya yang nampak cemas, Damian segera membawa kakinya untuk menghampiri Angel yang berdiri di depan pintu kamar milik Naura.


"Ada apa? Kenapa kau nampak cemas seperti itu?"


"Naura, Damian. Sejak keluar dari mobil Dave, ia langsung masuk ke kamarnya begitu saja. Bahkan tak henti-hentinya dia menangis. Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara mereka," adu Angel.


Seketika kedua tangan Damian terkepal. Ia begitu marah mendengar cerita istrinya bahwa Dave lah yang membuat putrinya menangis.


"Aku akan memberi pelajaran pada Si Berengsek itu."


Ketika Damian akan melangkah, sebuah teriakkan dengan di iringi suara pintu yang di buka, membuat langkah besarnya itu terhenti.


"Jangan, Daddy. Kumohon, jangan menyakitinya. Ini bukan salahnya.. hikss..." Naura menangkupkan kedua tangannya seolah mengiba kepada Daddy-nya agar jangan pergi menemui Dave. Karena Naura yakin, jika Damian pergi menemui Dave, maka semuanya tidak akan baik-baik saja.


"Lalu, apa Daddy akan diam saja setelah melihatmu di sakiti olehnya?" geram Damian. Ia merasa berang saat ini, dan siap untuk meledak kapan saja.


"Kumohon, Daddy. Demi aku, jangan lakukan itu.." Naura lalu mendekati Daddy-nya. Ia memeluk tubuh tegap itu dan membenamkan wajahnya di dada bidang Damian.


Melihat putrinya yang memohon untuk pertama kalinya, pertahanan Damian pun mulai runtuh. Ia membalas pelukan tersebut tak kalah erat. Ia biarkan sang putri terisak di dadanya hingga berhenti sendiri.


"Daddy.."


Panggilan lembut itu mengalihkan dunia Damian. Ia lekas menunduk dan menatap wajah milik putrinya yang di penuhi dengan air mata.


"Ada apa, Sayang??"


"Aku memilih Oxford, Daddy. Dan aku ingin berangkat malam ini."


Spontan saja Angel dan suaminya jadi saling bertatapan. Mereka memang menginginkan bahwa salah satu dari anak mereka akan ada yang melanjutkan studinya di London, tapi tidak dengan cara seperti ini. Pasalnya, Naura menjadikan Universitas Oxford sebagai alasan agar dirinya bisa menjauh dari Dave.


"Kau yakin dengan pilihanmu?" tanya Damian ragu. Naura pun langsung mengangguk mantap agar keraguan yang terdapat pada kedua orangtuanya bisa sirna.