
Sepasang mata itu menatapnya dengan penuh kerinduan. Namun Leon masih saja memasang wajah datarnya seolah tak perduli dengan tatapan tersebut.
"Aku masih tidak percaya bahwa kau mengajakku untuk bertemu disini." Pria paruh baya di hadapannya tersenyum. Tapi Leon masih sama seperti tadi, hanya menatapnya datar sambil melipat kedua lengannya di dada.
"Aku merindukanmu, Nak..." Kata-kata itu terucap dari bibir Dave, dengan di barengi air matanya yang mulai mengenang di pelupuk mata.
"Apa kau masih membenciku?" tambahnya. Melihat keterdiaman putranya membuat Dave menghela nafas kecewa. Ia tidak tahu apa yang Leon inginkan sehingga mengajaknya untuk bertemu disini.
"Aku rasa, kau masih membenciku," lirih Dave di iringi senyum getirnya. Namun lirihannya tersebut masih dapat di dengar oleh lawan bicaranya.
"Darimana kau tahu bahwa aku membencimu?"
"Melihatmu yang enggan berbicara, membuatku berpikir bahwa kau masih membenciku. Tapi aku tidak tahu, mengapa kau justru mengajakku untuk bertemu."
Mendengar hal itu, Leon jadi bingung sendiri. Ia pun tidak tahu, kenapa dirinya ingin bertemu dengan ayahnya ini. Mungkin karena ucapan Sierra saat di sekolah tadi yang membuat hatinya tergerak untuk menemui Dave Clayton.
"Walaupun kau tidak ingin berbicara denganku, setidaknya aku cukup bahagia karena sudah bertemu denganmu." Sebuah kalimat yang Dave ucapkan, memecahkan lamunannya. Leon kembali ke dunianya dan merasakan hawa canggung di sekitar mereka.
"Sebenarnya aku tidak ingin bertemu denganmu, tapi Sierra yang menyuruhku.." Dirinya membuat sebuah alibi, sayangnya hal tersebut di ketahui oleh ayahnya.
Dave tersenyum simpul, apalagi ketika anaknya memalingkan wajah untuk menutupi alibinya itu. Sulit bagi seseorang untuk membodohinya, termasuk anaknya sendiri.
"Terima kasih karena kau sudah meluangkan waktumu untuk menemuiku. Omong-omong, mengapa kau tidak mengajak Sierra kemari?"
"Dia pergi bersama Noah. Aku tidak tahu mereka akan kemana.." Nada bicara Leon terdengar tidak suka. Yaa, memang ia tidak menyukai kedekatan di antara Noah dengan Sierra, namun bagaimana lagi? Dirinya sudah kalah telak dari Noah, yang statusnya merupakan suami dari wanita yang dicintainya.
Dave mengangguk paham. Ia sadar jika putranya menyukai Sierra. Namun itu tidak benar, bagaimanapun juga, Sierra sudah bersuami saat ini.
"Kuharap kau bisa melupakannya.."
Mendengar hal itu, Leon lekas mengangkat kepalanya dan menatap serius ayahnya. Ia tidak mengerti, apa yang pria tersebut katakan.
"Kau harus mengerti bahwa sebuah perasaan tidak bisa di paksakan. Kau mungkin menyukai Sierra, tapi Sierra justru lebih memilih Noah ketimbang dirimu. Sakit memang, tapi itu yang terbaik untukmu."
Leon jadi tersenyum kecut mendengarnya. Dave benar, namun melupakan seseorang tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan. Butuh waktu yang tidak sedikit untuk melupakannya, apalagi jika dirinya hampir setiap hari bertemu dengan seseorang yang berusaha untuk ia lupakan itu.
...* * * ...
Hari yang di tunggu telah tiba, yaitu hari dimana kelulusan mereka. Semua tampil cantik dan menawan, tak ketinggalan orang tua dari siswa dan siswi yang turut hadir untuk menyaksikan acara yang penuh makna seperti hari ini.
Dave bahkan ada disana, untuk melihat sendiri putra kebanggaannya naik ke atas podium, sebagai siswa terbaik tahun ini yang berhasil mengalahkan Noah.
Tak terasa air matanya menetes ketika Leon mulai mengeluarkan beberapa patah kata sebagai bentuk terima kasihnya kepada guru yang sudah mendidiknya selama bersekolah disana. Ia juga memuji sosok paman yang telah merawat dan membesarkannya, yang tak lain adalah Roby.
Bolehkah waktu di ulang kembali? Dave ingin membesarkan dan melihat sendiri tumbuh kembang anaknya. Mungkin namanya lah yang akan terucap oleh Leon, bukan Roby.
"Dan aku juga ingin mengucapkan terima kasih, kepada dia yang sudah hadir disini yaitu Daddyku, Dave Clayton..."
Bagaikan tak percaya, Dave hanya terpaku mendengarnya. Sebelum akhirnya tepukan tangan yang memekakkan telinga membuatnya kembali tersadar. Ia lalu menatap sekitarnya, hingga pandangannya bertemu dengan Roby. Pria itu nampaknya memberikan sebuah kode agar mempersilahkan Dave untuk maju dan menghampiri anaknya.
"Dad..." lirih Leon dengan matanya yang berkaca-kaca. Akhirnya ia luluh juga dengan usaha Daddynya yang ingin memperbaiki hubungan di antara mereka.
Angel tersenyum penuh haru, ia tidak bisa mencegah air matanya yang turun begitu saja ketika melihat seorang anak yang mulai menerima ayahnya setelah sebelumnya begitu membencinya.
'Kau pantas mendapatkannya, Dave.'
...* * * ...
"Kau berhasil mengalahkanku, Dude." Kalimat yang Noah ucapkan memanglah sebuah pujian, namun di telinga Leon itu lebih mirip seperti sebuah penghinaan.
Ia tersenyum sinis, "Bukankah aku yang kalah telak darimu?"
Seketika Noah tertawa sangat keras, bahkan tanpa ia sadari, ia menepuk bahu Leon yang membuat si empunya segera menjauh dan menjaga jarak di antara mereka.
"Aku mungkin menang darimu sebagai siswa terbaik, namun aku kalah darimu soal urusan percintaan. Kau sudah mendapatkannya lebih dulu, bahkan sebelum kita bersaing." Memang terasa sakit, tapi mungkin ini yang terbaik.
Tawa yang semula tercetak di wajah Noah, perlahan memudar. Ia menatap serius pria yang ada di hadapannya ini. Ia tahu bahwa Leon memiliki perasaan lebih terhadap istrinya, namun pria itu baru berani mengatakannya sekarang.
"Lalu? Apa yang ingin lakukan sekarang?" Nada suara Noah terdengar dingin. Dan Leon menyadari itu. Ia sadar jika Noah merasa tidak suka dengan arah pembicaraan mereka.
"Tidak ada. Aku hanya ingin mengatakan bahwa jangan sampai kau menyakitinya. Karena jika sampai itu terjadi, maka aku lah orang pertama yang akan melenyapkanmu."
Kedua pria itu sama-sama memandang tajam, hingga akhirnya sebuah suara yang memekakkan telinga mengakhiri aksi tatapan keduanya.
"Sayanggg..."
Disana muncullah Olivia bersama Sierra. Ia langsung menyelipkan tangannya di lengan Leon, yang sejak kemarin sudah resmi menjadi kekasihnya.
Dahi Noah mengkerut heran, apakah keduanya??
"Eumm... Sierra, aku dan Leon pergi dulu, sampai jumpa.." Olivia melambaikan tangannya, kemudian buru-buru pergi meninggalkan sepasang kekasih tersebut.
Sierra yang mengerti raut wajah bingung Noah, segera menarik tangannya agar lekas mengikutinya. Sembari melangkah, Sierra menceritakan apa yang Olivia katakan kepadanya.
"Aku tidak percaya jika keduanya menjalin hubungan."
"Mau bagaimanapun juga, kau harus mempercayainya, Noah. Bukankah dengan seperti itu, Leon tidak akan merasakan kesendirian lagi!!?"
Akhirnya Noah mengangguk setuju. Sepertinya inilah yang terbaik untuk pria itu, walaupun Noah tahu bahwa hati Leon masih ada untuk Sierra.
"Noah, Sierra... Ayo kemari. Kita foto bersama.." teriakkan Angel mengalihkan perhatian keduanya. Yang di panggil pun segera mendekat ke arah keluarga mereka. Disana juga terdapat Vika dan James yang ikut menyaksikan kelulusan putri sekaligus menantunya.
Tak ketinggalan Angel mengajak Leon beserta Dave untuk ikut foto bersama dan mengabadikan momen yang indah ini. Dimana semuanya berakhir dengan perasaan lega.
Leon sudah dapat merelakan Sierra sekaligus menerima Daddynya, bukankah itu suatu pencapaian yang baik? Jika orang lain di posisi Leon, mungkin mereka tidak akan sesabar pria itu.