Cool And Cheerful

Cool And Cheerful
Pertemuan Yang Tak Diduga



"Kau tampak dekat dengan anggota keluarga Wilson?"


"Tentu saja, karena mereka adalah keluargaku."


"Keluarga seperti apa?"


Sierra menghela nafasnya jengah, "Bukankah kau tahu jika kami adalah saudara sepupu?"


"Aku tidak percaya."


"Aku tidak perduli kau akan percaya atau tidak. Yang penting, aku sudah memberitahumu."


"Sayangnya, kau tidak memberitahuku tentang kebenarannya."


Ucapan pria tersebut membuat Sierra kesal. Dia lalu meletakkan biolanya dengan kasar.


"Jika kau tidak ingin latihan untuk sekarang, sebaiknya kita pulang saja."


Tanpa menunggu waktu lagi, Sierra segera berdiri dan hendak melangkah. Namun tangannya justru di tahan oleh Leon.


"Kita sudah berada disini. Dan kita akan latihan saat ini juga."


Hening...


Tampaknya Sierra benar-benar marah kepadanya. Leon pun menghembuskan nafasnya kasar.


"Oke, fine. Aku minta maaf. Kembalilah duduk."


"Jangan membahas sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan latihan kita. Atau, aku akan benar-benar pergi dan tidak ingin lagi latihan denganmu."


"Baiklah. Sekarang, duduklah!"


Walaupun Sierra sudah kembali ke posisinya semula, namun wajahnya masih terlihat marah. Lihat saja! Wanita itu bahkan memainkan biolanya secara asal.


"Sierra, kumohon latihan dengan benar."


"Ini sudah benar, Leon. Lagipula, lagu apa yang akan kita iringi?"


"Kau memiliki usulan?"


"Tidak. Otakku sedang buntu," ketus Sierra.


Mendengarnya, Leon hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia kemudian berpikir keras mengenai lagu apa yang akan mereka pilih.


"Bagaimana dengan You are the reason?"


Sejenak Sierra memikirkannya, dia lalu menganggukkan kepalanya setuju.


"Tidak buruk."


Akhirnya mereka setuju mengiringi lagu You are the reason dengan biolanya. Mereka kini mulai latihan bersama. Diam-diam Leon memperhatikan Sierra yang begitu fokus melihat lirik lagu di ponselnya. Dia tersenyum simpul, senyum yang tidak pernah dia berikan kepada siapapun selain pamannya.


Entah atau hanya perasaannya saja, Sierra begitu unik di matanya. Sikapnya yang ceroboh dan bodoh, menjadi daya tarik sendiri bagi wanita itu.


"Leon, nada yang ini bagaima..." Sierra tidak melanjutkan kata-katanya. Matanya malah menyipit aneh saat melihat sesuatu tidak pernah di tunjukkan oleh pria di hadapannya ini.


"Apa kau baru saja tersenyum?" tambahnya.


Leon berdehem singkat, kemudian memalingkan wajahnya.


"Tidak."


"Tapi, baru saja aku melihatmu---"


"Jika aku bilang tidak, berarti tidak!" potong Leon dengan wajah galak.


Sierra mencebikkan bibirnya. Dia lalu memilih untuk melanjutkan latihannya. Biarlah apa yang akan pria itu lakukan, dia tidak peduli.


Waktu bergulir dengan begitu cepat. Tak terasa matahari sudah naik, tepat di atas kepala mereka. Leon dan Sierra yang memang memilih latihannya di tepi danau, menjadi kepanasan. Mereka pun memutuskan untuk menyudahi latihannya dan buru-buru pergi dari situ.


"Kita akan kemana setelah ini?" tanya Sierra yang melihat Leon sedang memasukkan barang-barang mereka kedalam mobilnya.


"Bagaimana jika kita makan siang dulu? Kebetulan disini ada sebuah cafe yang cukup terkenal."


Sierra mengangguk setuju. Dirinya tidak ingin berbohong, bahwa saat ini perutnya juga merasakan lapar.


"Kau duduklah disini. Aku akan memesannya lebih dulu."


Lagi-lagi Sierra mengangguk. Leon sengaja memilih tempat duduk di luar, agar mereka bisa melihat-lihat di sekitarnya.


Sembari menunggu, Sierra mengeluarkan ponselnya di sling bag, kemudian dia mengecek beberapa chat yang masuk.


"Sierra..." Tiba-tiba ada yang memanggilnya. Secara spontan Sierra mendongak, dan nampaklah Alexa bersama seorang pria.


"Aku benar-benar tidak percaya jika kita bisa bertemu disini." Ucapan Alexa terdengar antuasi. Tentu saja, karena wanita itu sedang bersama dengan pria yang dia suka.


"Aku... Juga tidak menyangka jika bisa bertemu dengan kalian disini," timpal Sierra dengan senyum kikuknya. Dia lalu melirik pria yang datang bersama Alexa.


"Apakah kalian datang bersama?"


Alexa mengangguk. Wanita itupun mengambil tempat duduk di samping Sierra.


"Kami baru saja mengerjakan tugas bersama. Bukankah begitu, Noah?"


Noah segera mengangguk. Dia mendudukkan dirinya di kursi depan Sierra. Sehingga kedua pasutri itu saling menatap satu sama lain.


Dari tatapan keduanya, tampak mereka saling kecewa. Bagaimana tidak? Mereka berdua membawa pasangan dengan embel-embel baru saja menyelesaikan latihan atau tugas yang Mr. Frederick berikan.


"Kalian..." Leon telah datang kembali sambil membawa nampan yang berisikan pesanannya dan juga Sierra. Wajahnya di buat heran dengan kedatangan dua orang yang tidak dia undang.


Alexa terkejut, sampai-sampai menutup mulutnya yang menganga.


"Kalian berdua..."


"Kami sama seperti kalian yang baru saja menyelesaikan latihan untuk besok," jelas Sierra yang tidak ingin ada kesalahpahaman.


Leon memasang wajah cuek. Dia sedang malas untuk meladeni siapapun, sehingga memutuskan untuk lekas duduk di samping Sierra. Karena hanya kursi itu yang kosong.


"Ini. Makanlah!" Pria itu memberikan makanan dan minuman yang sama dengannya kepada Sierra.


"Terima kasih."


"Aku akan memesan makanan lebih dulu. Kau ingin apa, Noah?" ujar Alexa sembari berdiri.


"Samakan saja denganmu," jawab Noah dengan matanya yang tertuju pada istrinya yang sedang makan.


Alexa mengangguk singkat. Wanita tersebut perlahan pergi dan meninggalkan Sierra yang bersama dengan dua orang pria. Yang mana salah satunya adalah suaminya sendiri.


Sierra makan dengan tidak tenang, karena Noah terus saja menatap dirinya. Suaminya itu seolah sedang memergoki dia yang sedang berselingkuh.


"Apakah kalian benar-benar bersaudara?"


"Leon!!" Sierra sudah memintanya untuk tidak membahas ini lagi. Tapi pria itu masih saja ingin membahasnya, dan itu membuat dirinya jadi kesal.


"Jika iya, kenapa? Jika tidak, lalu kau mau apa?" Noah menanggapinya dengan santai. Bahkan, dia terlihat tenang sambil melipat kedua lengannya di dada.


Leon tersenyum sinis, "Aku hanya bertanya. Karena aku tidak mempercayai hubungan kekeluargaan kalian itu."


"Kau pikir aku perduli?"


"Aku rasa tidak," balas Leon, kemudian dia menyeruput minumannya.


"Baguslah, jika kau mengerti. Aku memang tidak pernah perduli tentang dirimu, dan sebaiknya kau juga tidak usah perduli tentang kehidupanku."


Mendadak Leon tertawa sarkasme. "Sejak kapan aku memperdulikanmu, Noah Wilson? Aku hanya ingin tahu tentang Sierra, bukan dirimu."


"Sepertinya kau melupakan sesuatu," Noah tersenyum remeh, "Sierra dan aku memiliki keterkaitan. Jadi, jika kau ingin mengetahui tentang dia, maka secara tidak langsung, kau juga ingin mengetahui tentang kehidupanku."


Kedua pria itu sama-sama memandang sengit. Sierra hanya bisa diam sambil menatap keduanya secara bergantian. Dia tidak tahu jika Leon dan Noah memiliki hubungan yang sangat tidak baik.


Tapi kecemasan Sierra sirna saat Alexa telah datang. Tiba-tiba saja mereka semua menjadi diam dan bersikap biasa seolah tidak ada yang terjadi.


"Apa aku melewatkan sesuatu?" tanya Alexa yang menyadari bahwa ada yang tidak beres.


Sierra lekas menggeleng. Tak lupa ia menampilkan senyum kecilnya.


"Tidak, Alexa. Kau cepatlah duduk!"


Alexa percaya-percaya saja. Ia segera duduk di kursinya kembali dan mulai menyantap makanannya bersama Noah.