
Seharusnya Dave senang dan bersemangat, tapi nyatanya tidak. Sejak pertemuannya dengan Naura tadi, perasaannya justru di liputi kegundahan. Ia tidak tahu kenapa, hanya saja dirinya ingin bertemu Naura sekarang.
"Ada apa??" tanya Roby yang duduk di sampingnya. Pria itu bertanya-tanya, ada apa dengan Dave? Tadi pagi ia masih terlihat bersemangat untuk bertemu Sherly. Tapi kenapa sekarang ia nampak lesu dan... sedih?
"Tidak apa-apa.." Dave memalingkan wajahnya. Ia segera menyeka air matanya. Setelah menemui Sherly, ia akan langsung menemui Naura. Dave akan memperbaiki semuanya, hubungannya dengan wanita tersebut.
Mendadak mobil yang mereka tumpangi berhenti. Dave mengernyit heran karena mereka berhenti di sebuah pemakaman. Saat ia ingin bertanya, Roby justru sudah keluar dari mobil. Ia pun lekas menyusulnya dan mengikuti kemana pria itu akan membawanya.
"Rob, kenapa kau mengajakku kesini?" Sayangnya, pria di hadapannya tidak menjawab dan terus melangkah. Hingga, Roby berhenti di sebuah pohon besar yang rindang. Refleks, Dave ikut berhenti dan langsung memberikan tatapan tajam kepada pria tersebut.
"Apa kau sedang mempermainkanku?" desis Dave.
Roby kembali tidak menjawabnya. Pria itu hanya memasang wajah tanpa ekpresi. Dave yang merasa di permainkan, segera menghampirinya lalu mencengkeram kerah kemeja milik Roby.
"Jauh-jauh aku mengikutimu hingga kemari, kau justru mempermainkanku seperti ini!"
"Bukankah kau ingin menemui, Sherly? Disinilah tempatnya.."
Perlahan, Dave melepaskan cengkeramannya. Ia lalu melirik sebuah gundukan tanah yang tak jauh darinya. Disana, terukir nama Sherly beserta tanggal lahir dan wafatnya.
Seketika kedua kaki Dave terasa lemas. Ia meringsut ke bawah dengan kedua lututnya sebagai penyangga. Matanya berkaca-kaca seolah tak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini.
"Sherly..." Dave menggeleng, ia menolak takdir yang di berikan kepadanya. Sherly-nya sudah tiada, bahkan sebelum dirinya meminta maaf.
"Awal-awal kepergian Sherly, aku sama sepertimu. Tidak bisa menerima garis takdir yang di berikan. Namun berjalan seiringnya waktu, aku mulai menerimanya. Itu semua karena kehadiran 'dia'." Roby berusaha menghibur Dave, walaupun di dalam lubuk hatinya masih menyimpan kebencian dan amarah untuk pria itu.
"Kau pergi tanpa menemuiku. Aku bahkan belum meminta maaf atas semua yang kulakukan kepadamu. Kau tahu, aku datang kesini dengan sejuta harapan dan keinginan. Aku harap kau memaafkanku, dan aku ingin hubungan kita kembali membaik seperti dulu. Tapi, takdir berkata lain. Mungkin takdir begitu membenciku, hingga dia mengambilmu dariku.." Isakan yang keluar dari bibir Dave terdengar jelas. Dan untuk pertama kalinya Roby melihatnya.
Tiba-tiba Dave berdiri, meskipun kakinya masih terasa lemas. Ia menghadap Roby dengan tatapan memohon.
"Dimana anakku? Aku ingin menemuinya."
Disitulah ketakutan Roby. Ia membesarkan dan menyayangi anak Dave dan Sherly layaknya anaknya sendiri. Tapi sekarang, Dave ingin menemuinya. Besar kemungkinan jika Dave akan mengambil putra kesayangannya itu.
"Kumohon, Rob. Aku ingin menemuinya.." Dave mengiba. Ia tidak perduli dengan imagenya saat ini. Ia hanya ingin putranya.
"Akan kuusahakan. Aku akan berbicara dulu padanya. Aku tidak ingin membuatnya terkejut dengan fakta bahwa kau adalah ayahnya."
Dave mengangguk. Ia lalu memeluk Roby sebagai ucapan terima kasih. Walaupun Roby terlihat tegar, tapi nyatanya ia begitu lemah. Ia pun ikut menangis, hanya saja tidak menimbulkan suara. Hatinya begitu merasa sakit setiap kali berada disini. Apalagi sekarang, Dave sudah mengetahui segalanya. Ia sudah cukup tersiksa dengan kehilangan Sherly, dan cepat atau lambat, ia akan kehilangan Leon.
...* * * ...
Tok tok tok
Suara ketukan di pintu, mengalihkan tatapan Naura dari koper miliknya. Ia dapat melihat Sierra sedang berjalan kearahnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Naura menggeleng pelan, "Maaf..."
"Tidak, Naura. Aku tahu jika ini keputusanmu. Tapi kenapa kau memilih kesana, ketempat yang sangat jauh dari keluargamu."
'Sulit untuk mengatakannya, Sierra.' Naura tersenyum sendu. Ia kemudian menarik tangan Sierra agar duduk di sampingnya.
"Seharusnya kau mendukung keputusanku. Aku memilih Oxford agar Mommy dan Daddy senang. Bukankah itu keinginan mereka?"
"Tapi Mommy dan Daddy tidak pernah memaksamu. Kau bisa menentukan pilihanmu sendiri."
"Kau benar. Dan Universitas Oxford lah pilihanku."
Sierra tidak membalas ucapannya lagi. Ia hanya bisa menangis karena akan berpisah dengan Naura. Baginya, Naura bukan hanya saudari yang baik, tapi ia juga adalah sahabat yang menyenangkan.
"Naura, ayo..." Dari arah luar, terdengar suara Noah yang meminta adiknya agar cepat keluar, karena mereka harus ke bandara sekarang.
Fyi, Naura akan menaiki pesawat umum. Ia tidak ingin merasa terkekang dengan menaiki pesawat milik Daddy-nya. Karena di dalam pesawat Daddy-nya itu berisikan anak buah dan beberapa pelayan disana. Hal itu tidak membuatnya bebas untuk melakukan sesuatu.
Naura tersenyum. Ia lalu menarik kopernya menuju keluar, dengan Sierra yang mengekor di belakangnya. Ketika melihat putrinya sudah keluar, Damian meminta kepada salah satu pengawalnya agar mengambil alih koper Naura dan memasukkannya ke dalam bagasi.
Semua anggota Wilson turut ikut mengantar kepergian Naura. Mereka akan berpisah dengan wanita itu di Bandara. Entah sampai kapan Naura akan berada disana dan kembali kesini, hanya takdir yang tahu.
Setibanya di Bandara, satu-persatu di antara mereka memeluk wanita tersebut. Tak lupa dengan air mata yang mengiringinya. Noah bahkan terlihat meneteskan air mata, namun dengan cepat ia berpaling dan mengusap air matanya itu.
"Mommy akan merindukanmu, Sayang. Mommy harap, keputusan yang kau ambil ini tidak akan membuatmu menyesalinya."
"Tidak, Moms." Naura menggeleng dengan senyuman kecil terukir di bibir mungilnya.
"Aku yakin, bahwa keputusan yang kuambil ini adalah yang terbaik."
"Mommy harap begitu..." Angel lekas memeluk erat putrinya. Sebagai seorang ibu, ia tahu betul alasan di balik keputusan anaknya ini. Naluri keibuannya memang tidak rela jika sang putri meninggalkannya, tapi mungkin ini yang terbaik.
"Pergilah, Sayang..." Pelukan itupun terlepas. Angel memberikan senyuman tulus untuk putrinya.
Naura mengangguk dengan senyum manis di bibirnya.
"Oh ya, sampaikan salam perpisahanku kepada Jack. Aku tidak tahu dia kemana, bahkan ia tidak turut hadir untuk mengantarku kesini."
"Kau tenang saja. Aku akan menyampaikannya. Bukan hanya itu, aku akan memarahinya karena tidak ikut untuk mengantarmu ke Bandara." Guyonan Sierra mampu membuat Naura tertawa. Wanita itu mulai menarik kopernya karena sebentar lagi pesawat akan lepas landas.
Di dalam setiap langkahnya, Naura berharap kebahagian untuk Dave. Mungkin saat ini pria itu sudah bertemu dengan kekasihnya. Dan bisa jadi jika Dave sudah tidak mengingat dirinya lagi.
'Aku tidak bisa menyangkal bahwa hatiku menginginkan sesuatu yang lebih dari sebuah hubungan antara Paman dengan Keponakan. Akan tetapi, pada akhirnya aku sadar, bahwa kau tidak pernah melirikku sebagai Wanita. Bahkan untuk sekali pun... Kau tidak pernah melakukannya..'