
Selena keluar dari mobil dengan membanting pintu. Hal itu tidak lepas dari penglihatan Ashley. Ia menggeram marah, sebelum akhirnya menyusul Selena yang sudah lebih dulu masuk ke sebuah apartement miliknya.
Di saat dirinya baru menginjakkan kaki di apartementnya, Ashley langsung mendapatkan tatapan tajam dari Selena.
"Kau benar-benar tidak berguna, Ashley. Bagaimana bisa kau salah sasaran? Harusnya Davina, tapi kenapa kau malah menabrak Andrew?"
Ashley memutar bola matanya jengah. Ini bukanlah pertama kalinya Selena berbicara seperti itu.
"Bagaimana aku akan tahu jika Andrew akan menyelamatkan kekasihnya itu?"
"Dasar tidak berguna!!" desis Selena sambil memalingkan wajahnya. Sayangnya, Ashley mendengar desisan tersebut.
"Aku? Tidak berguna?" Wanita itu tertawa sarkasme. "Harusnya kau sadar diri, siapa yang tidak berguna disini. Kau atau aku? Kau jelas-jelas tidak bergerak sama sekali dan hanya bisa memerintah sesukamu."
"Karena aku adalah bosnya disini."
"Oh ya?" Ashley lalu berjalan menuju lemari pendingin di dapurnya, yang menyatu dengan ruang tamu.
"Bukankah itu dulu? Sekarang, kau sudah tidak memiliki apapun."
Bagaikan kebenaran yang Ashley katakan, membuat Selena bungkam. Ia hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dengan mata yang menyorotkan marah.
"Dulu.. kau wanita yang begitu populer di sekolah, tapi sekarang?" Ashley menggelengkan kepalanya dramatis, "Jangankan populer, kau bahkan telah menjadi incaran para polisi."
"Diam kau, Sialan!!" teriak Selena yang sudah tidak bisa mengontrol amarahnya.
"Apa kau lupa? Kau pun juga menjadi incaran para polisi di luaran sana."
"Itu semua karenamu. Karena kau terlalu bodoh mengambil tindakan, hingga membuatku harus ikut terjerumus dalam kesialan bersamamu." Dengan santainya Ashley meletakkan kembali botol air minumnya kedalam lemari pendingin. Ia lalu melangkah mendekati Selena dengan gaya angkuhnya.
"Kau tahu? Sedari dulu aku tidak pernah menyukaimu. Aku mendekatimu dan ingin berteman denganmu hanya karena kau begitu populer. Tapi sekarang? Kau sudah tidak memiliki apapun. Lantas, untuk apa aku harus berpura-pura baik di hadapanmu?" sambung Ashley sambil membenarkan kerah baju yang Selena kenakan.
"Kau.. berteman denganku hanya karena ingin ikut populer seperti diriku?"
"Yupss, kau benar sekali. Tidak ada yang tulus dalam sebuah pertemanan. Ingat itu, Selena!!" Selepas berkata demikian, Ashely melangkah menuju pintu utama. Ia membukakan pintu itu dengan sangat lebar.
"Bisakah kau pergi? Aku lelah dan mengantuk."
Selena masih tidak percaya ini. Kehidupannya begitu berubah secara drastis. Harta, Keluarga, Teman, bahkan Kepopuleran, sudah tidak ia miliki sekarang.
Ashley nampak jengah menunggu. Ia melirik jam tangannya sejenak, kemudian ia berdecak kesal.
"Oh ayolah. Apakah kau tidak bisa menyeret kakimu itu untuk segera keluar dari apartementku? Haruskah aku memanggil penjaga di depan untuk membuatmu segera keluar?"
"Kau tidak perlu melakukan itu." Dengan langkah lebarnya, Selena berjalan menuju pintu. Namun sebelum dirinya keluar, ia menatap Ashley lamat-lamat.
"Apa?" tanya Ashley yang merasa risih dengan tatapan itu.
Tanpa menjawab atau mengatakan sesuatu lagi, Selena segera enyah dari gedung tersebut. Tak lupa topi dan maskernya ia kenakan untuk menyembunyikan wajahnya.
'Permainan belum selesai. Lihat saja nanti!!'
...* * * ...
Penyesalan memang selalu datang di akhir. Andai saja waktu itu Davina tidak menyebrang, maka Andrew tidak akan terluka. Andai saja dirinya lebih hati-hati, maka ia tidak akan kehilangan Andrew untuk selamanya. Masih banyak Andai-andai lainnya yang tidak bisa Davina jabarkan.
Air matanya seolah sudah mengering, mungkin karena dirinya terlalu lama menangis. Setelah sang kekasih di makamkan, Davina langsung mengurung dirinya di kamar. Ia tidak ingin di temui atau berbicara dengan siapapun, termasuk ibunya sendiri.
"Davina, kumohon buka pintunya. Ayo kita bicara!!" Sierra sudah sedari tadi memohon agar Davina keluar, namun tak ada sahutan atau gerakan yang terdengar dari dalam.
"Bagaimana sekarang?" tanya Olivia bernada khawatir.
Aleca, ibu dari Davina mencoba membujuk anaknya dengan mengetuk pintu.
"Nak, Ibu mohon keluarlah. Ibu sangat mencemaskanmu."
Tidak ada jawaban. Mereka takut jika Davina berbuat nekat dan berakhir dengan menyakiti dirinya sendiri.
Tidak tahukah mereka? Saat ini Davina sedang bergelut dengan batin dan pikirannya. Disaat dirinya tengah di landa duka, ia justru mendapatkan kata-kata tajam dari keluarga Andrew. Terutama ibu dari pria itu yang sejak dulu tidak pernah menyukainya, dan saat acara pemakaman tadi, dengan lantangnya wanita paruh baya tersebut menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi.
"Tidakkah kau sadar, semua ini terjadi karena dirimu. Kau pembawa sial untuk anakku. Dan kini, anakku sudah tiada. Apa kau sudah puas sekarang?"
Kata-kata itu terngiang di kepalanya, seakan tidak mau pergi. Davina benar-benar lelah untuk sekarang. Ia pun menenggelamkan wajahnya di lipatan lutut, hingga kesadarannya sepenuhnya menghilang.
Brakk!!!
Tepat pada saat itu, pintu di dobrak dari luar. Melihat Davina yang duduk di di sudut ruangan, Aleca beserta yang lainnya lekas menghampiri.
"Sayang..." Aleca tidak bisa menahan kesedihannya dan segera membawa Davina kedalam pelukannya. Namun, sebelum tubuh putrinya tersebut menempel pada tubuhnya, mereka justru di buat terkejut tatkala tiba-tiba tubuh Davina jatuh di pangkuan ibunya.
"Davina!!" pekik Sierra dan Olivia bersamaan. Mereka lalu segera membawa wanita itu menuju ke rumah sakit, dengan Noah yang membopong tubuhnya.
Setibanya di Rumah Sakit Kota, mereka di minta untuk menunggu pasien di luar ruangan, sementara dokter dan beberapa suster akan memeriksanya.
Aleca tidak bisa berhenti menangis. Ia takut terjadi sesuatu kepada putrinya, lalu apa yang bisa ia lakukan?
"Bibi, tenanglah. Semuanya akan baik-baik saja!!" Sierra berusaha menenangkannya sembari memeluknya dari samping.
Tak berselang lama, Dokter keluar dengan di temani dua suster lainnya. Dokter itu menatap Noah intens.
"Apa kau suaminya?"
Sontak saja pertanyaan itu membuat mereka semua terkejut. Apa maksud dari ucapan dokter di hadapan mereka ini?
"Maaf, Dok. Kenapa kau bertanya seperti itu kepadanya?" sahut Sierra yang sudah berdiri di hadapan sang dokter.
"Aku hanya ingin memastikan, apakah wanita di dalam itu sudah menikah atau belum."
"Memangnya apa yang terjadi dengan putriku??" Aleca ikut berdiri, setelah menyeka singkat air matanya.
"Putrimu hanya terlalu lelah dan stress. Hal itu tidak baik baginya, karena bisa mempengaruhi kondisinya dan juga..."
"Dan juga apa, Dok?" Aleca menjadi kesal, karena dokter itu tidak menyelesaikan ucapannya.
"Dan juga bayi yang di kandungnya!!"
Jduarr!!
Bagaikan tersambar petir di siang bolong. Bayi? Yang di kandung Davina? Mereka tidak habis pikir. Bahkan, Aleca tidak sanggup berkata-kata lagi dan hanya terduduk lemas di bangku panjang.
"Davina hamil?" lirih Sierra yang masih belum percaya.