Cool And Cheerful

Cool And Cheerful
Hilangnya Sierra



"Kau menjauhlah."


Sierra mengerutkan dahinya bingung. Melihat wanita di hadapannya ini yang tidak mengerti juga, membuat Ashley jadi berdecak.


"Kau menjauhlah sedikit dariku. Mana mungkin kita berdekatan seperti ini, 'kan aku jadi malu."


Seketika Sierra mengangguk mengerti. Ia kemudian membawa langkah kakinya untuk menjauhi Ashley, hanya beberapa meter saja.


"Jangan disana, Sierra. Lebih jauh lagi."


"Baiklah." Karena Sierra memang masih polos, jadi ia mengikuti saja apa yang Ashley katakan.


Ashley memandangi Sierra yang sudah lumayan menjauh dari tempatnya berada. Ia tersenyum miring, sebelum akhirnya melangkah secara perlahan untuk pergi dari sana.


Wanita itu kembali ke tempatnya semula, dimana sudah ada Davina yang menunggu dirinya.


"Bagaimana? Apakah dia mengetahui kepergianmu?"


"Tidak. Apa kau sudah mengganti petunjuk arahnya?"


"Sudah."


"Baguslah. Kalau begitu, ayo kita pergi." Ashley berjalan lebih dulu. Sementara Davina, ia melihat sejenak kearah munculnya Ashley tadi. Dalam hatinya, ia selalu menggumamkan kata maaf untuk Sierra.


"Cepatlah!! Atau Sierra akan segera kembali." Davina mengangguk, ia segera mengikuti langkah Ashley di depannya.


Di satu sisi, Sierra yang merasa sudah hampir 20 menit menunggu, memutuskan untuk menghampiri Ashley. Tapi, wanita itu justru tidak ada di tempatnya tadi.


"Ashley??" Mata Sierra mengelilingi ke sekitarnya. Namun tak menemukan keberadaan dari wanita tersebut.


Sierra yang panik, segera melanjutkan langkahnya ke tempat dirinya berpisah dengan rombongannya.


"Ashley..."


Ia masih berusaha untuk mencarinya, siapa tahu Ashley berada tak jauh darinya dan masih dapat mendengar teriakkannya.


'Ya Tuhan, kemana dia?'


Jantung Sierra berdegup kencang. Akhirnya ia memutuskan untuk menyusul yang lainnya, dan memberitahukan perihal Ashley yang tiba-tiba menghilang. Petunjuk arah di dekatnya menyakinkan dirinya untuk berjalan ke jalur kanan.


Tanpa pikir panjang, Sierra langsung mempercepat langkahnya agar bisa bertemu dengan teman-temannya. Sayangnya, ia tidak akan bertemu dengan rombongannya jika melewati jalur itu.


Hampir 200 meter Sierra berjalan, hingga ia memilih untuk berhenti karena merasakan ada yang janggal. Tidak ada lagi petunjuk arah di sekitarnya seperti jalur-jalur sebelumnya.


Sierra kemudian berbalik, ia memutuskan untuk kembali ke tempatnya tadi. Namun, ia tidak kunjung menemukan tempat tersebut dan malah berputar-putar di area situ.


Air mata yang sejak tadi berteduh di pelupuk matanya, akhirnya jatuh juga. Kakinya terasa pegal dan sakit akibat terlalu lama berjalan. Bahkan kakinya ada yang terluka karena tergores oleh ranting-ranting kayu yang lumayan tajam.


Sierra bersandar pada sebuah pohon. Perlahan, tubuhnya merosot ke bawah hingga ia terduduk di tanah. Pikirannya saat ini benar-benar kalut, hingga tidak bisa berpikir dengan jernih.


Sekarang ia menyadari, bahwa Ashley sepertinya sengaja meninggalkannya.


"Hikss... Noah..."


Sementara di tempat rombongannya berada, Noah langsung menghentikan langkahnya. Ia merasakan bahwa Sierra baru saja memanggilnya. Oleh sebab itu, ia segera berbalik dan melihat ke belakang. Namun Sierra belum kunjung kembali, bahkan Ashley pun tidak ada.


"Ada apa?" tanya Gerald yang menyadari kegelisahan temannya tersebut.


Gerald tertawa, "Sudahlah, Noah. Tidak perlu khawatir seperti itu. Mungkin dia sedang dalam perjalanan."


Ya, benar. Sierra memang sedang dalam perjalanan, namun bukan ke tempat suaminya berada. Justru ia berjalan menjauhi rombongannya dan terus melangkahkan kakinya memasuki hutan.


Noah berusaha untuk tidak khawatir. Ia dan Gerald melanjutkan kembali langkah mereka yang sempat tertunda. Setibanya di area peristirahatan teman-temannya, Noah langsung mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Sierra.


Dering ponsel terdengar, ternyata suara itu berasal dari ransel milik Sierra. Noah segera membuka ransel tersebut, dan menemukan ponsel Sierra yang ada disana.


Hembusan nafas gusar terdengar dari pria itu. Dirinya mulai panik sekarang. Terhitung dari perpisahannya dengan Sierra tadi, sudah satu jam lebih, namun istrinya itu tidak kunjung kembali.


Tiba-tiba Ashley datang bersama Davina. Ashley nampak berjalan pincang, dengan langkanya yang di tuntun oleh temannya tersebut.


"Dimana Sierra?" tanya Noah langsung.


Ashley justru mendadak menangis. "Maafkan aku, Noah. Aku dan Sierra berpisah disana. Aku sudah berusaha untuk mencarinya, namun.. hiksss..."


Demi mendapatkan kepercayaan dari yang lainnya, Ashley harus berakting dengan baik, termasuk berpura-pura menangis.


Noah perlahan memundurkan langkahnya. Firasatnya mengatakan ada yang tidak beres, dan ternyata itu benar. Istrinya menghilang di tengah hutan. Apa yang harus ia katakan pada Mommy-nya nanti?


"Bagaimana bisa kau berpisah dengannya? Apa kau sengaja meninggalkannya?" cecar Olivia dengan raut wajah marah.


"Mana mungkin aku melakukan itu? Aku sendiri sudah mencarinya, namun apa boleh buat jika aku tidak bisa menemukannya?"


"Ashley benar. Dia bahkan sampai terluka karena harus mencari keberadaan Sierra." Davina membela temannya itu. Tatapan Olivia lalu berpindah kepada kaki Ashley, kakinya benar-benar terluka. Bahkan ada darah disana.


"Kita harus mencarinya." Leon bertindak lebih dulu. Ia bahkan berlari menyusuri jalur yang sudah ia lewati. Leon bahkan tidak memikirkan apa yang akan terjadi kepadanya nanti.


Begitupun dengan Noah. Ia tidak bisa berdiam diri, mengingat bahwa istrinya sedang berada di tengah hutan sendirian. Apalagi waktu terus bergulir, dari siang menjelang sore.


"Aku akan menyusul Noah." Gerald hendak pergi, namun lengannya justru di tahan oleh Alexa.


Wanita itu menggeleng pelan, "Kita harus cepat kembali ke area percampingan. Dan melaporkan kehilangan Sierra."


"Yang di katakan oleh Alexa benar. Kita harus cepat kembali, kemudian memberitahukan kepada Mrs. Bella dan guru yang lainnya tentang kejadian ini. Kita tidak bisa mencarinya sendiri, apalagi kita tidak tahu area di hutan ini," timpal Rohan.


"Yang benar saja? Butuh waktu satu hingga dua jam lamanya untuk sampai di area percampingan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kepada Sierra." Gerald menolaknya. Dirinya ikut panik memikirkan istri dari temannya itu.


"Kau memang benar. Tapi jika kita mencarinya, tidak menutup kemungkinan bahwa akan ada yang menghilang lagi."


"Sudahlah, tidak perlu di pikirkan. Sierra akan kembali sendiri nanti."


Ucapan Selena membuat Olivia mengerutkan keningnya curiga.


"Kenapa kau terlihat sangat santai? Apa kau..."


"Apa? Jangan menuduhku yang tidak-tidak. Aku bahkan bersamamu sedari tadi. Mana mungkin aku yang membuat Sierra tersesat," sungut Selena seolah tidak terima jika di salahkan.


"Terserah kalian. Aku akan tetap melanjutkan perjalananku hingga tiba di area percampingan." Selena menambahi, ia kemudian berjalan lebih dulu sambil menyembunyikan senyumannya.


Sedangkan Davina yang baru saja selesai mengobati kaki Ashley, ikut menyusul Selena dan tak lupa untuk menuntun temannya tersebut. Chloe yang memang acuh pada sekitarnya, memilih untuk melanjutkan langkahnya.


Di detik berikutnya, semua anggota tim ikut menyusul kepergian Selena. Tak terkecuali Gerald beserta Olivia dan Alexa. Mereka bertiga membawakan ransel milik Sierra, Noah dan Leon yang tertinggal.