
Tepat hari ini. Senior High School angkatan Noah, Sierra dan Naura akan ujian untuk menentukan kelulusan mereka. Banyak dari mereka terlihat gusar, namun ada juga sebagian dari mereka yang nampak santai dan cuek seolah tidak perduli.
Karena angkatan mereka akan melakukan ujian, maka adik kelas mereka di minta untuk cuti selama seminggu penuh. Tak terkecuali Jack, pria itu bahkan memilih untuk menghabiskan waktu cutinya di Sisilia, tempat kakaknya berada.
Jacob Williams, atau yang lebih sering di panggil Jack. Usinya baru menginjak 16 tahun, selisih dua tahun dari kakaknya, Sierra. Sifatnya begitu mirip dengan Vika, ibunya. Periang, cerewet, bahkan jahil, benar-benar melekat pada dirinya.
Seperti gaya ala-ala turis yang mengenakan celana jeans dengan sobekan yang terdapat di lutut, tak lupa dengan kacamata hitam yang bertengger di matanya. Ia melangkah masuk ke Mansion Wilson sembari berteriak riang.
"Mommy, aku datang..."
Mendengar teriakan itu, Angel yang sedang berada di dapur, segera menuju pintu utama untuk menyambut anak dari sahabatnya.
"Jack!!!" Bagaikan tak percaya bahwa Jack benar-benar datang ke Mansionnya, sendirian. Angel lekas memeluknya dan mengucapkan selamat datang.
"Bagaimana perjalananmu, Nak? Apakah semuanya lancar?"
"Ya begitulah, Moms. Kemana semua orang? Kenapa disini nampak sepi?"
Angel terkekeh geli, "Kau datang pada waktu yang tidak tepat. Sierra beserta Noah dan Naura sudah pergi ke sekolah, sementara Daddymu mana mungkin ada di mansion pada waktu sepagi ini."
Benar juga!! pikir Jack. Ah, sudahlah. Jack tidak ingin memikirkan mereka. Saat ini dirinya hanya ingin beristirahat dan merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk.
"Moms, aku lelah," rengek pemuda itu. Angel tidak bisa untuk menahan senyum gelinya. Jack memang berbeda, dan itulah yang membuat Angel begitu menyayanginya.
"Ayo, Mommy akan mengantarmu ke kamar. Dan biarkan kopermu di bawa oleh pelayan disini!!" Angel lalu menuntun Jack agar ikut bersamanya.
Di sepanjang perjalanan menuju ke kamarnya, tak henti-hentinya pemuda tersebut bercerita tentang perjalanannya menuju kesini. Mulai dari dirinya yang di goda oleh pramugari yang cantik, hingga seorang ibu-ibu yang mengaku bahwa jatuh cinta kepadanya pada pandangan pertama.
Angel tidak berhenti di buat tertawa. Jack memang terkenal pandai dalam mencairkan suasana dan humor, dan itulah mengapa banyak dari para wanita yang menyukainya.
...* * *...
Pukul 10.00 AM, Jack terbangun dari tidurnya. Ia merasa bosan bila terus-menerus mengurung diri di dalam kamar, sehingga ia memutuskan untuk keluar sejenak mencari udara segar.
Sebelum itu, Jack meminta izin kepada Angel. Tentu saja Angel mengizinkannya dengan syarat akan ada seorang supir yang akan menemaninya karena pemuda itu belum sepenuhnya hafal jalan di kota tersebut.
Jack duduk di bagian belakang sembari menikmati suasana pagi menjelang siang. Pada pukul seperti ini, cuaca sudah panas sehingga membuat Jack menjadi haus.
"Kita mampir ke cafe terdekat, aku sangat haus!!"
"Baik, Tuan," jawab supir itu.
Mobil yang mereka kendarai perlahan menepi lalu berhenti. Jack lekas keluar karena dirinya benar-benar merasa haus. Sedangkan Pak supir tetap berada di dalam mobil dan menunggu Tuan muda tersebut.
"Hufttt..." Jack mendaratkan bokongnya di salah satu kursi, kemudian ia mengangkat sebelah tangannya untuk memanggil pelayan.
"Permisi, Tuan. Anda ingin memesan apa?" tanya salah satu waittres yang menghampiri.
"Eugh... Aku ingin memesan minuman terfavorit disini."
Jack hanya mengangguk singkat. Waittres tadi pergi, dan Jack pun mengalihkan pandangannya ke sekelilingnya. Cafe tersebut terlihat begitu modern, dan ia menyukai itu.
Disaat dirinya begitu fokus mengamati sekitar, tatapannya justru tak sengaja melihat seorang wanita yang sedang berhenti di depan cafe dengan sepeda miliknya. Wanita itu terlihat begitu lelah, dengan butiran-butiran bening yang menempel di dahinya.
Dari tempatnya duduk, Jack dapat melihat bahwa wanita tersebut sedang menyeka keringatnya. Ia merasa tidak tega, sehingga memutuskan untuk menghampirinya. Tepat pada saat itu, minumannya datang dan Jack lalu membawa minuman tersebut kepada wanita yang sedari tadi dilihatnya.
"Minumlah!!" ujar Jack sambil menyodorkan minumannya.
Wanita itu melirik sejenak, kemudian ia kembali menyeka keringatnya dan bersikap seolah tak perduli.
"Aku tahu kau lelah dan haus. Jadi, ambillah minuman ini."
"Kau tidak perlu bersikap baik kepadaku, lagipula kau tidak mengenalku," sahut wanita itu dengan acuhnya.
"Lalu? Apakah kita hanya di perbolehkan berbuat baik kepada orang yang kita kenal?"
Tidak ada sahutan lagi. Mungkin wanita itu sudah kehabisan kata-katanya. Jack yang lelah menunggu, akhirnya berinisiatif meletakkan minuman di tangannya ke keranjang milik sepeda wanita tersebut. Setelah itu, dirinya memilih untuk kembali masuk ke dalam cafe tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Aku pesan minuman yang sama seperti tadi," tukas Jack pada pelayan di dekatnya. Ia lalu kembali duduk ke tempatnya semula.
Jack masih mengamati wanita di luar, apakah ia akan menerima minumannya atau justru di buang? Namun semua perkiraannya salah, wanita tadi malah masuk ke dalam cafe dan menghampirinya.
"Terima kasih..." Wanita itu meletakkan beberapa lembar uang ke atas meja di depan Jack. Jack nampak kebingungan, dan wanita tersebut segera menjelaskannya.
"Aku tidak terbiasa menerima pemberiaan dari orang lain. Jadi, anggap saja minuman yang kau berikan tadi, aku membelinya."
Akhirnya Jack mengangguk paham. Namun ia tidak mengambil uang tersebut, dirinya justru menampilkan senyumannya.
"Kau sangat berbeda. Bagaimana jika kau menemaniku duduk disini? Aku tahu kau lelah dan butuh istirahat."
"Tidak, terima kasih. Aku agak sibuk hari ini." Wanita itu lalu berbalik dan hendak melangkah, tapi tiba-tiba perutnya terasa sakit. Dengan sigap Jack berdiri dan menahan tubuhnya.
"Sudah kukatakan, biarkan tubuhmu beristirahat sejenak. Jangan egois seperti ini!!" Perlahan, Jack membantunya untuk duduk, setelahnya ia kembali ke kursinya dan berhadapan langsung dengan wanita tersebut.
Pesanan Jack pun datang, wanita tadi yang baru ingat bahwa minumannya masih di keranjang sepedanya, memutuskan untuk mengambilnya. Tapi, Jack langsung menahannya dan memintanya untuk kembali duduk.
"Biar aku saja yang mengambilnya, kau tunggu disini."
Tak berselang lama, Jack kembali ke mejanya. Ia lalu mendorong minumannya kearah wanita itu, sementara minuman yang baru saja di ambilnya, langsung ia minum.
"Bukankah itu milikku?" tanya wanita di hadapannya.
"Minumanmu sudah tidak dingin lagi. Jadi, kita bertukar saja." Jack terlihat santai sambil menyeruput minumannya. Melihat sikap Jack yang seperti itu, wanita tersebut perlahan mulai ikut menikmati minumannya.
Diam-diam Jack tersenyum sambil memandangi wanita tersebut. Cantiknya begitu natural, tanpa polesan make-up tebal seperti kebanyakan wanita di luar sana.