
Sierra baru turun dari mobil Noah. Ia bergegas melangkah menuju ke kelasnya. Namun saat dirinya tengah berada di koridor, tiba-tiba seseorang menarik tangannya dengan paksa.
"Hey, lepaskan aku!!" pekik Sierra. Sayangnya tidak di dengarkan oleh pria yang menariknya tersebut.
Setibanya di belakang sekolah, tangannya di hempas begitu saja. Lalu, pria yang menariknya segera berbalik.
"Leon..." Sierra cukup terkejut mengetahuinya. "Ada apa denganmu? Kenapa kau menarikku ke tempat ini?"
"Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu."
"Kau bisa mengatakannya tanpa harus membawaku kesini." Entahlah! Sierra mulai tidak menyukai sikap dari Leon yang saat ini.
Pria di hadapannya tidak bersuara lagi, hingga membuat Sierra menjadi kesal. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Disaat dirinya sudah berbalik dan hendak melangkah, sebuah tangan mendadak melingkar di perutnya sehingga membuat Sierra membeku seketika.
"Aku mencintaimu, Sierra Kristy.."
Degg!!
Lidahnya terasa kelu. Bahkan Sierra tidak tahu harus mengatakan apa sekarang. Dirinya sangat terkejut, hingga membuatnya benar-benar spechless.
"Aku tidak pernah membayangkan, jika aku akan mencintaimu. Sungguh, kupikir ini hanyalah rasa suka yang biasa. Tapi ternyata aku salah. Aku berharap kau memiliki rasa yang sama seperti diriku, Sierra."
Sierra masih belum mengeluarkan suaranya. Namun, tatapannya tak sengaja bertemu dengan sepasang mata milik pria di dekat tiang besar di hadapannya. Seketika matanya membulat, apalagi saat dirinya melihat bahwa ada kilat marah di mata pria itu.
'Noah...' batinnya gelisah.
"Sierra, kau---"
"Sudah cukup, Leon!!" Entah keberanian darimana, Sierra menghempaskan tangan pria tersebut agar terlepas dari tubuhnya.
"Cukup!! Kumohon!! Aku tidak mencintaimu. Kau salah mengartikan kebaikkanku dan juga kedekatan kita selama ini. Mulai sekarang jangan menggangguku, karena ada perasaan seseorang yang harus kujaga."
Sakit tapi tak berdarah, itulah yang Leon rasakan saat ini. Apalagi melihat Sierra yang perlahan meninggalkannya. Tidak!! Dirinya tidak boleh menyerah. Leon lalu menyeka air matanya, ia yakin bahwa suatu hari nanti Sierra akan memiliki perasaan yang sama terhadapnya.
Di sisi lain, Sierra sudah menemukan suaminya, Noah. Ia menangis sesegukan melihat Noah yang mengamuk bahkan menyakiti dirinya sendiri.
"Noah, kumohon hentikan!!" Sierra berusaha menggapai tangan yang sudah terluka tersebut, namun suaminya itu dengan cepat menepisnya.
"Jangan perdulikan aku. Sebaiknya kau pergi dan habiskan waktumu dengan pria yang kau cintai itu."
Sierra menggeleng, "Kau salah paham, Noah. Kumohon, berhenti!! Kau terluka.. hiksss."
"Apa urusannya denganmu, hah? Jikapun aku mati, tidak ada urusannya denganmu!!" bentak Noah dengan penuh emosi.
"Kau suamiku, bagaimana bisa aku tidak perduli denganmu."
"Oh ya??" Noah tertawa sarkasme, "Kau benar. Aku suamimu dan kau istriku. Hubungan kita tidak lebih dari pada status tersebut. Bukankah begitu??"
Sierra tidak memperdulikan ucapan itu. Ia mendekati suaminya, lalu mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Noah. Ia pikir, Noah akan menolak sentuhannya dan menepisnya, ternyata tidak. Noah hanya memalingkan wajahnya dan enggan menatapnya.
"Kau salah paham padaku. Aku tidak mencintainya, sungguh. Aku hanya mencintaimu, dan kau pun tahu itu. Apa yang kau lihat, belum tentu itu adalah kebenarannya."
"Lalu apa yang pria dan wanita lakukan di belakang sekolah dengan saling berpelukan?" pungkas Noah tajam.
"Tidak, Noah. Kami tidak saling berpelukan, tapi dia yang memelukku."
Perlahan, kemarahan Noah mulai menyusut. Sierra yang tidak ingin membuang kesempatannya, segera meraih tangan suaminya yang terluka. Ia lalu menarik tangan itu agar ikut bersamanya untuk duduk di kursi panjang.
Pertama, Sierra mengeluarkan tisue dari tasnya lalu menyeka darah yang keluar dari tangan suaminya. Tangan Noah berdarah sebab memukul kaca di gudang tadi hingga pecah berkeping-keping.
Setelah di rasa bahwa darahnya tidak keluar lagi, Sierra melanjutkan dengan menempelkan hansaplast yang selalu ia bawa kemana-mana. Dengan masih sesegukan, wanita tersebut mencium tangan yang terluka itu. Sungguh, ia pun merasakan sakitnya walaupun bukan dirinya yang terluka.
"Maafkan aku, Noah. Maafkan aku..." lirihnya sambil sesekali menyeka air matanya.
"Jangan lakukan itu lagi!! Kau dapat membunuhku secara perlahan!!" bisik Noah sambil menyatukan kening mereka.
Sierra mengangguk pelan, "Kau tahu? Kau membuatku sangat takut."
Mendengar itu, Noah pun menjauhkan kepalanya. Dilihatnya bahwa memang ada ketakutan di wajah istrinya akibat perbuatannya.
Mereka berdua saling berpandangan, hingga... jarak di antara keduanya semakin menipis. Sierra dapat merasakan hembusan nafas suaminya, begitupun dengan sebaliknya. Secara perlahan, Sierra menutup kedua matanya dan bibir mereka pun bertemu.
Hanya menempel saja tanpa ada *******. Karena Noah sendiri tahu bahwa Sierra merupakan gadis polos dari sejuta wanita di kota ini. Sehingga ia tidak ingin membuatnya terkejut dengan tindakan lebih yang akan dirinya lakukan nanti.
...* * * ...
Jack merapikan rambut dan penampilannya di kaca mobil yang ia tumpangi, sebelum akhirnya ia melangkah lebar ke sebuah toko bunga, milik siapa lagi jika bukan Davina.
Tringg!!
Seperti biasa, lonceng berbunyi tatkala ada seseorang yang membuka pintu.
"Selamat datang di The Flowers Girl..." Setiap kedatangan seseorang, pasti akan di sambut dengan ucapan seperti itu. Jadi, Jack tidak akan terkejut ataupun terheran mendengarnya.
"Ada yang bisa aku bantu?" ujar Davina sembari mendongak. Seperti kemarin, senyumannya langsung pudar dan di gantikan dengan wajahnya yang galak.
"Kau lagi!!"
"Iya.." Jack menggaruk kepalanya sambil tersenyum kikuk.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan? Kenapa terus-menerus mengangguku?" Suara Davina yang terbilang marah, terdengar hingga ke telinga ibunya yang sedang berada di belakang.
"Ada apa, Nak? Kenapa kau marah-marah seperti itu?" Aleca datang menghampiri, tatapannya lalu beralih kepada Jack yang terdiam dengan wajah polosnya.
"Dia, Bu!! Dia selalu menggangguku!!" tunjuk Davina pada pria di hadapannya.
"Aku tidak menganggumu," sahut Jack dengan wajah cemberut. "Bukankah sudah kukatakan kemarin bahwa aku ingin membantumu?"
"Dan bukankah sudah kukatakan juga kepadamu, bahwa aku tidak butuh bantuanmu. Sebaiknya kau pergi, jangan membuatku semakin ma-- Ahh.." Ucapan Davina terpotong karena tiba-tiba perutnya terasa sakit.
Aleca yang panik segera menahan tubuhnya. "Ada apa, Nak?"
"Perutku.. sakittt.." ujar Davina terbata-bata.
Jack yang tidak tahu harus melakukan apa, hanya bisa diam sambil menggaruk kepalanya bingung. Otaknya mendadak bleng, sehingga ia tidak bisa berpikir dengan jernih.
"Apakah kau akan diam saja tanpa berniat membantu?" sindir Aleca.
"Ahh, iya. Tapi, apa yang harus kulakukan?"
"Carikan taksi!!" teriak Aleca yang kesal.
Seketika Jack berhambur keluar dan berusaha mencari taksi. Sayangnya, tidak ada satupun taksi yang sudi berhenti. Sementara Pak Supir yang berada di mobil, mengernyit aneh melihat Tuan Muda itu yang nampak kesal di pinggir jalan. Ia pun lekas turun dan menghampirinya.
"Tuan, apa yang sedang kau lakukan disini?"
"Apalagi jika bukan mencari taksi," dengus pemuda tersebut.
"Untuk apa? Bukankah mobilmu terparkir disana?"
Refleks, Jack menoleh kearah mobil yang di tunjuk oleh supirnya. Benar!! Lalu untuk apa aku mencari taksi? pikir pemuda itu dengan wajah heran.
Tanpa menunggu lagi, ia pun lekas kembali dan membantu Aleca untuk membawa Davina menuju ke mobilnya.