
Pergi ke kantor Daddy-nya hanyalah alibi dari Noah. Ia sebenarnya tidak ingin kesana, namun sikap Sierra lah yang memaksanya untuk pergi agar terhindar dari wanita itu. Dirinya saat ini butuh waktu sendiri, takut-takut amarahnya justru tidak terkontrol dan malah membuat Sierra terluka.
Andai saja Sierra memberitahunya lebih dulu, mungkin ia tidak akan sekecewa ini. Sebenarnya, apa arti dirinya di mata Sierra? Tidak bisakah jika ia berbagi cerita dengannya?
Memikirkan itu, membuat kepala Noah menjadi pusing. Ia akan menyibukkan dirinya dengan beberapa berkas di hadapannya, agar pikirannya tidak tertuju kepada Sierra.
Di satu sisi, sudah hampir setengah jalan, namun Leon belum kunjung membuka suaranya, walaupun Sierra telah bertanya berulang kali.
"Jika kau tidak ingin mengatakan sesuatu, sebaiknya kau turunkan aku disini saja!" Sepertinya Sierra sudah membuat keputusan salah dengan ikut pulang bersama pria di sampingnya ini.
"Leon!!!" Kesabarannya sudah habis. Pria itu seperti tuli dan mulai membuatnya marah.
Tiba-tiba Leon menepikan mobilnya. Disaat Sierra akan membuka pintu mobil, mendadak tangannya di tarik hingga berhadapan langsung dengan sang pemilik mobil.
"Kau ingin aku agar menerima pamanmu itu, bukan? Baiklah, aku akan melakukannya. Tapi dengan satu syarat."
Perasaan Sierra tiba-tiba menjadi tidak karuan. Apa yang sebenarnya sedang di rencanakan oleh Leon?
"Apa syaratnya?"
"Menikahlah denganku."
"Kau gila??" Sierra memekik kaget dengan tatapan tidak percaya. "Aku sudah menikah, dan kau tahu itu."
"Kau bisa memutuskan hubunganmu dengan Noah, lalu menikah denganku."
Sierra menggelengkan kepalanya dan tidak habis pikir dengan apa yang ada di kepala Leon. Haruskah ia membenturkan kepalanya agar cepat sadar?
"Aku mohon, menikahlah denganku!!" Leon mulai berani dengan menggenggam kedua tangan milik Sierra. "Aku mencintaimu, Sierra."
"Tidak, Leon. Kau tidak boleh mencintaiku," lirih Sierra.
"Kenapa? Kenapa aku tidak boleh mencintaimu?" bentak pria tersebut. Ia kemudian menangkup wajah Sierra agar menatap kedua matanya. Tatapannya yang tadi di penuhi amarah, mendadak berubah menjadi sendu.
"Jawab aku!! Kenapa aku tidak boleh mencintaimu?" sambungnya. Kali ini dengan nada yang sangat rendah.
"Karena, akan banyak hati yang tersakiti. Terutama Noah, suamiku."
Air mata Leon perlahan mengalir dengan derasnya. Ia menunduk dan kembali menggenggam tangan Sierra.
"Aku tidak pernah mencintai wanita sedalam ini. Jika aku tahu rasanya akan sesakit ini, akan lebih baik jika aku tidak pernah merasakan yang namanya sebuah cinta."
"Seumur hidupku, aku tidak pernah merasakan kehadiran cinta. Sampai kau datang dan mengubah segalanya. Tapi sayangnya, kau sudah menjadi milik orang lain.. hiksss..."
Sierra sungguh merasa kasihan dengannya, namun ia tidak bisa melakukan apapun. Sampai, nama Olivia tiba-tiba muncul di kepalanya.
"Leon, mencintai memang indah, tapi dicintai jauh lebih indah."
"Apa maksudmu?" Kini Leon mulai mendongakkan kepalanya.
"Tidak tahukah kau bahwa selama ini ada seorang wanita yang mencintaimu dalam diam? Dia hanya bisa menatapmu, namun tak bisa menggapaimu."
"Siapa dia, Sierra?" desak pria itu. Ia jadi penasaran, tapi Sierra justru menjelaskannya dengan bertele-tele.
"Olivia.."
Mendengar nama itu, mendadak raut wajah Leon berubah lesu. Ia melepaskan genggamannya di kedua tangan wanita tersebut, kemudian kembali menghadap ke depan.
"Dia tidak mencintaiku. Olivia tidak jauh berbeda dari para penggemarku yang hanya terobsesi kepadaku."
"Kau salah, Leon. Dia mencintaimu. Apa kau tidak bisa melihat itu dari kedua matanya?"
Leon menghela nafas panjang. Ia kemudian menghidupkan kembali mesin mobilnya dan perlahan meninggalkan tempat tersebut, tanpa menjawab pertanyaan dari Sierra terlebih dahulu. Dan Sierra yang mengerti akan kondisi pria di sampingnya saat ini, memilih untuk tidak banyak bertanya.
...* * * ...
Dari arah luar, kedua matanya dapat melihat seorang wanita yang sudah menunggu kedatangan dari dirinya. Leon menarik nafas dalam, sebelum akhirnya melangkahkan kakinya untuk menemui wanita itu.
"Maaf, aku membuatmu menunggu," ujarnya sambil menarik kursi untuk ia duduki.
"Tidak masalah." Olivia tersenyum ramah. Ia lalu mendorong pelan buku menu yang ada di atas meja.
"Aku tidak lapar.." Jawaban dari Leon terdengar cuek. Hal itu membuat Olivia merasa kikuk seketika. Ia tidak berani untuk membuka suaranya, terlebih lagi saat Leon mulai menyalakan sepuntung rokok di bibirnya.
Baiklah, aku tidak akan mengatakan apapun, batin Olivia berbicara. Namun tanpa di duga, Leon memulai obrolannya terlebih dahulu.
"Saat aku menghubungimu, apa kau sudah berada di rumahmu?"
Olivia mengangguk. Leon pun kembali menyesap rokoknya. Sedetik kemudian, gumpalan asap putih mengepul di udara sekitar mereka.
"Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu kepadaku?"
Wajah wanita itu menjadi bingung. Bukankah Leon yang memintanya untuk datang kesini? Tetapi, kenapa pria tersebut bersikap seolah-olah dirinyalah yang meminta Leon untuk datang.
"Kau yang memintaku untuk datang kemari."
Leon hanya mengangguk singkat. Perlahan, ia mulai mematikan rokoknya dan membuangnya secara asal. Tatapannya kini berubah menjadi serius. Dan yang ditatap pun jadi salah tingkah dan segera mengalihkan pandangannya agar tidak bertemu dengan kedua mata milik Leon.
"Bagaimana perasaanmu terhadapku?"
Pertanyaan tiba-tiba itu mengalihkan dunia Olivia. Ia tidak menyangka jika Leon akan bertanya demikian terhadapnya.
"Kau bisa mengatakannya dengan jujur. Selagi aku ingin mendengarmu. Karena... mungkin aku hanya memberimu satu kesempatan, yaitu sekarang."
Leon benar. Tapi, apakah Olivia memiliki cukup keberanian untuk mengatakannya?
Melihat keterdiaman wanita di depannya, Leon pun mendesah panjang.
"Baiklah. Aku rasa tidak ada yang ingin kau sampaikan."
Ketika ia akan berdiri, Olivia sontak menggapai tangannya. Bagi Olivia, ini adalah kesempatan yang tidak akan terjadi untuk kedua kalinya, maka dari itu, ia tidak akan melewatkannya.
"Kumohon, duduklah kembali!!"
Akhirnya, Leon duduk di kursinya semula. Wajahnya ia fokuskan pada Olivia yang tengah bersiap untuk mengutarakan isi hatinya.
"Aku tidak tahu harus memulainya dari mana," Olivia menunduk sambil meremas jarinya karena gugup.
"Tapi yang jelas, aku memang menyukaimu, Leon."
Tidak ada tanggapan ataupun reaksi dari pria di hadapannya, membuat keberanian Olivia mendadak menciut. Ia hanya bisa menunduk sambil mengatur nafasnya.
"Aku menyukaimu saat pertama kali bertemu. Kupikir, rasa suka itu wajar dan akan menghilang seiring dengan waktu. Tetapi tanpa kuduga, rasa suka itu perlahan berubah menjadi rasa ingin memiliki, walaupun kutahu itu hanyalah anganku semata. Aku hanya bisa menatapmu, namun tidak bisa untuk menggapaimu."
"Ternyata, yang di katakan Sierra benar adanya," sahut Leon santai.
Spontan saja Olivia lekas mendongak. Apa yang sebenarnya sudah di katakan Sierra kepada Leon?
"Oke. Aku sudah mendengar semuanya." Leon lalu bangkit dari duduknya, Olivia jadi kecewa melihat itu.
"Apa malam ini kau ada waktu?" Mendengar pertanyaan tersebut, seketika Olivia menatapnya bingung. Ia kemudian menggeleng pelan dan di sambut dengan anggukan singkat oleh Leon.
"Aku akan menjemputmu jam 7. Dandanlah yang cantik, karena kita akan makan malam bersama."
Bagaikan tak percaya dengan apa yang di dengarnya, Olivia termangu hingga kehadiran Leon sudah tidak ada lagi disana. Ketika kesadarannya telah kembali, ia jadi tersenyum-senyum tidak jelas, hingga mendapatkan tatapan aneh dari sekitarnya.
Tapi siapa yang perduli? Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Olivia dapat bertemu dan berbicara dengannya.
Membayangkan nanti malam, Olivia jadi girang sendiri. Ia bahkan berlari keluar dan cepat-cepat menuju mobilnya untuk segera pulang. Butuh waktu lama baginya untuk memilih dress dan berdandan agar terlihat sempurna di mata Leon.