Cool And Cheerful

Cool And Cheerful
Salah Paham



Setelah mata pelajaran pertama usai, disinilah Olivia dan Sierra berada. Mereka memilih duduk di bangku panjang yang ada di taman untuk mengobrol agar tidak ada yang bisa mengganggu keduanya.


"Maaf..." Untuk sekian kalinya Olivia berkata seperti itu. Ia merasa bersalah, bahkan kedua matanya tak berani untuk menatap Sierra.


"Olivia... Aku tidak butuh ucapan maaf darimu. Yang aku butuhkan penjelasanmu, atas sikapmu yang mendadak berubah tadi pagi," sahut Sierra sambil menggenggam sebelah tangan temannya tersebut.


Kepala Olivia pun semakin menunduk. Ia tidak tahu harus memulainya darimana.


"Aku cemburu, Sierra. Aku cemburu melihat kedekatanmu dengan Leon. Aku merasa kalah darimu. Kau memiliki semuanya, Leon dan Noah. Lalu aku? Apa yang aku dapatkan?"


"Aku tidak mengerti. Untuk apa kau cemburu? Tak ada hubungan apapun di antara kami."


"Mungkin itu bagimu. Tapi bagi orang-orang yang melihatnya, itu berbeda, Sierra. Mereka mengira bahwa hubungan kalian istimewa."


"Tidak, Olivia. Aku bersumpah, aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Leon, apalagi mengenai perasaan."


"Benarkah itu?" Kali ini Olivia memberanikan dirinya untuk mendongak.


Sierra mengangguk, dengan senyum simpul di bibirnya. Ia rasa, sudah saatnya untuk memberitahu Olivia tentang hubungannya dengan Noah, agar tak ada kesalahpahaman lagi.


"Aku ingin mengatakan sebuah kebenaran kepadamu. Tapi berjanjilah, kau tak akan marah."


"Katakan saja. Aku janji tidak akan marah."


Wanita itu menarik nafasnya dalam sembari memejamkan matanya sejenak, "Aku dan Noah sudah menikah."


Tidak ada balasan. Olivia membisu. Di detik berikutnya, tiba-tiba wanita tersebut tertawa dengan sangat keras. Ia pikir jika Sierra tengah bergurau.


"Kau, kau sangat lucu, Sierra.. Hahaha!!!"


"Aku sedang tidak bercanda, Olivia."


Seketika tawa itu menghilang. Tak ada keraguan ataupun kebohongan yang tercetak di wajah Sierra. Mulut Olivia bagaikan di kunci, hingga dirinya sendiri sulit untuk membukanya.


"Aku tahu, jika ucapanku membuatmu terkejut. Namun bukan maksudku untuk menyembunyikannya darimu. Sejak awal, aku berusaha untuk memberitahumu dan juga Alexa, hanya saja aku sedang menunggu waktu yang tepat."


Melihat kebungkaman Olivia, Sierra pun jadi tersenyum pahit. Ia lalu berdiri namun tatapannya masih tertuju kepada temannya itu.


"Kau boleh marah kepadaku, Olivia. Tapi kumohon, jangan membenciku."


Sejenak Sierra menghapus jejak air matanya. Ia kemudian hendak melangkah, tapi sebelah tangannya di tahan oleh seseorang.


"Ingin sekali aku membencimu, tapi aku tidak bisa untuk melakukan itu. Jika aku membencimu, lalu siapa lagi yang akan menjadi temanku? Aku sudah kehilangan Alexa, dan aku tak ingin kehilanganmu juga."


Perlahan, senyum kebahagian tercetak di wajah Sierra. Ia langsung memeluk temannya itu, begitupun dengan Olivia yang langsung membalas pelukan tersebut.


Akhirnya, kesalahpahaman ini terselesaikan. Setidaknya kegelisahan yang ada di hati Sierra perlahan menguap begitu saja. Dan tanpa mereka sadari, dari kejauhan terdapat seorang pria yang memperhatikan gerak-gerik mereka sejak tadi.


"Dasar wanita... Baru beberapa jam yang lalu mereka bertengkar, sekarang sudah berbaikkan saja." Noah menggeleng tidak paham. Wanita memang sulit untuk di mengerti.


"Itulah wanita. Takkan ada yang bisa mengerti mereka." Mendadak seseorang menimpali ucapannya. Sontak saja Noah terkejut dan langsung menoleh ke samping.


"Kau!! Sejak kapan kau ada disini?" sentak Noah dengan tatapan sebalnya.


"Baru saja. Aku merasa penasaran dengan apa yang kau lihat, oleh sebab itu aku kemari."


"Kira-kira, apa yang mereka bicarakan?" Leon nampaknya lumayan penasaran dengan obrolan Sierra dengan Olivia.


"Aku tidak tahu," ketus Noah. Ia kemudian memutuskan untuk hengkang dari sana dan kembali ke kelas.


Leon tidak terlalu memperdulikan Noah. Ia terfokus pada Sierra dan Olivia yang tengah menatapnya. Entah hanya perasaannya saja atau memang kedua wanita itu sedang membicarakan dirinya?


...* * * ...


"Kau beruntung menjadi bagian dari keluarga Wilson. Siapa yang tidak mengenal mereka di negara ini? Semua orang pun tahu siapa itu Damian dan Angelina Wilson."


Sontak, Jack mengalihkan tatapannya dari rangkaian bunga di tangannya. Ia menatap Davina dengan dahi yang mengkerut jelas.


"Eum.. Maksudmu?"


"Apa kau tidak mengerti juga? Kau dan Sierra adalah sepupu dari Si kembar Noah dan Naura, bukankah itu sebuah keberuntungan?"


"Maaf, Aku dan Sierra bukan sepupu dari Twins N."


"Oh ya? Lalu, bagaimana hubungan kalian terjadi?"


"Kukira kau sangat dekat dengan Sierra. Ternyata tidak!" Jack sudah kembali ke pekerjaannya semula, yaitu merangkai bunga-bunga untuk di masukkan kedalam Vas.


"Kami memang dekat, Jack. Hanya saja, Sierra kurang terbuka kepadaku."


Mulut pria itu langsung membentuk huruf O. Davina mendengus sebal, karena merasa di abaikan oleh Jack.


"Mereka telah menikah. Oleh sebab itu, kami menjadi sebuah keluarga."


Pernyataan dari Jack membuat Davina terdiam sekaligus terkejut. Benarkah yang di katakan oleh pemuda ini?


"Aku tidak tahu, siapa yang memberitahumu bahwa kami adalah sepupu dari Noah dan Naura. Yang jelas, dia sangat salah. Sierra dan Noah sudah menikah sejak beberapa bulan yang lalu. Hanya saja, mereka ingin merahasiakan hubungannya terlebih dulu. Hal itu demi kenyamanan mereka saat di sekolah. Setahuku sih begitu!!" tambah Jack tanpa menatap lawan bicaranya.


Davina tidak bisa berkata-kata lagi. Ia cukup terkejut mendengar penuturan dari pemuda tersebut. Namun sekarang ia mengerti, mengapa sikap Sierra dan Noah agak berbeda. Bukan hanya itu, kedekatan keduanya bahkan tidak terlihat seperti saudara sepupu pada umumnya.


"Eum.. Davina??" Wajah Jack sekarang terlihat serius. Ia bahkan sudah tidak menggenggam bunga di tangannya.


"Apa?"


"Besok..." Jack merasa tidak sanggup untuk mengatakannya. "Besok.. Aku harus kembali ke New York."


Seketika Davina mematung. Lagi-lagi ucapan Jack berhasil membuatnya membisu. Namun sekuat tenaga ia membuat dirinya agar terlihat tenang.


"O-ooh, baiklah."


"Hanya itu?" Dari nada suaranya, Jack nampaknya kecewa mendapatkan respon yang singkat dari Davina.


"Lalu, aku harus mengatakan apalagi? Aku tidak mungkin mencegahmu!"


'Tapi aku berharap kau melakukan itu,' batin Jack menimpali.


"Kau benar." Jack tertawa hambar. "Eugh, bolehkah hari ini aku meminta waktumu? Tapi jika kau tidak mau, aku tidak akan memaksa."


Davina menghela nafasnya panjang. Ia lalu mengangguk sembari tersenyum. Hari ini ia akan menghabiskan sisa waktu yang tersedia bersama dengan Jack. Karena Davina tidak tahu, akankah ia kembali di pertemukan dengan pria baik seperti Jack nantinya.