Cool And Cheerful

Cool And Cheerful
Kekecewaan Noah



"Darimana?" Pertanyaan itu mampu menyentakkan Sierra yang baru saja memasuki kamar. Ia menoleh ke samping, dan ternyata suaminya sudah ada disana, sedang duduk di atas sofa dengan kedua kakinya berada di atas meja.


"Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu, bahwa aku pergi menemui Davina!!?"


"Benarkah?" Dahi Noah mendadak mengkerut, "Tapi kenapa aku tidak menemukan keberadaanmu saat bersamanya?"


Sontak saja Sierra menjadi gugup. Ia lupa bahwa suaminya itu tidak pandai untuk di tipu ataupun di bohongi.


"Kenapa kau hanya diam?" Perlahan Noah bangkit dan berjalan menghampiri istrinya tersebut.


"Apa kau tidak akan menjelaskan sesuatu tentang kepergianmu?"


"Noah, aku..."


"Kau pergi menemui seorang pria di cafe. Siapa dia?"


'Noah, mengetahuinya?'  Sierra kini berpikir, apakah Noah melihat semuanya? Dan mendengar semua percakapan mereka?


"Jangan mencoba untuk berbohong atau mencari alibi!! Karena sekali saja kau berbohong, maka kau akan terus-menerus melakukannya. Akan baiknya bila kau jujur, maka aku tidak akan marah."


"Noah, sebenarnya... Aku menemui pria yang merupakan teman Paman Dave. Hanya itu."


"Kau yakin? Lalu apa yang kalian bicarakan?"


"Tidak ada. Hanya, hanya tentang masa lalu orangtua kita."


"Untuk apa? Kenapa kau ingin mencari tahu?"


Oh, God!  Kenapa suaminya ini begitu ingin tahu? Ia tidak mungkin mengatakan semuanya. Menurut Sierra, sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk memberitahu Noah tentang apa yang ia ketahui.


"Hanya ingin. Sudahlah, Noah. Aku lelah dan ingin istirahat." Sierra segera berlalu dan menuju ke kamar mandi. Ia terpaksa menghindari tatapan dari suaminya yang begitu mengintimidasi dirinya.


Namun siapa sangka, Noah begitu memahami gadisnya. Ia sudah mengenal Sierra cukup lama dan mengetahui bahwa wanita itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Tidak masalah. Jika Sierra tidak ingin memberitahu dirinya, maka ia akan mencari tahu sendiri.


...* * * ...


Biasanya ia akan menyapa, tapi ini tidak. Leon berjalan melewati Sierra dan Olivia di depannya tanpa menoleh sedikitpun. Mungkin ia masih marah perihal pertemuan mereka kemarin.


"Ada apa dengannya? Biasanya dia akan menyapamu," ujar Olivia dengan wajah heran.


"Aku tidak tahu, dan aku juga tidak perduli." Dengan acuhnya Sierra berjalan lebih dulu menuju ke kelasnya. Olivia hanya mengekorinya sambil bergumam yang tidak jelas.


Bahkan setibanya mereka di kelas, suasana nampak hening, tidak seperti biasanya. Dan Noah sudah berada disana dengan tatapan yang tertuju pada sang istri.


Sierra berusaha untuk bersikap acuh dan memilih untuk duduk di bangkunya, begitupun dengan Olivia yang mulai diam dan sekarang tengah sibuk dengan ponselnya.


Leon, pria itu diam-diam memperhatikan Sierra. Namun satu hal yang tidak ia sadari, bahwa Noah tengah memperhatikannya dengan raut wajah yang tidak suka. Sepertinya Noah merasa kesal jika Leon terus-menerus menatap Sierra.


Sudah, cukup!! Noah tidak tahan lagi. Ia lalu menghampiri Leon dengan wajah datar sebagai ciri khasnya.


"Bisakah kau ikut denganku?"


"Kemana?" tanya Leon acuh.


"Ikut saja." Noah keluar lebih dulu dan di susul oleh Leon. Sierra merasa ada kejanggalan di antara kedua pria itu, sehingga memutuskan untuk mengikuti kemana mereka pergi.


Noah menghentikan langkahnya ketika tiba di belakang sekolah. Ia kemudian memasukkan kedua tangannya ke saku celana sambil memejamkan matanya untuk sekejap.


"Kau bisa jujur kepadaku sekarang!! Apa kau menyukainya?"


Leon tidak langsung menjawab. Ia justru meninggikan sebelah alisnya dengan tatapan mencemooh kepada pria di hadapannya.


"Bagaimana jika aku mengatakan iya? Apa kau akan marah?"


Senyum sinis muncul di bibir Noah. Ia lalu berbalik dan menatap tajam rivalnya tersebut.


"Untuk apa aku marah? Kau hanya bisa menyukainya, sedangkan diriku sudah memilikinya jauh sebelum kau mengenalnya."


"Dan kau percaya?" Noah tertawa sarkasme, "Tidak ada ikatan apapun di antara aku dan Sierra, kecuali pernikahan."


Melihat keterkejutan dan keterdiaman Leon, membuat Noah kembali tertawa. Akhirnya ia bisa membungkam pria itu.


"Kau sudah mengetahuinya sekarang. Alangkah baiknya jika mulai detik ini kau menjaga jarak darinya dan belajarlah untuk membuang rasamu padanya."


Merasa bahwa urusannya telah selesai, Noah kini berbalik dan hendak meninggalkan tempat tersebut. Tapi ungkapan Leon justru berhasil membuat langkahnya terhenti seketika.


"Apa Sierra sudah memberitahumu bahwa aku adalah anak dari Dave Clayton, pria yang kau sebut dengan panggilan paman itu?"


Tidak ada jawaban dari Noah, Leon pun tersenyum remeh.


"Sepertinya kau tidak ada artinya di mata Sierra. Jika memang kau suaminya, Sierra pasti tidak akan menyembunyikan sesuatu darimu. Dia pasti--"


"Sudah cukup, Leon!!" Tiba-tiba wanita yang mereka bicarakan muncul dan memotong ucapan Leon. Wajah Sierra terlihat merah padam, pertanda ia sedang marah kepada pria yang ingin menghancurkan hubungannya dengan Noah.


"Baiklah, aku mengalah. Kalian bisa melanjutkan perdebatan kalian disini, aku tidak akan ikut campur."


Benar saja! Selepaskan mengatakan hal tersebut, Leon perlahan meninggalkan tempat itu sembari tersenyum penuh kemenagan. Yang tersisa hanyalah Sierra dan suaminya.


"Noah..." Dengan langkah pelan, ia mendekati pria yang berstatuskan suaminya ini.


"Kau marah?"


"Sekarang aku tahu alasanmu pergi kemarin tanpa memberitahuku." Hanya kalimat itu yang terucap, sebelum akhirnya Noah meninggalkan Sierra yang bergeming dengan sejuta rasa bersalah.


...* * * ...


Sierra sedang memasukkan barang-barangnya kedalam tas dan bersiap untuk pulang. Tiba-tiba Noah menghampirinya, yang ia pikir bahwa suaminya itu sudah tidak marah lagi kepadanya.


"Ada apa?" tanya Sierra dengan senyum manisnya seperti biasa.


"Aku ada urusan di kantor Daddy. Kau bisa pulang sendiri, bukan?"


Awalnya Sierra ingin menolak, namun melihat wajah Noah yang begitu dingin, ia jadi tidak berani untuk menolaknya.


"Te-tentu saja. Aku.. aku akan pulang bersama Olivia."


"Baguslah." Hanya satu kata itu. Noah bersikap tidak perduli dan mulai meninggalkan kelas. Ketika kedua kakinya sudah berada di ambang pintu, istrinya itu justru memanggil dirinya.


"Hati-hati!!"


Sebuah anggukan singkat menjadi jawabannya. Ia bahkan tidak menoleh sama sekali untuk sekedar menatap wajah Sierra.


Setelah Noah menghilang di balik pintu, Sierra jadi mendesah lesu. Ia tidak tahu harus bagaimana dan apa yang harus ia katakan kepada Noah.


Sudahlah! Akan lebih baik jika dirinya meninggalkan kelas. Apalagi semua siswa sudah perlahan pulang dan hanya menyisakan dirinya di kelas itu.


Sesampainya di tempat parkir, Sierra mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Dimana keberadaan Olivia saat ini? Sayangnya, tak ada tanda-tanda kehadiran dari temannya itu. Bahkan mobilnya sudah tidak ada di tempatnya, yang berarti ia sudah meninggalkan sekolah ini.


Sierra merutuki dirinya sendiri yang lupa untuk mengabari Olivia agar menunggu dirinya. Haruskah ia menghubungi supir di Mansion atau memilih untuk menaiki taksi saja?


Di saat ia tengah berpikir, sebuah mobil mendadak berhenti di depannya. Sierra yang tahu siapa pemilik mobil tersebut, berusaha untuk bersikap tidak perduli dengan kehadirannya.


"Masuklah! Ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadamu."


Tidak ada respon, hal itu membuat Leon geram.


"Ini mengenai pamanmu itu. Apa kau yakin tidak tertarik untuk membahasnya?"


Seringaian pria itu keluar saat ucapannya berhasil membuat Sierra tertarik untuk menatapnya.


"Cepatlah masuk. Mumpung aku sedang ingin untuk membahasnya."


Akhirnya Sierra mengikuti ucapan Leon. Mungkin ini waktu yang tepat untuk membahas Paman Dave, pikir Sierra. Apalagi suasana hati Leon tengah baik saat ini.