Cool And Cheerful

Cool And Cheerful
Ada Apa Dengan Selena?



Pelajaran pertama akan di mulai. Namun sebelum itu, mereka di minta untuk membuat beberapa kelompok. Yang mana di setiap kelompok, terdiri dari empat orang.


Kelompok satu, ada Selena bersama ketiga temannya.


Kelompok dua terdiri dari Sierra, Alexa, Olivia dan Nicky.


Sementara kelompok tiga, terdapat Leon, Bryan, Andrew dan Rohan.


Dan untuk kelompok empat, ada Noah, Gerald, Leah dan juga Anne.


Sebelum memulai mata pelajarannya, Mrs. Bella--- Selaku gurunya akan mengabsen semua muridnya yang ada di laboratorium.


"Sierra, Noah... Apakah kalian bersaudara?" tanya wanita paruh baya tersebut yang menyadari nama belakang Sierra.


Semua pasang mata lalu terarah kepada Sierra maupun Noah. Mereka berdua tampak terkejut dengan pertanyaan yang wali kelasnya berikan.


"Maksudmu, Mrs?" Selena menjadi penasaran, begitupun dengan yang lainnya.


"Di buka absen, nama belakang Sierra tertera nama Wilson. Berarti kalian berdua memiliki hubungan, bukan?"


Sierra menundukkan kepalanya. Tidak tahu alasan apa lagi yang akan dia katakan. Hanya Mrs. Bella yang memperhatikan dan menyadari nama belakangnya. Guru-guru lain tidak ada yang menyadari itu, hingga dirinya sudah seminggu bersekolah disini.


"Aku dan dia hanya saudara sepupu, Mrs. Dan untuk kalian, berhenti menatapku dan Sierra seperti itu," ujar Noah tiba-tiba.


Mrs. Bella menghela nafasnya. Dia kemudian menutup kembali buku absennya, dan akan segera memulai pelajarannya.


"Baiklah. Silahkan kalian mengambil alat-alat yang akan di perlukan."


"Biar aku saja." Olivia langsung berdiri dan pergi menuju ruangan kecil yang menyimpan alat-alat laboratorium.


Dalam satu kelompok, cukup satu orang saja yang mewakili untuk mengambil alat-alat yang akan di butuhkan oleh kelompok masing-masing.


Sembari menunggu, Sierra memperhatikan ke sekitarnya. Tanpa ia sengaja, matanya justru bertemu dengan manik mata milik suaminya. Mendadak Sierra menjadi gugup, dia pun lekas memutuskan kontak mata di antara mereka berdua.


Sementara Noah sendiri, tidak ingin mengalihkan pandangannya dari wajah istrinya. Dirinya memikirkan ucapan yang wanita itu bisikkan di telinganya Semalam.


Setelah mereka selesai dengan acara menggambar, mereka langsung memutuskan untuk tidur. Mungkin karena Sierra berpikir bahwa dirinya telah terlelap, Sierra pun membisikkan sesuatu ke telinganya.


"Aku menyukaimu..." Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya hingga detik ini.


Hembusan kasar akhirnya keluar dari mulut Noah. Dia tidak ingin kehilangan fokus belajarnya hanya karena ucapan dari Sierra.


...* * * ...


Sierra menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Ia tidak menyangka jika bisa menyukai Noah secepat ini, padahal minggu lalu dia begitu membencinya dan merencanakan pembalasan untuk pria itu.


Tapi sekarang, bisakah dia melakukannya?


Melihat wajah Noah saja sudah membuatnya gugup, apalagi jika harus berbuat int*m dengannya. Bisa-bisa Sierra menjadi kejang-kejang.


Wajahnya tiba-tiba memerah saat membayangkan pikiran kotor tentang dia dan Noah.


"Oh, astaga. Sejak kapan aku jadi mesum seperti ini?" gumam Sierra sambil menepuk-nepuk pipinya.


"Tapi 'kan dia suamiku. Sudah hal sewajarnya jika seorang istri menyukai suaminya, apalagi sampai berpikiran..." Tiba-tiba Sierra senyum-senyum tidak jelas. You know lah apa yang sedang dia pikirkan.


Clekk!!


Mendadak ada yang membuka pintu kamar mandi, mereka adalah Selena and the geng. Sierra memilih untuk mengacuhkan keberadaan mereka dan cepat-cepat mencuci tangannya.


Tapi, sepertinya mereka sengaja mendekatinya yang berdiri di sisi kanan dan kirinya, seolah sedang mengepung dirinya.


"Benarkah bahwa kau adalah sepupunya Noah? Jika hanya seorang sepupu, kenapa nama belakang kalian sama? Bukankah itu aneh?" Selena menatap Sierra dari pantulan cermin di depannya.


"Karena yang kita sendiri tahu, Noah hanya memiliki satu saudari, yaitu Naura. Sedangkan Damian Wilson, merupakan anak tunggal. Bagaimana bisa kau...."


Sierra menepis tangan Ashley, "Sepertinya kalian melupakan suatu hal, Angelina Wilson bukanlah anak tunggal. Dia memiliki seorang adik yang bernama Hazel Richie."


"Jadi... Kau anak dari Hazel Richie, adik dari Angelina Wilson?" Kali ini Davina yang bertanya karena penasaran.


Sejenak Sierra terdiam dan berpikir. Karena tidak ada pilihan lain, dia pun menganggukkan kepalanya.


"Tapi, kenapa nama belakangmu---"


"Karena Keluarga Wilson sangat menyayangiku. Oleh sebab itu, selama aku berada disini, mereka menggantinya dengan nama keluarga mereka." Sierra memotong ucapan Ashley. Sehingga wanita diam dan tak bersuara lagi.


Wajah Selena terlihat bingung. "Aku baru tahu jika ada yang seperti itu."


Sierra mengulum senyumnya. Ia berdehem singkat untuk menetralisir raut wajahnya agar seperti biasa. Lalu tanpa mengatakan apapun, dia melangkah keluar dari kamar tersebut.


Mungkin karena dia terus menoleh ke belakang untuk melihat apakah Selena dan kawan-kawannya membututinya, membuat Sierra jadi tidak sengaja menabrak seseorang.


"Ah, maaf-maaf. Aku tidak sengaja." Sierra meringis takut. Dia segera membantu pria yang di tabraknya untuk menegakkan tubuhnya kembali.


"Sepertinya kau senang sekali menabrakku, heh?" sindir Leon sambil menatap Sierra sinis.


Wanita itu mendengus, "Kan aku tidak sengaja."


"Kau selalu mengatakan itu, setiap kali baru saja menabrakku."


"Kau ini menyebalkan sekali. Kan aku sudah minta maaf."


"Terserah," ujar Leon malas. "Ah iya, aku ingin memberitahu sesuatu, mengenai kerja kelompok kita."


"Kau sudah menentukan tempat dan waktunya?"


Leon mengangguk, "Bagaimana jika besok? Bukankah kita libur?"


"Aku setuju saja. Tapi, dimana kita akan mengerjakannya?"


Leon masih berpikir, sehingga Sierra memberikan sebuah usulan yang membuatnya mendelik sinis.


"Bagaimana jika di cafe?"


"Aku tidak yakin kau akan mengerjakannya."


Sindirian dari Leon membuat Sierra tertawa cukup keras. Bahkan, tangan wanita itu refleks memukul-mukul bahu pria tersebut.


Seketika Leon melirik tangan Sierra yang masih menggantung di bahunya. Sadar akan hal itu, Sierra pun lekas menurunkannya.


"Maaf..." Sierra memalingkan wajahnya ke samping karena malu.


Sementara di tempat lain, Selena yang tak sengaja melihat kebersamaan Leon dan Sierra, meminta kepada teman-temannya untuk pergi lebih dulu.


Dari balik dinding, Selena melihat semuanya. Sierra yang tertawa bahkan dengan berani memukul bahu Leon.


Namun, Leon tampak menggubrisnya. Jika dia berada di dalam posisi Sierra, mungkin pria itu akan segera marah dan mengusir dirinya agar menjauh.


Leon benar-benar berbeda jika bersama dengan Sierra. Dan Selena tidak menyukai itu. Leon hanya boleh menjadi miliknya, tidak seorang wanita pun yang boleh bersama pria yang sudah dia klaim.


Selena yang tidak tahan dengan apa yang dilihatnya, mengepalkan tangannya dengan sekuat mungkin. Gigi bergemelatuk, dan tatapannya yang tajam bak elang.


Sedetik kemudian, senyum misterius muncul di bibirnya. Bisa di tebak, bahwa dia akan menyiapkan sesuatu untuk Sierra.


Perlahan, kepalan tangannya mulai mengendor. Dia lalu tersenyum manis, kemudian meninggalkan tempat itu seolah tidak ada yang terjadi.