
Sierra dan ketiga wanita lainnya sudah berada di bawah dan hendak keluar dari gedung tersebut. Namun, saat mereka akan melewati pintu utama, jalan mereka justru di hadang oleh Selena, Ashley dan Chloe.
"Lihat!! Ada pengkhianat disini!" Selena tersenyum sinis sambil melipat kedua lengannya di dada.
"Apa sebenarnya mau-mu? Tidak cukupkah aku yang kau sakiti?" pungkas Sierra.
"Aku tidak memiliki urusan denganmu. Sebaiknya kau pergi, dan biarkan dia tetap disini!" Selena menunjuk Davina dengan matanya.
Tentu saja Sierra tidak akan melakukan itu. Ia pun mengambil posisi di hadapan Davina dan melindungi wanita tersebut dari Selena.
"Aku tidak akan melakukan itu. Biarkan kami pergi, dan akan kupastikan bahwa rencana jahatmu ini tidak akan tersebar."
Sontak saja Selena tertawa sarkasme, "Kau pikir aku bodoh, heh? Mungkin saja kau tidak akan mengatakannya kepada orang lain. Namun bagaimana dengan mereka, hah?"
"Tidak akan. Percayalah!!"
"Sayangnya, aku tidak percaya baik kepadamu maupun pada teman-temanmu itu. Kau bisa melihat sendiri, Davina saja berkhianat dan tidak kemungkinan kau pun akan melakukan hal yang sama."
Sierra terdiam. Selena lalu melirik kedua temannya yang berada di sisinya seolah memberi kode untuk bergerak. Chloe dan Ashley pun maju dan mendekati keempat wanita tersebut.
Sierra, Olivia, Davina dan Alexa perlahan mundur. Tapi dengan gerakan cepat, Chloe dan Ashley mencekal lengan Davina.
"Apa yang kalian lakukan? Lepaskan Davina!!" Sierra dan Olivia berusaha membantu Davina, dan terjadilah tarik-menarik di antara mereka.
Alexa yang melihat adegan di depannya, mendadak menjadi bingung sekaligus panik. Ia lalu menatap ke sekitarnya dan menemukan sebuah benda yang bisa ia gunakan. Di ambilnya benda itu, kemudian langkahnya ia bawa kearah Chloe dan..
Bughh!!
Tepat pada sasarannya. Chloe seketika ambruk dan pingsan karena Alexa memukulnya pada bagian belakang kepala dari wanita itu. Melihat Chloe yang sudah tidak sadarkan diri, Alexa langsung mengarahkannya kepada Ashley.
"Jika kau tidak ingin bernasib sama, cepat lepaskan Davina dan biarkan kami pergi!!" ancam Alexa.
Karena tidak ada pilihan lain, perlahan Ashley melepaskan lengan Davina kemudian melangkah mundur. Sementara Selena berdecak kesal, ia lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celana jeansnya dan menyembunyikan benda tersebut di belakang tubuhnya.
"Davina..." Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang memanggil. Secara bersamaan mereka menoleh kearah sumber suara. Dan ternyata itu Andrew bersama Leon.
Davina tidak bisa membendung ketakutannya dan lekas berlari kearah kekasihnya kemudian memeluknya erat. Kekesalan Selena semakin menjadi melihat kedatangan dari kedua pria itu. Rencananya harus gagal total akibat ulah dari Davina yang memberitahu mereka.
"Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Leon sambil berjalan mendekati Chloe yang tidak sadarkan diri.
"Aku yang memukulnya karena dia berusaha untuk menyakiti kami," jawab Alexa yang masih di lingkupi dengan ketakutan.
"Leon, bagaimana bisa kau sampai kesini?" Kali ini Ashley yang membuka suaranya. Ia sama paniknya melihat kedatangan dari Leon dan juga Andrew.
"Aku mengikuti mobil Noah. Karena ada yang aneh melihat Davina, Olivia dan Sierra yang pergi bersama. Dan kau sendiri, apa yang kalian lakukan disini? Dan rumah siapa yang terdapat di tengah hutan seperti ini?"
Lidah Ashley terasa kelu. Ia tidak sanggup melihat reaksi dari Leon setelah mengetahui semuanya. Sedangkan Chloe, perlahan mulai sadar walaupun kepalanya masih terasa sakit. Sayangnya, tidak ada yang menyadari itu.
Davina melepaskan pelukannya, ia kemudian berbalik dan tepat pada saat itu, Chloe sudah berjalan kearah Alexa yang membelakanginya dengan sebuah pisau di tangan wanita tersebut.
"ALEXA, AWAS!!!"
Refleks, Alexa berbalik. Ia dapat merasakan bahwa sebuah benda tajam menembus perutnya. Cairan merah pekat perlahan keluar dan melumuri jaket yang ia kenakan.
"Alexa!!!" Baik Sierra maupun Olivia memekik kaget. Tubuh dari teman mereka itu, secara perlahan ambruk dan jatuh ke lantai. Sierra segera terduduk, lalu meletakkan kepala Alexa di pangkuannya.
"Apa yang kau lakukan??" teriak Leon yang tidak percaya dengan adegan yang baru saja terjadi.
"Kau tidak perlu ikut campur, karena ini bukanlah urusanmu!!" Chloe lalu mengambil langkah untuk pergi, begitupun dengan Ashley dan Selena. Namun sebelum memasuki mobil, Selena menoleh sejenak kearah Leon. Ia tersenyum kecut, sebelum akhirnya memasuki mobil Chloe dan segera pergi meninggalkan tempat tersebut.
Selepas kepergian dari ketiga wanita itu, Noah bersama Gerald turun ke bawah dengan menyeret Bryan yang sudah babak belur dan tidak berdaya.
Melihat kehadiran dari Leon dan Andrew, kemarahan Noah kembali tersulut. Ia segera melepaskan Bryan lalu berjalan menuju Leon dan langsung mencengkeram kerah kemejanya.
"Kau ikut andil dalam rencana ini, bukan?" bentak Noah.
Dahi Leon mengkerut bingung, "Apa maksudmu? Aku tidak tahu apapun."
"Sudahlah... Pria sepertimu---"
"Noah, hentikan. Cepat kita bawa Alexa ke rumah sakit hikss..." Mendengar Sierra yang menangis, sontak membuat Noah dan Gerald mengalihkan pandangannya kepada Alexa.
Nafas Gerald seolah terhenti saat itu juga. Ia lekas berjongkok di samping Sierra.
"Alexa..."
Wanita yang di panggilnya tersenyum, hal itu membuat yang lainnya menjadi semakin menangis.
"Bertahanlah, aku akan membawamu kerumah sakit..." Gerald akan bangkit berdiri, tapi tangannya langsung di tahan oleh Alexa.
Wanita itu menggeleng lemah, "Tidak perlu, Gerald. Aku.. tidak akan sanggup untuk bertahan."
"Kumohon jangan berbicara seperti itu. Kau akan baik-baik saja, bertahanlah."
Kembali Alexa menggeleng sambil menahan tangan Gerald.
"Terima kasih, karena sudah menolongku."
"Alexa..." Gerald tidak kuasa menahan tangisnya. Apalagi mendengar nafas Alexa yang tersedat.
"Begitupun untuk kalian, terima kasih sudah menyayangiku dan selalu ada untukku. Sungguh, aku merasa seperti wanita yang beruntung.." Alexa menjeda ucapannya, tatkala merasakan sakit yang amat luar biasa di bagian perutnya.
"Aku menyayangi kalian.. Dan kau Gerald, kau adalah pria yang baik. Aku yakin, suatu hari nanti akan ada wanita yang dengan tulus mencintaimu, seperti dirimu yang mencintaiku." Yaa, Alexa mengetahuinya. Dari sikap dan tatapan pria itu, dirinya tahu bahwa Gerald menyimpan perasaan lebih untuknya.
Mata Alexa meredup, dan tak lama kedua mata itu tertutup sempurna. Di susul dengan tangannya yang terlepas dari genggaman Gerald.
"Tidak, tidak.. Kau tidak boleh pergi. Alexa, kumohon..." Gerald menepuk-nepuk pipinya. Sayangnya, semua itu tidak akan ada gunanya. Alexa-nya telah pergi, untuk selamanya.
"Alexa..." Tangisan dan jeritan pilu terdengar di gedung tersebut. Mereka masih tidak percaya jika Alexa telah tiada.
Sementara Bryan, ia terduduk dengan pandangan kosong. Alexa-nya telah tiada, lalu untuk apa ia masih disini. Pikirannya kalut hingga ia tidak bisa berpikir dengan jernih.
Melihat pisau milik Chloe yang tergeletak di dekat mereka, tanpa pikir panjang Bryan mengambilnya. Ia menatap lekat kearah Alexa yang sudah memucat, sebelum akhirnya ia menancapkan pisau tersebut ke bagian perutnya juga.
Darah memuncrat keluar. Bunyi itu sontak saja mengundang tatapan dari yang lainnya. Mereka semua terkejut hingga tidak bisa untuk berkata-kata. Apalagi Leon dan Andrew yang segera mendekat kearah Bryan, namun pria itu sudah tidak bernafas lagi.
Tidak ada yang bisa di ucapkan, selain hanya diam dan meratapi jasad yang ada di hadapan mereka.