
"Kenapa orangtua Noah begitu berlebihan mengenai Sierra?" tanya Ashley dengan tatapan yang tertuju kepada Angel dan Damian.
"Kau benar. Mrs. Wilson yang kutahu sangatlah kuat. Tapi kenapa dia begitu lemah sekarang?" Davina ikut menimpali.
"Aku tidak perduli. Biarkan mereka mengkhawatirkan wanita yang tidak akan pernah kembali." Selena berujar santai sambil menikmati teh panasnya.
"Kau yakin Sierra tidak akan kembali?" tanya Davina ragu.
"Tentu saja. Jika dia sampai kembali, maka aku akan membuat rencana lagi untuknya. Jikalau perlu, aku akan menghabisinya dengan tanganku sendiri."
Sementara di tempat Alexa dan Olivia, mereka tidak bisa tenang dan terlihat gusar. Mungkin di pikiran Olivia mencemaskan tentang Sierra, tapi sepertinya tidak bagi Alexa. Ia memikirkan kecemasan Keluarga Wilson terhadap temannya itu.
Sebegitu dekatkah mereka? Sampai-sampai Angel memarahi penyelenggara camping dan bertanya mengapa anaknya bisa menghilang?
"Sierra begitu dekat dengan Keluarga Noah. Aku menjadi iri."
Olivia menatap Alexa tidak percaya. Bagaimana bisa di pikirannya justru terdapat keirian terhadap wanita yang sedang menghilang?
"Apa yang sebenarnya terjadi denganmu? Sierra tengah menghilang, tapi kau justru..." Olivia tidak melanjutkan ucapannya. Ia lalu mengusap wajahnya kasar dan kembali memikirkan keadaan Sierra.
Sudah hampir jam 8.15 PM, tapi tak ada kabar apapun dari tim petugas yang mencari Sierra. Sudah cukup. Angel tidak bisa berdiam lagi dan akan mencarinya sendiri.
"Kau mau kemana?" Damian mencekal lengan istrinya.
"Aku akan mencari putriku." Angel pun menghempaskan tangan suaminya hingga cekalan itu terlepas.
"Angel, kumohon jangan gegabah. Biarkan mereka mencarinya."
Angel yang semula akan melangkah, langsung menghentikan gerakannya tersebut. Ia kembali menghadap suaminya dengan wajah tanpa ekpresi.
"Kau memintaku untuk tetap diam disini, sementara putriku sekarang entah berada dimana. Jika kau tetap ingin disini, silahkan. Tapi, jangan coba-coba untuk mencegahku."
"Sayang, kumohon mengertilah." Damian memegang bahu istrinya, agar menatap wajahnya yang memelas ini.
"Apa yang harus kumengerti, Damian?"
"Sierra pasti---"
"Sierra sudah di temukan!!" teriakkan itu memotong ucapan Damian. Sontak saja kedua pasutri itu menoleh dan mencari keberadaan Sierra.
Dari arah hutan, nampaklah Noah yang menggendong Sierra dan membawanya ke tenda kesehatan.
Semua orang merapat dan penasaran dengan keadaan Sierra. Begitupun dengan Gerald dan kedua teman dari wanita tersebut.
Sementara Selena yang mendengar teriakkan tadi, seketika menyemburkan tehnya. Ia cukup terkejut saat mendengar Sierra yang menghilang selama berjam-jam akhirnya di temukan. Karena penasaran, ia dan teman-temannya bergegas untuk melihatnya sendiri.
Noah meletakkan tubuh Sierra di atas matrass. Dokter yang sudah siap siaga disana, langsung memeriksa keadaan Sierra.
"Bagaimana, Dok?" tanya Noah dengan nafas yang beraturan. Lelahnya mencari Sierra, benar-benar ia rasakan.
"Dia baik-baik saja. Hanya kakinya yang terluka, mungkin karena tergores dengan ranting atau semacamnya. Dan bukan hanya itu, kakinya juga terkilir, mungkin karena terjatuh atau tersandung."
"Sierra..." Mendengar panggilan itu, membuat semua orang yang mengerumuni Sierra segera menjauh.
"Mommy..."
Angel langsung memeluk Sierra erat. Ia meluapkan segala ketakutan dan kecemasannya.
"Kau membuat Mommy takut."
"Aku sudah merasa baik sekarang."
"Maaf, Moms. Aku tidak bisa menjaganya," lirih Noah lesu. Penampilannya amat berantakan dan juga kotor. Ia pasrah jika Mommy-nya akan marah atau sampai memukulnya.
Angel mengangkat tangannya ke udara, dan hendak melayangkannya ke wajah Noah. Namun teriakkan Sierra membuat pergerakannya terhenti.
"Moms... Jangan lakukan itu. Atau aku tidak ingin berbicara denganmu lagi." Mata Sierra berkaca-kaca. Tanpa memperdulikan sekitarnya, ia memeluk leher suaminya.
Noah terkejut, ia pun segera menolehkan kepalanya. Sierra terisak di lehernya, dan semua orang disitu memperhatikan mereka.
Angel tersenyum, tangannya ia ulurkan untuk mengusap punggung menantu kesayangannya ini.
"Mana mungkin Mommy akan memukul pria yang sudah menyelematkan putriku. Mommy tadi justru ingin memeluknya."
Mendengar itu, Sierra pun mengalihkan pandangannya. "Benarkah?"
"Tentu saja. Bolehkah Mommy memeluknya sekarang?"
Sierra mengangguk sambil tertawa kecil. Ia mengusap air matanya, kemudian segera memberikan ruang di antara Ibu dan anaknya.
"Terima kasih, Sayang. Mommy bangga kepadamu. Walaupun Mommy agak kecewa karena menghilangnya istrimu, namun itu semua terbayar saat kau sendiri yang turun tangan untuk mencarinya," bisik Angel di telinga Noah. Wanita itu melepaskan pelukannya, lalu mendaratkan kecupan ringan di kening putranya.
"Sebaiknya kau bersihkan dirimu dan mengganti pakaianmu. Setelah itu barulah kalian makan, kemudian beristirahat." Angel menambahi, tak lupa dengan menampilkan seulas senyuman keibuannya.
"Lalu bagaimana dengan Sierra?" balas Noah.
"Kau tenang saja. Ada Daddy dan Mommy disini." Damian muncul juga, setelah cukup lama mengamati interaksi antara anak dan ibu itu.
"Daddy disini?" Sierra tersenyum bahagia, Damian lalu mendekatinya dan memberikan pelukan hangat.
"Tentu saja. Daddy mengkhawatirkanmu, maka dari itu Daddy datang kemari."
"Terima kasih, Dad."
"Terima kasih kembali, Sayang." Damian mencium puncak kepala Sierra. Setelah itu ia membantu Sierra menuju ke tendanya, dengan cara menggendong tubuhnya.
Sedangkan Noah di minta untuk membersihkan dirinya terlebih dulu, kemudian di lanjutkan dengan mengisi kekosongan di perutnya. Barulah setelah itu ia bisa beristirahat dengan tenang.
Angel begitu telaten membersihkan tubuh menantunya, tak ada kecanggungan yang ia rasakan. Sebab, Angel menganggap Sierra dan Naura itu sama.
Selepas menyelesaikan kegiatannya tersebut, Angel membantu Sierra makan dengan menyuapi, dan itu semua tak luput dari pandangan Olivia dan Alexa.
"Moms, sudah..." Sierra memelas. Ia tak sanggup lagi untuk makan karena perutnya sudah merasa sangat kenyang.
"Baiklah. Sekalian minum obatmu, agar luka di kakimu cepat membaik." Angel memberikan beberapa butir pil kepada Sierra. Wanita muda itu lekas menerimanya dan langsung menelan semuanya.
"Tidurlah.." Sierra mengangguk. Perlahan ia membaringkan tubuhnya, dan mertuanya itupun menaikkan selimutnya agar menutupi semua anggota tubuhnya kecuali kepala.
"Kalian berdua!! Sampai kapan berdiam diri seperti itu? Cepatlah tidur."
Ucapan Angel bagaikan perintah untuk mereka. Tanpa berani menolak, Alexa dan Olivia ikut membaringkan tubuh mereka di samping Sierra. Sementara Leah dan Anne akan bermalam di tenda yang lainnya.
Sierra terkikik melihat wajah kedua temannya yang nampak ketakutan. Ia menatap Angel sejenak, kemudian mulai memejamkan matanya.
Tidak ingin mengganggu putrinya yang sedang tertidur, Angel pun memutuskan untuk keluar dari tenda itu secara perlahan.
Di tenda yang berbeda, Andrew menggerutu sambil menatap Leon yang hanya berdiam diri sejak kembalinya dari mencari Sierra. Pria itu tidak mengatakan apapun sedari tadi, ia hanya melakukan aktivitasnya seperti mandi, makan, minum, lalu melamun.
"Sudahlah. Aku lelah berbicara denganmu." Akhirnya Andrew memutuskan untuk keluar dari tendanya. Ia ingin mencari udara segar sembari mencari informasi terbaru.
Leon yang di tinggal, masih sibuk melamun dan memikirkan Sierra. Ia ingin menemui wanita itu dan bertanya tentang kondisinya, namun Leon tidak cukup berani untuk melakukannya.