
Sudah hampir larut, tapi pamannya belum kunjung pulang. Perasaan cemas melanda Leon yang sedari tadi menunggu kepulangan dari pamannya.
Namun kecemasannya itu mendadak sirna saat mendengar suara pintu di buka. Disanalah pamannya muncul dengan wajah letihnya.
Leon menyambutnya dengan senyuman, dan segera menghampiri pamannya tersebut.
"Paman, aku sungguh mengkhawatirkanmu."
"Maafkan Paman, Nak. Pekerjaan Paman lumayan banyak hari ini, sehingga membuat Paman harus pulang agak lambat."
"Tidak masalah, Paman. Yang penting Paman sudah pulang, dan kecemasanku jadi hilang."
Roger tersenyum. Di belainya rambut Leon dengan penuh kasih sayang.
"Apa kau sudah makan?"
Leon menggeleng, "Rasanya tidak menyenangkan jika makan seorang diri."
Sontak saja Roger tertawa. "Baiklah-baiklah. Ayo kita makan bersama."
Kedua pria itupun menuju ke ruang makan. Disana, terdapat sebuah meja kotak berukuran kecil, dengan empat buah kursi yang mengelilingnya.
Mereka mengambil posisi duduk dengan saling berhadapan. Leon lalu segera membuka tudung saji, dan terhidanglah makanan yang menggugah selera.
"Kau memasak semua ini?"
"Menurut Paman?"
"Aku tidak mempercayainya."
Leon tertawa di buatnya. Dia lekas mengambilkan beberapa makanan kemudian meletakkannya di piring milik Roger.
"Paman sendiri tahu bahwa aku tidak bisa memasak."
Roger mengangguk iyakan. Dia mulai menyantap makanan, begitupun dengan Leon. Mereka makan dengan tenang dan hening, hingga semua makanannya tidak tersisa.
"Paman?" panggil Leon sambil menyeka bibirnya dengan tisu.
"Ya?" Kening Roger mengerut heran.
"Bagaimana jika... mobilku di jual saja?"
Seketika Roger terkejut. Dengan tegas dia menolaknya.
"Tidak, Leon. Mobilmu tidak boleh di jual. Paman tahu, bahwa kau mengkhawatirkan keuangan kita. Tapi kau tenang saja, semuanya akan kembali membaik."
"Benarkah?"
Roger tersenyum lalu mengangggukkan kepalanya.
"Paman akan mandi lebih dulu. Dan kau, tidurlah. Ini sudah sangat larut."
"Aku akan merapihkan meja makan ini lebih dulu, setelah itu aku akan tidur."
"Baiklah. Paman ke kamar dulu, selamat malam."
"Selamat malam."
Perlahan Roger menjauh dari ruangan itu. Dia tidak langsung pergi ke kamarnya, melainkan bersandar pada dinding yang menjadi pembatas antara ruang makan dan ruang keluarga.
Di balik dinding tersebut, Roger menangis dalam diam. Dia tidak menyangka bahwa kehidupannya akan menjadi seperti ini. Perusahaannya yang dia rintis sejak puluhan tahun, tiba-tiba bangkrut. Dia pun harus menjual rumahnya dan tinggal di apartement yang sederhana.
Hidupnya yang dulu serba ada, sekarang berubah dan menjadi kekurangan. Dan yang membuatnya miris, Leon harus ikut susah dengannya. Padahal dia dulu sudah berjanji pada ibu dari pemuda itu, bahwa dirinya akan selalu membahagiakan Leon.
Tapi sekarang, semuanya itu bagaikan angan semata. Namun Roger tidak akan menyerah, dia akan kembali bangkit dan memulai semuanya dari awal.
Roger harus bisa menyakinkan pemilik dari perusahaan-perusaahan besar dan ternama untuk bekerja sama dengannya. Dia lalu menyeka air matanya, kemudian melanjutkan langkahnya untuk menuju ke kamarnya.
Sementara Leon, dia baru saja menyelesaikan pekerjaannya, mulai dari cuci piring dan merapihkan meja makan. Saatnya bagi Leon untuk tidur, karena besok dia harus kembali ke sekolah seperti biasa.
Bahkan untuk menyewa seorang pembantu, sepertinya Roger tidak sanggup lagi. Dirinya saja sudah bersyukur jika memiliki tempat tinggal, makan enak dan bisa membiayai sekolah Leon.
...* * * ...
"Leon..." teriak seseorang dari kejauhan.
Merasa bahwa ada yang memanggil namanya, Leon pun lekas berbalik dan mencari sumber suara.
Ternyata Sierra yang memanggil namanya. Lihat saja wanita itu menghampirinya sambil melambaikan tangan kearahnya.
"Ada apa?" tanya Leon dengan raut wajah datar.
"Aku cuman ingin bertanya, bagaimana dengan tugas kita yang di berikan oleh Mr. Frederick? Bukankah waktunya sebentar lagi?"
Leon merenung sejenak. Benar apa yang di katakan Sierra, bagaimana dengan tugas mereka berdua?
"Kita akan mengerjakannya."
"Kapan dan dimana?"
"Aku tidak tahu. Akan kupikirkan lebih dulu."
Sierra mengangguk-anggukkan kepalanya, "Baiklah. Oh ya, aku belum memiliki nomor ponselmu."
Leon menatap benda pipih yang Sierra berikan, di detik berikutnya dia mengambil ponsel tersebut dan mengetikkan nomor ponselnya.
"Terima kasih," ujar Sierra sambil tersenyum, sesaat Leon mengembalikan ponsel miliknya.
Merasa bahwa tidak ada yang ingin di bicarakan lagi, Leon lalu berjalan kembali dan meninggalkan Sierra. Sontak saja wanita itu langsung mengejar Leon dan menyamai langkahnya.
"Leon, tunggu..." Langkah Leon yang besar, membuat Sierra agak sedikit susah untuk menyeimbanginya.
Toh, karena tujuan mereka yang sama, maka dari itu Sierra berjalan bersama dengan Leon. Namun, tatapan orang-orang di sekitarnya berpikir lain.
Bisik-bisik tetangga mulai terdengar di telinganya. Mereka banyak mencemooh dirinya, karena kemarin-kemarin, dia bersama dengan Noah, dan sekarang sudah bersama dengan Leon saja.
Tapi Sierra menebalkan telinganya. Biarlah ucapan mereka bagaikan angin yang berlalu. Nantinya juga mereka akan lelah sendiri berbicara tentangnya.
Di sisi lain, Selena and the geng memperhatikan keduanya dari jarak yang lumayan jauh. Mereka melihat, apa yang Sierra lakukan kepada Leon.
Tentu saja Selena kesal bukan main. Namun dia bisa apa, disaat Leon selalu saja menolak dan menjauhi dirinya. Jikalau dia mendekati Sierra dan Leon yang sedang berbicara tadi, yang ada dia akan di buat malu oleh Leon nantinya.
"Apa mereka memiliki hubungan?" tanya Davina pada ketiga temannya.
"Aku tidak tahu, dan aku tidak perduli!" Chloe melanjutkan langkahnya yang tertunda, dan meninggalkan teman-temannya begitu saja.
"Tapi aku sangat perduli tentang hal itu. Aku tidak suka jika ada wanita lain yang mendekati Leonku."
Ashley yang mendengar ucapan Selena, jadi memutar bola matanya jengah. Dia lalu segera menyusul Chloe yang kian menjauh.
Selena belum kunjung pergi, walaupun bayangan Sierra dan Leon sudah menghilang di balik dinding. Tidak cukupkah Sierra memiliki Noah? Haruskah dia memiliki Leon juga?
Dari yang matanya lihat, sikap Leon terhadap Sierra sedikit berbeda dari yang lain. Biasanya, Leon akan menolak siapa saja yang ingin berbicara dengannya, tapi ini?
Oh, God. Memikirkannya membuat kekesalan Selena bertambah.
"Sampai kapan kau akan berdiri disini? Lagipula, Leon dan Sierra sudah menghilang sedari tadi."
Selena mendelikkan matanya, kemudian berjalan lebih dulu dan di ikuti oleh Davina di sampingnya.
Eittss, ternyata bukan hanya Selena dan kawan-kawannya yang menyaksikan interaksi antara Sierra dan Leon, Noah dan Gerald pun berdiri tak jauh dari sana.
"Mereka tampak serasi, bukan?"
Noah hanya memasang wajah tanpa ekpresinya. Tanpa menjawab pernyataan dari Gerald, Noah justru meninggalkannya begitu saja. Gerald mendengus, dia lalu segera menyusul temannya yang berwajah datar seperti triplek itu.