
Sierra keluar dari kamar mandi dengan menggunakan blazer yang kebesaran. Sampai-sampai, blazer itu menjuntai hingga di atas lututnya sedikit.
Noah yang masih menunggu istrinya di luar, langsung mengalihkan pandangannya. Walaupun terlihat kebesaran, tapi itu jauh lebih baik. Setidaknya, blazernya itu bisa menutupi seluruh bagian dari kemeja Sierra.
"Bagaimana denganmu?"
Alis Noah meninggi, "Ada apa denganku?"
"Blazernya."
Kini Noah mengangguk mengerti. "Tidak masalah bagiku jika tidak menggunakannya. Ayo..."
Pria itu berjalan lebih dulu, dan di ikuti oleh istrinya. Tanpa sepengetahuan mereka, ada seorang wanita yang melihat dan mendengar percakapan antar lawan jenis tersebut.
"Benarkah jika mereka adalah sepupu? Bukankah Damian Wilson tidak memiliki saudara?" gumam wanita itu dengan curiga.
...* * * ...
Semua orang terkejut melihat kedatangan Sierra yang mengenakan blazer kebesaran. Mereka dapat menebak bahwa itu adalah milik Noah.
"Sedekat itukah mereka? Sehingga Noah rela meminjamkan blazernya?" Tak ada yang menjawab pertanyaan dari Ashley. Teman-temannya malah terfokus melihat kedatangan kedua pasangan itu.
Tiba-tiba Selena bangun dari duduknya, kemudian menghampiri Noah yang sudah duduk kembali ke kursinya.
"Noah, benarkah dia sepupumu?"
Noah mengabaikan pertanyaannya. Tapi Selena tidak putus asa, dia lalu melingkarkan lengannya di pundak pria tersebut.
"Sepertinya, kau begitu dekat dengannya. Aku jadi iri melihatnya."
"Kau tidak memiliki malu, heh? Kau baru saja menyakiti Sierra, lalu sekarang mendekati sepupunya." Alexa berbicara dengan nada menyindir.
Selena mendengus, "Memangnya apa masalahnya? Dia yang lebih dulu mencari masalah denganku."
"Tapi haruskah kau mempermalukannya seperti itu?" timpal Noah dengan wajah tanpa ekpresinya.
"Sebenarnya, aku tidak ingin melakukannya, tapi gerakanku tadi refleks begitu saja. Aku tidak tahu, mengapa aku bisa berbuat sejahat itu kepada Sierra." Selena mendramatis ucapannya, dan itu membuat Noah maupun Alexa menjadi muak.
Melihat Gerald yang sudah kembali, Noah pun lekas berdiri sehingga menyebabkan Selena terjatuh karena terkejut.
"Aww.."
Satu kelas menertawainya, tak terkecuali teman-temannya sendiri.
"Maaf, aku tidak sengaja. Apa kau akan melakukan hal sama kepadaku, seperti yang kau lakukan kepada Sierra saat di kantin tadi?"
Ingin sekali Selena menjawab iya, namun mana mungkin dia berani melakukannya kepada Noah. Dia lalu menunjukkan senyum palsunya, "Mana mungkin aku melakukan itu, Noah."
Alexa berdecih, "Karena yang kau hadapi adalah Noah, jika saja orang lain, kau pasti tidak akan memaafkannya."
Selena menatapnya tajam, seolah meminta wanita itu untuk menutup mulutnya. Tangan Selena kemudian terulur kearah Noah, dan itu membuat semua pasang mata menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Bantu aku berdiri," ujarnya dengan suara manja.
Olivia menatapnya jijik, begitupun dengan Alexa. Mereka begitu muak dengan tingkah dari wanita tersebut. Andai saja memukul seseorang adalah hal yang lumrah, mungkin Olivia akan melakukannya detik ini.
"Aku rasa kakimu baik-baik saja. Dan yah, kau masih bisa berdiri sendiri." Begitulah Noah. Jika sudah muak dengan sikap seseorang, maka dia tidak akan segan-segan untuk mempermalukannya, contohnya yang terjadi pada Selena saat ini.
"Noah..." Selena memasang wajah masamnya. Buru-buru dia berdiri, kemudian kembali ke kursinya dengan jalan yang di hentak-hentakkan.
Noah memilih untuk tidak memperdulikannya. Dia lalu mengambil sebungkus roti dan juga minuman yang dia minta kepada Gerald untuk membelikannya. Setelah itu, dia menghampiri Sierra, kemudian memberikan roti dan minuman tersebut kepada wanita itu.
"Makanlah!"
"Apa hanya Sierra yang mendapatkannya?" bisik Alexa. Tiba-tiba sebuah roti terlempar kearahnya, dan refleks Alexa menangkapnya.
"Untukmu."
"Benarkah?" Wajah Alexa menjadi antusias, "Terima kasih, Gerald."
"Tapi tidak gratis."
"Ambil ini."
"Aku tidak ingin uangmu."
"Lalu?" Alexa menaikkan sebelah alisnya.
"Akan kuberitahu, tapi nanti."
"Terserah kau saja." Tak ingin terlalu memikirkan ucapan Gerald, akan lebih baik jika dirinya segera melahap roti di tangannya, sebelum guru datang.
...* * * ...
Sierra mengerutkan keningnya, saat Noah memberhentikan mobilnya sebelum tiba di mansion.
'Apa dia memintaku untuk turun?' batinnya.
"Apakah kau akan diam di dalam mobil, ataukah kau ingin ikut turun?" Sierra tersentak, dia pun segera menyusul Noah yang lebih dulu keluar.
Mereka berdua berjalan kaki kurang lebih 20 meter, sebelum tiba di sebuah kedai. Kedainya memang kecil, tapi pembelinya cukup ramai. Bisa Sierra tebak, sepertinya makanan yang di jual di kedai ini sangatlah enak.
"Duduk disini, dan jangan pergi kemana-mana tanpa seizinku," ujar Noah. Sierra mengangguk kecil, dan pria itupun meninggalkannya entah kemana.
Nuansa di sekitarnya, mengingatkan Sierra kepada keluarganya. Dimana dulu dirinya sering menghabiskan waktu bersama dengan Mama, Papa dan Jack. Entah kenapa, dirinya jadi merindukan adik laknatnya itu.
"Jangan sering melamun!!" Tahu-tahu Noah sudah datang kembali sambil membawa dua burger dan dua minuman soda.
"Kau suka minuman soda, kan?" lanjut pria tersebut setelah mendaratkan bokongnya di kursi depan Sierra.
"Aku suka semuanya, termasuk dirimu." Sierra tersenyum manis. Sayangnya, Noah terlihat cuek dan mulai menyantap burgernya.
Helaan nafas panjang keluar dari mulut Sierra. Mengapa suaminya itu begitu acuh dan datar, haruskah dia melakukan sesuatu?
"Berhenti menatapku! Dan mulailah memakan burgermu."
Sierra mendengus, tapi tak urung juga untuk menyantap burgernya. Dia menggigitnya dengan ukuran besar, sehingga membuat wajahnya terlihat lucu, terlebih lagi saat sedang mengunyahnya.
Noah menggelengkan kepalanya. Kenapa dia bisa mendapatkan istri seperti ini? Dia pun menunjuk pipi Sierra, dan memberinya kode. Namun wanita itu tampak tak mengerti dan justru memasang wajah bingung.
"Oh, astaga." Dengan segala kejengkelannya, Noah mengusap pipi Sierra yang terkena saus. Sedangkan sang pemilik pipi, jangan ditanya. Dirinya hanya bisa terpaku dengan perlakuan dari suaminya.
"Tidak bisakah jika kau makan dengan hati-hati?"
Sierra mengedip-edipkan matanya polos. Dia lalu menyentuh pipinya yang baru saja di elus oleh Noah.
"Kenapa berhenti?"
"Apa maksudmu?"
"Kenapa kau berhenti mengelus pipiku?"
Tukk!!!
Noah menjitak keningnya agar sadar.
"Kau pikir aku mau mengusap pipimu, heh?"
"Kau ini jahat sekali," rajuk Sierra sambil mengelus keningnya.
"Terserah." Noah menekan katanya. "Cepat selesaikan makanmu. Setelah itu kita pulang."
"Hmm.." Dengan wajah cemberut, Sierra mengunyah burgernya yang tersisa. Sementara Noah sudah menyelesaikan makannya lebih dulu.
Diam-diam Noah memperhatikan istrinya yang sedang makan. Entahlah, kenapa dirinya tidak menyukai Sierra. Padahal wanita itu baik, hanya saja dia ceroboh dan bodoh.
Pria itu menghembuskan nafasnya kasar, tatkala mengingat ucapan daddy-nya yang mengatakan bahwa wanita di hadapannya ini adalah tanggung jawabnya. Ingin sekali dirinya menolak, tapi tak mungkin dia lakukan itu.
Sampai kapan mereka akan bertahan. Dan sampai kapan mereka akan menyembunyikan status hubungan mereka dari dunia luar, misalnya sekolah. Hanya Tuhan dan takdirnya yang tahu.