
Seminggu kemudian....
Noah beserta yang lainnya sudah siap dan hanya tinggal menunggu intrupsi dari guru mereka. Dan kebetulan sekali bahwa camping mereka ini bersamaan dengan musim dingin yang melanda.
Karena mereka akan camping di cuaca yang lumayan ekstrem, membuat mereka di haruskan untuk membawa pakaian seperti jaket atau mantel yang lebih banyak.
Dari Selena and the geng, jangan di tanya!! Mereka berempat sudah sangat siap dengan keberangkatakan mereka. Pakaian yang modis dan bermerek, jadi andalan mereka saat akan bepergian seperti ini.
"Sampai kapan kita harus menunggu seperti ini? Kaki-ku sangat pegal," rengek Selena sambil memegangi lututnya. Padahal, semua barang-barangnya ia berikan kepada Nicky--Si siswa culun di kelasnya.
"Berhentilah merengek seperti itu!!" gerutu Chloe dengan wajah kesalnya.
Selena mendengus. Tatapannya lalu tak sengaja melihat Leon sedang bersama kedua temannya; Andrew dan Bryan. Seketika matanya berbinar. Ia ingin menghampirinya, namun kalah cepat dengan kedatangan seorang wanita.
Di tempat Leon berpijak, ada Sierra yang sedang mendekatinya. Wanita itu mengembalikan buku catatan milik Leon yang kemarin di pinjamnya.
Tangan Selena terkepal marah. Bukan hanya itu, matanya justru nampak berkaca-kaca karena sangking menahan emosinya. Ia lalu memalingkan wajahnya sambil tertawa sarkasme.
"Kau benar-benar membuat kesabaranku habis, Sierra."
"Kelas 12 A, ayo masuk ke dalam bis kalian!!" seru Mrs. Bella tiba-tiba.
Alexa dan Olivia duduk bersama, jadi Sierra duduk sendirian di kursinya. Dan Noah yang melihat itu, segera berpindah dan mengambil tempat di samping istrinya.
Sierra meliriknya sejenak, kemudian memalingkan wajahnya kearah jendela. Walaupun sudah satu minggu sejak pembicaraan mereka tentang Alexa di mobil waktu itu, kedua pasangan tersebut nampak menjauh. Bahkan, untuk berbicara pun, mereka hanya mengatakan suatu hal yang penting saja.
Bus pun mulai melaju dan meninggalkan sekolah. Kendaraan besar itu menelusuri jalan raya yang lumayan ramai.
Sepanjang perjalanan, siswa-siswi kelas 12 A mencoba menghibur diri dan mencairkan suasana dengan beryanyi. Andrew bahkan sengaja membawa gitarnya untuk ia mainkan ketika berada di bis maupun di perkemahan nanti.
"Leon, kudengar dari Mr. Frederick, kau memiliki suara yang indah. Bagaimana jika kau bernyanyi untuk kami?" ujar Mrs. Bella.
"Maaf, Mrs. Saat ini aku sedang tidak ingin bernyanyi."
"Oh ayolah, Leon. Jangan membuat kami kecewa!" bujuk Ashley dengan nada manja.
Leon menatapnya datar. Ia mendesah pelan, kemudian menyetujuinya untuk bernyanyi dengan gitar sebagai pengiring lagunya.
Pria itu lalu berpindah tempat duduk di kursi bagian belakang. Ia mengambil alih gitar yang Andrew berikan. Secara perlahan, senar gitar tersebut ia petik untuk menyamai dengan lirik lagu yang akan ia nyanyikan.
...♪I remember the day...
...♪Even wrote down the date, that I fell for you (mmhm)...
...♪And now it's crossed out in red...
...♪But I still can't forget if I wanted too...
...♪And it drives me insane...
...♪Think I'm hearing your name, everywhere I go...
...♪But it's all in my head...
...♪It's just all in my head...
...♪But you won't see me break, call you up in three days...
...♪Or send you a bouquet, saying, "It's a mistake"...
...♪Drink my troubles away, one more glass of champagne...
...♪And you know...
...♪I'm the first to say that I'm not perfect...
...♪And you're the first to say you want the best thing...
...♪Give my last hello, hope it's worth it...
...♪Here's your perfect...
...♪My best was just fine...
...♪How I tried, how I tried to be great for you...
...♪I'm flawed by design and you love to remind me...
...♪No matter what I do...
Bukan hanya Leon yang bernyanyi, temannya yang lain pun tidak ingin melewatkannya. Sebagian dari temannya itu bahkan ada yang mengambil gambar dan video dari Leon. Karena ini merupakan moment yang sangat langka untuk mereka lewatkan.
Petikan gitar Leon mulai melemah, dan akhirnya berhenti secara perlahan. Sorakan dan pujian, ia tuai. Namun itu tidak membuat Leon merasa senang.
"Ambil kembali," ujar pria itu sambil menyodorkan gitar di tangannya kepada pemiliknya.
Andrew lekas menggapainya. Leon kemudian kembali duduk di kursinya tadi, tepatnya di samping Bryan.
Sementara Sierra, wanita itu hanya diam sedari tadi sambil mendekap tubuhnya sendiri. Ia terlihat kedinginan, dan suaminya menyadari itu.
Tanpa mengatakan apapun, Noah segera mengambil kedua tangan Sierra lalu mengosok-gosoknya sambil sesekali meniupinya.
Sierra hendak menarik tangannya, namun Noah justru mencengkeramnya sambil menatapnya tajam.
"Diam dan duduk saja!!"
Akhirnya wanita tersebut mengalah, dan membiarkan suaminya melakukan apapun yang ia inginkan. Sesekali Sierra melirik Noah, Ia pun mengulum senyumnya karena mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya.
"Jika kau ingin tersenyum, maka tersenyumlah. Tidak ada yang akan mencegahmu!"
Sierra menggigit bibirnya. Karena merasa malu, ia lalu mengalihkan pandangannya dari Noah.
Noah lekas mendongak, tapi tangannya masih menggenggam kedua tangan milik Sierra.
"Sampai kapan kau akan berdiam diri seperti itu? Apakah kau tidak rindu untuk berbicara denganku?"
Tidak ada jawaban. Bukan! Bukan karena Sierra tidak menginginkannya. Hanya saja, ia masih merasa malu untuk berbicara dan menatap suaminya.
"Baiklah. Teruskan saja seperti itu. Aku tidak akan memaksamu untuk berbicara." Saat Noah akan melepaskan genggamannya, Sierra dengan cepat membalikkan tangannya. Sehingga, sekarang tangan Sierra yang menggenggam kedua tangan milik Noah.
"Kenapa?" Alis pria tersebut terangkat sebelah. Pasalnya, Sierra hanya menatapnya dan tidak mengatakan sepatah katapun.
"Kenapa kau justru ikut tidak ingin berbicara denganku? Menyebalkan." Bibir Sierra maju beberapa centi, dengan tatapan sebalnya yang tearah kepada Noah.
"Kapan aku mengatakan bahwa aku tidak ingin berbicara denganmu?"
Seketika Sierra bergeming dengan bola matanya yang mengarah keatas, seolah tengah berpikir. Lamanya wanita itu berpikir, membuat Noah menjadi gemas sendiri. Ia pun menarik hidung mungil istrinya agar berhenti menatap keatas.
"Noah..." Sierra merengek sambil memegangi hidungnya yang lumayan memerah akibat perbuatan suaminya.
"Berhenti berpikir. Sebaiknya kau tidur, karena perjalanan kita memakan waktu yang cukup lama."
"Benarkah? Sejauh itukah perjalanan kita?"
Noah mengangguk iyakan. Ia lalu menepuk-nepuk bahunya. Sierra yang mengerti, dengan antusiasnya meletakkan kepalanya disana. Senyum senang yang sudah seminggu ini tidak muncul, kini menghiasi bibir wanita tersebut.
Walaupun cuaca saat ini sedang dingin, namun Sierra merasakan kehangatan yang suaminya berikan. Ia memeluk erat lengan itu, kemudian mulai memejamkan matanya.
'Terima kasih, My Husband.'
Di satu sisi, Leon menyaksikannya. Ia hanya bisa melihat, namun tidak bisa mendengarnya karena jarak mereka yang agak jauh. Melihat senyum senang Sierra yang nampak jelas saat berada di dekat Noah, membuatnya merasa tidak tenang.
Entahlah, apa yang terjadi kepadanya. Yang jelas, ia tidak suka melihatnya. Namun di sisi lain, ia juga semakin penasaran dengan hubungan kedua lawan jenis tersebut.