
Pagi menjelang. Semua siswa di minta untuk berkumpul. Mrs. Bella selaku penyelenggara mengatakan bahwa anak didiknya akan melakukan pengenalan dengan alam liar atau hutan.
Setiap satu kelas akan menjadi satu tim. Karena kelas 12 sampai huruf H, jadi tim mereka akan berjumlah 8.
Mereka semua sudah mulai memasuki hutan, tak terkecuali kelas 12 A. Leon bersama teman-temannya berada di bagian paling depan, sedangkan Noah berjaga di bagian paling belakang.
"Leon, apa kau haus? Ingin kuambilkan minum?" tawar Selena.
Leon menatapnya sinis, "Kita baru saja berjalan 50 meter, tapi kau sudah menawariku untuk minum."
Seketika Selena meringis. Ia pun memutuskan untuk diam sembari menyamai langkahnya dengan Leon. Namun wanita itu teringat akan sesuatu, sehingga membuatnya segera menghentikan langkahnya dan menunggu semua anggota timnya berjalan mendahuluinya.
"Ingat dengan rencana kita," bisik Selena kepada Ashley.
"Kau tenang saja. Serahkan semuanya kepadaku dan Davina."
"Oke. Aku dan Chloe akan mengurus sisanya." Selena kemudian menjauhi Ashley dan menghampiri Chloe.
"Jangan lupa---"
"Kau tidak perlu mengingatkanku," potong Chloe. Selena pun mendengus kesal. Ia lalu memutuskan untuk diam, dengan sesekali melirik Sierra yang sedang mengobrol bersama kedua temannya.
Tak terasa sudah hampir 30 menit lamanya mereka berjalan. Sekarang mereka benar-benar berada di tengah hutan. Mereka hanya bisa kembali dengan petunjuk arah yang di berikan oleh pengurus camping di beberapa pohon.
"Kita beristirahat dulu." Semua anggotanya menyetujui ucapan Leon. Mereka semua duduk di rerumputan, kemudian mengeluarkan minumnya masing-masing.
"Huh, air minumku habis," gerutu Sierra. Leon yang mendengarnya, hendak bangkit dan memberikan botol mineralnya. Namun gerakannya kalah cepat dengan Noah yang melemparkan botol minumannya ke pangkuan Sierra yang sedang duduk berselonjor.
Sierra segera menoleh kearah pria yang baru saja melemparkan botol kepangkuannya, "Ini untukku?"
"Hmm,"
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Kau tidak perlu khawatir, Sierra. Masih ada air danau yang dapat Noah minum," sahut Gerald yang di sambut dengan gelak tawa dari teman-temannya.
Noah mendelik sinis, "Sekali lagi kau berbicara omong kosong, aku akan benar-benar menenggelamkanmu di danau itu."
"Uuhh, aku takut." Gerald masih menggoda temannya tersebut. Tanpa memperdulikan raut wajah Noah yang sudah berubah masam karena ulahnya.
"Coba kau lihat!! Sedari tadi Leon terus memandangi Sierra. Sebenarnya ada hubungan antara Leon dengan wanita itu?" bisik Davina kepada Ashley.
"Aku tidak tahu."
"Kenapa jawabanmu acuh sekali? Apa kau tidak cemburu melihatnya?"
Ashley tersenyum miring, "Untuk apa aku cemburu? Lagipula, sebentar lagi Sierra akan menghilang."
Mendengar itu, membuat Davina terdiam sesaat.
"Aku rasa, rencana Selena tidaklah baik. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Sierra?"
"Bukankah itu yang Selena inginkan? Kita hanya perlu mengikutinya."
"Tidak, Ashley. Kau tahu, aku sangat tidak ingin berbuat hal buruk kepada orang lain. Lagipula Sierra tidak pernah mencari masalah denganku."
Ashley menggeram tidak suka, "Sebenarnya kau ini teman kami atau bukan? Kenapa kau justru membelanya?"
"Bukan seperti itu. Maksudku---"
"Sudahlah. Jangan bahas ini lagi."
"Ayo, kita lanjutkan kembali perjalanan." Leon mengintupsi teman-temannya untuk menyudahi istirahat mereka dan kembali melanjutkan perjalanan.
Semuanya berdiri sambil mengenakan ransel mereka. Setelah itu barulah mereka berjalan kembali dan mengikuti langkah Leon, selaku ketua tim.
Suara derap kaki dan hembusan nafas lelah, saling bersahutan di antara mereka. Noah yang merasa kasihan kepada istrinya, langsung mengambil alih ransel milik Sierra.
Sierra hanya bisa terdiam tanpa berani mencegah, sebab Noah sudah berjalan mendahuluinya.
"Noah baik sekali kepadamu. Aku jadi iri." Olivia menatap Noah yang berjalan di hadapannya, sembari membawakan ransel Sierra.
"Aku juga tidak tahu. Kenapa akhir-akhir ini Noah sangat baik kepadaku." Sama halnya dengan Olivia, Sierra menatap suaminya yang berjalan santai di depannya.
Bukan hanya Sierra yang terkejut mendengar pertanyaan itu, Alexa pun lekas menoleh dengan wajah piasnya.
"Kenapa? Apa kata-kataku ada yang salah? Bagiku itu hal yang wajar saja. Bahkan, sepupuku sendiri yang ada di Rusia, dia menyukai adiknya sendiri. Apalagi kau yang hanya berstatuskan sepupu dengan Noah."
"Lalu bagaimana denganmu, Sierra? Apa kau menyukai sepupumu itu?" tanya Alexa dengan raut wajah yang tak terbaca.
"Te-tentu saja aku menyukainya. Dia sepupuku. Apalagi Noah selalu baik kepadaku dan menjagaku dimanapun aku berada."
"Hanya sebatas itu?" Sierra mengangguk.
"Yang di belakang, cepatlah sedikit!!" teriak Andrew. Sierra beserta Olivia dan Alexa segera mempercepat langkah mereka dan menyeimbangi teman-temannya yang berjalan lebih dulu.
Tiba-tiba Ashley merintih kesakitan sambil memegangi perutnya. Sontak saja semuanya jadi menghentikan langkah mereka.
"Kumohon, berhenti sebentar."
"Ada apa denganmu?" tanya Leon cuek.
"Perutku sakit. Sedari tadi aku menahan untuk buang air kecil. Tapi sekarang aku tidak tahan lagi. Bolehkah jika aku membuangnya lebih dulu?"
Leon memutar bola matanya malas, "Pergilah, tapi jangan jauh-jauh."
Ashley mengangguk sambil tersenyum, "Terima kasih, Leon. Oh ya, kalian lanjutkan saja perjalanannya. Aku akan segera menyusul."
"Kau yakin?" Alis Leon terangkat sebelah.
"Tentu saja." Ashley lalu menghampiri Sierra. "Bisakah jika kau menemaniku?"
"Kenapa harus Sierra? Kau memiliki banyak teman, minta saja kepada mereka untuk menemanimu," timpal Olivia dengan nada sarkasme.
Mendadak Ashley menunjukkan ekpresi sedih.
"Mereka sedang marah kepadaku, karena aku berusaha untuk mendekati Leon. Awalnya hanya Selena yang marah, tapi Chloe dan Davina ikut mendukungnya."
"Cihh, menyedihkan." Olivia melipat kedua lengannya di dada.
Melihat Ashley yang amat begitu menahan sakit, Sierra pun menjadi tidak tega.
"Aku akan menemanimu."
"Sierra..." Noah menatap istrinya intens, kemudian menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak apa-apa, Noah. Hanya sebentar saja. Kalian berjalanlah lebih dulu, aku dan Ashley akan segera kembali."
Ashley tersenyum. Sierra lalu menuntun wanita itu untuk menjauhi rombongannya. Mereka berdua berjalan keluar jalur dan memasuki hutan-hutan.
Selena menyeringai saat melihat kedua wanita tersebut mulai menghilang dari pandangan mereka.
"Ayo, kita lanjutkan kembali perjalanan."
"Kalian pergilah lebih dulu. Aku akan menunggu Sierra disini." Noah mendaratkan bokongnya di rerumputan sambil sesekali melihat tempat menghilangnya Sierra dan Ashley.
"Noah, mereka pergi tidak akan lama. Sebaiknya kita kembali melanjutkan perjalanan. Lagipula, jika mereka sudah kembali, mereka pasti akan langsung menyusul kita. Disini banyak petunjuk arah, dan mereka tidak akan tersesat." Selena mencoba untuk membujuk Noah, agar pria itu mau melanjutkan perjalanan mereka dan tidak perlu menunggu Sierra.
"Selena benar, Noah. Sierra dan Ashley akan segera kembali dan menyusul kita." Alexa menambahi dan menyetujui ucapan Selena.
Noah membuang nafasnya kasar. Ia lalu berdiri dan setuju untuk kembali berjalan. Tak lupa ransel milik Sierra yang ia bawa di gendongannya.
"Ayo..."
Senyum senang langsung terukir di bibir Selena. Ia kemudian mencoba mendekati Noah.
"Sini, aku akan membawakan ransel milik Sierra."
"Aku masih bisa membawanya."
Biasanya, Selena akan kesal jika di tolak. Namun kali ini berbeda. Ia justru sangat senang hingga bersenandung riang.
Leon sendiri terlihat ragu untuk meninggalkan Sierra. Tapi karena ia merupakan ketua timnya, jadi dirinya tidak boleh memikirkan satu orang saja. Perlahan, ia melangkahkan kakinya dan berjalan di bagian paling depan.