Cool And Cheerful

Cool And Cheerful
Sakit Tapi Tak Berdarah



Di meja panjang yang terbentang luas, berjejer anggota keluarga Wilson untuk menikmati makan malam bersama. Tapi di malam ini, semuanya tampak berbeda. Begitu hening, hanya terdengar dentingan sendok dan garpu tanpa adanya percakapan.


Bahkan ketika selesai makan, mereka bergegas memasuki kamar masing-masing. Dan Naura yang biasanya berkicau tanpa henti, tumben sekali malam ini menjadi sangat diam.


Mereka semua memiliki masalah tersendiri. Mulai dari Noah yang masih marah kepada Sierra yang mengobrol dengan Leon. Kemudian, Angel yang marah dan kecewa terhadap suaminya yang menyembunyikan keberadaan Roby. Dan yang terakhir, Naura. Wanita muda itu begitu sedih sejak bertemu dengan pamannya, Dave.


Naura tidak tahu masalah apa yang terjadi di antara Daddy dan Pamannya tersebut. Tapi, saat ia menemui Dave, pria itu malah memintanya pergi dan mengatakan bahwa Daddy-nya akan marah jika mengetahui mereka berdua bertemu.


Hal itu membuat Naura bersedih. Bahkan, Dave tidak membalas satupun pesan dan mengangkat telpon darinya. 


Di satu sisi, Damian mencoba untuk mengajak Angel berbicara. Sayangnya, istrinya tersebut sedang dalam suasana hati yang kurang baik.


"Angel, kumohon mengertilah. Aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan semua ini darimu," pinta Damian dengan wajah memelas. Namun seperti tadi, Angel hanya diam sambil memasang wajah dingin.


"Sayang... Kumohon jangan diam seperti ini!!"


"Lalu aku harus mengatakan apa lagi, Damian? Aku sudah cukup lelah berbicara denganmu."


"Sayang..." Damian menunjukkan wajah sedih dan bersalah. Namun hal itu tidak membuat Angel jadi memaafkannya.


"Aku begitu mempercayaimu. Kita sudah bersama selama belasan tahun, tapi kau... justru merahasiakan semuanya. Tidak bisakah jika kau memberitahuku, Damian? Apa aku sudah tidak penting lagi bagimu?"


"Angel, kumohon jangan berbicara seperti itu. Kau sendiri pun tahu bahwa aku sangat mencintaimu, melebihi siapapun."


Entahlah, itu terdengar seperti bualan di telinga Angel. Wanita itu tertawa, lebih tepatnya tertawa pahit.


"Jika kau memang mencintaiku, seharusnya kau memberitahuku sejak awal. Aku tahu jika sedari dulu kau tidak pernah menyukai Dave. Tapi, tidak bisakah jika kau membuang rasa bencimu itu untuk sekali saja? Apa kau sudah kehilangan rasa ibamu terhadap pria malang itu? Selama belasan tahun dia mencari dan terus mencari keberadaan Sherly, namun tidak pernah berhasil. Bahkan dia sanggup untuk melajang hingga saat ini, karena apa? Karena Dave pikir, dia bisa memperbaiki hubungannya dengan Sherly. Apalagi Dave sudah memiliki buah cintanya bersama Sherly, hal itu membuat Dave yakin untuk menunggunya hingga mereka bertemu."


Damian menunduk, tidak sanggup untuk melihat wajah istrinya yang sudah di penuhi dengan air mata. Rasa bersalahnya begitu besar, sehingga membuat istrinya menjadi menangis seperti ini. Bahkan dirinya tidak ingat, kapan terakhir kali sang istri menangis selama hidup bersamanya.


"Bagaimana jika kau bertukar poisisi dengan Dave? Apa kau ingin jika aku dan anak-anak pergi dari hidupmu dan tidak pernah kembali?"


Mendengar itu, sontak saja Damian langsung mengangkat kepalanya dengan wajah syok. Ia langsung menggelengkan kepalanya sambil menatap Angel dengan tatapan memohon.


"Jangan lakukan itu, Sayang. Aku sungguh mencintaimu dan tidak sanggup untuk kehilanganmu dan juga anak-anak."


"Kau merasakannya, bukan? Jadi, kumohon mengertilah, Damian. Jika saja kau tidak sanggup untuk jauh dari wanita yang kau cintai, lalu bagaimana dengan Dave?"


"Oke, baiklah. Aku akan mempertemukan mereka. Aku berjanji kepadamu, Sayang. Dan kau pun harus berjanji, jangan pernah meninggalkanku."


Secercah senyuman mulai menghiasi wajah Angel. Ia mengangguk pelan, sebelum akhirnya memeluk erat suaminya.


"Kau sudah berjanji. Jadi kumohon, tepatilah, Damian."


"Akan kulakukan apapun untukmu," balas Damian sambil menghirup aroma rambut istrinya yang selalu membuatnya tenang.


Tanpa mereka sadari, di balik pintu yang tidak tertutup rapat, ada seseorang yang mendengar pembicaraan keduanya. Ia hanya bisa diam terpaku dengan air matanya yang terus mengalir.


Untuk sesaat ia tersadar, kemudian segera melangkahkan kakinya menuju ke kamar miliknya. Bagaikan raga yang tidak memiliki jiwa, Naura terus berjalan dengan pandangan kosong ke depan.


Clekk!!


Ia membuka pintu kamarnya, dan tak lupa untuk menutupnya kembali. Naura lalu mendaratkan bokongnya di tepi kasur dengan pandangan yang masih sama.


"Paman Dave... Hikss.." Naura tidak sanggup lagi untuk menahannya. Ia pikir, selama ini Dave masih melajang karena belum mendapatkan pasangan yang tepat. Tapi ia salah!! Dave tidak menikah hingga saat ini karena ada seseorang yang selalu ia tunggu.


"Sakittt..." Wanita itu menepuk-nepuk dadanya karena merasa kesulitan untuk bernafas. Bukan!! Bukan karena dirinya memiliki riwayat penyakit, melainkan rasa sakit itu berasal dari Cintanya yang bertepuk sebelah tangan.


Jangan salahkan Naura!! Tapi salahkan Dave yang memberikan perhatian lebih padanya. Sampai-sampai Naura mengira bahwa Dave menyukainya, sama seperti perasaannya terhadap pria itu.


...* * *...


"Sebesar itukah kemarahanmu padaku? Hingga kau tidak ingin berbicara bahkan melihatku sejenak saja?"


Hening... Noah sibuk berkutat dengan buku besar di hadapannya. Entahlah, Sierra sendiri tidak tahu buku apa itu.


"Noah..." Sierra sudah merengek, namun Noah masih tidak menanggapinya. Karena kesal, Sierra pun mengambil alih buku di tangan Noah, lalu melemparkannya ke samping tempat tidur.


"Apa yang kau lakukan?" Suami dari Sierra tersebut langsung menatap tajam pelaku yang berani mengambil bukunya.


"Akhirnya kau menatapku!!" Tanpa memperdulikan tatapan itu, Sierra justru mengambil posisi duduk di samping Noah, kemudian ia melingkarkan tangannya di lengan pria itu.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan?"


"Cukup mudah. Berhentilah mengabaikanku!! Karena aku tidak suka di abaikan olehmu."


"Dan kau... berhentilah berdekatan dengan pria lain. Apa kau sudah lupa dengan statusmu?"


Wajah Sierra langsung berubah menjadi cemberut. Kata-kata pedas dari suaminya begitu menusuk hingga ke dadanya.


"Aku 'kan hanya berbicara sebentar dengannya. Lagipula obrolan kami tidak membahas hal yang aneh-aneh."


Helaan nafas panjang keluar dari bibir Noah. Ia lalu menatap Sierra serius.


"Apa kau tidak tahu? Dengan sikapmu yang friendly kepadanya, itu bisa membuatnya menjadi nyaman saat berdekatan denganmu. Dan selanjutnya, kau bisa menilai sendiri."


"Memangnya kenapa? Kami hanya teman, tidak lebih."


Lagi-lagi Noah menghela nafasnya. Sepertinya Sierra belum juga mengerti.


"Tidak ada hubungan pertemanan yang benar-benar terjalin di antara lawan jenis. Entah itu pria ataupun wanita, salah satu di antara mereka pasti akan memiliki sebuah rasa. Jadi kumohon padamu untuk mengerti dan cobalah memberi jarak di antara kalian berdua."


Sejenak Sierra bergeming, hingga akhirnya ia mengangguk iyakan ucapan suaminya. Ia kemudian semakin mengeratkan pelukannya di lengan Noah sembari tersenyum lebar.


"Berarti sekarang kau sudah tidak marah lagi, kan?"


"Tergantung."


"Maksudmu??"


"Tergantung dengan sikapmu. Jika kau tidak ingin di abaikan olehku, maka mulai sekarang cobalah untuk mengerti akan diriku."


"Aye-aye Captain," jawab Sierra dengan semangat. Ucapanmu itu menimbulkan gelak tawa baik kepada Noah maupun kepada dirinya sendiri.