Cookie Jar

Cookie Jar
#8 Adeknya Babas



Sebastian membungkukkan kepalanya dan mendongak untuk menatap wajah Cherryl yang masih menunduk sejak tadi. Setelah kejadian sebelumnya, si cewek hanya diam dan menutup mulutnya. Cowok itu juga yang harus repot karena Cherryl akan terus-terusan seperti itu dan susah untuk dibujuk. Biasanya sih dengan dibelikan ice cream atau kue, tapi sekarang saat ditanya pun Cherryl tetap bungkam.


"Jangan marah dong, Ryl." bujuk Sebastian.


"Erryl..."


Cherryl bergeming lalu mengalihkan pandangannya pada jendela, matanya juga mulai berbinar karena air mata. Sebastian jadi merasa bersalah, dari mata si cewek ia bisa merasakan rasa kecewa dan marah. Bukan pada cowok itu, tapi Cherryl seakan marah pada dirinya sendiri. Sebastian berpikir, apa sesakit itu dibandingkan?


Tangan si cowok terulur untuk merengkuh tubuh cewek di sampingnya, dagunya ia tumpukan pada puncak kepala Cherryl yang jauh lebih pendek darinya itu, "Gue minta maaf, jangan nangis."


"Gue bercanda, serius deh. Nggak bermaksud gitu. Maaf, ya?" katanya lagi.


Si cewek masih bergeming di tempatnya, tapi Sebastian bisa merasakan tubuh Cherryl mulai bergetar karena napas yang tidak teratur, bahunya juga naik-turun. Bastian makin panik melihat itu.


"Jangan nangis, Dek. Aduh." katanya.


Tiba-tiba kedua tangan Cherryl memeluk tubuhnya erat, tangisan cewek itu semakin besar. Sebastian tidak menyangka jika cewek itu akan sangat tersinggung akan kata-katanya barusan. Tapi ia hanya diam karena biasanya Cherryl akan mau berbicara setelah menangis. Sebastian hanya menepuk-nepuk pelan punggung cewek dipelukannya itu. Untung saja keadaan cafe sedang sepi, bisa-bisa orang salah menanggap kalau mereka adalah pasangan yang sedang bertengkar, atau malah Bastian yang dianggap cowok nggak benar karena membuat seorang cewek nangis sampai sesenggukkan begitu.


Beberapa saat kemudian Cherryl lebih tenang dan melepas pelukannya, mata bundarnya yang membengkak dan memerah menatap Sebastian.


"Jangan diulangin lagi.." katanya pelan, terdengar lirih dan rapuh. Sebastian jadi tambah merasa bersalah.


"Iya maafin Babas, ya?" mohonnya.


Cherryl mengangguk, "Iya."


Tangan Sebastian kembali terulur dan membenarkan tatanan rambut si cewek yang berantakan. Setelah itu ia melirik kopinya yang mungkin sudah dingin karena tak disentuh sejak tadi.


"Seb," panggil Cherryl saat Sebastian baru saja akan menyeruput kopinya.


"Iya?" sahut si cowok.


"Emm...Nggak jadi, deh."


Sebastian menatap si cewek yang tampak ragu-ragu untuk bicara, hingga akhirnya ia menimpali, "Ngomong aja, gapapa. Jangan disimpan sendiri."


Cherryl mengulum bibirnya, "Erryl pernah dikata-katain gitu, dulu."


Mata Sebastian membesar, "Hah, sama siapa?"


"Kakak kelas. Dia sempat nembak Erryl tapi Erryl tolak. Besoknya dia malah bilang Erryl memang nggak pantas buat dia, Erryl jelek, pendek, nggak sebanding sama cewek lain yang cantik-cantik. D-dia..." Cherryl menghentikan ucapannya untuk menahan napas karena merasa akan menangis lagi.


"Dia bilang kalau Erryl cuma cewek mur–" lagi-lagi perkataan cewek itu terhenti, tapi karena kali ini Sebastian kembali menariknya ke rengkuhan cowok itu.


Sebastian menggeleng, "Enggak, jangan dilanjutkan. Jangan diingat. Erryl nggak begitu. Dia cuma marah karena ditolak."


"Nggak ada yang pantas ngomong ke cewek kata-kata kayak begitu. Apalagi seorang cowok. Dan gaboleh ada yang bilang gitu sama Adeknya Babas. Gaboleh." tambah si cowok lagi.


"Maafin gue udah ngomong gitu. Gue cuma bercanda." ujarnya Sebastian.


Cherryl hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja sebagai jawaban.


"Udah jangan nangis. Ayo beli Ice cream. Mau 'kan?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Senyuman Cherryl kembali terbit dan matanya kembali bersinar saat menatap tumpukan ice cream di ice cream box. Tangan cewek itu sibuk memilih-milih rasa ice cream tempatan yang ia inginkan sedangkan Sebastian ikut memilih macam-macam yoghurt untuk bunda Laura yang sangat senang dengan produk susu fermentasi itu.


"Loh kok cuma dua aja?" tanya Sebastian saat melihat Cherryl memasukkan dua ice cream tempatan ke dalam troli yang dibawa cewek itu padanya.


"Jangan banyak-banyak, Cherryl lagi ngga bawa uang lebih." jawab cewek itu polos.


Sebastian tertawa pelan lalu menyimpan botol-botol yoghurt ditangannya ke dalam troli dan kembali ke ice box untuk mengambil dua ice cream tempatan lagi dan menaruhnya dalam keranjang besi beroda di hadapan Cherryl.


"Hadiah buat Erryl. Anggap aja sebagai permintaan maaf." sergah Sebastian saat Cherryl baru akan bertanya macam-macam.


Tentu dengan senang hati si cewek mengiyakan ucapan sahabatnya itu. Lagipula bisa hemat uang jajan untuk membeli yang lainnya. Jujur saja Cherryl tadi menangis karena memang merasa dirinya bukanlah cewek yang cukup baik di pandangan orang lain. Dirinya merasa rendah dan tak menarik sama sekali. Kejadian tempo lalu benar-benar membekas di hatinya hingga sekarang. Baginya, sulit untuk melupakan hal-hal semacam itu. Perkataan Sebastian tadi cukup meringankan beban yang ia rasakan selama ini. Cherryl tak pernah menceritakan hal ini pada siapa-siapa, termasuk Irina yang biasanya menjadi penampung semua cerita cewek itu.


"Kok melamun?" tanya Sebastian saat melihat Cherryl hanya memandang ke depan dengan tatapan kosong sedang tangan si cewek sibuk memegang ice cream Cornetto yang mulai meleleh.


Mendengar itu Cherryl langsung tersadar dan menggeleng. Dia tersenyum, "Gapapa, kok."


"Masih kepikiran, ya? Sudah jangan dipikirkan lagi. Nanti malah jadi stress." kata Sebastian yang mendorong troli setelah mereka keluar dari Hypermart.


Cherryl mengangguk, "Makasih ya, Seb."


"Buat apa? Malahan gue udah buat lo nangis tadi. Kok terima kasih?" ujar Sebastian.


"Makasih udah ngomong kayak tadi. Berarti banget buat gue." jawab Cherryl.


"Selama lo seneng, gue juga. Dan selama Bang Angga gabisa jagain lo, gue dengan senang hati gantiin dia juga. Lo itu udah kayak sosok adik perempuan yang nggak pernah gue punya, jadi jangan khawatir dan ngerasa gak enak sama gue. Lagian kita udah bareng dari kecil 'kan?" kata Sebastian yang membuat Cherryl mengulum bibir karena merasa tersentuh mendengarnya.


Cewek itu bersyukur. Sangat. Karena Tuhan sudah sangat baik padanya. Cherryl pun bukan termasuk cewek yang aktif berorganisasi di sekolah walaupun secara terpaksa cewek itu akhirnya harus muncul sebagai duta sekolah, untuk berteman saja hanya seadanya. Itupun bukan si cewek yang memulai pertemanan. Dia hanya tak memiliki kepercayaan diri yang cukup baik untuk bersosialisasi di lingkungan yang lebih luas. Mungkin dengan orang-orang terdekat ia bisa tampak ceria dan terbuka. Tapi jika dilihat lagi, Cherryl tidak seperti itu dengan orang lain.


Cewek itu hanya tidak sadar jika ia memiliki pesona tersendiri yang membuat orang lain menyukainya. Sifat manja dan lugu Cherryl nggak pernah membuat orang lain merasa risih ataupun nggak nyaman tapi sebaliknya, orang-orang malah merasa sangat ingin melindungi si cewek berambut sebahu itu. Termasuk Sebastian. Bahkan sejak kecil cowok itu selalu menganggap Cherryl sebagai suatu hal yang sangat rapuh dan bisa pecah lalu hancur begitu saja jika terluka.


Sebastian sangat menyayangi Cherryl. Bukan dalam artian seorang pria pada wanitanya, tapi seorang kakak pada adiknya. Cowok itu nggak pernah memandang si cewek sebagai sosok cewek yang bisa dijadikan pasangan. Dia terlalu takut bahkan untuk memikirkannya saja. Sebastian takut akan melukai perasaan Cherryl nantinya jika itu benar-benar terjadi.


Nggak pernah, atau mungkin belum. Entahlah, nggak ada yang tahu masa depan akan seperti apa.


.


.


.


.


.


TBC.


Jangan lupa Vote + Comment!