
Lagi-lagi Anggara harus menghela napas melihat Vallerine dan Rebecca sudah berdiri di depannya bersama tas dan barang bawaan mereka.
Cowok itu menarik Vallerine ke pelukannya, padahal baru kemarin sejak ia mengungkapkan perasaannya pada si cewek dan –ehem, mulai berpacaran. Hari ini mereka harus mendadak pulang ke New York karena mendapat kabar jika ayah Vallerine terjatuh dari kursi dan dilarikan ke rumah sakit karena faktor umur dan kesehatan yang kurang baik.
Saat sampai di rumah setelah hiking pun Rebecca dengan panik menyampaikan kabar itu pada Vallerine lalu mereka segera memesan tiket ke New York saat malam, untung saja masih ada.
Bahkan Cherryl, Sebastian dan yang lainnya pun turut meminta maaf karena tidak bisa mengantarkan kepergian mereka dan mengucap sampai jumpa. Sekedar tegur sapa via online saja, karena kebetulan Sebastian juga sedang menginap di rumah keluarga Gunawan malam itu.
Bagi Anggara sendiri cukup berat untuk melihat cewek kesayangannya lepas landas meninggalkan Indonesia lagi. Tapi apa boleh buat? Semoga hubungan jarak jauh tidak mencobainya terlalu keras. Dia belum siap dengan waktu secepat ini. Cowok itu mengusap tengkuk Vallerine lalu mengecup puncak kepalanya.
"I hope everything's fine, please tell me if you're already there. Hope your dad will be okay." ujarnya.
Vallerine melepaskan pelukannya lalu mengecup pelan pipi Anggara, "Thanks, take care of yourself too. I'm sorry, I'll be back soon."
"Val, hurry!" sela Rebecca yang sudah mendengar pemberitahuan agar semua penumpang segera naik ke pesawat.
Anggara mengangguk lalu Vallerine berbalik dan beranjak pergi, ia juga melambaikan tangan pada Rebecca yang sudah lebih dulu melangkah pergi. Dalam sekejap, keduanya hilang begitu saja ditelan jarak dan orang-orang yang berlalu-lalang di bandara. Anggara menatap kosong ke depan lalu tangannya naik memegang pipi.
Ia tersenyum simpul lalu segera pergi dari sana. Berharap ia akan segera bertemu lagi dengan cewek itu.
"Kalo lo ga bisa ke sini, gue yang bakal ke sana, Val."
🍪Cookie Jar🍪
Tiga bulan berjalan begitu cepat, tak terasa mereka sudah melewati ujian, naik kelas dan liburan, hingga sampai di bulan Juli dan keheningan terjadi di kamar milik si gadis cherry. Sebastian dan Cherryl duduk berhadapan di karpet bawah seraya memandangi satu sama lain.
"Hmmm..." gumam si cowok.
Sedangkan Cherryl menyilangkan tangan lalu menyandarkan diri ke ranjang, dia juga pusing karena baru saja masuk ke tahun ajaran baru semuanya sudah sibuk menyiapkan acara Tujuh Belas Agustus.
"Emang harus banget ya lo nunjuk gue jadi panitia? Ikut pusing nih! Lagian kenapa ga langsung koordinir sama ketua eskulnya aja sih?" ujar Sebastian memecah keheningan.
Itu juga membuat langkah Lily yang baru keluar dari kamar mandi sempat terhenti karena terkejut.
"Loh kok nyalahin gue sih, kan lo juga yang mau-mau aja ditawarin Mrs. Erna! Udah itu cuma kurang satu doang anaknya, astaga." timpal Cherryl.
"Haduh-haduh jangan ribut gini toh. Mending langsung rembugan aja cari solusinya." lerai Lily lalu duduk di sebelah Cherryl.
"Gue kan udah naik kelas tiga, malah diajakin jadi panitia, gimana sih bocil." kata Sebastian lagi.
"Aih bukan salah gue tau." sergah si cewek lagi.
Lily menatap keduanya dengan datar lalu mengambil kertas berisi daftar acara untuk perayaan 17 Agustus di sekolah mereka yang akan diadakan dua bulan lagi. Tetapi panitia sudah pada ribut untuk merekrut anggota-anggota ekstrakulikuler dance agar bisa cepat latihan sebagai pengisi acara.
"Walah ini cuma kurang satu orang buat dance performance aja toh. Ndak usah sampek ribut gini." ujar Lily lalu mengambil bolpoin dan menuliskan nama seseorang di sana.
Sebastian mengambil kertasnya saat Lily menyodorkan benda itu padanya.
"Devin Krisantus? Anak mana tuh?" tanyanya pada si cewek.
"Hah? Devin? Devin anak kelas kita? Lo yakin, Ly?" celetuk Cherryl lalu menaikkan kedua alisnya.
"Duh uwes tenang ae, Cher. Aman. Besok tak temeni nyamper anaknya, oke?"
🍪Cookie Jar🍪
Cherryl yang sedang sibuk membereskan peralatan sekolah terpaksa harus menunda dulu aktifitasnya tersebut saat Lily memanggilnya. Cewek itupun melirik sosok cowok yang duduk di kursi ujung kiri belakang kelasnya yang juga sedang sibuk bergelut dengan tas dan buku-bukunya. Lily mengambil lengan si cewek lalu mengajaknya mendekati cowok bernama Devin itu.
"Hai Devin.." sapa si cewek yang membuat atensi Devin mengarah pada mereka.
"H-halo..." katanya lalu melipat tangan, menghentikan kegiatannya untuk memasukkan buku ke dalam tas.
"Gue ada perlu sama lo, bisa bicara sebentar? Oh iya, gue Cherryl, dia Lily. Kita belum kenalan langsung sebelumnya." kata Cherryl lalu mengulurkan tangan pada Devin, diikuti oleh Lily.
Cowok itu dengan ragu-ragu membalas uluran tangan mereka lalu berdiri, "Gue Devin. Ehm, ada perlu apa, ya?"
Setelah itu mereka memutuskan untuk pergi ke kantin, dengan alasan perut Lily yang sudah keroncongan karena tak sempat membeli makan saat jam istirahat tadi.
"Dance performance?" tanya Devin lalu Cherryl mengangguk pelan.
"Tapi gue nggak bisa dance, maaf banget..." ujar si cowok cepat.
Lily menunjuk wajah Devin dengan sendok bakso yang ia genggam, "Kita dulu satu SMP dan kamu anak dance. Ndak usah bohong!"
"E-eh? Masa?"
Cewek itu mengangguk dengan pipi menggembung penuh bakso, "Aku ndak tahu kenapa kamu nggak ikut ekstra dance sekarang, tapi ini urgent lho, Devin. Ayo dong, mau ya?"
Cowok itu memegang tengkuknya lalu berdeham, "Tapi gue, gak bisa."
Cherryl menghela napas, "Aduh, Dev. Please...Gue capek nih masa dari seluruh anak di sekolah tinggal satu doang yang kurang. Cuma lo harapan gue sekarang, mau nyari lagi susah tau apalagi besok sore daftar namanya harus dikumpulin nih..."
"Dan juga, masa mau ngerekut Jordan yang kelakuannya kayak uget-uget gitu. Aku ndak yakin dia bisa, dulu aja main drama malah ngelawak..." timpal Lily.
"Hmm, sorry banget tapi gue tetep nggak bisa. Gue bukan anak dance lagi." kata Devin lalu mengambil tasnya dan beranjak pergi.
Sebelum itu Cherryl menyela, "Maaf gue kayak maksa begini, tapi kalo lo berubah pikiran bisa chat gue atau Lily. Thanks."
Devin menatap kedua cewek itu lalu mengangguk samar sebelum beranjak pergi dan menghilang dibelokan koridor. Cherryl menghela napas lalu menyandarkan kepalanya ke pundak Lily, "Haduh masa Jordan beneran..."
"Puh ndak datang ke acaranya aku kalau dia beneran jadi anggota dance performancenya, Cher." sahut temannya itu.
"Ah, gue harus kabarin Babas dulu nih. Nanti ngomel lagi pas gue bilang dadakan kalo Devin kaga mau." ujar si cewek cherry lalu merogoh ponselnya dari saku seragam.
"Eh, Ly."
"Kenapa, Cher?"
"Emang dulu beneran satu SMP lo sama Devin?" tanyanya.
"Hooh, dia dulu sering jadi perwakilan sekolah ikut lomba dance gitu. Sering masuk peringkat atas, lho." sahut Lily yang masih menyantap baksonya.
Cherryl menopang dagu dengan tangannya, "Kira-kira, kenapa dia gak mau ya? Sampek gak ngaku kayak tadi juga..."
TBC.