
Sejak percakapan di mobil malam itu, suasana antara Cherryl dan Sebastian benar-benar berubah menjadi seperti semula bahkan mereka bersikap seakan nggak pernah ada masalah sama sekali yang membuat heran Lily, Alfian dan Devin yang selama ini bahkan nggak tahu-menahu soal inti permasalahan kedua sejoli itu selama ini. Bahkan sampai saat ini pun baik Cherryl maupun si cowok nggak ada yang bisa menjawab kalau ditanyakan.
“Yaudah deh terserah yang penting kalian akur lagi. Haduh anjir pedes bener…” ujar Alfian lalu menenggak es tehnya untuk meredakan sedikit rasa pedas yang sedang membakar lidah cowok itu setelah ia memakan semangkuk bakso yang ditambah empat sendok sambal.
Lily mengangkat tangan untuk membenarkan poninya, “Kita juga nggak masalah kalau emang masalahnya terlalu personal buat diceritain, tapi kalo berantem jangan kayak mayat hidup gitu toh kan yang lihat jadi ngeri.” ujar cewek itu menanggapi.
Sebastian menatap Cherryl yang duduk di sebrangnya lalu mereka berdua tertawa, walaupun hubungan mereka sementara ini nggak terlalu dekat seperti dulu tapi rasanya lega bisa kembali menjadi sahabat. Mereka menghabiskan sisa waktu untuk menyelesaikan makan siang sebelum nanti kembali ke kelas.
“Devin kenapa diem aja dari tadi?” tanya Cherryl yang melihat temannya itu lebih sering termangu sejak pagi.
Si cowok yang sadar namanya disebut langsung mengedarkan pandangannya ke teman-teman lain lalu dia menyengir canggung, “Gue lagi kepikiran sesuatu hehe.”
“Kalo bisa cerita boleh cerita aja kok, Vin. Daripada begitu lo, nanti kayak Babas sama Cherryl kemaren lagi.” sahut Alfian lalu dihadiahi dengusan pelan oleh si bungsu keluarga Gunawan.
“Tumben, Vin. Soal cewek kah?” tanya Lily yang awalnya membuat yang lain tertawa tapi langsung terdiam karena yang ditanyai malah menundukkan kepalanya dengan raut wajah malu.
Alfian, Sebastian, Lily dan Cherryl saling tatap lalu mereka semua mencondongkan badan ke arah Devin dengan serentak dengan raut muka seakan memohon agar si cowok mau bercerita dengan senang hati, dalam tanda kutip.
Adik sematawayang dari Elhanan itu menggaruk kepalanya lalu dia mengusap telinganya yang sudah merah karena tersipu, tapi setelah itu dia memberanikan diri buat membuka suara, “G-gue kepikiran anu, Chesa…”
“CHESA?!” sergah Cherryl cepat yang membuat Devin sontak mengangguk kencang karena terkejut.
“Yaampun jadi beneran naksir Chesa lo?” tambah Alfian sembari menyenggol pelan lengan si adik kelas.
“Wah gimana, kalian udah suka chat tah?” tanya Lily.
“Hmm…Belum. Gue nggak tau nomernya, cuma Instagram doang itupun takut mau nge DM. Bingung juga mau bilang apa…” jawab Devin dengan ragu-ragu.
Cherryl dan Lily kompak mengambil ponsel masing-masing untuk mencari nomor si cewek bernama lengkap Chelsea Alexandra di sana lalu menyodori itu ke depan muka cowok itu.
“Santai, santai! Satu aja cukup kali.” ujar Sebastian lalu kedua cewek itu tertawa soalnya mereka melakukannya tanpa pikir panjang.
“Ini Vin nomornya, kamu ini kenapa ndak pernah ngomong toh? Aku sama Cherryl sering chat sama Chesa, kita loh sampe bikin grup. Kamu mau tak masukin tah? Sama yang lain juga biar nggak aneh.” kata Lily yang langsung disetujui oleh Alfian dan Sebastian.
“Gue kan gak tau…Tapi makasih, hehe.” jawab Devin yang sudah membuka ponselnya untuk menyalin dan menyimpan nomor Chesa dari ponsel si cewek berponi.
“Desember nanti dia mau main ke sini loh, udah janjian nginap di rumah Cherryl juga.” balas Lily lagi yang diangguki oleh si cewek cherry.
“Wih tahun baruan nanti sekalian camping aja kita, ngajak kakak-kakak yang lain siapa tau mereka mau jadinya kita nggak usah keluar duit banyak hahaha.” celetuk Alfian, mereka menatap cowok itu dengan mata berbinar.
“Akhirnya bisa ngomongin hal berguna juga lo, Fi.” ujar Sebastian lalu berangsur memeluk temannya itu yang langsung berusaha ditempis mati-matian oleh si cowok jangkung.
“Jangan peluk-peluk lo. HEH, apa itu bibir woy amit-amit ah, Bas!” katanya, memberontak lebih keras saat cowok bergigi kelinci itu malah makin menggodanya dengan memaju-majukan bibir seperti ingin menciumnya sedangkan yang menonton adegan itu hanya tertawa lepas bahkan Lily sampai memegangi perutnya yang terasa keram saking ngakaknya.
“Haduh capek banget…” ujar Cherryl pelan.
“Tapi idenya Kak Fian emang bagus loh nanti Erryl bilang ke Karin sama Ang’Ga deh. Mereka juga dulu sempet bilang mau hiking bareng kalo pada sempat, daripada hiking mending kemah aja kan.” tambahnya kemudian.
“Oh iya, kak Hanan sampe kapan di sini, Vin?” tanya Lily.
Devin berpikir sejenak lalu menjawab, “Kayaknya sampe Januari deh, dia libur lama katanya. Tugasnya bisa dikerjain jarak jauh juga.”
“Bisa tuh kasih tau aja biar ikutan,” kata Sebastian lalu cowok itu mengangguk.
“Kalo dia diajak mah pasti mau. Apalagi ada bang Angga.” ujar Devin yang awalnya nggak dia sadari sampai Cherryl yang mendengar itu mengerutkan keningnya.
“Hah emang kenapa kalo ada dia?” tanya cewek itu yang membuat si cowok meruntuki mulutnya sendiri, dia nggak sengaja!
“Devin…” ujar Cherryl lagi karena temannya itu nggak menjawab.
“Anu, Kakak gue naksir banget ama abang lo…”
.
.
.
.
.
🍪Cookie Jar🍪
.
.
.
.
.
Di sisi lain, Elhanan yang tengah mendudukkan dirinya di depan laptop untuk menyicil tugas kuliahnya langsung mengusap telinga karena terasa gatal secara tiba-tiba. Cewek itu juga sejak tadi nggak bisa terlalu fokus pada aktivitasnya karena atensinya terus terpaku pada jaket denim besar yang menggantung di belakang pintu kamarnya.
Saat dia di menunggu di toilet, Gigi datang membawa jaket itu lalu diberikan padanya untuk dipakai sementara. Cewek itu bertanya siapa pemilik jaketnya tapi Gigi malah menjawab, “Udah dipake aja, santai.” katanya.
Elhanan melirik semua orang dengan canggung saat kembali masuk ke dalam ruangan, cewek itu tersenyum saat Irina dan Puteri bertanya bagaimana keadaannya, “Aman kok…Oh iya, ini jaketnya nggak apa-apa di pinjam dulu?”
Nggak ada yang menyahut sampai Elhanan kembali duduk di kursinya, cewek itu menatap Anggara yang sibuk sama ponselnya tapi kebetulan cowok itu mendongak dan mereka bertatapan. Kali ini si cewek nggak sontak mengalihkan pandangannya, dia malah menatap Anggara dengan mata lebar seakan masih menunggu jawaban dari pertanyaannya tadi.
Cowok sipit itu berdeham karena merasa nggak enak, “Ehm, iya. Santai aja.” jawabnya.
Sampai saat ini Elhanan benar-benar kepikiran dan suka tersenyum sendiri kayak orang gila. Membayangkan kalau jaket yang ia pinjam adalah milik Anggara membuat jantungnya berdetak kencang sekali. Dia berpikir mungkin ini memang takdir Tuhan dan ia sangat bersyukur.
“Hmm…Udah berapa hari belum sempet gue balikin juga. Gimana ya?” monolog si cewek lalu menutup mukanya karena tersipu malu, semalaman dia nggak bisa tidur karena wangi parfum si cowok masih tercium sangat pekat bahkan setelah sempat ia cuci kemarin.
Dia mengambil ponsel dan berpikir untuk mengirim pesan pada Gilang, membuat alasan untuk meminta nomor ponsel Anggara tanpa terlihat mencurigakan. Pastinya sih dia akan bilang kalau mau minta nomor cowok itu agar bisa mengembalikan jaket. Tapi tangannya kaku banget padahal sudah mengetik sapaan untuk Gilang.
“Haduh gimana nih…” ujarnya resah.
Cewek itu kembali menatap jaket itu sembari menopang dagunya dengan tangan, jaketnya besar banget sampai-sampai dia bakalan tenggelam kalau memakainya. Gimana kalau sampai Anggara yang memeluknya ya?
“Hih udah ah makin lama makin kemana-mana.” ujar Elhanan lalu berdiri untuk mengambil jaket itu dan dengan telaten melipatnya agar bisa dimasukkan ke dalam paper bag yang sudah ia siapkan sebelumnya.
Cewek itu berniat mengajak Anggara bertemu di pertengahan minggu ini kalau memang si cowok ada waktu, memikirkanya aja udah bikin cewek itu salting sendiri. Dia berharap semoga semuanya berjalan lancar!
.
.
.
.
.
TBC.