Cookie Jar

Cookie Jar
#48 Kakak Devin



“Hey, ayo keluar jangan di kamar terus. Hanan juga baru pulang kan, masa nggak kangen sama bapak ibu juga?” ujar pak Indra sembari menyembulkan kepalanya dari balik pintu, pada kedua anaknya yang sedang asik mengobrol.


Cewek yang bernama lengkap Elhanan Krisantus itu menegakkan duduknya lalu menatap sang adik yang langsung turun dari ranjang, “Hehe maaf Pak, kalau ngobrol sudah nempel kasur suka lupa waktu. Apalagi sama adek.” katanya lalu menyengir lebar.


“Padahal Devin lagi cerita sama kak Anan…” ujar si cowok pelan yang membuat pak Indra menghela napas lalu tersenyum tipis.


Devin melangkahkan kaki mengikuti kakaknya itu menuju ruang tengah di mana bu Claudia sudah mendudukkan diri sembari menyusun kotak-kotak kue yang di bawakan oleh Elhanan sebagai oleh-oleh dari kota tempatnya berkuliah.


“Sini duduk,” titah pak Indra lalu kedua anak itu menurut, mereka meghempaskan diri ke karpet bawah lalu Elhanan menyomot satu potong roti gulung yang ibunya sajikan di piring.


“Jadi gimana ceritanya kamu bisa telat pulang, Nan? Ibu sampai panik soalnya kamu nggak bisa dihubungi loh.” ujar bu Claudia, sedangkan yang ditanyai mempercepat kunyahannya supaya bisa segera menjawab.


“Jadwal penerbangannya sempat ditunda, Bu. Anan mau ngasih kabar eh ternyata baterai hp Anan habis sampai mati total, chargernya ada di dalam tas jadi bakal ribet banget mau ngeluarin barang-barangnya.” jelas si cewek lalu mengelap sudut bibirnya.


“Tadi sempat mau disusul sama Devin ke bandara pas dia balik dari sekolah, eh kamu sudah sampe duluan.” ujar pak Indra.


Elhanan mengusap kepala si adik dengan gemas, “Dia ni loh dari kemarin ngespam aku terus di chat, ribut banget katanya kangen. Pas aku sampe malah diem-diem aja.” katanya.


“Apa sih, Kak…” sahut Devin lalu memberontak agar kakaknya itu melepaskan tangannya.


“Oh iya, Kakak dengar kamu udah mau nari lagi ya?” tanya Hanan tiba-tiba yang membuat Devin mengangguk malu.


Cewek yang rambutnya di cat pirang itu memeluk Devin dengan gemas, “Iiiii akhirnya, kakak senang deh. Nanti kita dance cover bareng mau? Kakak juga lama enggak nari lagi.”


“Adek bulan depan ikut lomba loh, kamu ikut aja buat nemani dia.” sahut bu Claudia yang membuat mata si puteri bungsu itu berbinar-binar.


Sejak sang adik mengalami ‘kecelakaan’ dan memutuskan untuk berhenti menari, cewek itu juga merasa terbebani melihatnya. Padahal melihat Devin menari adalah salah satu hal favoritnya selama ini, cowok itu terlihat bersinar dan hidup. Maka dari itu hal yang disampaikan ibunya merupakan kabar yang sangat baik.


Si bungsu sempat diam sebelum akhirnya mengangguk setuju, sebenarnya dia itu senang sekali karena Elhanan pulang ke rumah. Dia merasa cukup kesepian sejak kakaknya itu merantau ke kota lain untuk berkuliah, pak Indra dan bu Claudia tahu betul betapa bersemangatnya Devin saat mendengar berita kepulangan sang kakak.


“Eum, Devin juga punya teman baru…” ujarnya dengan suara pelan walau Elhanan masih bisa mendengarnya dengan jelas, cewek itu sontak mengeratkan pelukannya.


“Kakak bangga banget sama Devin, kakak selama ini khawatir kalau kamu bakal ansos terus sampai besar nanti.” ujarnya.


Devin melepaskan pelukan kakaknya itu perlahan, “Aku udah besar tau, Kak.” katanya yang membuat kakak serta kedua orang tuanya tertawa karena bagi mereka cowok itu masih seperti anak bocah yang menggemaskan.


Sebenarnya saat kecil dulu Devin bukanlah anak yang pendiam dan tertutup. Dia punya banyak teman dekat dan mudah bersosial dengan anak-anak sebayanya, juga dia tahu cara menjalin hubungan baik dengan orang yang lebih tua karena cowok itu punya tata krama yang bagus. Hanya kejadian saat sekolah menengah pertama menorehkan rasa bersalah yang begitu besar sampai-sampai kepribadiannya berubah total.


Elhanan menatap Devin sambil tersenyum lebar, “Kakak sayang Devin.” katanya.


Bu Claudia menoleh pada sang suami lalu menggenggam tangannya, “Bapak sama ibu juga sayang Devin, sayang Hanan.” ujar beliau dengan hangat.


Devin menutup mukanya yang memerah dengan tangan, dia lemah hati kalau sudah mendengar ucapan-ucapan semacam itu dari keluarga atau orang yang dekat dengannya. Kalau saja Sebastian dan teman-teman tahu sisi cowok itu yang seperti ini kemungkinan besar dia akan selalu digoda oleh mereka.


“Hahaha gausah malu-malu, Dek. Kupingnya sampe merah begitu, utututu…” goda Elhanan dengan riang.


“Sudah, Nan. Kasihan adek kamu. Sekarang ibu penasaran gimana kuliahmu di sana, apa lancar?” sela bu Claudia yang membuat si bungsu lega karena tidak digoda lagi oleh sang kakak.


“Hehe, lancar kok Bu. Cuma ya kadang suka kelimpungan nyeimbangin tugas sama kerjaan. Tapi Anan senang kok, di sana juga teman-temannya ramah soalnya kebanyakan sama-sama anak rantau. Sudah hampir dua tahun kan Anan nggak pulang, selama liburan juga masih banyak yang nemani.” jawab cewek itu sembari menyelipkan rambut ke belakang telinga.


Pak Indra berdeham lalu menyamankan posisi duduknya, beliau ikut mengambil satu roti gulung dari atas meja, “Padahal bapak sudah bilang kalau kamu kesulitan nggak usah bekerja juga nggak apa-apa, bapak juga nggak melarang, tapi perhatikan dirimu sendiri juga dan jangan dipaksakan.” ujar beliau dengan suara rendah.


Elhanan mengangguk, “Anan nggak apa-apa kok, Pak. Malah lebih nyaman karena bisa pakai uang sendiri kalau mau beli sesuatu. Toh Anan sudah dewasa, Bapak sama Ibu tenang aja yaa~” jawabnya.


“Kalau pacar apa sudah punya, Nan?” celetuk bu Claudia yang membuat puterinya itu terdiam.


“Eh?”


🍪Cookie Jar🍪


“Gimana?” tanya Cherryl dengan matanya yang melebar, sesaat setelah Sebastian mengatakan kalau sebenarnya cowok itu sudah sering berpacaran selama tinggal di Amerika Serikat.


“Denger, Ryl. Gue bilang kayak gini bukan bermaksud buat nyakitin lo tapi gue gak mau lo malah kecewa suatu saat nanti karena gue gak ngomong apa-apa sejak awal. Kemarin gue juga sempat ngobrol singkat soal ini sama bunda dan disuruh buat lebih banyak cerita sama lo mulai sekarang.” balas cowok itu dengan nada lemah.


Cherryl diam, otaknya masih mencerna informasi dadakan yang nggak pernah ia sangka itu. Selama ini cewek itu bahkan nggak pernah kepikiran untuk bertanya apakah dia yang pertama juga bagi Sebastian atau bukan. Dia merasa terlalu fokus pada hubungan mereka saat ini.


“Jadi, gue bukan yang pertama?” tanyanya dengan suara yang sangat pelan bahkan si cowok juga nggak bakal mendengar kalau dia nggak memperhatikan pergerakan bibir cewek itu.


Sebastian mengangguk pelan lalu dia meraih kedua tangan Cherryl dan mengecup punggung tangannya dengan lembut, “Maaf, kalo lo mau marah juga gue nggak masalah. Gue tau mungkin buat lo ini bukan masalah sepele.” katanya.


Cherryl menenggak ludah lalu mengalihkan pandangannya ke samping, menatap beberapa orang yang berlalu-lalang di bawah sana karena mereka berdua sedang berdiri di rooftop. Walaupun mungkin bagi sebagian orang hal seperti ini bukanlah masalah besar, tapi baginya secara pribadi yang bahkan nggak pernah merasakan rasanya naksir orang lain sebelum Sebastian, rasanya agak sesak.


“Kalo di pacaran di sana, berarti lo pernah…” ujar si cewek cherry lalu menatap mata si cowok yang sendu.


Entah kenapa hati kecil Cherryl sangat berharap kalau Sebastian langsung menjawab dengan tegas kalau dia nggak pernah melakukan hal semacam itu, tapi dia hanya diam saja. Si cewek menggigit bibir bawahnya lalu melepaskan tangannya dari genggaman cowok itu.


“Cher—” ujar Sebastian, mencoba untuk meraih Cherryl kembali tapi cewek itu sontak melangkahkan kaki ke belakang menjauhinya.


Si cowok tertegun lalu ia mengurungkan niatnya, “Maaf, gue nggak sebaik yang lo pikirin.” lanjutnya.


Cherryl meremat tangannya, mencoba untuk menahan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk mata. Dia benar-benar kalut, nggak bisa marah walau rasanya sakit. Cewek itu bahkan sudah mulai kesulitan untuk mengambil napas.


“Ryl…”


Dengan tangan yang bergetar cewek itu mengusap ujung matanya dan memaksa diri untuk berdiri tegak, “M-maaf, gue butuh waktu.”


Itu adalah kalimat terakhir yang Sebastian dengar dari Cherryl sebelum si cewek berbalik dan berlari keluar dari area rooftop dengan mata memerah. Meninggalkan cowok bergigi kelinci itu dengan kaki yang melemas, dia terduduk di lantai sambil memijat pelipisnya.


“Hhhhhh…Ini kenapa gue dulu takut nyakitin lo, Ryl. Karena gue bukan cowok baik-baik.”


TBC.