
Selama satu minggu penuh Cherryl serta Thomas akan memberikan arahan buat para kandidat duta sekolah; menjelaskan tentang peraturan yang berlaku, susunan acara, persiapan visi-misi, persiapan penampilan bakat, serta lain-lain. Selain acara pemilihan duta, setiap tahun juga pasti diadakan lomba paduan suara dan menghias kelas yang berlaku bagi semua kelas dari kelas 10 sampai 12. Keduanya juga harus sering-sering berkoordinasi dengan OSIS serta guru-guru yang sudah dimohonkan untuk menjadi juri baik untuk pemilihan duta maupun lomba-lombanya.
Sebastian yang suaranya terkenal bagus sudah pasti ditarik masuk ke dalam lomba paduan suara, sedangkan teman-temannya yang lain mulai sibuk menentukan tema dan mempersiapkan aksesoris untuk menghias kelas mereka.
Acara akan digelar dua minggu lagi, jadi mulai minggu ini jam pelajaran dipotong dua puluh menit setiap kelas. Setelah sekolah berakhir maka mereka langsung sibuk kesana-kemari, latihan ini-itu, pokoknya jadi ramai banget. Jam pulangnya juga lebih cepat karena guru juga menghimbau para siswa agar tetap memaksimalkan jam belajar mereka di rumah untuk persiapan ujian.
“Gue duluan!” seru Devin sembari melambaikan tangannya pada Lily yang sedang mengeluarkan beberapa pita serta peralatan kerajinan lain dari tas.
“Oke semangat, Vin!” seru si cewek menyemangati temannya itu.
Devin dibebaskan dari tuntutan membantu kelas dalam persiapan lomba tentu saja karena cowok itu harus latihan karena waktunya semakin dekat, palingan kalau memang latihannya selesai lebih dulu dia baru membantu penghiasan kelas sedikit-sedikit.
Di sisi lain Sebastian sedang menahan diri untuk nggak memasang ekspresi aneh karena dia harus berdiri di sebelah Tasya yang entah sudah menghela napas berat ke berapa kalinya semenjak latihan di mulai. Cowok itu juga merasa nggak nyaman apalagi si cewek terang-terangan menatapnya sinis setiap mereka nggak sengaja bertatap muka.
Alfian yang sedang sibuk memotong-motong double tape untuk membantu salah satu teman sekelas mereka bahkan bisa merasakan tatapan minta tolong yang ditunjukkan Sebastian padanya dari tadi, cuma ia pura-pura nggak lihat saja. Toh sejak hubungan cowok itu dengan Tasya merenggang, Alfian juga jadi ikutan dimusuhi oleh si cewek.
Di waktu yang sama, Cherryl sedang memberikan arahan pada delapan orang kandidat Duta Putera dan Puteri sekolah, sebenarnya satu kelas bisa hanya mengirim satu pasangan tapi tahun ini ada dua kelas yang mengirim dua pasangan sebagai kandidat. Thomas berdiri di bagian depan ruang OSIS yang dialihfungsikan sebagai tempat berkumpulnya mereka sedangkan para anggota OSIS sendiri berada di aula untuk mengurus urusan properti dan lain-lain.
“Kalian semua kan udah gue masukin ke grup jadi untuk list peraturan, rundown acara, sama info-info lainnya kita share di situ. Buat hari ini kita jelasin dulu kalian harus mempersiapkan apa aja, kalo ada pertanyaan bisa langsung tanya ke gue atau Thomas. Jelas ya?” ujar Cherryl dan semuanya mengangguk.
Cherryl dan Thomas sebenarnya bisa mencalonkan diri lagi sebagai duta tapi mereka kapok, sudah nggak mau lagi karena jadi terlalu sibuk. Pengalaman untuk satu tahun aja udah cukup buat keduanya.
“Kak Cherryl buat pertunjukkan bakat gimana, aku nggak punya bakat…” ujar salah satu cewek dari kelas 10 IPS.
Thomas menyahut, “Boleh baca puisi kok, atau nyanyi atau main musik. Masa gak ada yang bisa?” katanya.
Si adik kelas berpikir sambil mempoutkan bibirnya, “Aku bisa makan, masa harus mukbang depan orang-orang sih Kak?” ujarnya yang membuat seluruh orang di ruangan tertawa.
“Udah gausah didengerin Kak dia mah emang rada-rada. Biar dia nyanyi aja, gue yang main gitar. Boleh collab kan, Kak?” ujar cowok yang merupakan pasangan kandidat cewek tadi.
Cherryl mengangguk, “Boleh kok yang mau kolaborasi tapi maksimal berdua aja biar gurunya gak kewalahan pas nilai.” jawabnya sembari membuka tutup botol air mineral lalu menenggaknya sebelum melanjutkan pembicaraan.
“Dulu Thomas juga main drum kan ya?” sahut Gaby, salah satu teman sekelas cowok itu.
“Hooh, keren banget pokoknya gue.” jawab si cowok lalu ditepuk pelan oleh si cewek cherry sambil tertawa.
“Kalo Kak Cherryl ngapain, Kak?” tanya salah satu cowok dari 10 IPA.
Yang ditanyai menggaruk tengkuknya pelan, “Gue dulu storytelling sih soalnya gapunya bakat hehehe.”
“Iya, pake bahasa Inggris.” sahut Thomas.
“Yah Kak itu sih masih bisa disebut bakat!”
“Oh iya kalian sempet-sempetin latihan dansa juga soalnya setelah pemilihan ada sesi dansa dan para kandidat yang mimpin duluan. Makannya gue udah tulis di situ kalau kalian nanti harus pake gaun buat yang cewek, yang cowok pake jas ya menyesuaikan aja.” sergah Cherryl untuk mengalihkan topik.
Para kandidat dari kelas 11 sih sudah tahu jadi mereka nggak kaget, tapi kandidat dari kelas 10 langsung menatap pasangan masing-masing dengan muka ogah, “Masa harus banget sih Kak, amit-amit banget dansa sama dia mah!” seru salah satu cewek yang berujung adu argumen dengan pasangannya.
“HAHAHAH Dulu gue juga gitu, jadi gak heran sih. Abis kepilih bareng Cherryl biasa aja, untung anaknya bisa diajak kerja sama gak kayak pasangan gue.” timpal Thomas yang membuat satu adik kelas mengangkat tangan untuk bertanya.
“Loh emang dulu pasangan Kakak bukan Kak Cherryl?”
Cherryl menggeleng, “Bukan. Kalian emang diajukan berpasangan tapi kan penilaiannya tetap masing-masing. Bisa aja yang kepilih beda kelas bahkan beda angkatan.” jelasnya.
Setelah itu pembicaraan berlanjut sampai waktu pulang, masing-masing menutup aktifitas dengan doa bersama sebelum berhambur keluar dari ruangan. Seperti biasa Cherryl langsung menemui Lily, Sebastian, Alfian dan Devin dan berkumpul untuk mengobrol sejenak.
Devin yang rambutnya masih basah dengan keringat mendudukkan diri di kursi kantin tempat mereka berkumpul, “Capek banget.” eluhnya.
“Hooh, mana panas cuacanya.” sahut Alfian.
Lily sedari tadi sibuk dengan ponselnya, mengirim pesan pada sang pacar yang memang jarang sekali ikut kumpul bareng mereka karena cowok itu punya lingkaran pertemanannya sendiri.
Sebastian mengunci layar ponselnya setelah membaca pesan yang dikirimkan sang bunda, “Bunda bikin bolu sama kue kering, nyuruh kalian mampir nih pada mau ga? Sekalian belajar bareng gitu?” ujarnya kemudian yang langsung mendapat tanggapan positif dari yang lainnya.
“Gas!”
🍪Cookie Jar🍪
Elhanan menggaruk pelan tengkuknya setelah mendudukan diri di kursi sebrang Gilang, cowok itu mengajaknya nongkrong bareng sore ini dan dia juga bilang akan datang bersama Anggara karena keduanya baru balik dari kampus. Cewek itu merasa lega karena dia nggak perlu repot-repot membuat alasan lagi untuk bertemu cowok itu, dia pun langsung membawa jaket denimnya untuk dikembalikan.
“Gue sama Angga udah pesen minum, lo mau apa?” tanya Gilang lalu Elhanan menjawab sekenanya saja.
“Eh gausah gue sendiri aja, Lang.” sela si cewek saat cowok itu berkata kalau dia yang akan memesankannya ke kasir, tapi Gilang tetap bersikeras akhirnya ia mengalah.
Cowok berhidung lancip itu melebarkan senyumnya sebelum beranjak, “Gue sekalian pesen makanan ya!”
Masalahnya sekarang Elhanan hanya berdua dengan Anggara yang sedari tadi terlihat nggak tertarik sama sekali untuk mengobrol, cowok itu terus menatap ponselnya.
“Ehem, Angga?” panggil si cewek pelan, memberanikan diri sembari meremat pelan paper bag di tangannya.
Si cowok mendongak lalu melebarkan matanya, “Ya?”
Elhanan mengangkat paper bag itu lalu menyodorkannya ke depan si cowok yang membuatnya menyatukan alis bingung, “Ini apa?” tanyanya.
“Ah itu, yang kemarin. Makasih ya lo udah mau minjemin jaket…Ini udah gue cuci kok jadi lo gaperlu cuci lagi. Sekali lagi makasih banget.” kata cewek itu berusaha untuk menjaga nada suaranya tetap stabil karena rasanya baru kali ini dia dan Anggara saling menatap dengan serius.
Cowok itu mengulurkan tangannya untuk membuka paper bag itu lalu dia mengulum bibirnya, “Ini kan bukan jaket gue.” katanya pelan.
Elhanan menganga, otaknya nggak bisa memproses apa yang dia dengar dengan benar. Dari muka cowok itu yang serius, nggak mungkin dia sedang bercanda kan?
“Eh? Terus kemaren kok lo yang jawab?”
Anggara menggaruk pelipisnya, “Itu karena gak ada yang jawab…”
“Oohh…” ujar Elhanan dengan nada pelan, dia sudah nggak tahu lagi dan nggak perduli kalau mukanya sudah memerah karena malu. Cewek itu bahkan sudah berpikiran yang aneh-aneh padahal jaket itu bukan milik Anggara, malu banget!
“Eum, jadi ini punya siapa?” tanyanya kemudian.
“Itu punya bang Farrel, kakaknya si Tian.”
TBC.