Cookie Jar

Cookie Jar
#31 Pacar Sebastian?



Cherryl mengerucutkan bibirnya sembari menghela napas dan menatap Lily, entah sudah berapa kali si cewek melakukannya. Lily sedari tadi ingin menghibur sang sahabat yang ketara sekali sedang berada dalam suasana hati yang tidak baik. Cewek berponi itu menyenggol lengan Cherryl lalu menunjuk buku-buku di hadapan mereka menggunakan dagunya.


"Fokus dulu, Cher. Mari gini kamu boleh curhat kalau tugasnya uwes selesai." ujarnya.


Si gadis cherry mengangguk lesu lalu kembali menggerakkan tangannya untuk mengerjakan tugas, keadaan begitu hening hingga suara pergerakan gagang pintu mengintrupsi atensi mereka. Sesaat kemudian kepala milik Sebastian muncul dari balik pintu, "Ryl, ada ayah Sam di bawah."


Mata Cherryl mendelik, cewek itu langsung bangkit dari duduknya dan menarik Lily untuk mengikuti Sebastian turun, "Ayah ngapain ke sini ya? Perasaan masih di luar kota." tanyanya pada Lily yang hanya menggedikkan bahu.


Di sisi lain, Bunda Laura dan Tasya sudah mendudukkan diri di ruang tengah bersama ayah Sam. Beliau datang membawa beberapa bungkus buah lokalan dan yoghurt botolan maupun cup aneka rasa sebagai oleh-oleh untuk keluarga Sanjaya.


"Yaampun Sam makasih banyak ya. Banyak banget oleh-olehnya." ujar bunda Laura sembari menerima barang pemberian ayah Cherryl itu.


"Ayahhhh..." seru Cherryl lalu berlari mendatangi ayah Sam yang langsung mengecup kening cewek itu dengan lembut.


"Eh yaampun Adek, hati-hati." ujar beliau lalu mengintruksikan Cherryl untuk duduk dengan benar.


"Ayah kok ga bilang-bilang mau pulang?" tanya Cherryl, sedangkan Lily dan Sebastian sudah ikut duduk bersama mereka.


"Ayah udah bilang kok sama Bunda, Adek malah nggak ada di rumah. Makannya Ayah sengaja kemari, ini sudah bawa jajan buat Adek juga nanti dibagi sama yang lain ya." balas ayah Sam sembari menyodori sang puteri tote bag berisi makanan dan minuman ringan, juga dua kotak strawberry kesukaan Cherryl.


"Asik banyak makanan, makasih Yah." balas Cherryl dengan girang lalu menyimpan tote bag itu di sebelah kakinya.


"Lily apa kabar?" tanya ayah Sam yang membuat cewek itu agak terkejut.


Lily menundukkan kepalanya sedikit lalu tersenyum, "Puji Tuhan baik, Om."


"Babas simpan barangnya ke dalam dulu ya, Bunda? Sekalian ngecek kue yang ada di oven." celetuk Sebastian yang langsung berdiri dan beranjak dari antara mereka menuju dapur membawa semua oleh-oleh dari ayah Sam.


Setelah itu ayah Sam mengalihkan pandangan pada Tasya yang duduk di sebelah bunda Laura, "Ini siapa? Pacarnya Sebastian?"


Keadaan hening sejenak sampai Tasya menunjuk dirinya, "Eh, saya? Saya Tasya, Om." ujar Tasya lalu mengulum bibirnya.


Bunda Laura tertawa lalu merangkul pundak cewek itu, "Cocok kan, Sam?" kata beliau lalu si cewek bersurai panjang itu hanya tersenyum sambil tersipu.


Jangan ditanya lagi bagaimana perasaan Cherryl saat ini, cewek itu kembali diam seperti batu walau wajahnya masih bisa dikondisikan agar tidak terlalu kelihatan kalau dia tidak senang dengan apa yang didengarnya barusan. Si gadis cherry langsung meraih tote bagnya lalu berdiri, "Erryl sama Lily ada tugas, balik ke atas dulu ya Ayah, Bunda."


Lily ikut berdiri saat namanya disebut oleh Cherryl, gadis itu menunduk kecil lalu mengikuti langkah sahabatnya yang entah sejak kapan menjadi cepat sekali bahkan dia tidak bisa menyusul hingga sampai di kamar Sebastian.


"Ryl, ngomong o tah. Jangan diem terus." ujar Lily sembari menatap pergerakan Cherryl menuju pintu dan menguncinya.


Cherryl menatap Lily lalu tersenyum muram, "Emang gue harus ngomong apaan?" katanya lalu menggaet lengan Lily hingga duduk di atas karpet, ke tempat mereka mengerjakan tugas tadi. Gadis cherry itu menelisik isi tote bag dan mengeluarkan beberapa makanan ringan dari sana.


"Nih makan, mending cepet dikerjain tugasnya biar bisa bantu Bunda bikin kue." kata Cherryl lagi sembari menyodorkan Lily sekotak biskuit.


Lily mengambil kotak biskuit itu lalu menyimpannya ke samping, dia mendekati Cherryl lalu menepuk pelan pundaknya.


"Kalau mau nangis jangan ditahan, Cher. Gak apik." katanya lembut.


Cherryl menatap sahabatnya itu dengan mata bulat, dia gagal lagi. Air matanya mengalir begitu saja walau sudah dia tahan kuat-kuat. Cewek itu memeluk Lily erat sambil terisak.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hari semakin malam, bunda Laura sudah menyelesaikan belasan toples kue pesanan yang dibantu oleh Tasya, Sebastian, Cherryl dan Lily. Kini mereka berkumpul di ruang tengah sembari menyantap kue dan teh hangat sebelum Sebastian mengantar Tasya dan yang lainnya pulang.


Cherryl mengeluarkan sekotak strawberry dari tote bag lalu membukanya, cewek itu menggeser kotak setelah mengambil beberapa buah untuknya dan Lily, "Ayah bilang suruh bagi-bagi." katanya.


"Gue ada alat buat nyabut daunnya, bentar." celetuk Sebastian lalu beranjak pergi.


Bunda Laura mengambil kotak itu dan menyodorkannya pada Tasya, "Ambil yuk, Cherryl biasanya gak mau bagi-bagi kalau urusan strawberry kesukaannya loh." kata beliau lalu terkikik, Cherryl ikut tertawa kecil sebagai formalitas.


"Dimakan, Kak." lanjutnya kemudian.


Tasya mengambil satu buah lalu menggigit ujungnya, mata cewek itu menyipit seiring dengan senyum manis yang merekah di wajahnya, "Wah, manis banget. Makasih Cherryl."


Sebastian kembali muncul membawa alat penyabut daun strawberry, cowok itu mengambil satu buah lalu mencabutkan buahnya untuk bunda Laura. Setelah itu Tasya ikut menyodorkan sebuah pada si cowok, "Gue juga dong."


Cowok bungsu keluarga Sanjaya itu dengan sigap melakukan apa yang Tasya pinta, setelah itu dia menatap Cherryl, "Punya lo juga?" tanyanya, tapi Cherryl menggeleng.


"Lily?"


"Ndak Mas, maturnuwun. Nanti aku sendiri aja." sahut Lily.


Melihat Cherryl yang sedari tadi murung sembari menarik satu persatu daun di strawberry di tangannya membuat cowok itu gemas, dia mengambil alih buah itu tanpa aba-aba dan mencabutkannya untuk si cewek.


"Mukanya jangan di tekuk-tekuk gitu, jelek. Nih makan yang bener." ujarnya, Cherryl menggigit strawberry itu dengan cepat tanpa menghiraukan cowok di sampingnya.


Bunda Laura tersenyum, "Cherryl capek ya? Babas, abis ini kamu siapkan mobil buat ngantar mereka balik sebelum terlalu malam."


Cherryl kembali memaksakan senyum, "Hehe, keliatan ya Bund?" katanya. Sedangkan Sebastian hanya mengangguk, mengiyakan titah sang bunda tadi.


Tepat satu jam kemudian mereka sudah sampai di depan rumah keluarga Gunawan setelah mengantar Lily ke rumah cewek itu. Cherryl melenggang turun dari atas mobil, badannya lunglai seperti balon bocor. Tapi dia masih menyempatkan diri berbalik lalu melambai, "Makasih, hati-hati nyetirnya."


Tasya yang menjadi penumpang terakhir ikut melambai pelan, "Dah, Cherryl.."


Sebelum Cherryl membalikkan badan, Sebastian mencekal tas cewek itu pelan, "Jangan lupa sikat gigi, tadi abis makan manis-manis."


Si cewek cherry menoleh, memandangi cowok itu tak suka, "Ya. Cepet pergi sana, kasian Kak Tasya." katanya lalu beranjak pergi memasuki pekarangan rumahnya.


Tasya bungkam, cewek itu tidak berminat untuk menanyakan alasan kenapa Sebastian masih bergeming di tempatnya, menatap lurus ke arah pintu di mana Cherryl menghilang. Beberapa saat kemudian dia menoleh pada Tasya lalu kembali menyalakan mobil, "Sekarang ke rumah lo, ya."


.


.


.


TBC.