
Suara dengingan kencang terdengar dari speaker utama sekolah, membuat semua orang meringis karena suara itu menusuk telinga mereka secara tiba-tiba. Setelahnya, dilanjutkan oleh sebuah suara dehaman pelan, “Ehem, hai semua, ini Yeremia. Karena udah lewat empat puluh lima menit dari sesi pertama tadi, gue mohon semua partisipan lomba yang udah dipilih per kelas bisa kumpul duluan di lapangan supaya nanti panitia bisa cross check daftarnya. Lima belas menit lagi semuanya ikut kumpul juga ya. Makasih.”
Tasya yang sedari tadi mendudukkan diri bersama Gina dan Elena di kantin sekolah langsung menatap satu sama lain, “Males gue sebenernya.” katanya.
Ketiga cewek itu dipilih secara sepihak oleh wali kelas mereka untuk menjadi perwakilan kelas dalam lomba rias wajah, sebenarnya masih ada satu cewek lagi yaitu Karsih tapi dia entah ada di mana saat ini.
“Ayok, gue dandanin lo yang cantik nanti, Sya. Biar si Babas jatuh hati,” ujar cewek yang lebih kerap disapa dengan Lena itu sembari menarik lengan Tasya agar mau berdiri.
Bukannya menyahut dengan riang, Tasya malah menekuk wajahnya, “Gausah bawa-bawa dia dulu deh, tambah gak mood gue ah.”
“Lah berantem kalian? Tumben amat.” celetuk Gina sembari menyondongkan wajahnya ke hadapan muka cewek itu.
Tasya tidak menjawab, melainkan mempercepat langkahnya sembari menarik lengan Elena ke arah lapangan di mana banyak orang sudah berkumpul. Cewek itu merasa sangat sial karena baru saja melangkahkan kaki menginjak rumput lapangan, Sebastian malah jadi sosok pertama yang indra pengelihatannya tangkap. Mana cowok itu terlihat ganteng banget, Tasya jadi sebal sendiri melihatnya,
“Katanya marahan, jangan diliatin terus dongg…” goda Gina lalu menyikut teman sekelasnya itu.
“Siapa yang liatin dia? Udah ah ayo kumpul aja.”
Yeremia selaku ketua panitia lomba menginstruksikan para perserta untuk berbaris sesuai lomba masing-masing, agar panitia inti bisa langsung memeriksa daftar hadir dan menjelaskan secara singkat soal peraturan dari lomba yang akan mereka lakukan. Semua dibuat secara bersamaan supaya tidak membuang-buang waktu.
Alfian dan beberapa cowok lain yang diikutsertakan dalam lomba sepak bola sudah siap dengan baju kaus dan celana olah raga mereka, tak dipungkiri kalau para cowok itu merasa keren karena hari ini akan bermain bola di depan seluruh warga sekolah.
“Nanti gue siram kepala buat selebrasi ah, ada yang bawa air gak?” tanya Gama yang langsung mendapat geplakkan pelan di kepalanya oleh Jeremy.
“Belom juga mulai udah mikirin selebrasi.” cibirnya, menguncang teman-teman mereka untuk tertawa.
Mischa selaku salah satu panitia inti dari lomba sepak bola berdiri di hadapan cowok-cowok itu dan menepuk tangannya tiga kali supaya mereka hening dan memerhatikannya, “Udah semangat banget nih kayaknya yang mau main bola?” ujarnya.
Para cowok itu langsung heboh, tapi setelah itu si cewek tersenyum lebar, “Kalian abis ini ikut Kak Lio ya buat siap-siap. Soalnya kalian yang pertama. Semangat, semangat!”
Lio mengarahkan mereka untuk mengikutinya ke ruang ganti sedangkan Mischa menatap rekan-rekannya yang lain lalu tertawa kencang, “Haha anjir gak sabar buat liat mereka tanding.”
Beberapa saat kemudian semua siswa sudah mendudukkan diri di sekitaran lapangan, ada juga yang berdiri, semaunya dan senyamannya mereka deh. Para peserta lomba lain juga berkumpul di sisi lapangan bersama panitia inti masing-masing. Setelah itu Yeremia dan Asya berjalan ke tengah lapangan yang sudah dipasangi gawang sepak bola di kedua ujungnya.
“Halo temen-temen!” teriak Asya, menggelegar karena cewek itu memakai pengeras suara.
“HALOOOO!!”
Yeremia buka suara, “Sekarang seperti yang kalian tau kita bakal masuk ke sesi kedua dan sesi yang paling kalian tunggu-tunggu yaitu Lomba Tujuh Belas Agustus! Nah secara singkat gue bakal sebutin lomba apa aja yang akan kita lakuin hari ini. Yang pertama ada Sepak Bola, terus Sepeda Lambat, ada Makan Kerupuk juga, ya basic lah. Abis itu ada lomba Merias Wajah, dan yang terakhir kita bakal seru-seruan bareng dengan Estafet Air dan Tepung! Gimana, kalian udah penasaran belum nih?!” jelasnya dengan suara lantang.
“IYAA!!”
“Haha oke kalau begitu ayo kita mulai lomba pertama yaitu Sepak Bola. Eits, tapi bukan sepak bola biasa lohh! Silahkan para pemain masuk ke lapangan, jangan malu-malu begitu dong!” ujar Asya lalu keadaan menjadi hening beberapa saat.
“LAH? HAHAHAHAHAH APA-APAAN?!” celetuk salah seorang cewek dari keramaian saat satu per satu cowok yang mengikuti lomba sepak bola berjalan ke lapangan dengan muka tertunduk, setelah itu suasana menjadi riuh banget dan semuanya tertawa lepas.
“Sialan gue udah mikir mau selebrasi biar keren malah begini!” bisik Gama, membuat Alfian yang berjalan di belakangnya menendang pelan kaki cowok itu sebagai isyarat untuk menutup mulut.
Di sisi lapangan, Cherryl yang mendudukkan diri bersama Sebastian, Lily, Devin dan Andre sudah ngakak sampai-sampai kesusahan bernapas. Cewek itu menggelayut pada lengan Bastian yang juga tertawa kencang, “Hahah, hahaha! Capek bangetttt…”
“A-aduh, Mas. Sampek ngelu ndasku.” ujarnya sambil terengah-engah.
“UDAH UDAH, UDAHAN KETAWANYA!” seru Asya yang membuat gelak tawa di sepenjuru lapangan mereda.
“Bisa kita liat teman-teman kita yang udah pada cantik dengan kostum andalan para ibu rumah tangga, ayo kita mulai lomba pertamanya yaitu Sepak Bola Daster!”
Semua pemain berjalan ke posisi masing-masing dengan langkah pendek karena daster emak-emak yang mereka pakai, para cowok itu terlihat malu dan banyak yang menggerutu karena tadi Lio membawa mereka ke ruang ganti dan mengeluarkan dua lusin daster bermotif batik yang sudah menjadi seragam dinas para ibu di rumah sehari-hari. Mau ditaruh mana muka mereka setelah ini?! Walau banyak yang mengeluh tapi mereka semua masih bisa diajak berkoordinasi dan tetap semangat untuk lomba.
“Satu, dua, tiga, mulai!”
🍪Cookie Jar🍪
Cherryl melambaikan tangannya pada sosok Rosa yang bertanding mewakili kelas mereka dalam lomba Sepeda Lambat. Para panitia sudah membuat jalur kecil menggunakan tali rafia sejumlah peserta yang bermain.
“Nah karena udah pada di posisinya kita mau jelasin sekali lagi peraturan dalam lomba ini. Jadi kalau biasanya kita lomba cepet-cepetan sampai di garis finish, sekarang kebalikannya. Peserta harus mengayuh sepeda sepelan mungkin tanpa jatuh, dan pemenangnya adalah peserta yang palingggg terakhir sampai di garis finish. Ngerti ya?!”
Para peserta mengangguk cepat sebagai tanggapan sedangkan setiap murid lain menyoraki teman mereka, memberi semangat. Setelah lomba sepak bola tadi, keadaan semakin ceria saat memulai lomba kedua ini.
“Kalau Lily udah kalah kali ya lo kan kalo naik sepeda kenceng banget!” ujar Cherryl sembari mengaitkan lengannya ke lengan Lily yang mengangguk setuju.
“Iya ya, soalnya kalau gowesnya lama pasti jatuh aku.” jawabnya.
Setelah itu Yeremia mengintrupsikan agar lomba segera dimulai dan satu per satu peserta langsung mengayuh sepeda mereka selambat mungkin. Baru beberapa detik, Titus yang merupakan perwakilan kelas 10 IPS sudah kehilangan keseimbangan dan didiskualifikasi oleh panitia, membuat teman sekelasnya berseru kecewa.
“Yah, baru mulai udah jatoh aja lo, Titus!” ujar Asya sembari membantu cowok itu berdiri dan menyeretnya ke tepi agar tidak mengganggu yang lain.
Devin, Lily, Cherryl dan anak kelas 10 IPA lain bertepuk tangan dengan heboh karena sejauh ini Rosa dapat bertahan di posisi terakhir dan menjaga keseimbangannya dengan baik. Dia hanya harus menunggu yang lain sampai terkelebih dulu dan menyusul ke garis finish tanpa terjatuh agar dapat dinyatakan sebagai pemenang yang sah.
“Rosa! Rosa! Rosa!”
“DARA AYO WEI JANGAN CEPET-CEPET!” seru Vino dari antara anak cowok kelas 12 IPS yang membuat cewek itu menoleh dan terjatuh tiba-tiba karena kehilangan fokus.
“YAHHHH…”
Kalian mungkin tahu apa yang terjadi pada Vino yang langsung diserang dengan tepukkan di kepalanya oleh anak-anak lain, sedangkan Sebastian yang duduk terpisah hanya menghela napas frustasi sambil menggelengkan kepalanya, “Vino, Vino…” eluhnya.
“Lo nyemangatin atau sengaja nih Vin?!” seru Yeremia menggunakan pengeras suara, sedangkan yang ditanya hanya menyengir tanpa dosa dan berakhir mendapat cibiran pedas dari anak-anak cewek.
“Cowok mulut lemes lo mah, diem aja deh!” seru mereka, yang malah membuat tawa pecah di lapangan itu sedangkan lomba tetap berlanjut.
TBC.
Jangan lupa vote dan comment kalau kalian suka Cookie Jar, terima kasih!