Cookie Jar

Cookie Jar
#6 Phobia



Sebastian menjawab pertanyaan Lily sembari menyampirkan selimut hingga bagian lutut Cherryl karena cewek itu hanya mengenakan dress yang lumayan pendek.


"Cherryl kenapa ini?" tanya seorang wanita paruh baya yang masuk bersama seorang pria, mereka adalah guru yang baru saja datang dan langsung dikejutkan oleh suara ribut dari siswa-siswa yang berkumpul di depan ruang kesehatan.


"Bu Rita, ini Bu Cherryl sesak napas gara-gara lihat darah." sahut Lily.


Ibu Rita mendekati Cherryl yang tubuhnya masih bergetar, "Cherryl, Sayang...Tenang Nak,"


"Kok bisa sampai seperti ini?" tanya guru satunya lagi yang sering disapa dengan pak Andrew.


"Dia kalau kumat ya begini, Pak. Dari kecil." jawab Sebastian yang sudah mundur beberapa langkah untuk memberikan ruang pada para guru.


"Kalau acaranya mau dilanjutkan gapapa, Bu. Saya yang nungguin dia di sini, lagian sebentar lagi Abangnya datang." ujar Sebastian lagi saat melihat hari yang semakin malam.


"Gapapa ini beneran?" tanya pak Andrew yang berdiri di samping bu Rita.


"Cherryl sudah agak tenang kok, Pak. Biar saya sama Mas Tian aja yang jaga." timpal Lily.


Akhirnya mereka memutuskan untuk melanjutkan acaranya, kan tidak adil kalau acara batal begitu saja. Lagipula keadaan si cewek sudah mulai membaik saat ini. Semuanya segera beranjak kembali ke aula untuk melanjutkan acaranya. Termasuk Tasya yang wajahnya sudah merengut karena kesal. Sekarang hanya ada Sebastian, Lily dan Dion di dalam sana.


"Dek udah ah jangan gitu...Jangan diingat." kata Sebastian seraya memijat pelan lengan Cherryl yang napasnya masih terputus-putus walau sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya.


"Yatuhan Ryl maafin Kakak," ujar Dion yang berdiri di sebelah Sebastian.


"A-abang..." ujar Cherryl pelan lalu meremas tangan Sebastian.


"Iya Abang udah dijalan, Erryl tenang, ya?" jawab si cowok, ia mengusap kening sahabat kecilnya itu dengan lembut.


Sungguh deh, sejahil-jahilnya Sebastian sama Cherryl dia tidak benar-benar bermaksud untuk menyakitinya. Sebastian sayang sekali sama cewek itu, sudah seperti adiknya sendiri. Melihat si cewek begini membuat jantungnya berdegup kencang karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan, bahkan ia sudah memanggil Cherryl dengan panggilan 'Adek' yang menandakan Sebastian khawatir sekali. Biasanya dia tidak pernah memanggil Cherryl seperti itu kalau dalam keadaan biasa. Ditambah lagi dia sudah diberi kepercayaan oleh ayah Sam untuk menjaga puteri bungsu beliau.


Benar saja, tak selang beberapa lama Anggara datang dengan tergesa, ia sendirian karena Irina diam di rumah untuk menunggu Ayah Sam dan bunda Sena yang sedang pergi dan tidak membawa kunci cadangan. Cowok itu berjalan masuk dan menghampiri si bungsu lalu menenangkannya.


"Cherryl, ini Abang...Cherryl jangan nangis lagi, Dek." kata Angga seraya menggenggam tangan adiknya.


Sebastian dan Lily membantu Angga untuk menempatkan bantal di bawah kepala Cherryl agar gadis itu bersandar sedangkan Angga mengangkat tubuh si cewek.


"A-bang...Sakit..." lirih Cherryl pelan.


Angga mengangguk, "Iya iya, Abang tau. Makannya jangan diingat-ingat terus nanti tambah sakit."


"Gue kira Erryl sudah di terapi, Bang." ujar Sebastian.


Angga menatapnya, "Memang udah tapi nggak bertahan lama. Beberapa bulan setelah itu dia kambuh lagi."


Beberapa menit kemudian napas Cherryl mulai teratur dan tubuhnya sudah tidak kaku. Bahkan gadis itu terkulai lemas di atas ranjang dengan mata tertutup, dia terlelap.


"Aneh-aneh aja kamu, Dek, Dek." ujar Angga lalu mengecup pelan kening adik kesayangannya itu.


"Uwes ndak papa ini, Mas?" tanya Lily.


"Iya, kalau sudah tidur begini artinya sudah gapapa." jawab Anggara.


"Untung deh," sahut Dion.


"Kalian kan ada acara, masuk sana. Biar gue di sini." suruh Angga pada mereka.


"Yakin ta, Mas?" tanya Lily lagi.


"Hooh udah sana, makasih ya." jawab Angga.


"Kita pergi dulu, Bang." ujar Dion yang merasa tidak enak pada Angga, cowok itu berjalan keluar bersama Lily yang langsung masuk ke aula dan menghampiri pacarnya.


Sebelum Dion pergi, Sebastian menahan lengannya, "Gue titip Tasya, bilang ke dia maaf gue gabisa ikut acara. Makasih, Di."


Dion menangguk, "Iya."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Pintu rumah milik keluarga Gunawan dibuka lebar oleh Irina saat melihat kedua adiknya serta Sebastian sudah datang. Anggara menggendong si bungsu ala bridal dan membawanya masuk, diikuti Sebastian di belakangnya.


"Ya Tuhan, Cherryl. Sudah tenang dari tadi ini?" tanya Irina yang membawa segelas air masuk ke dalam kamar Cherryl yang masih tertidur.


"Iya, Kak. Tadi pas sudah tidur langsung dibawa pulang." jawab Sebastian.


Irina menyimpan gelas itu di atas meja nakas lalu mendekati Cherryl, cewek itu mengusap dan membenarkan rambut adiknya yang sudah berantakan juga basah oleh keringat.


"Kok bisa sampai kambuh, Erryl lihat darah di mana, Bas?" tanya Irina lagi.


Sebastian mendudukkan diri di tepi ranjang, "Tadi pas mau masuk gerbang sekolah, nggak sengaja Dion ngelindas kucing sampai mati, Kak. Cherryl keluar juga terus lihat itu. Langsung lemas dan sesak sampai wajahnya pucat."


"Sudah jarang dia sampai sesak begini, biasanya cuma pusing sama mual. Paling parah langsung lemas aja." kata Irina.


"Sorry ya Bas, ngerepotin banget. Sampek lo ga ikut acaranya gini." kata Angga.


"Ga penting itu, Bang. Lo tau sendiri Cherryl lebih penting buat gue." jawab Sebastian, Anggara yang mendengar itu tersenyum lalu menepuk pundak cowok di sampingnya.


"Makasih udah jagain Erryl, Bas." katanya lalu Sebastian mengangguk.


"Kamu kelihatannya gerah banget, Bas. Sampek keringetan begitu, mending minjam bajunya Angga dulu." kata Irina.


"Gak apa-apa, Kak. Bentar lagi juga mau pulang, sudah malam." jawabnya.


"Ganti aja, Bas. Biar lebih enak. Bentar gue ambilkan." kata Anggara lalu keluar dari kamar.


"Istirahat dulu ya, Kakak mau ambil air." ujar Irina yang ikut keluar dari kamar setelah Sebastian kembali mengangguk.


Cowok itu berdiri dan duduk berlutut didekat Cherryl, "Pantes tadi perasaan gue kaga enak." monolognya seraya mengusap kepala si cewek.


"Lo nggak berubah ya, dari dulu gini terus. Sudah bikin orang panik dan khawatir setengah mati, langsung tidur nyenyak banget." katanya lagi lalu tertawa pelan.


Sebastian menoleh saat Irina dan Anggara sudah kembali. Keduanya menyodorkan kaos dan segelas air pada cowok itu.


"Makasih Bang, makasih Karin." ujarnya lalu menenggak segelas air yang diberikan Irina dan berjalan masuk kedalam kamar mandi untuk mengganti jas yang ia kenakan dengan kaos milik Angga.


"Nggak nginap aja, Bas? Rumah kamu jauh loh." tawar cewek yang biasa dipanggil Karin yang merupakan singkatan untuk 'Kak Irina' itu. Panggilan sayang dari Cherryl sebenarnya, cuma Sebastian jadi suka ikut-ikut memanggil begitu.


"Hooh, mumpung besok Sabtu, 'kan? Libur." sahut Anggara.


Sebastian menggaruk pelan tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal, "Yasudah Babas telfon bunda dulu deh."


.


.


.


.


.


TBC.


Jangan lupa vote dan comment!!


Thank you!!