
"Loh, Devin?"
Cherryl dan Lily mengangkat kedua alis mereka saat menjumpai sosok Devin berdiri di pintu masuk ruang dance sekolah, menatap lurus ke orang-orang yang sudah berkumpul di dalam sana. Cowok itu tampak terkejut dan berusaha untuk lari, tapi langkahnya terhenti saat Cherryl menyelanya.
"Jangan maksain diri lo untuk berhenti ngelakuin apa yang lo suka, gue gatau apa masalahnya tapi gue tau lo nolak karena suatu alasan, Dev."
Si cowok menoleh sejenak, menatap cewek cherry yang benar-membuatnya kalah telak, "Gue pergi dulu," katanya lalu melangkah pergi.
Cherryl menatap Lily lalu menghela napas, "Hari ini harus dikumpulin daftarnya, terpaksa gue rekrut Jordan karena dia emang mengajukan diri." katanya seraya berjalan masuk ke ruang dance beriringan dengan Lily.
Tuk!
"Ih siapa sih!" pekik cewek itu kesal saat remukan kertas mendarat dengan mulus di kepalanya.
Lily mengambil kertas itu lalu membukanya, "Loh, Ryl. Ini dari Devin."
.
.
.
.
.
🍪Cookie Jar🍪
.
.
.
.
.
Cherryl menangkap sebotol air mineral yang dilemparkan Sebastian padanya, keduanya saat ini berada di lapangan indoor sekolah untuk menunggu Devin yang tadi meminta si cewek datang ke sana karena ada sesuatu yang disampaikan. Lily sudah pulang karena cewek itu diminta pulang cepat oleh sang ibu. Jadinya Sebastian yang menemani Cherryl sekarang.
"Thanks," ujar si cewek cherry lalu meminum airnya.
Sebastian mendudukkan diri di sebelah Cherryl dan ia celingak-celinguk melihat ke sekitar, "Lo yakin dia dateng?"
Yang ditanyai langsung menggedikkan bahunya, "Entah, gue juga gak yakin. Tapi tunggu aja sebentar lagi."
"Oke, tapi 5 menit lagi dia gak dateng, kita pulang ya. Dia udah telat hampir satu jam dari yang dijanjiin loh." jawab Sebastian lalu membaringkan tubuhnya karena lelah setelah membantu panitia lain menyiapkan peralatan untuk perlombaan dan acara perayaan nanti.
"Ih Seb!" pekik Cherryl saat tangan si cowok jahil menoel-noel pinggangnya.
"Dih masih gelian," ujar Sebastian yang malah melanjutkan aksinya.
Plak!
"Buset sakit amat!" kali ini Sebastian yang memekik karena tangannya dipukul keras oleh si cewek hingga memerah.
Setelah itu dia langsung mengambil tangan Cherryl dan mengamati telapak tangannya, "Pantesan aja garisnya lurus nih." katanya.
"Ya Tuhan ada ya bocah New York percaya takhayul kek lo!" ujar Cherryl seraya mendorong pelan dahi Sebastian dengan telunjuknya.
"E-eh,"
Cewek itu terdiam saat tiba-tiba Sebastian menggenggam tangannya yang masih berada tepat di depan wajah si cowok yang sekarang tengah menatapnya dalam diam.
"G-gue lebih tua, tau!" ujar Sebastian kemudian melepaskan genggamannya.
Cherryl berdeham pelan, "I-iya maaf, kebiasaan..."
"Ohiya, lo belom makan kan? Abis ini makan dulu, gue traktir." ujar Sebastian kemudian setelah hening beberapa saat di antara mereka.
Cherryl hanya manggut-manggut setuju saja. Lalu atensi mereka teralih pada suara langkah kaki cepat dari pintu ruangan itu.
Devin mempercepat larinya hingga sampai di hadapan Sebastian dan Cherryl, "S-sorry banget tadi gue masih dipanggil Pak Indra..."
Kedua orang di depannya itu hanya mengangguk dan mempersilahkan dia duduk.
"Lo, mau ngomong apa?" ujar Sebastian langsung to the point.
"Ah, itu...Masalah ajakan lo kemaren, Ryl..." jawab Devin seraya memegang tengkuknya.
"Kenapa?" sahut Cherryl.
"Gue, gue takut–"
"Hah? Takut kenapa dah?" ujar Sebastian yang langsung disenggol oleh Cherryl karena cowok itu bereaksi seenaknya saja, mana telinganya pengang karena si cowok bicara tepat di telinganya.
"Lo boleh cerita kok, Dev. Gapapa." lanjut si cewek cherry.
"Aduh, gue gak biasa cerita-cerita sama orang begini..." jawab Devin.
"Lo di kelas juga diem terus, sih. Jadi wajar..." ujar Cherryl.
"Kalo mau cerita silahkan aja, gue sama Cherryl bisa jaga rahasia kok." kata Sebastian.
Akhirnya Devin mengangguk, "Gue udah lama nggak ngedance."
"Sejak lulus SMP."
"Soalnya...Salah satu temen gue, kakinya cidera gara-gara jatuh dari panggung pas latihan."
Huuh, mulutnya Sebastian tidak bisa diam. Cherryl jadi gemas!
"Ah, anu–"
"Dia cidera gara-gara gue."
.
.
.
.
.
🍪Cookie Jar🍪
.
.
.
.
.
Anggara menepuk pelan puncak kepala sang adik yang termenung sendirian di sofa ruang keluarga. Matanya menatap kosong ke depan, dengan satu cup ice cream yang sudah mulai mencair di genggamannya.
"Woi bocil!"
Cherryl mengedip-ngedipkan matanya lalu menoleh menatap sang abang, "Iya, ada apa Bang?"
"Tumben kaga ngamuk dipanggil bocil, " kata Anggara lalu duduk disebelah Cherryl dan mengambil cup ice creamnya.
"Lagi mikirin apa sih, Dek?" tanya cowok itu lagi karena adiknya bersikap lain.
Yah, biasanya Anggara akan langsung kena semprot karena mengambil makanan kesukaan cewek itu. Tapi kali ini dia dengan senang hati membiarkan sang kakak melakukannya.
"Abang."
"Apaan?"
"Cherryl ada temen, dia katanya dulu suka dance gitu. Tapi dia berhenti ngedance karena ngerasa bersalah sama temen yang jadi cidera sampek nggak bisa ngedance lagi karena itu..." ujar Cherryl lalu menatap sang kakak.
"Menurut Abang itu salah, nggak?" lanjutnya.
Anggara menyimpan cup ice creamnya keatas meja, "Kalau Abang jadi dia, kemungkinan Abang juga begitu. Abang pasti ngerasa bersalah banget sama teman yang sudah nggak bisa ngelakuin hal yang dia suka gara-gara diri kita sendiri."
"Seakan, Abang menjadi penghancur mimpi orang lain." tambah Anggara kemudian.
"Tapi, dia juga pasti kangen buat ngedance lagi." kata Cherryl.
Anggara mengangguk, "Yah, hal kayak begitu pasti berat buat dirinya juga."
"Kalau temannya sudah memaafkan, apa salah kalau dia tetap menyalahkan diri sendiri, Bang?" tanya si cewek cherry lagi.
Puk! puk!
Anggara menepuk pelan puncak kepala Cherryl lalu mengusapnya.
"Penyesalan juga ada batasnya, Dek. Kalau yang dirugikan saja sudah memaafkan, apa gunanya menyesali terus? Coba kamu bicara sama temanmu itu, belajar untuk mengikhlaskan sesuatu yang sudah terjadi." nasihat Anggara pada Cherryl yang sepertinya ikut kepikiran terus karena masalah Devin.
Menurutnya, Devin juga bisa meneruskan kesukaannya itu. Pasti bisa.
"Iya, Bang. Besok Erryl bakal bicara sama dia. Makasih ya Ang'ga.."
"Sama-sama. Udah Erryl jangan ikut murung begini. Ice creamnya mending disimpan balik ke kulkas, sudah cair tuh." kata Anggara, lalu Cherryl menurut dan segera pergi ke dapur untuk menyimpan cup ice cream miliknya.
"Ah iya, kayaknya gue harus cerita ini sama Lily juga." gumam Cherryl lalu pergi ke kamarnya.
Cewek itu mendudukkan diri di meja belajar lalu membuka ponselnya. Setelah menchat Lily, dia mengambil pensil untuk menulis pengingat di note untuk ditempelkan di meja itu seraya menunggu balasan.
"Aih pake jatoh segala," gerutu si cewek saat pensilnya jatuh dan menggelinding.
Mau tak mau Cherryl langsung turun dari kursi dan merangkak masuk ke bawah meja untuk mencari pensilnya.
"Eh, apanih?"
Cewek itu bergumam lalu kembali duduk di atas kursi seraya memegang note kecil yang ia temukan tadi.
"Inikan tulisannya Sebby?"
.
.
.
.
.
TBC.