
Sebastian menaikkan alisnya terkejut saat melihat sosok Lily yang membukakan pintu untuknya saat ia menekan bel rumah keluarga Gunawan.
"Oh, Lily. Lagi main di sini?" tanya si cowok seraya melangkah masuk ke dalam membawa sebuah kantung plastik berisi cokelat batangan dan ice cream yang sudah ia beli untuk Cherryl waktu itu.
"Iya, Mas. Mau nginap." jawab Lily lalu membuntuti Sebastian.
"Sepi banget rumahnya,"
"Iya kata Cherryl Mas Angga sama Mbak Rina masih belum pulang dari gereja, ada rapat lagi. Kalau Bunda kayaknya ada di kamar." sahut Lily lagi yang membuat Sebastian mengangguk-anggukan kepalanya paham.
"Kalo Cherryl ke mana, Ly?" tanyanya kemudian seraya berbalik, menatap Lily yang berdiri di belakangnya.
"Dia di kamar, Mas. Kebetulan aku turun buat ngambil minum tadi. Eh Mas Sebastian datang." jawab si cewek.
Sebastian mengangguk pelan, "Okedeh. By the way, gue nyimpen ini di dulu ya. Tolong bilangin ke Cherryl kalo gue dateng. Makasih, Lily."
Lily tersenyum lalu beranjak pergi, ke kamar si cewek cherry yang sedang berguling-guling di atas kasur karena bosan.
"Ryl ada Mas Sebastian tuh, bawa makanan." kata Lily yang membuat Cherryl menatapnya lalu menegakkan duduk.
"Bawa makanan? Yesss, tau aja gue butuh cemilan." kata cewek itu seraya segera turun dari ranjang dan menggaet lengan Lily lalu mengajaknya ke lantai bawah.
Kebetulan stok makanannya sudah habis, terima kasih pada Anggara dan Irina yang sudah dengan senang hati menghabiskan ice cream dan cokelat milik cewek itu tanpa izin.
Sedangkan disisi lain Sebastian yang sedang sibuk menata makanan yang ia bawa ke dalam kulkas dikejutkan dengan tepukkan pelan di pundaknya.
"Eh, Bunda. Babas kaget, dikira siapa." kata Sebastian lalu menyengir.
Bunda Sena tertawa, "Kamu ini, Bunda juga kaget ngelihat kamu."
"Hehe, maaf Bun. Ini cepet-cepet soalnya takut cair." kata Sebastian seraya menunjuk ice cream tempatan yang sudah ia susun didalam freezer.
"Ya Tuhan, banyak banget, Bas. Kamu kemarin sudah beliin Cherryl banyak barang, Bunda juga sampai dibelikan martabak manis. Ngerepotin terus," ujar bunda Sena.
Si cowok menggeleng, "Enggak kok, Bun. Ini emang udah lama Babas beli, lupa aja mau dibawa kemari. Enggak ngerepotin."
Bunda Sena tersenyum lalu mengusap pelan puncak kepala Sebastian, "Makasih ya, Bas. Kamu sudah baik dan sayang sama Cherryl, sudah jagain Cherryl terus."
"Ah gapapa, Bun. Itu sudah kewajiban Babas karena Erryl sudah Babas anggep adik sendiri." jawabnya.
"Yasudah, Bunda mau ke atas dulu ya. Ada kerjaan." bunda Sena mendaratkan dua tepukan pelan di pundak Sebastian sebelum beranjak pergi, tetap dengan senyuman beliau yang meneduhkan.
Tak lama kemudian Sebastian sudah selesai dengan urusannya, ia menutup pintu freezer lalu berbalik. Netranya langsung menatap sosok Cherryl yang berlari kecil ke arahnya, serta Lily yang berjalan di belakang.
"Sebbyyyyy," panggil Cherryl.
"Ke mana aja lo, bocil." sahut Sebastian.
Cherryl menggembungkan pipinya lalu melirik kulkas, setelah itu ia tersenyum lebar dan menaik-turunkan alisnya, "Bawa makanan ya?" tanyanya.
Sebastian tertawa lalu menepuk pelan puncak kepala si cewek cherry, "Ice cream dan cokelat untuk Tuan Puteri."
Mendengar itu mata Cherryl langsung berbinar dan menyisihkan Sebastian dari jalannya. Ia segera mengambil dua buah sendok dan membuka kulkas lalu membawa satu cup ice cream tempatan rasa vanilla choco chips.
"Thank you, Sir Kenzie. Sekarang Tuan Puteri mau makan ice creamnya dulu. Yuk Ly," ajak Cherryl lalu melangkahkan kakinya mendahului Sebastian dan Lily yang masih diam melihat kelakuan cewek itu.
"Boh, Ryl. Sek, tungguin ta!" sahut Lily kemudian lalu berjalan cepat menyusul sahabatnya itu.
"Sir Kenzie, boleh juga." gumam si cowok seraya tertawa kecil lalu akhirnya menggedikkan bahu dan memutuskan untuk membuat kopi terlebih dulu sebelum menyusul kedua cewek tadi.
.
.
.
.
.
🍪Cookie Jar🍪
.
.
.
.
.
Irina menoel pelan lengan adiknya setelah mereka turun dari mobil dan berjalan beriringan ke pekarangan rumah keluarga Sanjaya.
"Yakin nih cewe yang tadi itu gebetan lo? Cewek cakep yang bule itu?" tanyanya.
Anggara mengangguk, "Iyalah. Udah ayo, nanya mulu lo."
Si cowok menekan bel lalu pintu dibukakan oleh bunda Laura, "Loh ada Angga sama Rina, ayo masuk."
"Eh iya, Bun. Rina kangen udah lama nggak kemari." sahut Irina seraya berjalan bersama masuk ke dalam rumah.
"Bun, Vallerinenya ada?" tanya Anggara.
Keduanya duduk di ruang tamu seraya menunggu Vallerine dan Rebecca yang sedari tadi duduk di balkon utama.
"Gak lo ajakin jalan ke mana gitu, Ngga?" tanya Irina.
"Gue bingung mau ngajakin mereka ke mana." jawabnya.
"Oh iya, kebetulan besok si Alex ngajakin gue buat hiking sama temen-temennya. Kalo mereka mau lo bisa ajak, gue juga ikut soalnya." timpal Irina lagi yang membuat si cowok berpikir.
"Nanti coba gue ajakin deh, siapa tau mau."
"Mau ngajak si Babas juga, cuma besok senin pasti dia sekolah," ujar Anggara lagi.
"Kapan-kapan lagi aja, sekalian ngajakin yang lain. Kita camping bareng."
"Oh hey, Angga."
Atensi kedua saudara itu beralih pada sosok Vallerine yang sedang menuruni tangga diikuti Rebecca dan bunda Laura. Setelah itu Anggara segera memperkenalkan Irina dan mereka bersalaman.
"Wow, you have two beautiful sisters, Angga." ujar Vallerine lagi lalu Irina tertawa pelan.
"Oh thanks, Vallerine." katanya.
.
.
.
.
.
🍪Cookie Jar🍪
.
.
.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, Cherryl sudah duduk di atas ranjang bersama dengan Lily dan mereka akan memulai sesi curhat antar cewek yang memang biasa mereka lakukan saat salah satu menginap di rumah yang lain.
"Jadi, siapa dulu nih?" ujar Cherryl.
"Terserah aja, Ryl. Aku ikut." jawab Lily.
"Lo dulu deh,"
Lily menguncir rambutnya terlebih dulu, setelah itu ia mulai bercerita seraya mengambil satu batang Pocky dari kotak yang Cherryl genggam.
"Kemaren tuh ya, aku kan jalan sama Mas Andre gitu."
"Terus-terus,"
"Masak ketemu mantannya dia, Ryl. Puh aku ndak tau lagi kudu ngapain jadi aku diem aja." ujar Lily lalu mengunyah camilannya.
"Weh, mantannya Andre? Kok bisa ketemu?"
"Anu lho, aku sama Mas Andre lagi beli hotang di daerah taman kota. Tiba-tiba ada cewek gitu nepuk pundaknya dia, manggil 'Loh Andre, ngapain di sini?'. Aku wis ndak enak ya, Ryl. Wes kesel gitu masa masih tanyak ngapain wong wis jelas kalau lagi beli-beli." kata Lily sewot.
Cherryl malah tertawa mendengar itu, "Iya juga ya, mungkin basa-basi aja itu. Terus gimana si Andre?"
"Ya Mas Andre bales biasa-biasa aja, abis gitu dia cepet-cepet ngajak aku pergi. Dia nenangin aku gitu, Ryl. Biar ndak marah."
"Ya bagus lah, berarti dia jaga perasaan lo, Ly."
"Heem, untung aja. Nah uwis, sekarang kamu mau cerita apa toh?"
Cherryl menegakkan duduknya lalu memeluk bantal yang ada di depannya. Setelah itu dia mulai bercerita tentang kejadian di mall waktu lalu.
Beberapa saat kemudian, cewek itu selesai bercerita lalu keadaan menjadi hening. Dia menatap Lily yang juga menatapnya seraya berpaku tangan.
"Hmmm, bukannya ya apa ya, Ryl. Cuma kamu yakin kalau kamu ndak ada rasa sama Mas Sebastian?"
.
.
.
.
.
TBC.