Cookie Jar

Cookie Jar
#29 Kompor



Sebastian mengangkat alisnya seraya menatap Cherryl yang masih sibuk mencari filter untuk instastory cewek itu, "Hp teross.." sindirnya.


Yang disindir cuma menyengir lebar lalu segera meletakkan ponsel berbalut case pink pastel polos itu di atas meja, setelahnya si cewek mengambil sumpit dan mulai melahap makanannya menyusul Sebastian.


"Pelan aja makannya, gak bakal gue tinggal." ujar si cowok lagi seraya memberikan selembar tissue pada Cherryl saat melihat tepi bibir si cewek yang kotor.


"Ah iya makasih Seb." balas cewek itu.


Sebastian menaruh sumpitnya lalu berpaku tangan seraya menatap si cewek dengan intens, sedangkan Cherryl ikut terdiam karena bingung, "Napadah?" tanyanya.


Tiba-tiba telapak tangan si cowok mengapit dagunya, tetap menatap si cewek cherry yang mulai panas dingin dan pikirannya sudah traveling kemana-mana. Lalu Sebastian memajukan wajahnya sambil mengangkat wajah di cewek.


"Bibir lo bengkak kenapa?"


Plak!


"Aduh! Sakit tau!" pekik Sebastian saat Cherryl langsung menepuk lengannya keras.


"Ya lagian lo nya ngagetin anjir! Gue pikir ada apaan..." jawab si cewek dan kembali mengusap bibirnya dengan tissue.


"Laiya itu bibir lo kenapa, Bocah."


Yang ditanyai meraba bibirnya lalu menggedikkan bahu, "Emang keliatan ya? Gue pikir udah gak bengkak."


"Gak terlalu sih, cuma kalo diliat lagi keliatan kalo agak bengkak." kata Sebastian lalu menegakkan duduknya.


"Kemaren Erryl makan ice cream, kegigit. Awalnya berdarah untung sekarang udah engga." balas si cewek cherry sembari meremat tissue dan menyimpan itu ke meja.


Sebastian menggumam, lalu kembali menatap Cherryl, "Hmm...Biasanya kalo kegigit apalagi sampek berdarah gitu jadi sariawan,"


Si cewek menggeleng, "Gue gapernah sariawan, udah bertahun-tahun sih. Karin bilang mungkin gara-gara disuruh makan buah terus sama Bunda jadi gak kekurangan vitamin."


Kepala si cowok mengangguk-angguk mendengar pernyataan Cherryl, "Ya bagus deh. Sariawan gak enak." katanya.


Cherryl kali ini bergeming, sibuk menghabiskan makanannya karena merasa tidak enak melihat piring Sebastian yang sudah kosong sejak tadi. Beberapa saat kemudian cewek itu selesai, lalu Sebastian memanggil pelayan untuk meminta bill. Sesuai kesepakatan, kali ini Cherryl yang membayar.


Sebastian sebenarnya ingin menolak, tapi melihat Cherryl yang buru-buru mengeluarkan dompet membuat si cowok mengurungkan diri. Dia juga berpikir pasti Cherryl akan kecewa jika dia tiba-tiba melakukan itu.


"Nah, udah selesai. Sekarang mau ke mana?" tanya Cherryl seraya mengapit lengan Sebastian, mereka sudah berjalan beriringan menyusuri jalanan gang yang lumayan sepi. Beberapa kali si cewek hampir berlari karena jalanan yang terjal ke bawah, maka dia menjadikan Sebastian sebagai pegangan.


"Hmm, gue gak ada plan lain sih. Lo mau ke mana? Belum malam-malam amat." jawab si cowok bergigi kelinci seraya menatap arloji yang dia pakai, masih menunjukkan pukul delapan lewat tujuh.


"Ke Pet Shop, yuk? Beli mainan buat Holy." usul Cherryl, Sebastian hanya manggut-manggut setuju saja.


Akhirnya mereka berjalan dalam keheningan, sesekali bertukar candaan tapi setelah itu kembali bergeming. Fokus pada perjalanan dan pikiran masing-masing hingga sampai ke tempat cowok itu memarkirkan mobilnya tadi.


.


.


.


.


.


🍪Cookie Jar🍪


.


.


.


.


.


Irina menggaruk tengkuknya lalu dia membalik satu halaman dari majalah yang sedang ia genggam. Alex yang melihat itu menghela napas lalu merangkul sang calon isteri.


"Tadi kan sudah nentukan pilihan, kenapa masih keliatan bingung begitu, Sayang?" katanya.


Si cewek yang memiliki mata tajam itu menggedikkan bahu, "Yang tadi kan cuma dekor, aku belum milih gaun. Kamu mah enak pakai tuxedo tinggal sesuaiin sama gaun aku aja, modelnya banyak yang bagus jadi aku pusing."


Tangan lebar milik pria yang wajahnya biasa terpampang di majalah itu hinggap di kepala Irina, laku mengelusnya pelan, "Kalau masih bingung gapapa, jangan dibawa stress. Hari H nya juga masih lama, okay?" sahutnya.


"Iyaa. Tapi kita belum ngurus desain undangan juga loh. Haaahh," kali ini Irina yang menghela napas lalu menghempaskan punggungnya ke sofa.


Alex mengangguk, mengiyakan ucapan calon mertuanya itu, lagipula acara pernikahan mereka masih jauh hari tapi Irina sudah pusing dari sekarang. Walaupun dia juga bersemangat, tapi cowok itu tidak tega melihat si cewek kelelahan. Wajah ayunya memang tidak berubah, tapi kantung mata yang menggantung di wajah si cewek menunjukkan kalau dia kurang tidur.


"Karin kayaknya butuh refreshing, ajak jalan gituloh Bang." sahut Cherryl yang berada di ujung tangga lantai dua, baru saja akan turun membawa tas sekolahnya.


"Eh Cherryl, Abang pikir udah jalan. Anggara mana?" balas Alex yang lengannya masih menjadi bantal bagi Irina, cewek itu sudah menutup matanya sekarang.


"Ang'ga nyiapin mobil kali, nggak tahu." jawab si gadis cherry sembari mendudukkan dirinya di sebelah bunda Sena.


"Holy sudah dikasih makan, Dek?" tanya wanita paruh baya itu yang membuat Cherryl mengangguk.


"Sudah Erryl isi tempat makannya, Bun. Tapi Holy kayaknya belum bangun,"


"Cil, ayo berangkat!" suara teriakan Anggara terdengar dari pintu luar, Cherryl yang baru saja duduk berdecih lalu segera menyalami sang bunda, kakak sulung dan calon kakak iparnya.


"Erryl berangkat dulu, dadah!"


.


.


.


.


.


🍪Cookie Jar🍪


.


.


.


.


.


Cherryl memajukan bibir lalu menggeser sedikit duduknya, mendesak Lily untuk melakukan hal yang sama saat Tasya datang bersama Sebastian. Sekarang mereka berada di aula, rencananya mau melihat Devin latihan sekalian menunggu Sebastian membantu dekor acara. Entah bagaimana tiba-tiba saja Tasya juga berada di sana.


"Tuker aja ta duduknya?" tanya Lily sambil berbisik, membuat Cherryl menggeleng sebagai tanggapan.


"Nggak usah, ga apa-apa." balasnya.


"Misi ya," ujar Tasya lalu mendudukkan diri di ujung kursi aula, tepat di sebelah Cherryl.


"Iya, Kak." sahut Lily cepat, sambil tersenyum. Sedangkan Cherryl hanya mengangguk sembari menggaet lengan temannya itu.


"Nanti pulang sama Babas juga?" tanya Tasya, membuat Cherryl dan Lily menoleh pada cewek itu.


Si cewek cherry mengangkat sebelah alisnya, "Kenapa?"


"Oh engga, gue mau main di rumah dia soalnya. Sekalian diajak bikin kue sama Tante Laura. Nanti pulangnya sama Babas, sekalian belanja. Gue tanya aja, sih. Kalo iya kan berarti kita pulang bareng." jawab Tasya lalu tersenyum lebar.


"Kakak udah kenal sama Mamanya Mas Bastian ya?" jawab Lily ragu-ragu, tapi dia bingung sekali mau merespons seperti apa. Karena pastinya Cherryl yang sudah mulai dongkol tidak akan menjawab.


"Iya, ketemu sama Om Tony sama Kak Farrel juga. Diajak makan malam, hehe." mendengar perkataan Tasya itu Lily panik, takut-takut dia melirik Cherryl yang bersandar padanya sambil menutup mata.


"Emm, gitu ya Kak..." jawab cewek itu pelan lalu menatap ke depan. Nggak mau membuat suasana tambah runyam.


'Aduh piye, bisa-bisa nanti disembur aku sama Cherryl!'


.


.


.


.


.


TBC.