Cookie Jar

Cookie Jar
#15 Outbound



PS ; Tolong siapin lagu "Lemonade (Jeremy Passion) kalau kalian mau, karena nanti ada part yang butuh lagu itu sebagai background music.


.


.


.


.


.


Jam sudah menunjukkan pukul empat sore dan jam istirahat sudah berakhir. Setelah acara yang panjang dari pagi tadi mereka pun bersiap untuk masuk ke acara berikutnya yaitu outbound. Kali ini pembentukan regu tidak dicampur melainkan battle antar kelas.


Sesi pertama akan dilakukan lomba per tingkatan dan berlanjut ke lomba antar kelas yang menjadi juara di sesi sebelumnya.


"Cher, sini!" panggil Lily pada Cherryl yang berdiri jauh di belakang barisan sedangkan cewek itu sendiri ada di barisan tengah.


Cherryl langsung menghampiri temannya itu dan berdiri di belakangnya, "Kok main air sih, kalo gitu gue gak mandi dulu!" resahnya.


Lily tertawa, "Sudah kubilangin kan tadi. Ndak dengerin sih kamunya."


Permainan pertama adalah perang balon air. Jadi setiap regu diberikan satu lilin yang nanti dinyalakan lalu harus dilindungi agar tidak mati hingga sampai di ujung lapangan berikutnya. Dan regu yang bermain sekarang adalah kelas 10, diikuti oleh kelas 11 dan akhirnya kelas 12.


Setelah melewati pertempuran panjang dan penuh air, mereka akhirnya mendapatkan tiga juara dari setiap kelas yang akan bertanding di sesi kedua. Yaitu kelas 10 IPS, kelas 11 IPS dan kelas 12 IPA yang berarti kelasnya Cherryl tidak masuk ke babak final sehingga dia dan regunya serta regu lain yang kalah mendudukkan diri dipinggir lapangan untuk menyaksikan babak selanjutnya.


"Mas Andre semangat!!!" teriak Lily kencang saat melihat Andre bersiap bersama regunya untuk bertanding.


Sedangkan Cherryl memilih untuk diam menyaksikan Sebastian dan teman-temannya bermain.


"Ini siapa yang megang lilinnya?" tanya Vino setelah menyalakan lilin yang ia pegang.


Tasya mengangkat tangannya lalu mengambil lilin itu, "Gue aja. Tapi jagain ya."


Para cowok serentak mengangguk dan berdiri mengelilingi Tasya yang menangkupkan salah satu tangannya untuk melindungi lilin. Suara peluit terdengar dan keadaan kembali ricuh saat sebuah balon air terbang dan mendarat di punggung salah satu anak. Mereka semua langsung bergantian melempar balon air ke regu lain seraya perlahan berjalan ke ujung lapangan di sebrang.


Regu Sebastian bekerja dengan baik tetapi di saat mereka sudah hampir sampai, seorang anak terjatuh dan menyebabkan yang lainnya ikut terjatuh kecuali Tasya yang berada di tengah dan Sebastian yang berdiri di belakangnya.


"WOY ITU BALONNYA AWAS!" seru Gita diikuti teriakan dari anak lainnya saat melihat regu lain memanfaatkan situasi mereka untuk menyerang.


Sebastian yang menjadi satu-satunya penjaga yang tersisa langsung berlari dan menarik punggung Tasya hingga berbalik sedangkan dirinya yang merengkuh tubuh si cewek untuk menghalangi balon airnya mengenai lilin.


Sorak sorai tepuk tangan terdengar dari banyak tempat, mengapresiasi misi penyelamatan yang dilakukan cowok itu. Termasuk Lily yang bertepuk tangan dengan heboh melihatnya, dan lagi-lagi si cewek cherry memilih untuk mengatupkan mulutnya tanpa berkomentar sedikitpun.


Sebastian segera melepas rengkuhannya dan membantu teman-temannya untuk berdiri. Untung saja regu lain tidak menyerang lagi karena masih sibuk bertepuk tangan menyaksikan kejadian tadi. Sedangkan Tasya membatu, jantungnya berdetak dengan cepat karena apa yang dilakukan Sebastian.


"Lilinnya gak mati, 'kan?"


Suara lembut milik si cowok terdengar di telinga cewek itu dan membuatnya tersadar, "Oh. I-iya. Untung ada lo." jawabnya.


Pertandingan pun berlanjut dan sayangnya regu kelas 11 IPS nggak menang karena didahului oleh regu kelas 10 IPS, "Silahkan istirahat dulu untuk 10 menit, setelah peluit dibunyikan lagi harus sudah berkumpul di sini untuk permainan berikutnya. Mengerti?"


Dengan serentak semua siswa menjawab "Siap, Pak!"


.


.


.


.


.


🍪Cookie Jar🍪


.


.


.


.


.


Malam telah tiba dan semua anak berkumpul kembali ke lapangan untuk acara api unggun dan makan malam. Para cowok sibuk mengambil pasokan ranting dan kayu untuk api unggun sedangkan para cewek sibuk juga menyiapkan segala jenis makanan yang akan dihidangkan ataupun makanan mentah yang akan dibakar bersama-sama seperti jagung, ubi dan ikan. Tak lupa juga ada yang membawa gitar untuk mengiringi acara api unggun malam ini.


"Cher, kamu kenapa toh? Sakit?" tanya Lily menatap sang sahabat khawatir karena cewek bersurai sebahu itu bersikap tidak seperti biasanya.


Sejak outbound tadi Cherryl menjadi lebih diam dan jarang bicara. Lily takut jika dia sakit atau semacamnya. Tetapi Cherryl menggeleng pelan sebagai jawaban, "Ga sakit. Lagi ga mood aja." katanya lalu berlalu pergi meninggalkan Lily yang langsung menyusul langkahnya.


"Kenapa toh, Cher? Kangen rumah?" tanyanya lagi.


Cherryl diam, tetapi setelah itu ia mengangguk pelan, "Iya. Pengen pulang aja, capek gue."


"Untung aja, ya." jawabnya.


"Woy woy kumpul semuanya! Udah mau mulai!" seru Gerald, salah satu anak kelas 12 IPA yang ditugaskan untuk menyuruh yang lainnya berkumpul.


"Nah guys, karena ini masih awal dan para guru masih pada siap-siap juga. Gimana kalo kita mulai dari sumbangan lagu atau dance terserah kalian aja deh bagi yang mau." kata Gerald yang disetujui oleh semuanya.


"Okay, kalo gitu siapa yang mau nyumbang?" tanya cowok itu lagi.


Semuanya diam hingga Tasya mengangkat tangannya, "Sebastian dong! Gue pernah denger dia nyanyi, bagus banget suaranya."


Mendengar itu anak-anak lain langsung menatap Sebastian yang terkejut karena namanya disebut, "Loh loh, kok gue?"


Tiba-tiba semua anak berseru serentak, "Babas, Babas, Babas!"


"Udah Bas, sikat." ujar Alfian seraya menyodorkan gitarnya pada Sebastian.


"Ini nyanyi apa?" tanya si cowok kelinci yang kebingungan.


"Serah lo aja. Udah sana nyanyi!"


Sebastian menggaruk kepalanya karena bingung hingga akhirnya dia membenarkan posisi gitar setelah melirik Cherryl yang duduk tak jauh dari tempatnya.


"Oke. Bagi yang tau lagunya boleh ikut nyanyi." ujar si cowok lalu berdeham pelan dan mulai memetik senar.


Keadaan menjadi hening, menunggu Sebastian memulai nyanyiannya di tengah malam yang sunyi. Belum lagi suara hewan-hewan kecil yang menambah suasana tenang di sana.


"She's my sunshine in the rain,"


Akhirnya suara si cowok terdengar dan membuat para cewek berteriak kagum. Sedangkan Sebastian melirik kesekitar, meminta izin untuk melanjutkan lagunya.


"My Tylenol when I'm in pain yeah, let me tell you what she means to me..." Sebastian berhenti sejenak dan kembali melanjutkan lagunya.


"Like a tall glass of lemonade, when it's burning hot on summer days...She's exactly what I need."


"Wohooo, artis baru!"


"Ya Lord, Bas suara lo cetar!"


"Tolong jangan baper woy para cewek, kondusif!" sergah Gerald dan berakhir mendapat cibiran dari para cewek-cewek yang tadi berseru.


"She's soothing like the ocean rushing on the sand. She takes care of me, baby, she helps me be a better man. She's so beautiful~"


"Sometimes I stop to close my eyes,"


Sebastian menatap mereka dan semuanya langsung ikut bernyanyi, "She's exactly what I need...."


"She's my smile when I'm feeling blue, she's my good night's sleep when my day is through yeah...Let me tell you what she means to me."


Sebastian menyahut, "She's kinda like this."


Lagu kembali berlanjut dengan semuanya yang bernyanyi bersama-sama seraya menggerakan tubuh ke kanan dan ke kiri mengikuti irama, "Kinda like the feeling after your first kiss. Except that every day she makes me feel like this, she's exactly what I need."


"Oh yeah,"


"She's soothing like the ocean rushing on the sand, she takes care of me, baby, she helps me be a better man...She's so beautiful~"


"Sometimes I stop to close my eyes."


"She's exactly what I need.."


"Okay, last one." ujar Sebastian sesaat sebelum ia kembali bernyanyi


"She's soothing like the ocean rushing on the sand, She takes care of me, baby, she helps me be a better man...She's so beautiful~"


"Sometimes I stop to close my eyes...She's exactly what I need."


Keadaan menjadi hening dan Sebastian memetik gitarnya dengan alunan lembut lalu ia menghakhiri lagunya seraya menatap Cherryl yang sedari tadi ikut menyanyi dengan mata tertutup.


"She's exactly what I need."


.


.


.


.


.


TBC.


Jangan lupa vote + comment!!