Cookie Jar

Cookie Jar
#16 Jealous?



Semua siswa berhamburan meninggalkan lapangan setelah upacara dibubarkan. Mereka ingin cepat-cepat kembali ke dalam tenda untuk beristirahat sebelum pulang dua jam lagi. Setelah ini mereka akan bersiap dan membereskan semua barang bawaan serta kerja bakti membersihkan area bumi perkemahan dari sampah-sampah yang dibuang tak pada tempatnya.


Saat ini, Sebastian sedang menatap sapu yang Tasya serahkan padanya dengan bingung, "Lo nyuruh gue nyapu, Sya?"


Tasya mengangguk, "Iyalah, masa ngajak ngedate." katanya lalu pergi begitu saja dengan wajah memerah.


Sebastian memandang sapunya lagi lalu melangkah pergi, tetapi sebelum itu dia melihat sosok Cherryl yang sedang mengumpulkan sampah-sampah dari rerumputan menggunakan tangan lalu memasukkannya ke dalam plastik yang cewek itu bawa bersama Lily dan empat cewek lainnya. Tungkai cowok itu langsung bergerak mendekati mereka.


"Ada yang butuh sapu?" tanya Sebastian pada cewek-cewek yang langsung menatapnya kagum, yah kecuali Lily dan Cherryl tentunya.


"Aduh, Kak. Makasih banget, Kakak pengertian deh." kata satu cewek yang langsung menerima sapu yang diulurkan Sebastian dan tersenyum manis, melihat itu Cherryl mendesis pelan.


"Oh iya, Ryl. Tadi Bunda telfon." ujar Sebastian yang kali ini menarik perhatian si cewek.


"Kenapa?" tanyanya lalu berdiri dan menghampiri cowok itu.


"Pinjem Cherryl dulu ya, guys." kata Sebastian lalu menarik Cherryl menjauh.


"Apasih pake tarik-tarik." ujar Cherryl kesal seraya menghempaskan tangan Sebastian agak kasar.


"Iya iya maaf, lagian biasanya lo ga marah." jawab si cowok dengan tatapan merasa bersalah.


"Yaudah cepet mau ngomong apa." kata Cherryl lagi.


"Anu, tadi Bunda telfon kalo di rumah nggak ada orang soalnya Bunda sama Bang Farrel pergi ke rumah Tante Anya terus nginap di sana." ujar Sebastian.


"Oh, Bunda Laura?" tanya Cherryl.


"Iya. Terus lupa nitipin kunci rumah. Jadi kayaknya gue nginep di rumah lo sampek mereka pulang..." kata si cowok lagi.


"Gitu doang? Gue kira apaan. Yaudah tinggal bilang Bunda atau Karin aja, ngapain ke gue? Udah ya, bye." ujar Cherryl dengan tampang malas dan cukup membuat Sebastian gregetan sendiri.


Maka dari itu sebelum si cewek bermata bundar itu melangkah maju, ia menarik pergelangan tangannya hingga Cherryl berbalik, "Lo kenapa?" tanyanya.


Cherryl melepaskan tangannya dari Sebastian, "Apasih? Apanya yang kenapa?"


"Lo kenapa sih? Sensian banget, lagi pms?"


"Gak, udah selesai." jawab Cherryl ketus.


"Ya terus ini kenapa mukanya beginiii..." ujar si cowok sembari menekan kedua sisi pipi milik Cherryl dengan telapak tangannya.


"Ngapain sih, Seb!" kesal Cherryl lalu melepaskan dirinya dari Sebastian lagi.


"Ih kenapa sih? Unmood banget kayaknya? Sini sini Abang peluk." kata Sebastian lalu melebarkan tangannya.


Cherryl mendengus dan tertawa miris, "Gausah deket-deket lo, sana sama Kak Tasya aja." katanya lalu kembali berbalik badan lalu melangkah pergi.


Sebastian terdiam mendengar ucapan Cherryl hingga akhirnya dia tertawa lalu mengejar si cewek, "Wait! Ryl. Lo...Cemburu?"


Cherryl menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan si cowok yang sekarang sudah berdiri di hadapannya dengan melipat tangan di depan dada.


"H-hah? Cemburu apa? Gajelas lo." jawabnya.


"Kok bawa-bawa Tasya? Lo marah gara-gara outbound kemaren? Ohhh, jadi itu yang bikin lo gamau ngomong sama gue? Ya Tuhan, Ryl. Kalo cemburu bilang aja." kata Sebastian lalu tertawa dan itu membuat si cewek tambah kesal.


"Ngomong apasih? Ngawur aja! Udahlah gue mau bantuin yang lain." katanya lalu melangkahkan kakinya pergi lagi.


Kali ini Sebastian hanya diam dan membiarkan Cherryl pergi. Ia menatap kepergian cewek itu dengan senyum lebar.


"Astaga, Cherryl. Gue gatau harus seneng atau takut kalo ternyata lo beneran punya rasa itu ke gue."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Cherryl menghempaskan tas yang ia bawa ke lantai pos satpam dan mendudukkan dirinya di sana. Mereka baru saja sampai kembali ke sekolah dan merasa bersyukur acara kemah sudah selesai. Tak semuanya sih, ada yang merasa belum puas dan ingin lanjut hingga beberapa hari tetapi mayoritas dari mereka sudah kapok dan rindu empuknya kasur di rumah. Seperti Cherryl saat ini.


Anggara sudah menelfon jika cowok itu akan segera berangkat dan meminta Cherryl juga Sebastian menunggu sebentar.


Oh iya, cewek itu baru sadar kalau Sebastian tidak ada. Tapi akhirnya dia memilih untuk tak perduli dan duduk tenang di sana sendirian karena Lily sudah berpamitan pulang.


"Cherryl."


Merasa terpanggil, si cewek mendongak dan menemukan sosok Sebastian berdiri di depannya membawa dua cone ice cream Cornetto rasa cheesecake yang merupakan rasa kegemaran cewek itu. Sebastian tau Cherryl akan luluh, buktinya mata cewek itu sudah berbinar memandang ice cream di tangannya, hanya saja si cewek masih gengsi.


"Gamau? Yaudah gue kasih ke Tasya aja." ujar Sebastian lalu berbalik.


Cherryl yang tidak tahan langsung menarik ujung celana si cowok, "Jahat lo."


Sebastian bersorak dalam hati lalu berbalik dan memandang Cherryl senang, "Nah kan kena juga lo. Makannya jangan sosoan cemburu." katanya lalu menyodorkan satu cone pada Cherryl yang menerimanya dengan senang hati.


"Siapa yang cemburu, dih. Najong." kata Cherryl sembari membuka bungkus ice creamnya tetapi agak kesusahan.


Akhirnya si cowok membuka ice cream miliknya dan mengambil milik Cherryl lalu memberikan miliknya pada si cewek, "Nih tinggal makan."


Cherryl mengambilnya begitu saja, "Makasih."


Keadaan menjadi hening dan Sebastian melirik Cherryl yang fokus pada ice creamnya hingga tak perduli pada keadaan sekitar.


"Eh tapi serius lo cemburu sama Tasya, Ryl? Sampek ngamuk begitu?" tanya Sebastian yang mendapat tatapan tajam dari si cewek.


"Cemburu cemburu apasih!"


"Ye galak amat sih. Emang lo marah gegara apa sih? Gegara gue meluk dia? Astaga Cherryl Imannuela, lo kalo mau gue peluk tinggal bilang aja gausah gengsi." kata si cowok lagi dan kali ini mendapatkan hadiah berupa keplakan cukup kencang di punggungnya.


"Bacot terus napa sih, diem dong." katanya kesal.


Bukannya takut atau mengaduh, Sebastian lagi-lagi tertawa lepas lalu melebarkan tangannya dan tanpa aba-aba ia merengkuh tubuh si cewek yang jauh lebih kecil darinya. Cowok itu menyimpan dagunya di puncak kepala Cherryl lalu mengusap kepalanya pelan.


"Cherryl adeknya Babas, gausah jealous ke Tasya ya. Abang gabakal diambil sama siapa-siapa, kok." katanya dengan nada lembut yang membuat Cherryl menghentikan niatnya untuk mengamuk dan bahkan mendorong cowok itu menjauh.


Cherryl hanya diam membeku dan menutup matanya, merasakan setiap usapan yang cowok itu lakukan padanya. Beberapa saat kemudian Sebastian pun melepaskan pelukannya.


"Udah ya?Jangan ngamuk lagi, serem." katanya lalu tersenyum.


"Jangan peluk-peluk lagi nanti banyak gosip!" kata Cherryl lalu mengambil tasnya dan beranjak pergi keluar gerbang meninggalkan si cowok.


"Sialan, gimana gue bisa gak jatuh hati sama lo, Ryl."


.


.


.


.


.


TBC.


Jangan lupa vote + comment!!