
Sebastian melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dengan langkah lemas, cowok itu berjalan ke kamarnya dengan kepala tertunduk, tanpa memberi salam ataupun meniatkan diri untuk melihat keadaan rumahnya. Farrel yang baru siang tadi sampai dan sedang duduk bersama sang bunda pun kebingungan, cowok itu ingin menghampiri si bungsu tapi bunda Laura mencekal tangannya.
“Biarin aja, sudah satu minggu lebih dia begitu.” ujar beliau.
Farrel melirik Sebastian yang sudah sampai di tangga paling ujung dan menghilang begitu saja ke kamarnya, “Hah, kenapa Bun? Bisa sampe kayak zombie begitu.”
“Lagi ada masalah sama Cherryl, biarin nanti kalau bunda rasa udah mendingan baru bunda ajak ngomong lagi.” jawab wanita paruh baya itu sembari tersenyum tipis berusaha menenangkan sang putera bungsu yang sudah menunjukkan raut wajah khawatir, padahal beliau sendiri kepikiran.
Bunda Laura kira-kira bisa menebak kenapa hubungan Cherryl dan Sebastian bisa mendadak berubah seperti itu, yah, beliau tentu bisa memahami situasinya.
“Kamu pulang buat liburan ‘kan? Kalau gitu tolong antar adik kamu sekolah dulu beberapa hari ke depan, bunda ngeri kalau dia nyetir kondisinya gak karuan begitu.” lanjutnya yang membuat Farrel menghela napas tapi akhirnya mengangguk setuju.
“Nanti coba Farrel bicara sama Babas.” kata cowok itu.
Sebastian mendudukkan diri di tepi ranjang bahkan sebelum menyalakan lampu kamarnya, cowok itu juga terlihat kacau, nggak jauh beda sama Cherryl. Dia menyalakan ponsel dan menatap ruang pesannya dengan si cewek cherry, pesan terakhir yang dia kirim terakhir kali adalah delapan hari yang lalu.
“Gue harus gimana lagi…” monolognya pelan.
Di beberapa kesempatan Sebastian sempat berniat untuk menghampiri Cherryl dan mengajaknya mengobrol, setidaknya sebentar saja. Dia kangen cewek itu, hari-harinya terasa kosong banget kalau nggak ada Cherryl. Tapi melihat muka muram si cewek di sekolah membuat dia mengurungkan niatnya karena takut kalau bakal diacuhkan atau bahkan ditolak mentah-mentah.
Kemarin juga Alfian sampai khawatir banget kalau cowok itu tiba-tiba pingsan karena kalau dilihat, siapapun pasti tahu dia lagi nggak baik-baik saja. Cowok jangkung itu juga masih menutup mulut dan nggak mau menuntut penjelasan apa-apa dari Sebastian.
Sebenarnya Sebastian sudah mempersiapkan diri kalau Cherryl bakal marah-marah dan menangis kencang lalu meminta waktu untuk berpikir, garis besarnya bisa ditebak. Tapi mengetahui kalau ternyata setelah itu si cewek cherry sampai memutus kontak begitu saja selama berhari-hari, terasa berat juga bagi dia.
“Bas?”
Sosok Farrel masuk ke dalam kamar setelah menyalakan lampu, membuat sang adik membulatkan matanya lebar karena kaget.
“Abang kapan pulang?” tanyanya lalu berdiri dan bersapa dengan si sulung yang ikut mendudukkan diri di sebelahnya.
“Tadi siang. Lo kenapa sampe nyelonong masuk rumah gak ngucapin salam gak nyapa main lewat aja.” ujar Farrel lalu menepuk pelan pundak Sebastian.
“Hehe, sorry Bang. Lagi banyak pikiran.” jawab cowok itu.
Farrel mendengus, “Masih masalah di sekolah aja udah kayak mayat hidup gimana nanti disuruh ngurus bisnis lo?” candanya yang malah membuat si bungsu menundukkan kepalanya lesu.
“You know you can tell me things, right?” tanya Farrel, suaranya lembut tapi diselingi nada khawatir yang terasa menyesakkan bagi Sebastian dan membuat cowok itu mengangguk pelan.
“Iya, Bang.”
“Bunda bilang ada masalah sama Cherryl? Gue gak tau seberat apa masalahnya tapi masa lo lemes begini sih, Bas? Kayak orang gak makan aja.” ujar Farrel yang sebenarnya untuk berguyon tapi dia jadi ikut terdiam pas sang adik malah menatapnya dalam diam.
Alis Farrel tertaut, “Lo beneran gak makan?!” tanyanya.
Si sulung langsung berdiri, “Lo mandi sekarang, cepetan. Gue turun ambil makanan, awas kalo gue balik lo masih di kasur.” titahnya dengan muka serius lalu beranjak keluar dari kamar meninggalkan Sebastian sendirian.
Cowok itu lagi-lagi menghela napas gusar dan segera beranjak dari duduknya untuk mandi, dia nggak mau menambah sakit kepalanya karena mendengar omelan dari kakaknya itu nanti. Beberapa saat setelahnya pas dia keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap, Farrel sudah tiduran di ranjangnya dan di atas meja nakas sudah tersedia sepiring nasi beserta lauk-pauk yang dibawa si kakak.
“Gue gak masalah kalo lo banyak pikiran, butuh waktu buat sendiri atau buat mikir tapi seenggaknya lo harus makan. Gue gak bilang Bunda.” kata Farrel sembari kembali duduk di tepian ranjang.
“Thanks, Bang.”
Setelah menunggu cukup lama akhirnya Sebastian selesai dengan makanannya, cowok itu menyimpan piring kembali ke atas meja lalu dia melirik sang kakak yang sudah merubah posisi menjadi terlentang, kelihatan capek.
“Abang istirahat aja, bisa ngobrol lagi nanti malem.” ujar Sebastian pelan, Farrel yang mendengar itu malah menutup matanya dengan lengan.
“Kalo lo mau cerita ga apa-apa gue sambil dengerin.”
Sebelum sempat mengeluarkan satu dua patah kata, Sebastian mengatupkan mulutnya melihat Farrel yang sudah terlelap dan napasnya memelan dengan teratur. Dia memutuskan untuk ikut berbaring dan mengistirahatkan matanya sejenak sampai akhirnya kedua putera keluarga Sanjaya itu masuk ke dunia mimpi.
.
.
.
.
.
🍪Cookie Jar🍪
.
.
.
.
.
Farrel memijat pelan pelipisnya karena jujur saja dia nggak tahu-menahu soal percintaan sang adik selama tinggal di luar negri bersama ayah Tony. Dia juga termasuk kalangan cowok yang taat beragama dan memiliki prinsip kuat, mendengar cerita Sebastian pun dia agak kaget tapi juga nggak bisa sepenuhnya mengadili toh hidup adalah pilihan dan tanggungan masing-masing, tapi dengan sepenuh hati Farrel bisa mengerti mengapa Cherryl sampai memutus hubungan selama ini karena di lingkungan sekitar mereka pun norma-norma agama dan sosial yang berlaku jauh lebih kental dari pada di Amerika Serikat yang notabenya merupakan negara bebas.
Sebastian melirik jam yang sudah menunjukkan pukul satu malam, mereka tadi terjaga sekitar pukul sebelas lalu memilih untuk mengobrol sambil menikmati angin malam di balkon, “Jadi gue harus apa, Bang? Gue chat aja gak di baca sama sekali.” cicitnya pelan.
“Nunggu beberapa hari lagi. Gue gak bisa bantu banyak kalau berhubungan langsung sama Cherryl, tapi mungkin gue bisa bantu lo buat dapet waktu ketemu sama dia.” jawab Farrel sembari menolehkan kepalanya menatap sang adik.
“Gue takut Cherryl malah jadi benci dan gak mau ketemu gue sama sekali. Hhhh…Mending dari awal gak pernah ngungkapin perasaan ke dia, deh.” ujarnya dan lagi-lagi helaan nafas frustasi yang ia buat hinggap di telinga si sulung.
Lengan kanan Farrel hinggap di pundak Sebastian, “Menurut gue sih udah bener lo ngomong, yang penting di awal kelar dulu. Masalah nanti mau ngejar lagi mah gampang, Bas. Kalo emang Tuhan berkenan gak ada yang bisa ngehalangin.” katanya memberi semangat.
“Lo mending rajin-rajin ke gereja biar kaga linglung begini. Gue juga Sabtu besok mau dateng ke youth community, lo ikut ya.” ajaknya lagi lalu disetujui oleh Sebastian.
Sebastian merasa sedikit lega karena sekarang ada sang kakak yang bisa membantunya, setidaknya untuk satu bulan ke depan sebelum cowok itu kembali terbang ke New York. Mungkin baru akan kembali di pertengahan Desember untuk merayakan natal dan tahun baru bersama-sama.
Farrel tampak berpikir lalu dia melebarkan matanya karena mendapat ide, “Oh iya malam Sabtu besok gue sama anak-anak mau ngumpul. Si Cherryl kayaknya ikut ‘kan? Nanti coba gue bicarain sama si Irina deh. Gimana?” usulnya.
Si cowok bergigi kelinci mendapat kembali sinar di matanya yang beberapa hari ini semakin meredup, “Boleh, Bang!”
.
.
.
.
.
TBC.