
“Sama Angga?” tanya Farrel lalu menatap sosok sang adik yang duduk di sebelahnya sedang dia mengemudi, mereka sedang dalam perjalanan pulang setelah mengantar Cherryl ke rumah keluarga Gunawan dan asik mengobrol sampai entah Sebastian nggak sengaja menyebut soal Devin yang pernah keceplosan kalau bilang sang kakak sebenarnya naksir Anggara.
Sebastian mengangguk pelan, “Hooh, tapi kayaknya si Devin udah bilang ke Kak Hanan kalo Bang Angga udah ada cewe. Gatau juga sih.” sahutnya.
Si sulung hanya manggut-manggut paham sebagai tanggapan, “Tadi dia bilang salah ngira kalo jaket gue yang dipinjemin ke dia itu punya Angga makannya sama Hanan dibalikin ke dia.”
“Iya gue tau soalnya si Devin kemaren cerita juga. Kacau sih, mana setau gue Bang Gilang malah ngegebet Kak Hanan.” sahut Sebastian lagi yang membuat Farrel melebarkan matanya.
“Hahaha bisa-bisanya. Si Gilang mah kebiasaan liat cewe dikit langsung digebet. Tapi salut sih gue sama dia soalnya nggak pantang menyerah.” ujar Farrel yang mendapat anggukan setuju dari adiknya itu.
Sebastian menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi dan menatap langit-langit mobil, “Gue juga gak mau nyerah sama Cherryl, Bang.”
Tangan kiri Farrel hinggap di pundaknya, “Kalian masih renggang, Bas?” tanyanya.
“Iya. Ya sebenernya sih balik lagi kayak dulu, cuma tetep aja batasannya kerasa banget. Gue juga udah janji gak maksa dan bakal nunggu sampe dia mutusin sendiri mau gimana.” ujar si bungsu dengan pandangan terpaku pada langit-langit.
“Yaudah kalo gitu lo cuma bisa nunggu. Jalanin aja dulu, dia masih mau jadi temen lagi aja puji Tuhan.” ujar Farrel yang sekali lagi diangguki oleh sang adik.
“Gue laper, mau makan dulu gak?” tanyanya kemudian.
“Boleh deh, Bang. Mau makan apaan?”
Beberapa menit kemudian Farrel menepikan mobilnya di area parkir pinggir jalan dekat sebuah tenda warung pecel lele, kedua cowok itu turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam tenda tersebut. Di dalam cukup ramau tapi masih ada beberapa meja kosong yang bisa mereka duduki.
“Eh, Nak Farrel…” sapa seorang wanita paruh baya yang mengenakan apron hijau gelap saat melihat putera sulung keluarga Sanjaya itu.
“Hehe Bu Dara, Farrel sudah lama nggak datang. Ibu apa kabar?” tanya si cowok lalu menyalami wanita itu sebelum mendudukkan diri di kursi yang berhadapan langsung dengan meja kasir.
“Ibu baik, Nak. Kamu datang sama siapa ini?”
Sebastian ikut menyalami Bu Dara lalu dia tersenyum ramah, “Sebastian, Bu. Adiknya.”
Beliau mengembangkan senyumannya yang terlihat ceria banget, “Hoho, Ibu pikir Farrel cuma beruntung punya muka ganteng. Nggak tahunya memang keturunan gen…Berarti ini adik yang dulu kamu ceritakan itu ya?” sahutnya yang membuat kedua cowok itu saling menatap lalu tertawa pelan.
“Ibu bisa aja…Iya Bu, dia sih udah balik ke sini hampir setahun cuma belum sempat diajak kemari aja, hehe.” ujar Farrel menanggapi.
“Oh iya, semoga cocok lidahnya makan di sini ya. Nak Farrel dan Sebastian mau makan apa? Biar langsung Ibu yang buatkan.”
Nggak lama setelah mereka memesan, Bu Dara kembali datang membawa dua porsi makanan sesuai yang keduanya pesan tadi. Tak lupa beliau juga menyodorkan dua gelas es jeruk nipis yang kelihatan segar sekali sebagai bonus, soalnya baik Farrel maupun Sebastian belum memesan minuman apa-apa.
“Ini esnya diminum, nggak usah dibayar ya. Kalau mau teh hangat bilang aja.” ujar beliau lalu mendudukkan diri di dekat mereka agar bisa lebih leluasa berbincang, wanita paruh baya itu juga sudah melepas apronnya.
“Wah makasih, Bu.”
Bu Dara mengangguk cepat lalu membuka suara untuk memulai percakapan, “Nak Farrel sudah lama nggak datang, Ibu pikir sudah nggak mau langganan di sini lagi.”
Farrel menggeleng, “Haha mana mungkin, Bu. Farrel sudah makan di sini sejak masih jaman sekolah. Sudah jadi rumah kedua saking seringnya makan masakan Bu Dara. Cuma memang Farrel sekarang yang ikut Ayah ke luar jadi bakal jarang datang, tapi kalau balik sini pasti mampir kok.” jawabnya.
Percakapan mereka berlanjut dengan Bu Dara yang mengajukan beberapa pertanyaan soal Sebastian, seperti pengalamannya saat tinggal kembali ke Indonesia dan kesan pertama yang dirasakan si cowok. Beliau juga bercerita bagaimana rajinnya sang kakak sulung makan di warung pecel lele miliknya sejak masih duduk di bangku sekolah menengah tanpa lewat seharipun, bahkan setelah sibuk mengurus perusahaan sebagai direktur pun Farrel masih menyempatkan diri untuk mampir walau sudah tengah malam.
“Kapan-kapan pacarnya diajak kemari dong, Nak Farrel.” celetuk Bu Dara yang membuat cowok itu menghentikan tangannya yang baru saja mau menyuap sesendok besar nasi ke mulut.
“Farrel belum punya, Bu.” jawabnya cepat.
Bu Dara terkejut, “Loh, masa sampai sekarang kamu masih nggak berpikiran untuk pacaran, Nak? Sayang sekali. Ibu dulu sampai menyayangkan kalau anak Ibu semuanya cowok, soalnya kalau ada yang cewek mau Ibu jodohkan aja sama kamu. Hahaha…” ujarnya lalu mereka bertiga tertawa.
“Abang mah emang gitu, Bu. Bunda aja udah was-was takut nantinya malah nggak laku beneran.” sahut Sebastian yang ditanggapi senyuman oleh beliau.
“Kalau masalah laku nggak laku sih kayaknya nggak usah dipikir, siapa yang nggak mau sama dia.” jawab Bu Dara lagi.
“Haha, nggak juga, Bu. Memang belum ada pikiran aja. Tapi kalau memang ada yang tiba-tiba nyangkut di hati, Farrel nggak bakal nolak kok.”
🍪Cookie Jar🍪
Devin menahan senyuman saat melihat nama Chesa muncul di notifikasi yang baru saja masuk ke ponselnya, setelah lomba kemarin mereka mulai bertukar pesan. Terlebih, cowok itu juga mendapatkan dukungan penuh dari teman-teman yang lain walau nggak mendapat peringkat utama dalam lomba.
Cowok itu menatap piala lomba bertuliskan ‘Juara 3’ yang ia simpan di atas meja belajar. Dia sudah cukup puas dengan hasilnya walau masih harus berlatih lagi. Chesa yang nggak masuk ke peringkat enam besar juga terlihat nggak mempermasalahkannya, mengetahui kalau mereka punya satu sama lain saja sudah cukup.
Beberapa saat kemudian Devin menghela napas, karena besok dia yang harus menjadi pendukung garis keras untuk Cherryl dan Thomas karena acara ulang tahun yayasan dan pemilihan duta akan digelar. Seharian tadi dia bahkan nggak ngapa-ngapain karena para guru dan OSIS sibuk melakukan gladi bersih di aula dan siswa lain diberi waktu bebas asal nggak keluar dari area sekolah.
Tok tok tok
Suara ketukan terdengar dari balik pintu yang membuat cowok itu agak kaget, setelah itu suara Elhanan mengikuti, “Dek, sudah tidur?”
Devin sontak menggeleng cepat walau sebenarnya si kakak juga nggak bisa melihatnya, tapi setelah itu pintu terbuka menampilkan sosok cewek itu sedang memeluk boneka teddy bear kesayangannya.
“Kakak kenapa?” tanya si bungsu saat Elhanan melangkah masuk dengan gontai dan mendudukkan dirinya di sisi ranjang.
“Gabisa tidur.” jawabnya Elhanan lalu membaringkan dirinya.
“Kenapa?”
Si cewek menggedikkan bahunya, “Yagitudeh, temenin bentaran ya sampe Kakak ngantuk.”
“Soal Bang Angga lagi, atau apa?” sahut Devin yang membuat cewek itu menoleh dan menatapnya dengan wajah tertekuk sedih.
“Nggak sih, malah lebih parah. Kamu tau kan tadi Kakak ketemu Kak Farrel? Aduh pusing dia udah tinggi, ganteng, ramah banget pula.” ujarnya lalu menutup wajah dengan boneka yang ia genggam.
Si bungsu mengangkat kedua alisnya, “Jangan bilang Kakak naksir Bang Farrel juga?!” katanya.
“Ih gatau deh pusing. Lagian sih tadi pake ketemu, dia juga kalo ngomong santun banget walau kesannya santai. Gimana dong Vin…” rajuk Elhanan sembari menarik-narik kaki sang adik yang berada di sebelah kepalanya.
Devin menggeleng pelan, “Kakak kok gampang banget sih naksir orang, aduh. Ya gak apa-apa sih sebenernya cuma aneh aja.” jawabnya sembari menaruh ponsel ke meja nakas.
Kali ini Elhanan kembali mendudukkan dirinya lalu menghela napas gusar, “Kakak juga gak mau. Tapi ini kepikiran terus, tau!”
TBC.