
“Hah, piye, Cher?”
Lily melebarkan matanya mendengar ucapan si cewek cherry kalau Sebastian mau memberitahu soal hubungan mereka ke bunda Laura, tentu saja itu membuatnya kaget.
“Ya itu dia bilang mau jelasin soal hubungan dia sama kak Tasya gimana, terus ngomong soal gue juga biar bunda gak salah paham lagi. Gue bingung anjir dia tiba-tiba begitu.” lanjut Cherryl lalu mengubah posisi bantal yang ia jadikan penyangga dagu.
“Waduh, terus kamu setuju? Ini ceritanya rencana mau jadian atau gimana toh?” tanya Lily lagi sembari menatap sahabatnya itu.
“Nggak tau Ly, aslian dia ngomong mendadak banget tadi sore. Gue juga belum jawab, takut. Dia sih bilangnya mau bilang bunda aja dan gak bakal kesebar kemana-mana, tapikan tetep aja opini bunda Laura itu penting banget. Ah maksud gue gimana ya…Lo paham kan?” ujar Cherryl dengan gusar, cewek itu sudah menghela napas berkali-kali hari ini.
“Hmm paham, paham. Tapi menurutku sih boleh juga Ryl. Aku yakin kok tante Laura ndak bakal ngelarang. Paling ya kaget diawal tok.” sahut Lily lalu menyuapinya satu batang Pocky yang langsung digigit oleh cewek di sebelahnya itu.
Cherryl tampak menimbang-nimbang sebentar, “Kalo gitu ikut yuk besok pulang sekolah, soalnya Sebby ngajak gue juga.” katanya.
“Asik, pasti seru.” ujar cewek berponi itu yang membuat sang sahabat mendengus pelan sebagai tanggapan.
Setelah itu mereka menghabiskan malam untuk bercakap-cakap sebelum berakhir dengan menonton film dari laptop milik Lily. Tepat pukul sebelas malam keduanya sudah sama-sama mengarungi alam mimpi walau film masih berlanjut.
Hari pun berganti dan sesuai obrolan mereka kemarin malam, mereka akan ikut ke rumah Sebastian. Saat ini kedua cewek itu baru saja keluar dari kelas selepas waktu pulang. Mereka bertemu dengan cowok itu yang juga berjalan bareng Alfian di tengah lorong yang menghubungkan kedua kelas mereka.
Si cowok jangkung berpamitan terlebih dulu hingga menyisakan Sebastian, Cherryl dan Lily yang langsung masuk ke dalam mobil.
“Jadi nanti baliknya ke rumah Lily ya?” tanya si cowok sembari memutar kunci untuk menyalakan mesin.
Lily mengangguk, “Iya, Mas.”
“Erryl kok diem aja seharian ini?” tanya si cowok lagi, tertuju pada cewek di sebelahnya yang membungkam diri.
“Dia gugup katanya, Mas. Takut tante Laura ngasih respon jelek.” sahut cewek yang mendudukkan diri di kursi belakang.
Sebastian tertawa pelan lalu mengusap kepala Cherryl lembut, “Udah kayak mau lamaran aja lo. Santai Ryl, bunda juga gabakal nendang lo ke luar rumah.” katanya.
Cherryl menatapnya nggak suka lalu menutup muka dengan jaket yang sedari tadi cewek itu bawa, “Diem ah.”
Tanpa basa-basi lagi si cowok melajukan mobil hingga sampai ke pekarangan kediamannya, seperti biasa setelah parkir mereka segera masuk ke dalam rumah yang seakan sepi banget karena hanya ada bunda Laura sendirian. Sebastian jarang di rumah entah karena sekolah atau pergi ke luar, sedangkan sang suami dan anak sulung memang tinggal di negri orang.
“Shalom Bunda, Erryl datang!” seru Cherryl sembari membuka pintu rumah, diikuti oleh kedua orang di belakangnya.
“Bunda ke mana, Seb?” tanya cewek itu pada si cowok.
“Di belakang kali nyiram tanaman, simpan aja dulu tas kalian.” jawab Sebastian sembari mempimpin jalan ke ruang tengah untuk menyimpan barang bawaan mereka sementara sebelum menghampiri bunda Laura yang ternyata sedang mendudukkan diri di kursi belakang rumah sambil menyesap teh.
“Bundaaa~” ujar Cherryl lalu menghampiri sosok wanita yang sudah ia anggap bundanya sendiri itu, sosok yang selalu berlapang hati dan ramah sekali.
“Eh yaampun bunda nggak dengar kalau ada orang. Ada Lily juga? Kalian udah pada makan?” ujar beliau lalu bangkit dari duduknya tapi ketiga orang itu menolak untuk masuk ke dalam jadi akhirnya mereka berempat tetap duduk di sana.
“Kita ada yang mau dibicarain dulu, Bun. Makannya nanti aja.” ujar Sebastian kemudian.
“Hehe, iya Tante. Lagian tadi di sekolah udah makan kok, masih kenyang.” celetuk Lily sedangkan si cewek cherry yang tadi sudah nggak gugup malah kembali membeku.
“Ada apa, kok kayaknya serius sekali?”
Cherryl menatap Sebastian dengan mata bulatnya lalu menggeleng pelan, bermaksud agar cowok itu nggak menyuruhnya membuka mulut untuk menjelaskan.
Putera bungsu keluarga Sanjaya itu menggaruk tengkuknya, “Babas mau ngomong tapi Bunda jangan marah.” katanya yang membuat bundanya itu menautkan alis bingung.
“Babas minta restu, Bun.” ujar Sebastian cepat, to the point. Tapi membuat Cherryl yang mendengarnya langsung menganga, perkataan si cowok lebih terdengar kayak mau menikah tahu!
“Eh? Kok tiba-tiba banget, restu apa ini maksudnya?” ujar bunda Laura.
“Restu buat pacaran lah, Bun. Masa nikah. Babas kan masih sekolah.” jawabnya dengan wajah datar.
Wanita itu berdeham, “Terus, kamu mau pacaran sam—”
“Intinya bukan sama Tasya, Bun.”
“Loh, jadi kamu nggak naksir sama nak Tasya, Bas?” tanya beliau cepat.
“Nggak.”
Singkat, padat, dan jelas sekali. Tapi di sisi lain Cherryl sendiri semakin tegang sampai cewek itu lupa berkedip sedangkan Lily adem-ayem menyaksikan drama singkat di depan matanya itu sembari mengusap-usap pelan tangan sang sahabat yang entah sejak kapan terasa sangat dingin.
“Terus?” tanya beliau lalu menatap Lily dan Cherryl bergantian.
“Oh?” lanjutnya dengan tangan sontak terangkat menunjuk puteri bungsu keluarga Gunawan yang jelas sekali kelihatan berbeda dari biasanya.
“Iya. Kita cuma mau Bunda duluan yang tau soal ini. Jadi Babas harap Bunda gak salah ngira Babas ada apa-apa sama Tasya, ya?” sahut Sebastian yang mengiyakan begitu saja.
“Bunda maaf!” celetuk Cherryl akhirnya membuka suara.
Bunda Laura bergeming di posisinya beberapa saat sampai tawa beliau pecah, “Ya Tuhan, Bas! Cherryl!”
“Kok Bunda ketawa sih, lihat tuh anak orang jadi parno.” ujar Sebastian setelah menghela napas lega, karena jika bundanya itu tertawa berarti nggak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Dia juga berniat menggoda si cewek yang terlihat tertekan lahir batin saat ini, bahkan Lily saja menahan tawanya.
“Aduh, maaf. Bunda nggak bermaksud. Cuma ini kalian gemas sekali, masa suasananya kayak lagi interogasi di kantor polisi? Kamu nggak perlu minta maaf, Cherryl.” ujar bunda Laura lalu mengulurkan tangannya untuk menangkup milik cewek itu.
“Bunda nggak marah?” tanya Cherryl pelan, demi apapun dia kepikiran banget soal ini.
Wanita itu tersenyum sembari menggeleng, “Enggak, ngapain bunda marah? Toh kalian juga cocok, ya kan Lily?” tanyanya lalu yang ditanyai langsung mengangguk dengan kecepatan super sebagai wujud persetujuan.
“Tuh, Lily aja bilang iya. Kamu nggak usah khawatir gitu ah, bunda sih agak kaget karena tiba-tiba kalian bilang begitu. Tapi gak apa-apa, Cherryl kan anak baik. Malah bunda takut kalo Babas yang macam-macam sama kamu.” jelas beliau dengan lembut, seiring dengan degupan jantung Cherryl yang semakin mereda.
“Babas udah bilang sama dia kalau Bunda gak bakalan ngelarang, dianya aja yang panik duluan katanya takut gak dikasih restu sama ayah sama Bunda.” ujar Sebastian lalu memeletkan lidahnya meledek cewek itu.
“Ih Seb!” protes Cherryl lalu mengeruhkan mukanya.
Bunda Laura menghela napas pelan lalu melepaskan genggaman beliau dari cewek itu, “Bunda gak marah dan gak mempermasalahin kalau kalian saling suka, tapi Bunda tetap nggak setuju kalau kalian pacaran.”
.
.
.
.
.
TBC.