Cookie Jar

Cookie Jar
#11 Poor Lily



Mata Cherryl membulat, "What?!"


Cewek itu segera berlari mendekati Lily dan berusaha menenangkannya. Ia kebingungan karena tak ada yang membawa jaket ataupun apapun yang bisa dijadikan penutup. Bunda Laura dan Sebastian hanya diam karena juga bingung harus melakukan apa.


Tiba-tiba Sebastian berpamitan pergi dan menyuruh Cherryl membawa Lily ke kamar mandi atau ruang ganti terdekat yang ada di sekitar sana. Bunda Laura juga membantu menenangkan Lily yang wajahnya sudah merah padam.


Cherryl dapat merasakan jika sahabatnya itu panik, buktinya sedari tadi cewek itu mencengkram erat lengannya seakan tak mau lepas.


"Jangan nangis dong, Ly. Aduh..." Ujar Cherryl seraya mengelus pelan lengan Lily.


"Isin aku, Cher! Duh piye iki..." ujar Lily dengan logat Jawanya yang medok sekali. Jika keadaan seperti ini biasanya logat cewek itu lebih ketara dari biasanya.


"Lo ganti dulu, ya? Ini gue bawa kok." ujar Cherryl lalu menyerahkan tas kecilnya pada Lily yang mengangguk dan masuk ke dalam kamar mandi sedangkan bunda Laura menunggu Sebastian di luar.


Beberapa saat kemudian bunda Laura masuk dan menyodorkan sebuah jaket berwarna navy dengan gambar owl di depannya.


"Maturnuwun, Tante. Makasih banyak." Ujar Lily yang segera melilitkan lengan jaket pada pinggangnya.


"Bastian yang belikan, nggak perlu terima kasih sama Tante." jawab bunda Laura lalu tersenyum.


"Udah kan ya? Yuk keluar." ajak Cherryl dan mereka segera keluar dari kamar mandi.


"Gimana? Udah?" tanya Sebastian yang sedari tadi bersandar di depan toilet laki-laki yang berada tepat di samping toilet perempuan.


"U-udah, Mas. Makasih banget lho ya, ini harganya berapa? Uangnya mau tak ganti." kata Lily seraya membuka tasnya.


Sebastian menggeleng  "Gausah Ly. Ambil aja, gapapa."


"Piye to, Mas. Jangan gitu." balas Lily lagi.


"Udah, Ly. Gapapa kok. Lo udah gue anggep adek juga kayak si Cherryl. Jadi gausah sungkan." Jawab Sebastian lagi.


"Duh sekali lagi terima kasih ya, Mas." ujar Lily dan Sebastian hanya mengangguk dengan senyum manisnya.


Cherryl yang sedari tadi diam bahkan tak menyadari jika senyuman sudah terpatri sejak tadi di wajahnya. Jantungnya pun berdegup lebih cepat dari biasanya. Sebastian terlihat sangat manis saat seperti ini.


'Ah apasih, Ryl.' batin Cherryl dan segera menggelengkan kepalanya. Berusaha menepis apapun yang tadi melintas di pikirannya.


"Jadi kalian mau jalan bareng kita apa misah?" ujar bunda Laura memecah keheningan.


"Bunda mau ke mana?" sahut Cherryl cepat.


"Mau belanja bulanan nih. Kalau kalian mau belanja juga sekalian aja bareng. Lagian gaenak kalo jalan sama Babas, hp terus yang dilihat." kata Bunda Laura lagi.


"Yah, Bun–" kata Sebastian yang disela oleh si cewek cherry.


"Oh yaudah, Bun. Bareng aja."


.


.


.


.


.


🍪Cookie Jar🍪


.


.


.


.


.


"Kasihan ya si Lily." sahut Irina seraya melahap keripik kentang di tangannya.


Saat ini Cherryl tengah duduk di ruang keluarga bersama Irina, Anggara dan Sebastian. Cewek itu tak bisa berhenti bercerita tentang kejadian bulan lalu itu. Si cewek cherry baru sempat bercerita pada kakak-kakaknya karena waktu itu dia lupa, kebetulan tadi Sebastian tak sengaja membahas kejadian tersebut.


"Gue kaget sih sebenernya. Bingung harus ngapain pas itu." sahut Sebastian yang sedari tadi ikut menyimak.


"Untungnya aja lo gercep, Seb." kata Cherryl.


"Jodoh kali, Ngga." kata Irina jahil lalu mendapat tatapan kesal dari si bungsu.


"Apasih, Karin. Ya mungkin udah nasib Erryl kudu ketemu ama si Sebby terus. Lagian kalo gaada dia gatau lagi Erryl sama Lily bakal gimana." katanya.


"Ya Tuhan, kaget." ujar Sebastian saat Holy tiba-tiba melompat naik ke pangkuannya, tetapi cowok itu segera membetulkan posisi si anjing dan mengelusnya.


"Holy sudah dikasih makan, Bang?" tanya Cherryl.


"Lah? Gue kira udah lo kasih makan, Dek?" balas Anggara lalu kembali fokus dengan ponselnya.


"Yaelah Ang'ga!"


Cherryl berdiri dan hendak mengambil Holy tetapi Sebastian menahan lengannya, "Gue aja yang ngasih makan."


Si cewek mengangguk tanpa berpikir, setelah itu keduanya pergi ke ruang makan untuk mengambil makanan Holy. Sebastian menaruh Holy ke lantai dan menunduk untuk meraup makanan anjing dengan mangkuk kecil dari karungnya. Setelah itu ia menuangkannya ke dalam mangkuk makan anjing dengan tulisan 'Holy' di sana.


"Utututuuu, laper ya, Holy? Maafin Om ya, diamah emang gapunya hati." ujar Cherryl pada Holy yang sibuk melahap makanannya.


Mendengar itu, Sebastian tertawa renyah. Bagaimana bisa Cherryl menyebut Anggara tak punya hati? Jadi selama ini sikap protektif dan sayang Anggara padanya lenyap begitu saja karena cowok itu lupa memberi makan Holy? Sungguh sebuah ironi yang membuat Sebastian ingin ngakak.


Entahlah, akhir-akhir ini humornya rendah sekali.


"Kenapa, sih? Kesambet lo?" ketus Cherryl.


"Santai aja dong, Nyai." sahut Sebastian masih dengan tawa kecil yang lolos dari bibirnya.


"Yeu receh people."


"Btw itu kegiatan tengah semesternya jadi dimundurin?" ujar Sebastian mengalihkan topik secara mendadak.


"Hah? Kemahnya itu maksud lo?"


"Iyalah, Ryl."


"Iya katanya. Kemaren kan ujian tengah semesternya juga diundur karena baru kelar awal Desember yang harusnya November udah kelar. Karena kita ada libur natal jadi dimundurin sampe Januari ini." jawab Cherryl kemudian.


"Ngapain aja pas kemah?"


"Kalo di NYC gimana? Lo gak pernah ikut scout camp ato apa gitu?" tanya si cewek balik.


"Pernah, sih. Ya siapa tau beda kalo di sini."


"Tahun kemarin kemahnya di Yonif gitu sih, Seb. Tiga hari dilatih langsung sama tentara kayak orang apaan aja. Malem-malem disuruh loncat guling-guling. Dan parahnya sih, lo tau ga Kak Mario? Anak kelas 12 IPS itu ditampar gara-gara bercanda mulu pas sesi. Terus siang-siang terik gitu disuruh upacara woy lah. Abis kulit gue jadi item." curhat Cherryl yang menjadi fokus Sebastian hingga tadi. Bahkan ia tak menyadari jika Holy sudah duduk di hadapannya ikut memandangi sang 'Mama' yang sedang mengoceh.


"Gapapalah, Ryl. Siapa tau lo lulus nanti jadi tentara hahaha." sahut Sebastian setelah Cherryl berhenti berbicara.


"Enak ye lo sekarang KTS nya di daerah pegunungan gitu. Tempatnya enak banget asli." kata Cherryl yang membuat Sebastian mengerutkan alis.


"Kok lo tau?"


"Iyalah gue kan yang survei tempatnya sama Miss Rena sama Pak Gilang terus ama Thomas." jawab si cewek.


"Yalord gue lupa kalo lo duta sekolah, Ryl." jawab Sebastian.


"Hilih pikun."


"Tapi sebenernya gue agak ga nyaman sih di sana." tambah Cherryl lagi.


"Why?"


"Katanya sih ya, di sana tuh tempatnya angker. Kemarin aja Miss Rena nempel-nempel ke gue terus soalnya perasaan dia gaenak gitu."


.


.


.


.


.


TBC


Jangan lupa Vote + Comment!!